DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 129


__ADS_3

Deva membuka pintu kamar pengantinnya. semerbak aroma terapi semilir menerpanya. Deva tersenyum smirk. melangkah masuk mencari istri cantiknya.



terlihat caera sudah memakai bathrobe, dengan rambut setengah basah, dan duduk di meja rias. menatap Deva dengan gugup. Deva mengulas senyum mekar. mendekati caera.



"sayang, kau sudah menunggu ku lama? hmm?"


Deva meraih dagu Caera. menatapnya penuh cinta. caera hanya diam.


"kenapa sayang? kenapa masih pakai ini?"


Deva mengernyitkan dahi. seperti ada yang di pikirkan istri cantiknya ini.


"aku.. Dev, aku tidak bisa ganti baju" jawab caera lirih.


"kenapa?" Deva menatapnya makin heran.


caera beranjak ke lemari pakaian. membukanya. memanggil Deva untuk mendekat.


"kemari lah Dev"


Deva mendekati caera. melihat ke dalam lemari pakaian yang di buka caera.


"aku rasa, ini pekerjaan ibu kita berdua. lihat lah. hanya ada ini. tidak ada baju yang lain"


caera memegang lingerie tipis nan minim berwarna merah, dengan ujung telunjuk dan jempolnya. memegang lingerie itu seperti ngeri.


"hahaaa..." Deva tergelak.


"kenapa tertawa Dev? aku tidak bisa pakai ini" caera cemberut.


"tidak apa-apa sayang. nanti juga itu akan lepas dari tubuh mu"


Deva mengedipkan sebelah matanya. wajah caera terasa panas. Deva menarik lingerie itu. dan mendekati caera.


"sebenarnya kau tidak butuh ini sayang" bisik Deva.


caera bergidik ngeri. meremang bulu kuduknya mendengar bisikan Deva.


"baiklah, baiklah. aku akan pakai ini. dari pada tidak sama sekali. tapi kau mandi dulu ya?"


caera menarik Deva merapat ke dekatnya. membuka tuxedo Deva. membuka kancing kemeja Deva satu persatu. Deva hanya tersenyum manis menatap wajah istrinya.


"sudah. mandilah dulu Dev"


"baiklah. pakai itu. aku ingin melihat mu sexy malam ini"


Deva mencubit kecil hidung caera. caera menunduk malu. Deva tertawa dan melangkah ke kamar mandi.


caera mendelik menatap lingerie di tangannya. ini sungguh bukan baju. tidak ada yang bisa di tutup dengan ini. selain tipis, itu terlihat terbuka di mana saja.


ada-ada saja ibu Soraya dan ibunya. caera gemas pada kedua ibu yang di cintainya itu. ternyata ibu Soraya tidak berbeda jauh dengan anaknya. kini caera paham dari mana asalnya kejahilan Deva.


caera mengeringkan rambutnya lebih dulu. masih agak lembab karena basah. setelah itu, ia memakai lingerie tipis itu.


astaga!! semua terlihat!! terus, ngapain pakai ini kalau masih terlihat begini???!!


caera gemas. menarik kebawah, tidak bisa. karena lingerie itu sangat minim. hanya sebatas di bawah bongkahan pantatnya. sedangkan di atasnya, dadanya terpampang jelas. menyembul ke atas.


caera pasrah. dan kini, dia bingung mau bagaimana. duduk di sofa, pasti semua akan terlihat jelas oleh Deva. mau langsung di tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut, nanti Deva berpikir dia sudah bersiap menunggu untuk di serang.


🥴 caera kebingungan dalam kegugupan.


caera merutuki dirinya. seperti ABG saja. bukannya dia dulu sudah melewati ini di pernikahan pertamanya? tapi sumpah! dulu tidak begini. dia tidak pakai lingerie! pernikahannya sederhana. tidak seperti dengan Deva. sepertinya Deva sudah merencanakan ini semua dengan matang.


ceklek!!


pintu kamar mandi terbuka. Deva keluar. caera sampai kaget saking gugupnya. panik mau menempatkan dirinya di mana. dalam kepanikan, caera terduduk di tepi ranjang.


Deva melihat kepanikan caera. ingin terbahak, tapi ia tahan. sungguh polos istrinya ini. seperti perawan yang baru menikah kali ini. dan Deva sangat menikmati itu.


Deva keluar hanya memakai celana dan letaknya agak kurang pas menurut caera. itu sangat turun sampai menyentuh pinggul bagian bawahnya. menampilkan otot ketat di bagian perut bawah. otot tubuh dan roti sobek di perutnya terpampang nyata.


__ADS_1


caera menunduk. wajahnya memanas. mungkin pipinya sudah seperti tomat matang. Deva berjalan menuju sofa. ada sampanye di sana. Deva membuka tutup botolnya.


plup!


lalu menuang isinya ke dalam gelas panjang yang ramping. menatap caera yang masih tertunduk.


"istri ku"


caera menoleh pelan.


"kemari lah"


caera mencoba tenang. berdiri dan berjalan kikuk menghampiri Deva. Deva tertawa tanpa suara. sangat menikmati kepolosan istrinya.


"ayo sini. dekat dengan ku"


Deva menarik tangan caera. mendekat padanya dan duduk bersisian di sofa.


"ini. ayo kita rayakan kebersamaan kita sayang"


Deva menyerahkan satu gelas panjang itu pada caera. caera menatap gelas itu.


"Dev, aku tidak pernah minum ini"


"sedikit. minumlah"


caera menurut. mencicipi sedikit sampanye yang di berikan Deva.


"sayang, ini adalah Dom Perignon atau sampanye vintage berbuih ringan dari brand Moet & Chandon. bagaimana rasanya?" tanya deva.


caera mengecap-ngecapkan lidahnya. merasa kurang bisa merasakan karena terlalu sedikit, ia meneguknya lagi sedikit.


Sampanye ini menawarkan rasa unik dari campuran bunga segar, buah batu (drupe), kulit jeruk bali, dengan tambahan aksen renyah dari rempah-rempah seperti paprika.


"hmmm.. enak Deva" jawab caera tersenyum


Deva senang. caera mulai terlihat santai. Deva meraih tubuh caera. merapatkan ke dadanya. caera duduk membelakangi Deva. bersandar di dada bidang nan liat milik Deva. menekuk lututnya. duduk santai dan mulai menikmati suasana.


"sayang, kamu sudah pernah minum ini?"


"belum Dev. aku hanya pernah minum sekali"


"eemmm.. sudah lama juga. waktu aku pergi ke pulau. tempat kita pertama kali bertemu di restoran dan pantai itu Dev" jawab caera polos.


dibelakang caera, Deva tersenyum geli. kata caera, pertama kali bertemu adalah restoran dan pantai. padahal dia sudah menciptakan kissmark yang banyak di dada caera. 😂😂


"oohh begitu.. kamu minum apa?"


"ah aku lupa namanya. apa ya... eemmm.. Rita.. Rita apa ya.. aku lupa" caera mencoba mengingat-ingat kejadian itu.


"Margarita maksudnya sayang?"


"haaa.. iya Dev. Margarita. bartender itu yang memberi ku"


"trus, selanjutnya kamu ingat sayang?"


"emm.. tidak. aku tidak ingat. mungkin aku mabuk"


"ah.. yang benar sayang. coba ingat lagi"


"benar dev. aku tidak ingat. tahu-tahu aku bangun tidur sudah di hotel"


"hotel?"


"i... iya"


caera mulai merasakan canggung mengatakan itu. takut Deva salah paham.


"siapa yang antar kamu ke hotel?"


caera menegang. menggeleng pelan. sungguh! ia merasa seperti di kuliti Deva sekarang. ia ingat kiss Mark di dadanya. sangat banyak. siapa yang mengantarnya ke hotel? caera tidak tahu.


"Dev, sungguh aku tidak tahu siapa yang mengantarku ke hotel" caera gugup. menoleh menatap Deva di belakangnya.


Deva tersenyum tenang. membenahi rambut caera di dahinya.


"tidak apa-apa sayang. aku hanya bertanya"

__ADS_1


"tapi.. kau seperti curiga pada ku" caera merengut manja.


"pagi itu tidak ada yang aneh Ra?"


glek!!


caera menelan salivanya kasar. gugup menatap mata Deva.


"aku.. aku.. "


cup..


Deva mengecup bibir caera. menatapnya tenang.


"mau, aku tunjukkan siapa yang membuat kissmark di dada mu sayang?"


caera mendelik! bagaimana Deva tahu soal kismark?? gawat! caera di hakimi! apa maksud Deva bertanya sekarang?? kenapa tidak dari dulu???


Deva bangkit dari duduknya. beranjak ke nakas samping ranjang. membuka lacinya dan mengambil botol parfum. menyemprotkan ke tubuhnya.


menguar harum semerbak yang selama ini jadi teka-teki bagi caera. dia merasa pernah mencium aroma parfum ini. tapi entah di mana.


Deva mendekat lagi. duduk di samping caera. tersenyum menggoda.


"ingat aroma ini sayang?"


caera menggeleng. ia masih belum ingat. Deva mengambil remote tv di samping sofa. menyalakan televisi besar di depan mereka.


clap!!


televisi itu menampilkan visual di tempat parkir dari kamera cctv. itu Jacko.. dan Deva. membopongnya keluar dari mobil!


astaga!!!


caera mendelik. menatap televisi tak berkedip. melihat dirinya sendiri merangkul leher Deva dengan mesra. menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Deva dan sesekali mengecupi rahang tegas itu.


caera melotot dan menutup mulut dengan kedua tangannya. sampai adegan di lift dan mereka masuk ke kamar lalu Jacko keluar setelahnya. tapi tidak bersama Deva. Deva tinggal di kamar dengaaaaan.... dengannya!!!


pelan-pelan caera menoleh menatap mata Deva. tak percaya ternyata Deva lah yang telah mencetak banyak bercak merah di dadanya.


pria itu malah tertawa. melihat wajah polos yang terkejut itu. menyentuh pipinya sayang.


"itu aku. aku yang telah membuat kissmark di dada mu" lirih suara Deva.


"apa yang ku lakukan Dev?"


"haha.. kau memperkosa ku sayang"


"hah?!" caera kaget dan melongo


"iya. kau menganggap ku kekasih mu. kau mabuk berat. kau memaksa ku melakukan itu. dan aku tidak bisa menahannya"


"astaga!! kita melakukannya??" caera makin melotot.


"tidak sayang. bagaimana kita melakukannya? sedangkan kau sudah tidur di tengah pertempuran"


"benarkah?"


"he'em" Deva mengangguk.


tiba-tiba caera memeluknya erat. Deva membalasnya.


"sayang. terima kasih kau menjaga ku. dan tidak melakukan itu" bisik caera.


"kita di takdirkan bertemu di saat itu sayang. kau di jodohkan dengan ku, dengan pertemuan tidak sengaja. dan aku menjaga mu mulai saat itu"


caera makin mengetatkan pelukannya. mengecup pipi Deva berkali kali. sangat berterima kasih pada pria baik yang telah menjadi suaminya ini.


"jadi sudah ingat parfum ini sayang?"


"hhhhmm.." caera menghirup aroma tubuh Deva dalam. lalu mengangguk tersenyum.


"dan malam ini, aku tidak mau gagal lagi. aku akan menuntaskan yang tertunda dulu" ujar Deva. menatap manik mata caera.


caera tersipu malu. suaminya ini sungguh romantis. tidak pernah memaksanya. tidak pernah menunjukkan kuasanya atas segala hal. ia sabar menanti caera menyerahkan segalanya. ia sangat beruntung memiliki Deva sebagai suaminya tercinta.


"aku sungguh jatuh hati pada mu Dev" bisik caera.

__ADS_1


"aku sudah lebih dulu sayang"


mereka berdua tersenyum penuh cinta yang menggelegak di hati. sama-sama menautkan erat hati mereka masing-masing. berjanji akan saling melengkapi kekurangan dan mengisi kekosongan.


__ADS_2