DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 107


__ADS_3

caera meminta Dira untuk membawanya keluar dari ballroom. ia merasa sesak berada di sana. ingin sedikit mencari angin segar.


Dira membawanya keluar dari pintu samping ballroom yang langsung menuju ke taman hotel. meninggalkan keramaian di ballroom hotel.


duduk di bangku taman menghirup udara bebas. kesal dengan omongan Gisel tadi. bagaimana Gisel mengangapnya menggoda orang lain? sudah jelas dia tidak menggubris sekalipun jabat tangan dengan Keenan.


"Dira, apa aku berlebihan bicara begitu pada nona Gisel?" tanya caera pada Dira yang bediri di sampingnya.


"tidak nona. nona Gisel pantas mendapatkan itu"


caera menoleh menatap Dira. kembali merasa terganggu dengan sikap formal Dira.


"bisa tidak sih, kamu tidak bicara formal dengan ku Dir?"


"maaf kak" Dira menunduk. merasa bersalah.


ini perintah tuan Jacko kak. bagaimana aku melanggarnya? sebentar lagi kakak akan jadi istri tuan Deva majikan ku


"sini. duduk bersama ku" caera menarik tangan Dira untuk duduk bersamanya.


"jangan kak. biar Dira di sini saja" Dira menolak.


"ayo sini. kenapa kau selalu membantah ku sekarang dir?" caera cemberut.


"maaf kak"


"huh.. maaf lagi" caera melengos.


Dira diam saja. hanya menunggui caera.


"tadi nona Gisel bilang, tuan Richard memilih mu. apa hubungan mu dengan tuan Richard, dir?"


Dira menegang. melirik caera di sampingnya. tapi belum menjawab pertanyaan caera. caera menoleh padanya. menatap tidak suka.


"kau menyimpan banyak rahasia dari ku Dir. tapi yaahh.. tidak apa-apa. aku tahu aku bukan siapa-siapa" caera membuang pandangannya lagi.


"bukan begitu kak" Dira merasa bersalah masih belum bisa berterus terang pada caera.


"ya sudah lah Dira. tidak apa-apa" caera menghempaskan napasnya. "aku haus dir. boleh kamu ambilakan aku sesuatu?"


"tapi kakak akan sendiri di sini" Dira tampak cemas.


"cuma sebentar bukan. tidak akan membuat ku hilang"


Dira menimbang sesaat. takut meninggalkan caera sendiri di taman dengan penerangan remang remang.


"ayo lah dir. aku belum mau masuk. ambilakan aku minuman. aku benar-benar haus" caera memaksa Dira.


"emm.. baik lah. tapi kakak jangan kemana-mana ya? aku akan segera kembali"


setelah memastikan caera aman, Dira bergegas masuk ke dalam ballroom hotel lagi. tinggal caera sendiri di taman.


tamu lain masih heboh di dalam. caera berpikir, hanya duduk sebentar di sini, tidak akan membuat Deva mencarinya bukan? caera hanya sedikit kesal dengan orang-orang kaya itu. mereka memainkan peran sebaik mungkin. banyak sekali kepura-puraan di dalamnya.


apalagi omongan Gisel tadi. Gisel sangat berbeda dengan apa yang di bayangkan caera. wajah cantik dan tubuh yang sempurna, tak menjamin bicaranya juga baik ketika cemburu merajai hati.


"eemmmppphh!!!"


caera tersentak kaget. matanya melotot lebar. tiba-tiba saja ada seseorang yang membekap mulutnya sangat kencang. memaksanya berdiri dari tempat duduknya.


caera memegang erat tangan yang membekap mulutnya. mencoba menarik agar tangan itu melepas bekapan dari mulutnya. tapi tangan kokoh itu sangat kuat membekapnya rapat.


terus menarik dirinya menjauh dari taman. dengan terseret mundur, caera mengikuti langkah itu. terseok-seok caera melangkah berat.


orang yang membekapnya menyamping ke kiri caera. dan menghempaskan tubuh caera ke tembok ballroom sebelah luar.


tubuh caera terhempas keras ke tembok. membuat tulang punggungnya sakit. caera memejamkan mata meringis merasakan sakit yang amat di punggungnya.


tapi setelah ia membuka mata, caera tak percaya melihat siapa yang telah membekapnya.


Arya!

__ADS_1


"sssshhhtttt.. jangan berteriak Ra. aku akan melepas tangan ku" Arya menaruh telunjuknya ke mulut. meminta caera untuk diam.


caera cepat menarik tangan Arya dari mulutnya. menarik napas karena sesak. dadanya berdebar takut.


"apa-apaan kamu!" caera membentak Arya marah.


"sssshhhtttt.. sudah aku bilang jangan berisik!" Arya melototkan matanya. menekan caera agar tidak berisik.


caera terpaksa diam. tak ingin Arya berbuat kasar lagi padanya.


"apa yang kau inginkan?" tanya caera dingin.


"Ra, aku rindu pada mu" mata Arya memelas. ingin memeluk caera.


cepat caera menepis tangan Arya dengan kasar. melotot marah pada mantan suaminya ini.


"jangan macam-macam kamu Ar!" sentak caera tertahan.


"aku hanya rindu pada mu Ra. aku ingin kau kembali pada ku"


Arya memepetnya ke tembok. membuat caera memalingkan wajahnya kesamping. sangat kesal dengan tingkah Arya.


"lepaskan aku!" caera memberontak.


Arya menangkap tangan caera keras. memelintirnya kebelakang tubuh caera. wajahnya menggelap. tersinggung dengan sikap penolakan yang caera tunjukkan.


"aku memberi mu rumah bukan untuk menyimpan laki-laki di sana Ra!" suara Arya terdengar menggeram marah.


"kenapa? itu hak ku! bukan urusan mu!" caera menantang.


"kau sekarang terlihat seperti pe la cur!"


caera melotot. sangat merasa marah dengan apa yang di katakan Arya padanya.


"tutup mulut mu!"


"kemarin kau dengan Richard. sekarang kau dengan sepupunya. Deva hanya memperalat mu untuk mendapatkan Gisel kembali. apa kau tidak menyadari itu?"


dada caera bergemuruh marah. sangat benci melihat Arya mengatakan hal-hal buruk itu. sekuat tenaga ia meronta melepaskan tangannya.


akhirnya tamparan itu singgah di pipi Arya. tamparan keras yang menghempaskan wajah Arya.


"kau menjijikkan! urus saja hidup mu! Deva tidak akan pernah melakukan itu. bercermin lah Ar. kita tidak punya hubungan apa-apa lagi!" geram caera.


Arya tampak semakin marah. matanya menatap nanar caera. menyentak caera ke tembok lagi. memepetnya kencang. berusaha menciun bibir caera dengan paksa. caera meronta-ronta agar terlepas dari Arya.


"Arya!!!!"


suara itu melengking memanggil nama Arya dengan keras. Arya menghentikan aksinya dan caera juga berhenti berontak.


"apa yang kau lakukan!" Vivi melotot marah menatap mantan suami istri itu Saling berperang.


Arya menoleh pada ceara lagi. tak menghiraukan Vivi yang sudah terlihat marah. menatap mata caera.


"Ra, kembali lah pada ku" ujar Arya masih tidak berputus asa.


"ciihh... kau tidak tahu malu. lihat istri mu ada di sini" caera membuang mukanya muak melihat Arya.


Vivi datang mendekat dan menarik tangan Arya untuk melepaskan caera. tapi Arya masih kencang memegangi caera. tak menggubris Vivi dengan susah payah menarik tangannya.


"kembali pada ku Ra. aku mencintai mu!"


"Arya. lepaskan dia!" sentak Vivi.


caera merasa mendapat kesempatan untuk menyakiti Vivi.


"kau ingin aku kembali?" tanya caera pada Arya yang masih memepetnya.


"ya" cepat Arya menjawab. Vivi tercekat mendengar apa yang di katakan caera.


"kau sanggup melakukan apapun?"

__ADS_1


"ya"


"apa-apaan kalian ini!" jerit Vivi makin marah dan melotot pada caera.


Arya agak mengendorkan pegangannya pada caera. kesempatan itu tak di sia-siakan caera. cepat ia mendorong keras tubuh Arya menjauh dari tubuhnya.


Arya terhuyung kebelakang beberapa langkah. Vivi cepat menangkap tubuh limbung Arya. caera memebenahi rambut dan gaunnya sejenak. lalu menoleh menatap mereka berdua.


"dengar Arya. jika kamu ingin aku kembali, berpisah lah dari pe la cur ini dan ibu mu. apa kau bisa?" caera merasa menang.


Vivi melotot padanya. wajahnya memerah marah. sangat benci menatap caera. tapi caera pura-pura tidak melihatnya. santai melipat tangannya di dada.


Arya menoleh menatap Vivi di sampingnya. lalu menyentakkan tangan Vivi dari lengannya.


"iya Ra. aku bisa" Jawab Arya cepat. tidak mau kehilangan kesempatan.


"apa kata mu??!!" Vivi tak dapat menahan marahnya lagi. memukul lengan Arya dengan keras.


"haha.. selamat mencoba Arya"


caera tertawa dan menatap sinis pada Vivi. lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang kini terlihat bertengkar hebat.


****


caera tak menyadari sedari tadi Deva melihatnya dari lantai atas dalam kegelapan bersama Jacko. dari mulai caera ke taman bersama Dira, Deva sudah ada di balkon memperhatikan caera.


"kau yakin Arya akan menemui caera, Dev?" tanya Jacko berdiri di samping Deva.


"aku sudah melihat gelagatnya dari tadi. dia mengikuti caera ke toilet" jawab Deva dingin masih menatap caera duduk di taman sendiri.


"Keenan sungguh mempersiapkan ini semua. lihatlah ke pojok semak itu" Jacko menunjuk ke arah rumpun bunga di samping pohon Cemara di dekat pagar.


"aku sudah memperingatinya waktu itu di taman kota. tapi dia kembali lagi" lanjut Jacko.


"Keenan ingin menjebak wanita ku Jack. bergeraklah"


"baik lah. kau awasi caera. aku akan mengurus ini"


Deva mengangguk. masih memperhatikan caera. Jacko pergi mengurus si penguntit di rimbunan bunga.


Deva mulai melihat Arya di belakang caera mengendap-endap dan membekap wanitanya lalu menarik caera ke tembok bagian luar ballroom.


"caera, aku membiarkan orang lain menyentuh mu untuk kali ini. lepaskan lah dendam mu. ini kesempatan mu" gumam Deva pada dirinya sendiri.


****


BHUUUKKK BHUUUKKK!!


Jacko meninju wajah penguntit di rerimbunan pohon bunga. orang itu terjengkang kebelakang. menubruk rimbunan bunga di belakangnya.


kamera dan alat perekam di tangannya terlepas dan berserakan. Jacko menarik kerah bajunya sampai orang itu bangkit berdiri. menatap Jacko dengan ngeri. dia tertangkap lagi. kali ini pasti tidak ada ampunan dari Jacko.


"aku sudah memberi mu kesempatan waktu itu di taman kota. kau mengincar tuan Deva. siapa yang menyuruh mu? katakan!" bentak Jacko.


orang itu terlihat sangat ketakukan. melotot gusar dengan napas terengah-engah.


"ma.. maaf kan .. sa.. Sasa..yaa. tuan" jawabnya tergagap.


"apa aku harus mengampuni keasalahan yang telah kau ulangi?!!"


BHUUUKKK!!


Jacko meninju wajahnya lagi. darah mengucur dari tulang pipinya. bagian itu robek akibat bogem mentah Jacko.


"katakan! siapa yang menyuruh mu?!" sentak Jacko lagi.


"tuuu.. tuan.. kee.."


belum sempat penguntit itu penuh menjawab, Jacko sudah menghempaskannya ke tanah dengan kasar. membuatnya tersungkur telah mencium rumput taman.


"bawa dia" Jacko mengintruksikan pada anak buahnya.

__ADS_1


dua orang yang ikut bersama Jacko menarik orang itu dengan keras. dan menyeretnya dengan kasar. membawanya pergi dari taman.


Jacko memungut kamera dan alat perekam yang tergeletak di rumput. memeriksanya sejenak, lalu membawa itu pergi.


__ADS_2