
Vivi dan Maya masih berada di ruangan dokter yang menangani Arya. mereka di telepon pihak perusahaan karena Arya harus masuk rumah sakit. mengalami kejang dan muntah-muntah.
pihak kesehatan yang di sediakan perusahaan angkat tangan. tidak bisa merawat Arya. lalu Arya di larikan kerumah sakit terdekat.
masih ada sisa tangis pada Maya. tak menyangka Arya melakukan itu. Vivi lemas melihat kondisi Arya yang tak sadarkan diri akibat terlalu banyak menenggak minuman beralkohol.
"kadar ethanol yang masuk sangat banyak ibu. ini sangat membahayakan pasien"
dokter Willi memberi keterangan pada Maya dan Vivi.
"jadi, bagaimana dokter? anak saya tidak apa-apa kan?"
tanya Maya dengan isakan lirih.
"dari diagnosa kami, ada kerusakan pada lambung. pasien terlalu sering mengkonsumsi alkohol dalam jumlah banyak, dalam keadaan perut kosong"
ujar dokter Willi.
"setelah ini, mohon ibu dan nyonya harus memperhatikan keadaan emosi pasien"
"baik lah dokter. terima kasih"
Vivi dan Maya keluar dari ruang kerja dokter Willi. kembali masuk ke ruang perawatan Arya.
tampak Arya terbaring lemah masih belum sadar.
Vivi duduk di samping brankar Arya. menggenggam tangan lelaki yang tampak menyedihkan itu.
"kenapa kamu jadi begini ar? hiikkss.. hiikkss"
Vivi tersengguk sedih melihat Arya.
Maya hanya berdiri memandangi Arya. anak lelakinya ini terlihat sedikit kurus. Maya juga tersengguk lirih.
"aku sudah bilang sama kamu kan. aku juga bisa mengurus kamu. tapi kenapa kamu masih saja tidak mengerti"
Vivi mencium tangan Arya dengan isakan lirih.
"ini semua gara-gara kamu!"
bentak Maya pada Vivi.
Vivi mendongak. menatap ibu mertuanya dengan marah.
"kenapa aku sih Bu? sekarang ibu selalu menyalahkan aku"
"kamu itu tidak bisa mengurus Arya. makanya dia sampai begini!"
"apa sih Bu?" Vivi bangkit berdiri "Arya yang tidak mau dekat sama aku Bu. aku sudah berusaha"
"kamu tidak becus jadi istri. aku membayar mu untuk merebutnya dari perempuan bodoh itu. tapi ternyata kamu juga bodoh!"
"Arya yang tidak bisa melupakan caera Bu! kenapa jadi menyalahkan aku?"
Vivi tidak terima di salahkan Maya.
Maya mendekati Vivi. menuding wajah Vivi dengan sengit.
"heh.. denger kamu ya. kalau kamu itu pintar mengurus suami, mana mungkin Arya jadi begini. tapi karena kamu juga bodoh, ya begini kan jadinya. Arya masih saja tidak bisa melupakan caera"
Vivi menepis tangan ibu mertuanya dari depan wajahnya. bersikap menantang pada Maya.
"ibu sendiri, apa becus jadi ibu? ibu malah membayar ku untuk menghancurkan rumah tangga anak sendiri!"
"diam kamu! aku hanya menginginkan seorang cucu dari Arya. dan kau menyetujuinya karna kau juga brengsek bukan? kau menikung teman mu sendiri"
Maya melotot marah menatap Vivi.
"hahaa.. pintar sekali ibu mertua ku ini" Vivi tertawa sinis menatap mertuanya.
"kalau sudah begini, terus mau apa lagi? Arya sakit itu karena kamu!"
Vivi membuang pandangannya melihat ke arah lain. melipat tangannya di dada dengan sikap muak melihat Maya.
"urus suami mu ini"
Maya beranjak pergi keluar ruang perawatan. Vivi diam saja tak menyahut. malas melihat wanita tua yang licik itu.
"ini semua gara-gara caera!"
desis Vivi penuh kebencian. ia dapat menebak, Arya jadi begitu pasti karena caera.
****
caera memutuskan untuk pindah menempati rumah yang di serahkan Arya padanya. tidak mau merepotkan ibu dan ayah terus. apalagi sekarang bik Sari sudah ikut di rumah orang tuanya.
walaupun dengan perdebatan dengan ibu dan Bima, ayah juga menyarankan untuk tetap tinggal. tapi caera memutuskan untuk pindah. ada bik Sari yang juga menjadi tanggung jawabnya sekarang. caera hanya merasa tidak enak hati pada ayah dan ibu karena selalu merepotkan.
rumah itu tidak besar. tapi cukup untuknya bernaung. Bima sibuk membersihkan pekarangan depan rumah. sementara caera dan bik Sari, membersihkan bagian dalam.
sebenarnya tidak terlalu kotor. tapi caera ingin menempati rumah itu dengan nuansa baru. ini rumah pertama yang ia tempati dengan Arya dulu ketika baru menikah. Arya belum menjabat sebagai menejer waktu itu. setelah Arya naik jabatan, mereka pindah ke rumah yang di tempati Arya sekarang. jadi caera ingin mengubah sedikit suasana rumah ini.
Dinda sudah tiba dan memarkirkan mobilnya di halaman depan. ternyata jiya dan Friska si pria tulang lunak itu ikut juga.
mereka membawa beberapa kantong plastik yang berisi banyak makanan dan minuman. Bima menyambutnya di depan.
"hai Bim, mana kakak mu?"
sapa Dinda pada Bima.
"ada di dalam kak"
sahut Bima.
Dinda masuk kedalam menemui caera. sementara Friska dan jiya menghampiri Bima yang masih sibuk dengan tanaman di dekat pagar.
"hai babang tanfaaaannn..."
friska dengan lenggak-lenggoknya menarik baju Bima.
"awas! apaan sih kamu"
Bima menepis tangan Friska.
__ADS_1
"aaiiihh.. babang tamfan ini galak sekali"
Friska berusaha mencubit pinggang Bima dengan genit.
Bima reflek menghindari cubitan Friska. jiya tersenyum geli melihat Bima ketakutan mendapat serangan genit dari Friska.
"rajin benar Bim. aku bantu ya."
jiya berjongkok di dekat pohon bunga mawar dan mencabut rumput-rumput di dalam pot.
"jangan Aya. kamu di dalam saja sama kak Rara"
Bima mencegah.
"tidak apa-apa kok. biar Friska aja yang bantu di dalam"
jiya tersenyum manis pada Bima.
"hheeeyyy... cangiiihhh..." Friska berseru heboh. " manisnyaaaa yang baru pacaran ya. saling melindungi kekasih hati"
celoteh Friska dengan mulut yang di menyongkan mengejek Bima dan jiya.
"ahh.. berisik lu bubur ayam. sono di dalem aja lu"
jiya mengusir Friska.
"iidiiihh sewot amat sih kekasihnya Bima. takut amat lakik lu aku sikat"
Friska cemberut seraya mengibaskan rambut pendeknya. dan menjauh masuk ke dalam rumah.
"pelakor lu"
seru jiya pada Friska.
"mhhheemmh"
Friska mencebik dan berlalu.
Bima bergidik ngeri. Friska selalu tampak bersemangat sekali ketika dekat dengannya. seperti ingin menerkamnya dengan gemas.
"hai bestiiiiiee.... lagi sibuk kah kakak-kakak sekaliaaann"
kini giliran Friska mengusik caera dan Dinda di dalam rumah. caera tersenyum senang melihat Friska juga datang.
"eh fris, coba deh kamu lihat. ini cocoknya nanti di isi prabotan apa ya?"
tanya Dinda pada Friska. meminta pendapat Friska, apa saja yang cocok untuk ruang tengah rumah caera.
"hhheeeyyy... canggiiihh..." seru Friska lagi " princess Friska belum bisa mikir kalau belum makan kakaaaa..."
"aduh kamu tu ya, makan melulu. ntar gak sexy lagi loh kamu fris"
ujar Dinda.
"heeyyyy... canggiiihh... princess pasti akan selalu sexy dan menggoda lah. tapi princes butuh makan ini"
caera dan bik Sari terkikik geli melihat gaya Friska yang kelewat centil dan kemayu. padahal tubuhnya di penuhi otot di sana sini.
"ya udah, kita makan dulu. panggilkan jiya dan Bima fris"
ujar Dinda.
menggelar karpet di lantai. karena memang rumah ini belum terisi perabotan apapun. Friska, jiya, dan Bima datang. bergabung duduk di karpet bersama Dinda, caera, bik Sari dan Gino.
duduk berkeliling menghadapi makanan yang tersedia. mereka makan dengan sesekali tertawa mendengar lelucon Friska dengan tingkah genitnya.
"Tante Friska"
panggil Gino.
"ya ganteng, ada apa?"
jawab Friska.
"kan Tante sama kayak paman Bima. kok di panggilnya Tante?"
tanya Gino dengan lugunya.
mereka semua tersenyum geli melihat Friska salah tingkah.
"dengerin ya ganteeeng.. paman Bima sama Tante Friska itu sama. taaapiii... paman Bima itu prince nya Tante Friska"
"tapi, Tante Friska sama rambutnya sama paman Bima"
Gino tetap bertanya untuk menghilangkan kebingungannya.
"hheeyyy... canggiiihh... Rambut Tante Friska panjang giniii saayy.. "
Friska menirukan mengelus rambut panjang yang tak terlihat di pundaknya.
Gino terbengong. karena dia tidak melihat ada rambut di pundak Friska.
semua mereka tertawa melihat tingkah konyol Friska.
"sudah sayang. jangan di dengerin Tante Friska. ntar kamu jadi gak kenyang"
jiya menimpali.
sambil terkikik geli, mereka makan dengan nikmat siang ini.
selesai makan, Friska memberi saran perabotan apa saja yang cocok mengisi rumah caera. dan caera mencatat itu. menerima saran Friska karena dia adalah seorang desain interior. lalu, mereka melanjutkan acara bersih-bersih lagi.
"Ra"
panggil Dinda berbisik.
"apa?"
caera menoleh menatap Dinda sambil masih sibuk membersihkan dapur.
"aku berhasil jodohin Bima sama jiya"
"oh ya? bagus dong"
__ADS_1
"kamu setuju kan?"
"iya, gak apa kok. yang penting mereka berdua sama-sama mau"
"iya dong. Bima anak baik. aku mau Bima jadi adik ipar ku"
"jangan terlalu memaksa Din. biar aja mereka yang memutuskan"
"iya sih. tapi kelihatannya mereka sama-sama suka kok"
"bagus deh kalau begitu"
caera tersenyum. melirik Bima yang di usilin Friska. mereka bertiga membersihkan jendela ruang depan.
"eh babang tanfaann... princes friska mau tanya nih?"
Friska menyenggol lengan Bima.
"tanya aja, tapi gak pake senggol dong"
kata Bima agak cemberut.
"heeeyy.. canggiiih.. babang tamfan ini garang amat sih?"
Friska mencubit pinggang Bima.
"aduh..!"
Bima kaget dan terjengkit menghindar.
"hihiihii"
Friska terkikik melihat Bima kaget.
"mau tanya apa lu?"
tanya jiya.
"ini untuk babang prince nya aku lah. kamu diem dulu deh"
"iya iya.. serah lu aja"
jiya melengos.
"babang tamfan, kalau seandainya di bumi ini hanya ada tiga, satu: air. dua: udara. tiga : matahari. babang tamfan mau pilih yang mana?"
tanya Friska sambil mengedip-ngedipkan matanya sok cantik.
Bima agak berfikir sejenak. menoleh pada jiya untuk membantunya mencari jawaban. jiya hanya mengedikkan bahu.
"pilih matahari lah"
jawab Bima.
"kenapa?"
Friska balik bertanya.
"kalau tidak ada matahari, semua gelap"
jawab Bima.
"salah"
seru Friska lagi.
"kok salah sih?"
Bima menatap Friska heran. kenapa jawabannya salah.
"kalau gak ada matahari, kita masih bisa hidup. kan masih ada air"
"ya sudah, pilih air deh"
"alasannya apa?"
"mati kan kalau gak ada air. haus"
"iihh salah juga Loh babang tamfaaan"
Friska mencolek dagu Bima.
"iisshh apaan sih"
Bima cepat menepis tangan Friska dari dagunya. "ya udah pilih udara aja"
"masih salaaahhh..."
Friska mulai agak jengkel Bima tidak ngeh dengan pertanyaannya.
"ah.. salah terus. padahal udah bener loh itu. udara jawabannya"
Bima juga jengkel karena semua jawabannya salah.
"iya, tapi masih salah itu"
Friska menghentakkan kakinya.
"trus, jawabannya apa dong?"
"kalau Friska di suruh milih antara air, udara dan matahari, Friska gak pilih ketiganya"
"lah terus??"
Bima dan jiya serempak bertanya.
"princess Friska lebih milih babang tamfan Bima. karena, princes gak bisa hidup tanpa cinta muuuu.."
😧😧😧😧😧
GUUUBBRRRAAAKKK!!!!
Bima keselek sendok
__ADS_1
🤦🤦🤦