
Deva selalu menggoda caera di kantor memalui pesan chat. caera sampai jengkel dan selalu mengirim emo wajah yang memerah. gemas pada Deva yang selalu menjengkelkan.
mau marah dan memaki tapi Deva adalah bosnya. mau di tabok tapi sayang wajahnya terlalu tampan. mau di gigit, ya Deva makin suka.
"sayang, yang di dada tadi lembut banget"
"๐ mesum"
"kamu suka kan sayang?"
"๐คจ apa?"
"morning kiss"
"๐ก"
"haha"
"๐ค jangan ulangi lagi!"
"nanti kalau kita menikah, kamu dapat yang menonjol tadi. gede sayang ๐"
"๐ก"
" kamu tahu sayang? wajah kamu ini ๐๐ก sama seperti tadi. waktu aku gigit lidah kamu"
"๐ท"
"aahh.. sayang, manis sekali kamu "
"๐ท๐ก๐ค"
caera menonaktifkan ponselnya. agar Deva berhenti menggodanya. mengerjakan lagi pekerjaannya yang tertunda.
Dira sedari tadi di luar. caera ingin menyerahkan berkas yang baru di print. biar Dira saja yang menyerahkan pada Deva. kalau dia sampai masuk keruangan Deva, hmmm pasti si tuan mesum itu akan berbuat jahil lagi.
caera beranjak ke pintu dengan membawa berkas di tangannya. membuka pintu dan melangkah keluar. tapi begitu dia membuka pintu, caera mendengar suara Dira dan seorang lelaki bicara dengan kata penekanan yang berisik.
caera mencoba mengintip sedikit. terlihat Dira melotot dan bicara tertahan tapi dalam keadaan marah. sepertinya mereka berdua sedang bertengkar. caera belum melihat wajah lelaki yang bicara dengan Dira. sepertinya caera kenal suara itu.
"aku sudah bilang. berhenti bekerja! kenapa kamu masih bandel ?!"
"itu bukan urusan mu! ngapain kamu ngatur-ngatur aku?"
Dira menepiskan tangan lelaki itu dengan kasar.
lelaki itu memegang bahu Dira dan membalikkan posisi mereka.
hah!! tuan Richard!!
caera terkejut melihat Richard lah yang bertengkar dengan Dira.
"dengar! cloe butuh mamanya. kau harus menuruti apa kata ku!"
wajah Richard tampak memerah dan marah.
tapi Dira juga bicara dengan keadaan marah. mereka bicara tertahan. sama-sama menahan emosi yang memuncak.
"awas! lepaskan aku!" Dira menghentakkam tangan Richard dengan kasar. " dengar ya. dia anak mu! jangan memerintah ku!"
"Dira. tolong mengerti lah. kenapa kau selalu begini?"
Richard tampak frustasi.
"itu semua kesalahan mu. kenapa jadi menyalahkan ku?"
Dira bicara sangat judes.
baru kali ini caera melihat Richard dengan wajah yang frustasi penuh dengan kekesalan. biasanya pria itu selalu tebar pesona dengan gaya kharismatik yang kental. wajah tampan itu terlihat ingin menangis.
ada apa dengan Dira dan tuan Richard? apa ini yang membuat Dira begitu cuek ketika bertemu tuan Richard di mall waktu itu?
caera masih mengintip dan mendengarkan mereka berdua. kedua orang itu tidak menyadari caera mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
"dengar. pekerjaan mu ini sungguh bahaya. kau dalam bahaya kapan pun juga"
__ADS_1
Richard bicara lagi.
"sudah aku bilang. pekerjaan ku adalah urusan ku. bukan urusan mu!"
Dira mendorong dada Richard membuat pria itu agak terhuyung ke belakang.
Richard melotot marah. seperti ingin menerkam Dira di depannya. tapi Dira juga sudah bersiap-siap memasang tinjunya untuk menghadapi Richard.
caera tidak menyangka Dira memasang jurus berkelahi menghadapi Richard. seperti sudah memahami betul dia bisa karate.
pintu ruangan Deva terbuka. Jacko dan Deva muncul. caera agak merapatkan pintu agar tidak terlihat oleh Jacko dan Deva. tapi masih bisa mendengarkan pembicaraan mereka.
"ada apa ini?"
tanya Deva.
sontak Richard dan Dira mengubah posisi tubuh mereka yang tadinya siap berkelahi. Dira berdiri menunduk seperti gadis polos dalam keadaan takut. dan Richard berdehem pura-pura membetulkan dasinya yang kekencangan.
"ehem.. ehem.. tidak ada. aku hanya bertanya pada nona Dira tentang surat yang aku inginkan kemarin"
ujar Richard.
Deva dan Jacko saling pandang. tidak percaya dengan apa yang di katakan Richard.
"benar begitu Dira?"
Jacko menatap Dira dengan tajam.
"i.. iya tuan. tapi saya belum menyiapkan. maaf tuan"
Dira menunduk takut.
"hey.. kau tidak percaya pada ku Jack?"
Richard mendekati Jacko dan meninju pundaknya pelan. tampak salah tingkah.
"aku tidak bilang begitu"
ujar Jacko datar.
Richard mendorong pundak Jacko. tapi Jacko tidak bergeming. tegak seperti karang.
Richard hanya nyengir saja melihat Jacko tak terpengaruh dengan dorongan tangannya. caera terkikik geli menutup mulutnya. lucu melihat tingkah Richard yang gugup menahan malu karena berbohong.
"mana caera, Dira?"
tanya Deva pada Dira.
"nona caera ada di dalam tuan"
Dira bersikap siap dan membungkuk hormat pada Deva.
Richard melirik Dira dengan rahang mengetat. terlihat sangat tidak suka melihat Dira membungkuk pada Deva.
"tunggu aku Jack"
Deva bergerak menuju ruangan caera.
cepat-cepat caera berlari ke mejanya lagi. takut Deva memergokinya sedang menguping. berpura-pura membaca berkas-berkas di tangannya.
Deva membuka pintu. menatap caera yang pura-pura membaca di meja kerjanya.
"sayang"
caera mendongak. Deva mendekatinya. caera mencoba tenang di depan Deva. agar Deva tidak menyadari kegugupannya baru saja mencuri dengar. Deva menarik kursi lain dan duduk di dekat caera.
"kenapa mematikan ponsel?"
tanya Deva menatap lekat mata caera.
"baterainya habis tuan Dev"
Deva menaikkan sebelah alisnya. tak percaya dengan alasan caera. Deva tersenyum.
"kamu malu ya?"
__ADS_1
Deva menyentuh pipi caera. caera menghindar. takut Deva langsung nyosor.
"hahaa.. kenapa? takut aku cium lagi? hmm?"
Deva mulai menggoda caera.
"sshh.. apa sih tuan Dev"
caera membuang pandangannya kesal.
"dengar" Deva menangkup wajah caera dan menghadapkan padanya. "aku ada pertemuan dengan klien. nanti kau harus pulang dengan Dira, ok? jangan membantah lagi"
caera menatap mata tajam itu. mengangguk mengiyakan saja agar Deva cepat pergi. tapi Deva malah mengulur waktu. mengusap bibir ceara lembut.
aduuhh.. mulai lagi deh
"Ra, ayo menikah. aku tak sanggup jika melihat ini"
Deva menatap bibir caera dengan gemas. mengusapnya perlahan.
"tidak usah di lihat saja tuan"
Deva menaikkan alisnya. wajahnya berbinar. salah paham dengan apa yang dikatakan caera. langsung menempelkan bibirnya di bibir merah caera. menguncinya dengan pa gu Tan mesra.
"uuuhhhmmppp.."
caera kaget. tuan mesum ini main nyosor saja. bukan itu maksudnya. tapi Deva salah paham.
Deva berbuat sekehendak hatinya. membuat caera gelagepan kehabisan napas. mendorong dada Deva agar melepaskan bibirnya.
Deva tak mau tahu. terus saja menyesap bibir manis itu tidak pernah puas. bibir caera menjandi candu baginya. tak pernah bosan untuk merasakan kelembutannya.
"uuhmmpp.."
lagi-lagi caera mendorong dada Deva dengan keras. membuat Deva kehilangan bibir basah itu. masih memajukan wajahnya ketika pa gu tannya terlepas.
"hahh.. haahh.."
caera ngos-ngosan. masih menahan dada Deva agar wajahnya tidak dekat lagi.
"tuan Dev. bukan itu maksud ku"
"tadi katanya jangan di lihat saja. itu artinya kamu minta aku cium sayang"
Deva mengedipkan sebelah matanya. menggoda caera.
"iihhh... mesum sekali sih!"
caera memukul dada Deva keras.
"aawwhhh..."
Deva pura-pura kesakitan. melirik caera yang terlihat kesal.
"yaaa.. baiklah baiklah.. aku harus pergi sekarang. jangan lupa sayang. pulang dengan Dira. nanti aku menghubungi mu. aktifakan ponselnya. hmm"
Deva mengelus pipi caera dengan sayang.
caera mengangguk. Deva tersenyum. memandang wanitanya ini serasa tak ingin berpisah. selalu rindu.
"sudah tuan. pergi lah"
caera melepaskan tangan Deva dari pipinya.
"baik lah" Deva berdiri. "tapi sayang.."
caera mendongak melihat tubuh tinggi di depannya.
"jangan suka mengintip. nanti matanya bintilan"
caera melebarkan matanya sempurna. kaget Deva tahu dia mengintip tadi. aduuhhh malunyaaaa....
wajah caera memerah. malu semalu malunya. menunduk menyembunyikan wajahnya di balik berkas yang menutupi wajahnya.
"hahaahaaaa..."
__ADS_1
Deva pergi keluar dengan terbahak bahagia. berhasil lagi menggoda caera.