DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 159


__ADS_3

Jacko memapah Richard keluar dari club. diikuti Deva dan Zaki. mereka berhenti di pelataran parkir.


"kau bisa mengantarnya Jack?" tanya Deva.


"ya. kau pulanglah. biar aku yang mengantar nya" jawab Jacko dan menyerahkan kunci mobil pada Deva.


"zak, kau bantu lah Jacko" Deva menatap Zaki. menyuruhnya ikut dengan Jacko.


"oowwhh.. sorry bos. aku tidak mau dia memperkosa ku. biarlah Jacko yang menanganinya" jawab Zaki.


"tidak apa-apa. biar aku yang mengurusnya" Jacko menengahi.


Deva membantu membukakan pintu mobil Richard. dan Zaki membantu memasukkan Richard ke mobil. setelah di rasa cukup, Deva dan Zaki menuju mobil mereka masing masing.


tapi Deva segera keluar lagi.


"hey.. kalian ingat apa yang di katakan Wulan tadi?" tanya Deva.


Zaki dan Jacko mengangguk.


"ingatlah. kita harus mengintrogasi pejantan tangguh ini" sambung Deva lagi.


Zaki dan Jacko saling pandang. lalu mengangguk bersamaan.


"baiklah. ayo pulang"


Deva masuk ke mobilnya. diikuti Zaki dan Jacko masuk ke mobil masing-masing.


"Jack, setelah itu pulanglah ke mansion. jangan ke tempat lain" ujar Deva menatap Jacko dari dalam mobilnya.


Jacko hanya mengangguk. ia tahu apa arti pandangan Deva padanya. Deva memperingatkan kalau ada ibu di mansion.


mereka menjalankan mobil beriringan keluar dari area club. lalu berpisah di persimpangan jalan. Jacko melirik pada Richard yang masih bergumam tak jelas. mabuk berat.


Jacko tahu apa yang di resahkan Richard. sampai sekarang Dira masih menolak Richard. dan sialnya, Richard juga masih terlalu menjaga gengsinya.


melihat keadaan Dira yang sekarang ini, membuat Richard kesulitan menundukkan Dira. gadis itu sudah tidak mudah di pengaruhi lagi.


Jacko memilih mengantarkan Richard ke apartemen nya saja. lebih aman. kalau di rumah paman Clark, pasti ada Cloe. Jacko tidak mau Cloe melihat papanya dalam keadaan berantakan begini.


sesampainya di apartemen Richard, Jacko meminta keamanan gedung untuk membantunya membukakan pintu.


memapah pria letoy itu ke apartemennya. Richard tampak sudah mulai tenang. tidak meracau seperti tadi. memapah Richard langsung ke kamarnya. membiarkan pria itu tergeletak di ranjang dengan masih berpakaian lengkap.


tidak mau dia membereskan segalanya. ada yang lebih bisa mengurus Richard saat ini. Dira.


Jacko mengirim video yang tadi dikirim Deva padanya. memotong video yang tidak penting untuk di lihat Dira, dan mengirimnya. menunggu sebentar sampai Dira melihat itu dan menontonnya.


setelah di kira cukup, Jacko menelepon Dira.


"segera kemari. urus lelaki mu ini" ujar Jacko di sambungan telepon.


tak perlu menunggu lama, Dira sudah menyetujui. dan pasti gadis itu segera meluncur.


duduk sendiri menunggu Dira datang. Jacko teringat apa yang di katakan Wulan tadi. bagaimana mungkin pejantan tangguh seperti Richard senjatanya tidak bisa bangun? apa Wulan berbohong?


Wulan adalah mantan pacar Richard. berprofesi sebagai seorang designer. tapi itu sudah lama sekali. sepertinya mereka pacaran hanya bertahan dua hari. dan Richard tidak memberitahukan apa alasannya.


setelah itu Richard tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita baik-baik. dia hanya memakai jasa pemuas dari club ke club lain. tapi itu pun hanya wanita pilihan. Richard tidak sembarangan memilih wanita.


tapi apa yang terjadi? kenapa Wulan mengatakan itu dengan gamblang? bukankah Richard seorang Casanova? mana mungkin ia membiarkan daging segar di depannya tanpa menyantapnya.


Tapi lamunannya buyar dengan kedatangan Dira. Jacko mempersilahkannya masuk. dan menyuruh Dira mengurus Richard. dia harus segera pulang.


sebenarnya dia sangat lelah. ingin pulang ke apartemennya saja. tapi, dia ingat ibunya. tidak mau mengecewakan ibunya. dan lagi pula, ada yang harus di bicarakan dengan Neneng.


Jacko sudah memeriksa latar belakang Neneng. meminta orang-orangnya untuk menyelidiki. dan dia mendapatkan itu semua.


gadis yang aneh. pertama kali bertemu Neneng, gadis itu terlihat sangat cupu. tapi setelah beberapa kali bertemu, Neneng terlihat berubah. luar biasa agresif. Jacko sampai kalang kabut menghadapinya.


🌺


🌺

__ADS_1


🌺


setelah sampai di mansion, Jacko langsung mandi dan bersiap menemui ibunya. semoga saja ibu belum tidur. dia bertemu ibunya hanya ketika pagi dan malam sepulang dari kantor. apalagi ada jadwal ke luar kota atau keluar negeri, pasti akan jarang sekali bertemu.


mumpung ibunya ada di sini bersamanya, dia harus menyempatkan diri untuk bertemu dengan ibunya.


Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Jacko membuka pintu kamar ibunya sedikit. mengintip sejenak dari celah pintu yang terbuka.


tampak Neneng duduk bersimpuh di depan ibunya yang masih duduk di kursi roda. memijat tangan ibunya dengan telaten. mereka terlihat mengobrol.


melihat itu, Jacko langsung melebarkan pintu dan melangkah masuk. Meta dan Neneng menoleh ke arahnya.


"yayaaang.."


wajah ceria Neneng menyambut Jacko. tapi Jacko diam saja. tidak menggubris Neneng sedikit pun.


"kau baru pulang Jack?" tanya Meta tersenyum menatap Jacko.


"iya, ibu" jawab Jacko.


Jacko duduk di sofa. memandangi Meta dan Neneng. Neneng melanjutkan memijat kaki Meta.


"kenapa lama sekali? kalian dari mana?" tanya Meta lagi pada Jacko.


"ada urusan sedikit tadi Bu" Jacko mendekat. "ibu kenapa belum tidur?" berdiri di belakang Neneng.


"ini ibu mau tidur. tolong ibu nak"


Meta mengulurkan tangannya. meminta Jacko menggendongnya ke tempat tidur. dengan sigap Jacko mengangkat ibunya dan merebahkan ke tempat tidur.


Jacko menatap ibunya dengan mengerutkan kening.


"ibu tampak pucat. ibu sakit?"


Meta melirik Neneng. lalu tersenyum pada Jacko. mengusap wajah putranya dengan sayang.


"tidak. ibu baik-baik saja"


Jacko tampak khawatir. menyentuh kening Meta untuk mengukur suhu tubuhnya.


"ibu tidak apa-apa Jack. jangan khawatir"


Meta menarik tangan Jacko dari keningnya. tersenyum menenangkan putranya. Jacko mengalah. ia pikir ibunya hanya kelelahan saja.


"baiklah. ibu istirahat ya"


Jacko menarik selimut dan menutupi tubuh Meta. ibunya hanya tersenyum dan mengangguk. langsung saja memejamkan matanya.


Jacko melirik Neneng yang masih menyunggingkan senyum. yang menurut Jacko itu adalah senyum menggoda dengan mata berbinar.


"ikut aku"


ujar Jacko dingin. lalu melangkah keluar kamar. dengan senyum makin mengembang, Neneng mengikuti Jacko keluar dari kamar.


Jacko membawa Neneng ke kamarnya. menanti Neneng di balkon kamarnya. berdiri tegak memasukkan kedua tangannya di saku celana. menghadap ke taman samping mansion. Neneng masuk dan menyusul Jacko. berdiri di ambang pintu balkon.


"yayang ngejack mau tidur?" tanya Neneng tanpa Tedeng aling-aling.


Jacko mengetatkan rahangnya. merasa terganggu dengan pertanyaan itu. apa sebenarnya yang di pikirkan gadis ini? mau mengajaknya bermesraan di ranjang, begitu?? sinting!


"apa yang kau pikirkan?" sangat terdengar dingin suara Jacko.


dengan wajah sumringah Neneng melangkah mendekat. menyentuh tangan Jacko.


"Neneng mah siap aja yang" jawab Neneng dengan senyum lebar.


mendidih darah Jacko mendengar jawaban itu. murahan sekali! Jacko menepis tangan Neneng dari lengnnya.


"jangan murahan kamu!" sentak Jacko.


bukannya takut dengan bentakan Jacko, Neneng malah hanya tersenyum lebar. tak terpengaruh dengan kilatan mata marah itu.


"sama calon suami sendiri tidak apa-apa kan yayang?" ujar Neneng.

__ADS_1


mendengar itu, sontak Jacko melotot marah melihat Neneng. sangat frustasi dengan kelakuan gadis ini.


"astaga! neneeeeng... tolong! jangan membuat ku kesal!"


Jacko mundur dan terduduk di kursi yang ada di balkon. mengusap wajahnya kasar. sangat merasa frustasi. Neneng malah tertawa.


"dengar Neneng. tolong dengarkan aku kali ini"


"iya yayang. Neneng dengerin kok"


"dengar. sebentar lagi kita menikah. tapi, maaf. aku menikahi mu hanya karena permintaan ibu"


ujar Jacko berterus terang. ia tidak mau ada kebohongan di dalam pernikahannya nanti. wajah Neneng langsung berubah pias. menunduk dalam mendengar apa yang di katakan Jacko barusan.


"maaf. aku tidak bisa mencintai mu. aku hanya ingin ibu tidak sedih hanya karena ingin kita menikah. jadi, jangan berharap banyak pada ku" lanjut Jacko.


Neneng masih diam tertunduk. Jacko berhenti bicara dan menatap gadis itu. ia berharap Neneng akan menangis, marah, lalu mencaci makinya dan membatalkan pernikahan mereka, dan kalau bisa, pergi jauh menghilang dari hidupnya.


tapi harapan itu hanya sia-sia. yang tadinya terlihat sedih dengan wajah piasnya, kini gadis itu mendongak dengan wajah cerah ceria seperti biasa. menatap Jacko dengan wajah berbinar dan tersenyum lebar.


astaga!!! wajah itu!! sungguh menjijikkan!!


"yayang ngejack. tidak apa-apa yayang mau menganggap Neneng apa. Neneng tidak keberatan atuh yang. yang penting bagi Neneng mah cuma yayang ngejack" jawab Neneng tersipu malu.


Jacko menghela napasnya berat. mungkin ini sudah takdirnya menikahi gadis aneh seperti Neneng. biarlah. yang penting ibunya senang.


"baiklah. ingat itu. jangan berharap banyak pada ku" ujar Jacko lagi penuh penekanan.


Neneng hanya mengangguk mengiyakan saja. masih memamerkan senyum tersipu malu-malu.


"keluar la. aku mau istirahat" ujar Jacko dingin.


Neneng menurut. beranjak meninggalkan Jacko sendiri. Jacko terduduk lemas di kursi. menutup wajahnya dengan kedua tangan. berusaha menerima Neneng si gadis sinting.


🌺


🌺


🌺


Neneng melangkah masuk ke dalam kamar Meta. wanita tua itu menatapnya dan tersenyum.


Neneng mendekati ke tempat tidur. dan bersimpuh di samping ranjang. menggenggam tangan Meta dan mengecup tangan tua yang mulai banyak keriput kulitnya.


"Jacko bilang apa?" tanya Meta.


"tidak ada Bu. hanya bilang bersedia menikahi Neneng"


Neneng tersenyum pada Meta. mengusap pipi tua yang renta itu.


"Neneng, kau adalah harapan ku satu-satunya. bersabarlah menghadapi Jacko" ujar Meta lirih.


Neneng tetap tersenyum manis. mengecup lagi tangan Meta dalam genggamannya.


"iya, Bu. jangan khawatir. Neneng usahain semampu Neneng Bu"


"terima kasih Neneng"


air mata Meta menetes dari sudut matanya. dengan sayang Neneng menghapus air mata wanita yang rapuh ini.


"ibu jangan bilang begitu. harusnya Neneng atuh yang terima kasih ke ibu. ibu baik banget"


"kau gadis yang baik" Meta tersenyum menatap mata jeli milik Neneng.


"ibu"


Neneng berlutut dan memeluk tubuh tua di tempat tidur. menahan air matanya mati-matian. dia sangat menyayangi wanita tua ini. yang telah menerimanya dan menganggap sebagai putrinya sendiri.


biarlah Neneng mengorbankan perasaannya demi membalas Budi dan perlindungan hidup.


"terima kasih neng"


"terima kasih ibu. ibu adalah ibu Neneng yang sebenarnya"

__ADS_1


__ADS_2