
Neneng.
Gadis desa berumur dua puluh tahun itu selalu membuat Jacko mati kutu. gadis yatim piatu yang di ambil Meta ibunya Jacko, selalu membuat Jacko kalang kabut. karena itu Jacko sangat enggan bertemu dengannya.
Jika Meta menyuruhnya pulang, Jacko pasti memberi banyak alasan. selain tidak mau di pusingkan dengan cerewet ibunya, Jacko juga tidak mau jika harus bertemu gadis yang dianggap sinting olehnya.
Gadis itu sangat polos. Tapi agresifnya luar biasa. apasaja yang di dengar dari orang lain, Neneng selalu menafsirkan salah. Terkadang Jacko berpikir, Neneng itu lugu, atau gila?
Tapi begitulah Neneng. Dia sangat menyukai Jacko. Bisa di katakan, cinta pandangan pertama. Lain lagi halnya Jacko, dia bilang.. Neneng itu adalah mimpi buruk.
Jacko tidak membenci Neneng. Tapi juga tidak di bilang suka. yang jelas, Neneng itu memusingkan!
Jacko mengusap wajahnya kasar. menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan keras. Terlihat banyak yang ia pikirkan.
Deva memperhatikan Jacko sedari tadi. Dan tersenyum kecil melihat kegundahan di wajah Jacko.
"ingin cerita?" tanya Deva.
Jacko melirik Deva sekilas. lalu membuang pandangannya ke arah lain sambil bergumam.
" cih.. untuk masalah ini paling kau hanya ingin mengejek ku"
"hahaahaa.. aku mendengar itu Jack" Deva tergelak.
Jacko diam saja. Kembali sibuk dengan laptopnya. Tak menggubris Deva yang tergelak menggodanya.
"Jack, ayolah. kita harus membicarakan ini. jangan menghindar terus" Deva mulai menunjukkan wajah serius.
"Aku sibuk" jawab Jacko ketus.
Deva diam. menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya. Menatap Jacko lekat sambil memainkan pena di tangannya.
Merasa di perhatikan, Jacko melirik Deva sesekali. tapi tetap tidak mau di ajak bicara. Dan Deva tahu Jacko hanya ingin menghindar.
"Bibi bicara pada ku" pancing Deva.
Dan berhasil. Jacko menghentikan kerjanya. Menatap Deva serius.
"Bibi bilang, dia sangat menginginkan melihat kau menikah" sambung Deva.
Jacko langsung menghela napas kasar. menopang kepalanya dan memejamkan mata. Sangat bosan mendengar yang itu-itu saja.
"Jack, bicaralah dengan bibi. Jika kau tidak suka pada Neneng, katakan saja. jangan menghindarinya terus" Deva memberi saran.
"Dev, kau tahu kan? gadis itu masih ingusan. terpaut dua belas tahun dengan ku. apa yang bisa ku harapkan darinya?" ujar Jacko resah.
"Tapi, apa kau tidak melihat dari sisi yang lain?"
"apa?"
"lihat ibu mu. Neneng mengurusnya dengan baik. dan lagi pula, dia gadis yang baik"
"aakkhh.. dia gila Dev" Jacko sangat jengkel.
"Bukan gila. dia hanya polos. dia menyukai mu. dan aku rasa, dia bersikap begitu karena bibi mengatakan kau adalah calon suaminya"
"hhhhh... sungguh aku tidak berminat" Jacko menekuk wajahnya.
"Kenapa? karena dia tidak punya pendidikan tinggi? karena dia gadis kampung? kau malu? atau kau menunggu Gisel?"
deg!
Jacko mendongak menatap Deva. kata-kata Deva yang terakhir menghujam jantungnya. benarkah? dia menunggu Gisel?
"baik lah" Jacko duduk tegak. "aku akui aku mencintai Gisel sejak lama" ujar Jacko tegas.
"lalu kenapa kau tidak bilang pada ku?"
"hhh.. aku rasa, sekarang kau yang gila" sarkas jacko.
"kenapa?" tanya Deva.
"kau pikir saja Dev. kau, kau yang lebih segalanya dari ku. tapi Gisel meninggalkan mu demi Keenan. dan aku... aku mau bilang mencintainya pada orang yang sudah di tinggalkannya?"
Deva diam.
"hahaahhaa.. kau lucu sekali Dev" Jacko tergelak.
"Neneng memang gila. tapi aku rasa Gisel lebih bodoh" lanjut Jacko.
"tidak ada pilihan ketiga?" tanya Deva.
"siapa?"
"siapa saja. Meri misalnya"
"ck.. kau menyebalkan!" sentak Jacko geram.
"menikahlah. pilih wanita yang juga menyayangi bibi. dia ingin kau menikah" ujar Deva.
"kau kira cari istri itu seperti membeli kacang Dev?"
"aku tidak bilang begitu. tapi pikirkan lah. siapa kira-kira yang kau anggap cocok"
__ADS_1
"aku belum memikirkannya"
"hhhh.. kau tidak dapat Jack. hanya Neneng yang bisa"
"hentikan Dev" jacko jengah.
"pikirkan lah. bicara pada bibi. aku mau kau lakukan itu secepatnya" perintah Deva.
🌺
🌺
🌺
Tok..tok.. tok..
Jacko mengetuk pintu kamar ibunya. dia memutuskan bicara pada ibunya sekarang. belum terlalu malam. ibunya pasti belum tidur.
pintu terbuka. Neneng muncul di ambang pintu. menyambutnya dengan senyum mengembang ceria.
"yayang ngejack!" serunya girang.
Jacko diam saja. melirik kedalam kamar. mendorong pintu lebih terbuka. terlihat ibunya masih duduk di kursi rodanya.
Jacko menatap Neneng dengan dingin. tapi Neneng hanya tersenyum lebar.
"kau keluar lah. aku ingin bicara dengan ibu"
Neneng mengangguk. melangkah keluar kamar. tapi sebelum dia melewati Jacko, Neneng mencubit kecil pinggang Jacko. membuat Jacko terjengkit kaget dan juga geli.
Jacko melotot pada Neneng. dan Neneng hanya tersipu. lalu pergi meninggalkan Jacko yang sudah ingin marah.
Jacko menghela napas berat dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Neneng. lalu melangkah masuk mendekati ibunya.
"kau baru pulang?" tanya Meta.
"iya ibu"
Jacko mendekat dan mengecup puncak kepala ibunya. duduk bersila di lantai menghadap ibunya. menggenggam tangan wanita yang telah melahirkannya. mengecup tangan itu lalu menaruh di pipinya.
"aku rindu ibu" ujar Jacko lirih.
"kalau rindu, pasti kau pulang"
"maaf Bu. banyak pekerjaan"
Jacko masih menggerakkan kepalanya di telapak tangan ibunya. menggesek pipinya di sana seperti kucing kesayangan.
Jacko diam saja. masih mengecupi telapak tangan ibunya. Meta. mengusap kepala Jacko dengan sayang.
"Jack"
"iya, Bu"
"ibu sudah sangat lelah"
Jacko mendongak. menatap mata ibunya.
"ibu masih tegar" sahut Jacko.
"tidak nak. ibu sudah lelah. tolong mengerti lah Jack"
Jacko menunduk lagi. kali ini meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya. memeluk lutut ibunya. memejamkan matanya, meresapi berada di pangkuan ibu.
"ibu mau aku menikahinya?"
"dia gadis yang baik. dia sangat polos"
"tapi aku belum bisa mencintainya sampai sekarang Bu" lirih suara jacko.
"kau hanya tidak mau berdekatan dengannya"
"dia sinting Bu"
"sedikit Jack"
"ibu... "
Jacko merengek menatap ibunya. memohon pengertian Meta. tapi ibunya hanya tersenyum.
"percayalah nak. hatinya sangat tulus"
Jacko terdiam. memeluk lutut ibunya lagi. merebahkan kepalanya. dia takut kehilangan ibu. dia hanya punya ibu. ibu yang sudah berjuang mati-matian menghidupinya. mempertaruhkan apa saja demi dirinya.
hingga kaki ibunya tidak bisa berjalan, juga hanya untuk dirinya. dia sangat menyayangi ibunya. selama ini, Jacko tidak pernah membantah ibunya. selalu bersikap seperti pria lemah jika di depan ibunya. karena ia tahu, bagi ibu, Jacko hanyalah seorang anak kecil yang harus di didik.
ibunya tidak pernah menganggapnya seorang pria. masih tetap anak lelaki yang ia sayang. dari itu Jacko harus bersikap sama pada ibunya. mengerti perasaan ibunya. tidak pernah membuat ibunya menangis.
Tapi sekarang, apa iya dia akan membuat ibunya bersedih hanya karena ingin melihatnya menikahi gadis kecil yang umurnya terpaut jauh dengannya?
"ibu ingin ada yang mengurus mu nak. ibu ingin melihat mu bahagia dengan istri mu"
tapi kenapa gadis sinting itu Bu??
__ADS_1
"Neneng gadis penurut. dia akan mengurus mu dengan baik. ibu tahu dia tidak punya pendidikan tinggi. tapi, dia punya hati yang baik. percayalah nak"
Jacko mengtatkan grahamnya. kata-kata ibunya menusuk jantungnya. tapi, apa dia harus melakukan itu tanpa adanya rasa cinta? bagaimana Neneng bisa bertahan dengan kehampaan itu nanti? apa tidak lebih membuat keadaan menjadi kacau?
Jacko mendongak lagi. menatap mata tua ibunya. menegarkan hati atas langkah yang ia pilih saat ini.
"baiklah bu. aku akan menikahi Neneng"
Meta tersenyum. binar matanya secerah mentari pagi. mengusap kepala dan pipi Jacko. akhirnya.. anak lelakinya ini setuju. hatinya bahagia.
"tapi, aku punya permintaan Bu"
"apa nak?"
"tidak menggelar pesta. aku mau hanya di keluarga Deva"
"ah.. baiklah. ibu ikut saja. terserah mu saja"
hati Meta sudah sangat bahagia. menuruti saja apa permintaan jacko. yang paling penting, menikahkan mereka dulu.
"baiklah bu. sekarang ibu istirhat ya"
Jacko membopong ibunya ke tempat tidur. membereskannya lalu menyelimuti Meta.
"tidur lah bu"
Meta hanya mengangguk. dia bisa tidur nyenyak sekarang. sekian lama dia menginginkan ini. dan sekarang, Jacko mengabulkannya.
Jacko mengecup kening ibunya. mengganti lampu tidur dan melangkah keluar kamar. tapi begitu keluar, Jacko heran melihat Neneng hanya berdiri tegak di depan kamar ibunya.
"kenapa masih di sini?" tanya Jacko dingin.
"Neneng nungguin yayang ngejack bicara sama ibu. neneng kan masih mau bantu ibu tidur di kasur" jawab Neneng.
Jacko menatapnya tajam. pikirannya berkecamuk. benar kata ibunya. gadis ini memang sinting. tapi dia tulus. masih menunggu untuk membereskan sampai ibunya tidur. luar biasa.
"ibu sudah tidur. kau istirahat lah"
"yayang ngejack tidak tidur?" tanya Neneng lagi.
Jacko tidak habis pikir dengan jalan pikiran Neneng. dialah gadis yang berani membalas tatapan mata tajamnya. seperti tidak ada beban.
"hmmm.. kau istirahat lah"
Jacko tidak menjawab pertanyaan Neneng yang menurutnya bodoh. Jacko tidak biasa tidur sesore ini. dia tidur selalu menjelang tengah malam. masih jam sembilan baginya masih sore.
Jacko melangkah meninggalkan Neneng yang masih tertegun tegak berdiri.
"Neneng mau tidur sama yayang ngejack" celetuk Neneng.
Jacko menegang.
sinting!!!
Jacko menoleh kebelakang lagi. menatap mata jeli itu dengan tajam. Neneng hanya tersipu malu.
Jacko bergerak mendekati Neneng. menariknya kencang dan memepet Neneng ke dinding. mengungkung Neneng yang kaget karena tarikan Jacko.
"kenapa mau tidur dengan ku?" tanya Jacko geram dengan mata berkilat marah.
"itu kan suami istri yang" jawab Neneng santai.
astaga!! gadis ini sungguh menjengkelkan!!
rutuk Jacko dalam hati. menatap mata Neneng seakan ingin meremukkannya saja saat ini juga.
"kau bukan istri ku!" sentak Jacko tertahan.
"ibu bilang, yayang ngejack calon suami Neneng"
"apa?!"
"iya. kata ibu begitu"
Jacko mengetat kan rahangya. jengkel sekali mendengar itu.
dengan berani, Neneng menaruh tangannya di pipi jacko. mengelus sedikit membuat Jacko makin menegang marah. menepis tangan itu. Neneng merengut.
"yayang kenapa sih?"
"mau apa kamu?!"
"teh Ratna bilang, kalau calon suami harus di sayang" jawab Neneng.
Jacko mendelik. entah bagaimana dia harus bersikap pada gadis ini. Jacko menjauh dari Neneng. ingin pergi meninggalkannya. tapi Neneng menarik kemejanya.
cup!
Neneng mengecup pipi Jacko sekilas. lalu pergi berlari kecil meninggalkan Jacko yang terpaku menatap kepergian Neneng.
menyentuh pipi bekas kecupan Neneng. mengusapnya perlahan.
"dasar sinting!"
__ADS_1