DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 48


__ADS_3

Jacko membawa caera masuk ke sebuah ruangan. terlihat ruangan yang di penuhi lemari berkas dan arsip perusahaan yang tampak rapi. berjejer banyak laci-laci di tiga bagian lemari besar.


ada dua meja besar di sana. laptop dan alat tulis yang di terlihat sangat tertata sedemikian apik. apalagi warna ruangan ini. pink di padukan biru toska, terlihat sangat feminim.


caera agak tersenyum melihat keadaan ruangan kantor yang satu ini. seperti sudah di persiapkan, yang menghuni untuk bekerja adalah perempuan. geli sendiri memikirkan kalau saja sekertaris tuan Deva adalah laki-laki. pasti akan jadi nyiur melambai jika terlalu lama terkontaminasi melihat warna dinding ruangan.


"ini adalah ruangan kerja anda nona"


ujar Jacko datar.


"anda akan bersama Dira. silahkan pilih di meja yang mana saja anda mau"


caera melihat ke dua meja itu bergantian. itu terlihat sama. apa yang harus di pilih? batin caera. tapi ia hanya diam dan mendengarkan Jacko.


Jacko melangkah ke salah satu laci dan membukanya. mengambil sebuah amplop coklat, membuka dan mengeluarkan isinya.


"ini milik anda"


Jacko mengeluarkan dua buah kartu. meletakkannya di meja.


caera terkejut melihat kartu itu. itu kartu debit dan...black card!


memandang Jacko tak percaya.


"ini kunci mobil dan kunci rumah milik anda"


meletakkan keduanya di meja juga.


caera makin melotot. menelan salivanya dengan susah payah. tak terpikirkan olehnya bagaimana bisa seorang sekertaris mendapatkan fasilitas yang begitu fantastis?


"anda mengerti nona?"


Jacko menatap caera datar. membiarkan wanita itu memelototinya.


"a.. apa.. maksudnya ini tuan? kenapa.. saya dapat rumah dan... mobil juga?"


jawab caera susah payah.


Jacko menaikkan bibirnya sedikit. menatap caera tak berkedip.


"kartu ini adalah gaji anda nona"


Jacko memisahkan kartu debit dan mengacungkannya.


"jika nona di anggap tidak efisien dalam bekerja, dan tidak melaksanakan perintah tuan Deva, maka syarat kontrak kerja anda berlaku. anda harus membayar sesuai nominal di dalam kartu ini"


"apa!?" caera makin membulatkan matanya sempurna. " be.. berapa nominal di dalamnya tuan?"


"anda bisa cek sendiri nanti"


jawab Jacko tenang.


"dan ini" dan kini Jacko mengacungkan black card. "anda bisa gunakan untuk keperluan anda"


astaga... begitu beratkah tugasnya sebagai sekertaris Deva? sampai-sampai caera harus membayar nominal di dalam kartu debit itu.


"lalu, bagaimana dengan rumah dan mobil itu?"


telapak tangan caera sudah mulai berkeringat. ada rasa cemas bermunculan di dadanya.


"itu hanya fasilitas dari perusahan untuk anda nona"


"bagaimana jika saya menolak itu?"


"anda bisa bicarakan dengan tuan Deva sendiri"


hhuuffff...


caera lemas. apakah harus menerima? apa semua karyawan dapat fasilitas se-fantastis ini?


"baik lah. selanjutnya Dira akan memandu anda"


caera hanya mengangguk lemah. Jacko memasukkan barang-barang yang di tunjukkan pada caera tadi ke dalam amplop coklat lagi. meletakkannya di meja.


"saya harap anda kooperatif dalam bekerja" ujar jacko.


"saya akan mengusahakan itu tuan"


caera mengangguk.

__ADS_1


Jacko keluar dari ruangan. menemui Dira di depan meja kerjanyanya. membiarkan caera terduduk lemas seperti sedang berpikir keras. Jacko meliriknya dan tersenyum smirk.


"Dira"


panggil Jacko dengan suara tegasnya.


"ya tuan"


Dira langsung sigap berdiri.


"kamu sudah tahu apa yang harus kamu kerjakan bukan?"


"ya tuan"


"saya menempatkan nona caera di bawah pengawasan mu"


Jacko berdiri di depan Dira. gadis itu mendengarkan dengan seksama.


"ingat itu. nona caera bukan bekerja. tapi dia calon istri tuan Deva"


"baik tuan. saya paham"


Dira mengangguk hormat.


"dan kamu tahu apa yang harus kamu beberkan dan yang tidak perlu bukan?"


"iya tuan"


"bagus. kerjakan tugas mu dengan baik"


Dira mengangguk. Jacko pergi meninggalkan Dira. masuk ke dalam ruang kerja Deva lagi.


Dira beranjak menemui caera di dalam ruang kerja mereka. terlihat caera terbengong memandangi amplop coklat di tangannya.


"nona caera"


sapa Dira.


caera agak tersentak sedikit dan langsung bangkit dari duduknya.


"nona Dira, apa tugas saya sekarang?"


"emm.. sebaiknya jangan panggil saya nona. panggil nama saya saja"


balas caera.


"maaf nona, itu perintah tuan Deva. saya tidak bisa membantah"


"ah Dira, tolong. jangan membuat ku makin tidak nyaman"


caera rasanya sangat kesal dengan semua ini. Dira terlalu bersikap formal padanya. belum lagi memikirkan semua pemberian fasilitas perusahaan yang menurutnya berlebihan.


"bukan begitu nona caera. saya hanya mengikuti apa yang di perintahkan tuan Deva dan asisten Jacko"


caera bergerak mendekati Dira. menarik tangan gadis itu dan mengajaknya duduk.


"kalau begitu, jangan ikuti peraturan yang satu ini"


caera menggenggam tangan Dira.


"maaf nona"


Dira menunduk. hatinya menjerit-jerit.


bagaimana tidak bersikap formal nona caera? anda itu calon istri bos perusahaan ini. mana mungkin aku menganggap mu seperti teman yang lain.


"Dira, kita kan rekan kerja. ayo lah jangan begitu. setidaknya jangan panggil aku nona jika kita sedang berdua. aku tidak suka"


caera memohon.


Dira bingung. kenapa caera bersikap begini? kan dia calon istri bos perusahaan, tapi kenapa seperti tidak menyadari itu?


"kalau begitu, saya panggil kakak saja ya nona?"


tanya Dira canggung.


"ah.. itu juga boleh. asal jangan nona nona. aku sama seperti mu bukan? kita bekerja di sini"


caera merasa lega Dira mau diajak kompromi.

__ADS_1


Dira tersenyum canggung. bagaimana tidak? calon istri bos loh ini. tapi bersikap layaknya sahabat. orang yang sama-sama bekerja dan mencari nafkah.


****


"bagaimana?"


tanya Deva sambil sibuk memilih potongan buah melon yang di bawa Jacko, untuk di makan.


"semua terlihat seperti yang kau inginkan Dev"


Jacko duduk di kursi depan meja kerja Deva, sambil sibuk mengetik di laptopnya.


"dia menerima itu?"


Deva mendongak dan menghentikan kegiatannya memilih-milih potongan buah melon.


"sedikit protes"


Jacko masih fokus pada kerjanya.


"lalu?"


Jacko menghentikan kerjanya. menatap Deva yang menunggunya dengan antusias.


"apa yang kau harapkan?"


tanya Jacko mulai ingin mengerjai Deva.


"dia menerimanya"


Jacko memutar bola matanya malas. Deva terlihat makin lemah dalam berpikir kalau sudah menyangkut tentang caera. begitu takutnya pria ini kalau wanitanya menolak dan menyerah seperti kemarin.


"ayo lah bos. jangan terlalu bucin"


"haiiisshhh..."


dengan jengkel, Deva melempar potongan kecil buah melon pada Jacko. tapi, dengan gerakan cepat, Jacko membuka mulutnya dan potongan melon itu tepat masuk ke sana.


Deva makin jengkel karena Jacko bisa menghindari lemparannya dan malah mengunyah buah itu dengan nikmat.


"kau tahu dia kan Jack. aku rasa dia menolak itu semua"


"hehh.. kau benar. tapi kalau itu Della, pasti malam ini dia akan mengundang mu ke ranjangnya"


Jacko menutup laptopnya.


menarik piring buah dan mendekatkan ke depannya. memakan potongan melon itu dengan tenang.


"aku harap dia tidak protes nanti"


Deva menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi.


"bersiap lah untuk itu. wanita mu ini unik. siapkan saja jawaban, jika datang protes itu pada mu"


"hhhhhhaahhh.." Deva menghempaskan napasnya. matanya menerawang memandangi lukisan di dinding. seperti melihat caera di sana. "kenapa belum bisa menikahinya Jack?"


"aku?"


Jacko berhenti mengunyah dan menatap Deva dengan mimik bodoh.


"apa kau?"


Deva melirik Jacko.


"kau ingin menikahi ku?"


Deva langsung menegakkan punggungnya lagi. ingin meninju Jacko di depannya.


"haha"


Jacko memundurkan badannya menghindari serangan Deva.


"sabar lah bos. kau tidak dengar apa yang di katakan ibu? masih ada dua bulan lagi menghabiskan masa idahnya"


"kenapa harus menunggu? aku ingin sekarang"


Deva melipat kedua tangannya di meja. menekuk wajahnya jengkel.


"kau bisa beli apapun yang kau suka Dev. tapi tidak dengan peraturan itu"

__ADS_1


"kau pikir ibu benar-benar mau menerimanya Jack?"


"aku harap begitu"


__ADS_2