DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 56


__ADS_3

"aaaaaa... ponsel ku!!!"


jerit caera melengking. matanya mendelik melihat gawai itu sudah nyemplung di dalam wastafel berisi air.


ia melotot marah menatap Deva. yang di tatap malah santai seperti di pantai menyambut angin sepoi-sepoi.


plak! plak!


"Dev! itu ponsel ku!"


teriak caera pada Deva sambil memukuli pangkal lengan Deva. sudah tidak ada embel-embel tuan lagi. dia jengkel setengah mati.


"sudah basah"


ujar Deva santai.


"iihhh... " caera mencubit lengan Deva "kau iniiiii... "


"aawww" Deva mengaduh meringis kesakitan karena cubitan itu sangat terasa perih "sakit Ra"


"itu ponsel ku gimana Dev?!"


caera merengut kesal.


"ponsel itu sudah jelek"


jawab Deva tak menghiraukan kemarahan caera.


caera menghentak-hentakkan kakinya di lantai dengan jengkel. Deva meninggalkannya di depan wastafel. ia pergi ke sofa dan duduk di sana santai seraya mematik mancis menyalakan sebatang rokok dan menyesapnya.


caera memandang benci padanya. ingin menangis rasanya ponsel itu sudah kecemplung air. ponsel yang tidak seberapa itu diam dengan tenang di dalam air. itu ponsel satu-satunya yang ia punya.


caera merogoh ke dalam air dan mengangkat ponselnya yang sudah mati. memberengut kesal sekali pada Deva.


Deva hanya tersenyum lucu melihat caera mencak-mencak tak karuan melihat ponselnya sudah jadi mayat.


"sayang"


panggilnya Deva.


caera meliriknya dengan sinis sambil cemberut.


"sini"


Deva melambaikan tangannya dan menepuk sofa di sebelahnya. menyuruh caera mendekat dan duduk di sampingnya.


caera masih diam saja. tak mau lagi melihat ke arah Deva. menekuk wajahnya merasa jengkel setengah mati.


Deva tertawa geli tanpa suara. mengambil ponselnya, mengarahkan kamera tepat ke arah caera yang terlihat sangat kesal menatapi mayat ponselnya. mengabadikan foto wanita yang di cintainya itu, dalam keadaan memberengut.


"kheekheekhee" Deva terkekeh geli. "kau cute sekali Ra" mengusap-usap foto itu.


ia kirim pada Jacko. dengan caption,


'jadikan profilenya'


lalu tertawa lagi dengan senang. caera mendengar tawa Deva jadi makin kesurupan. ia mengira Deva mengejeknya. semakin marah itu membara di dalam hati.


"kau jahat Dev!"


serunya.


Deva menatap caera kaget. menaruh rokoknya di asbak lalu bangkit bergerak mendekati caera.


"sudah lah. ponsel mu itu sudah jelek. dia sudah cocok pensiun"

__ADS_1


Deva menggenggam tangan caera dan menariknya untuk duduk di sofa bersamanya.


caera menghempaskan pantatnya di sofa dengan marah. tidak mau menatap Deva lagi. ia mau demo karena Deva sudah seenaknya saja melakukan itu. itu ponsel baru di beli sewaktu dia di pantai.


Deva tersenyum. mencoba merayu caera.


"sayang, lihat aku"


Deva menarik lengan caera.


tapi caera menghentakkan lengannya, melepaskan tangan Deva. Deva makin terkikik geli.


"sayang, jangan marah"


Deva mengulangi lagi menarik lengan caera.


"apaan sayang-sayang! gombal! baru di cium, eh ponsel ku tenggelam"


sungut caera bergumam jengkel.


lagi-lagi caera menghentakan lengannya. caera melihat ke arah samping kanannya. tak mau melihat Deva di sebelah kirinya. duduknya pun agak miring membelakangi Deva.


Deva tidak putus asa. ia menarik agak sedikit memaksa membuat caera duduk lurus walaupun wajahnya masih menoleh ke arah lain.


Deva menyandarkan kepalanya di bahu caera. caera agak mengedikkan bahunya agar kepala Deva jatuh tidak bersandar lagi di pundaknya.


Deva masih mempertahankan posisi kepalanya menyandar di sana. mendusal-dusalkan wajahnya ke leher caera. menghirup aroma wangi rambut caera.


"apaan sih? awas!"


caera makin sebal saja.


"tidak pandai merayu ya? orang tak di kenal, jangan sapa-sapa, seram kalau bilang love you?"


ujar Deva mengulangi kata-kata caera tadi.


sentak caera.


"hmm"


Deva hanya berhem-hem saja.


pintu terbuka. Jacko masuk. membawa sebuah paperbag di tenteng di tangannya. berdiri menghadap pada Deva. caera melirik sebal pada kedua lelaki ini. mengerak-gerakkan bahunya agar Deva bangkit dan memandang pada Jacko.


tapi Deva tidak peduli. membiarkan Jacko melihat apa yang di lakukannya di bahu caera. Deva masih mengendus-endus aroma rambut caera. dan menarik-narik rambut ikal itu.


Jacko mengeluarkan sesuatu dari paperbag, sebuah kotak ponsel dan menyerahkannya pada Deva.


Deva bangkit dan menerima kotak itu. lalu merebahkan kepalanya lagi. kali ini di samping lengan caera. menempelkan wajahnya di sana.


caera sangat risih dengan kelakuan Deva karena Jacko pasti melihat itu. wajah caera pasti sudah seperti saus tomat oplosan yang di beri pewarna kimia. mweeerrraahhh mwerrrooonaaa...


Deva memberi kotak ponsel itu pada caera. caera diam saja. masih belum ngeh kalau Deva mengganti ponselnya yang sudah jadi mayat, dengan ponsel baru.


"sayang, ini.."


Deva menyodok-nyodokkan kotak ponsel itu ke tangan caera. caera menoleh lalu melirik pada Jacko. tapi Jacko hanya diam saja.


caera melirik wajah Deva yang menempel di lengannya. terlihat wajah pria itu penyok karena tertekan lengannya. tampak lucu dengan bibir yang menyong ke depan.


Deva cuek saja dan menyodokkan kotak ponsel ke tangan caera lagi. caera menerima kotak itu.


"buka sayang"


kata Deva lagi. caera membukanya. mengeluarkan sebuah gawai keluaran terbaru dengan merek MPHONMPHON NGEBAS MPOK MAX, yang caera tahu seharga sebuah motor sport nya Mark Marquez yang lagi balap di Mandalika.

__ADS_1


"apa ini?"


tanya caera.


"ponsel"


jawab Deva singkat.


"iya, ini ponsel. siapa bilang ini roti" caera makin sebal saja melihat Deva. "maksudnya untuk apa?"


"untuk kamu sayang. yang itu tahan empat musim. masuk laut sekalipun bisa itu. pintar berenang dia. namanya saja Mpok max"


ujar Deva.


Jacko tak tahan hanya diam saja. ia agak menunduk dan menyembunyikan senyum gelinya. hanya bahunya yang berguncang naik turun. dia tak mau hilang imej di depan caera.


"ini untuk ku?"


tanya caera lagi.


"iya. itu punya kamu. coba di nyalakan"


ujar Deva.


caera menurut. menyalakan ponselnya. begitu ponsel menyala dan menampilkan wallpaper yang terang, ia kaget. ada fotonya dengan wajah menyeramkan merengut kesal dengan mayat ponselnya di tangan.


dia menoleh pada Deva. Deva sudah bergerak bangun dan terkekeh geli.


"iisshh..." caera memukul kecil lengan Deva dengan kesal. "kau menyebalkan!"


"kau manis sekali kalau begitu"


Deva masih tertawa sambil melirik layar ponsel yang menampilkan wajah kesal caera. memegangi tangan caera agar tidak memukulnya lagi.


"tapi, semua nomor penting ada di ponsel ini"


kata caera lagi menunjuk pada ponselnya yang sudah koit. ia masih kesal.


Deva menghentikan tawanya. menatap caera dengan sayang.


"cek lagi"


katanya menyuruh caera memeriksa ponsel barunya.


caera menurut. ia mengecek daftar kontak di ponsel itu. dan ia menemukan nomor nomor ponsel lengkap dengan namanya sekalian sudah tersimpan di memori cardnya. ayah, ibu, Bima, Dinda, dan.... PRIA YANG MENCINTAI MU!


siapa itu? caera heran. nomor siapa itu dengan nama yang norak begitu? caera menoleh ke pada Deva.


"siapa ini?"


tanyanya.


Deva hanya tersenyum simpul. hiiihhh... caera merasa gemas melihat senyum yang penuh teka-teki itu.


ia cek lagi di aplikasi berwarna hijau yang ada logo gagang teleponnya.


iciikiiwiiirrr....


terlihatlah foto profile nomor yang di block nya semalam. caera baru ngeh, kalau itu nomor ponselnya Deva. ia teringat kata-kata nya tadi. orang tidak jelas, rayuan basi, seram bilang sayang dan love you, dan yang paling ngeri caera mem-block nomor itu.


caera menoleh pelan pelan melihat ke samping kirinya. telihat deva menyunggingkan senyum lebar yang terlihat masam.


caera langsung saja membalas senyum Deva dengan senyum cemerlang pasta gigi.


"hhheeeehhhh"

__ADS_1


TIIING!! 😁


__ADS_2