
sari mengaku sudah berada di luar gerbang rumah orang tua caera, sejak jam tujuh sehabis waktu magrib. ia takut untuk memanggil atau sekedar memijit bel di balik tembok pagar. takut caera tidak menerima.
caera sampai merasa jengkel kenapa sari tidak langsung masuk saja. sampai jam sembilan malam baru lah ia memijit bel. karena sejak sore tadi Oyah sudah menggembok gerbang karena tidak ada penghuni rumah yang akan keluar lagi.
setelah sari selesai mengganti pakaian, caera membawanya ke meja makan. caera sudah menyiapkan makanan dan segelas susu hangat untuk wanita empat puluh tahunan itu. pasti lah ia lapar dan sangat kedinginan di luar tadi. setelah sari kelihatan lebih tenang, baru lah ia di dudukkan di ruang tengah untuk di tanyai.
caera menyuruh Oyah untuk membawa Gino pergi ke kamarnya. tidak mau bocah itu mendengar apa yang akan di katakan pembantu Arya ini.
"jadi bibik hujan-hujanan dari jam tujuh, gitu?"
tanya caera.
sari menggeleng.
"hujan-hujanannya sudah dari jam enam sore nyonya"
"loh, kok bisa?"
Rani menimpali bertanya.
"saya sempat kesasar. kan ke sini cuma baru dua kali nyonya. saya Ndak hapal. udah lama banget Ndak ke sininya. saya nyasar cari alamat sini"
jawab sari dengan logat Jawa yang kental.
"jadi, bibik naik apa dari rumah Arya?"
kini Bima yang bertanya.
"saya numpang sama orang lewat mas"
"di jalanan?"
wanita itu mengangguk lagi.
"jadi sebenarnya kenapa bibik pergi dari sana? kamu di usir?"
tanya ibu lagi merasa penasaran.
sari tertunduk. matanya berkaca-kaca. terlihat sangat tertekan mengingat kejadian di rumah Arya.
"saya Ndak sanggup nyonya. nyonya Maya tiap hari maki-maki saya. saya Ndak boleh istirahat kalau belum selesai semua pekerjaan"
sari tersengguk. menundukkan wajah, menangis sangat menyedihkan. terasa sekali kalau dia sangat sakit hati dengan kelakuan Maya ibunya Arya.
"nyonya Vivi juga sering lemparin saya barang-barang kalau saya salah sedikit aja"
"apa? masak iya sih bik?"
caera merasa tak percaya.
sari makin tertunduk. ia takut kalau salah bicara. karena memang caera tidak pernah menyaksikan semua, apa yang sudah di alaminya. takut kalau caera tidak percaya padanya.
__ADS_1
"kenapa tidak mengadu sama tuan mu?"
tanya Bima.
"tuan Arya jarang pulang mas. kalau pulang cuma sebentar. saya Ndak bisa ngadu ke tuan"
caera tertegun. kenapa Arya jarang pulang? sangat sibukkah dia? atau... alasan sibuk untuk bisa selingkuh lagi? apa rumah tangganya dengan Vivi seextrem itu? tapi kenapa? banyak pertanyaan di otak caera.
"emang kemana saja tuan mu itu sampai jarang pulang?"
alwan yang sedari tadi diam saja, kini membuka suara bertanya.
"saya Ndak tahu tuan. tapi biasanya tuan Arya kalau pulang pasti marah. sampai teriak-teriak. hiikkks.. hiikkss.. saya Ndak kuat tuan. jadi saya kabur saja"
sari tersengguk lagi. terlihat sangat tertekan.
"nyonya.. saya sama nyonya saja ya... saya gak tahu mau kemana lagi nyonya"
sari memohon pada caera dengan menyatukan kedua tangannya dan air mata berderai.
caera menepuk-nepuk pundak sari. dia sudah mengenal wanita ini bertahun-tahun. dari caera baru berumah tangga, sampai berpisah dari Arya. sari orangnya penurut. tidak banyak bicara. kinerjanya bagus. belum pernah caera kecewa dengan hasil kerjanya. makanya caera heran kalau sampai Vivi dan Maya memaki dan melempar barang karena masalah pekerjaan.
"boleh ya nyonya?"
ulang sari lagi.
caera menatap ayah dan ibunya bergantian. meminta pendapat.
"huuu.. huuu huu..." sari makin kencang menangis. "tolong tuan. saya Ndak kuat kerja di sana. rumah itu udah Ndak kayak dulu lagi tuan. saya takut"
sari meratap. meminta tolong untuk di beri perlindungan dan ikut caera saja.
"bibik takut kenapa?"
Bima mengerutkan dahi.
"ini tuan. saya pernah di lempar asbak karena saya telat datang waktu di panggil nyonya Maya"
sari menunjukkan betisnya. ada bekas luka belum terlalu kering di sana.
mereka semua terperanjat kaget. kejam sekali Maya memperlakukan pembantu di rumah itu.
"ini sudah bisa di laporkan. tindak kekerasan ini"
ujar Bima emosi.
"jangan tuan. biar saja. yang penting saya sudah keluar dari sana"
sari menolak.
mereka semua terdiam. memikirkan bagaimana solusi dari masalah bik Sari. mereka tidak tahu kebenaran cerita sari. karena masih mendengar dari satu pihak.
__ADS_1
"ya sudah, begini saja. seperti yang sudah saya katakan tadi. bibik boleh tinggal di sini untuk sementara. kita lihat ke depannya seperti apa"
kata alwan memutuskan.
karena malam sudah semakin larut, mereka memutuskan untuk memberi tumpangan pada bik Sari untuk malam ini. dan akan melihat perkembangan selanjutnya besok.
****
caera merebahkan tubuhnya di ranjang. masih memikirkan cerita bik Sari tadi. sejauh yang ia tahu, mantan ibu mertuanya itu memang judes. tapi dia belum pernah melihat Maya marah sampai melempar barang-barang.
memang sih, caera jarang tinggal bersama dengan Maya dalam waktu lama. paling hanya menginap dua atau tiga hari di rumahnya. dan itu tidak pernah caera melihat Maya marah sampai meledak-ledak.
kalau urusan pergaulan Maya, yang caera tahu memang gaya hidup Maya agak tinggi. hanya mau berteman dengan teman yang menurutnya kaya. dan paling bergabung dalam arisan sosialita gitu. itu tidak ada yang aneh.
tapi Vivi.... apa Vivi juga jadi seorang yang temperamental begitu? marah dan melempar barang-barang? apa karena hormon hamilnya mungkin yang tidak terkontrol.
ddrrrttt .. ddrrrttt...
ponsel caera bergetar. ada notifikasi pesan masuk. caera membuka ponselnya. terlihat sebuah pesan di aplikasi chating. tapi nomor asing yang caera tidak kenal.
tertulis di sana..
selamat malam.
mimpi indah ya.
love you
caera memperhatikan nomor itu. mencoba mengingat-ingat siapa pemilik nomor ini. pesan itu sudah sering masuk selama beberapa hari ini. caera hanya membukanya tapi tidak ada niat membalasnya. padahal caera sudah mengganti nomor ponselnya, sejak pertengkarannya dengan Arya dan ketika pertama kali mengetahui kemilan Vivi.
ia tidak mau Arya menghubunginya lagi. atau hanya sekedar menyapa di aplikasi mana saja.
caera mengecek foto profil nomor tak di kenal itu. terlihat foto perempuan yang membelakangi kamera. tidak terlihat wajahnya, dan sedang duduk di bawah pohon pisang hias di pinggir kolam kecil.
agak terperanjat dia melihat itu. jika di perhatikan, itu seperti bentuk dirinya. tapi foto itu tidak terlihat jelas karena di ambil dari jarak yang cukup jauh.
ddrrrrttt... drrrrttt...
kembali ponsenya bergetar. ada pesan masuk lagi. caera memeriksanya.
belum tidur?
aku kangen
"iisshh.. iseng banget sih orang ini"
caera berguman jengkel.
banyak pesan masuk dari nomor ini dari kemarin. inti isinya, mengatakan kerinduan. yang menurut caera gombalan basi, nyanyian kuburan tua. lelaki hidung belang yang iseng menggoda. gak jelas banget ๐คจ
langsung caera block saja itu nomornya. ๐ beres!!
__ADS_1