
caera kesal hari ini. tadi pagi Dira sudah menjemputnya. tapi caera menolak. dia ingin pakai mobilnya sendiri. tapi dasar memang apes, mobilnya mogok di tengah perjalanan.
caera lupa menservis mobilnya. jadinya mobil kesayangannya itu ngambek. menunggu mobil derek datang dan ia memutuskan pakai jasa angkutan online saja.
sampai di kantor juga terlambat. masuk ke ruangan Deva menyaksikan Dira kena semprot Deva karena tidak datang bersama caera.
caera tidak sampai hati melihat Dira tertunduk lesu menghadapi kemarahan Deva.
"tuan Dev. ini bukan salah Dira. saya yang salah tuan"
caera berdiri di samping Dira.
Deva melotot kesal ke padanya. karena caera selalu membantah apa yang ia perintahkan.
Jacko melirik caera dan menaikkan bibirnya tersenyum sedikit.
"kau membela kesalahannya Ra?"
"bukan begitu tuan. tapi ini memang salah saya. saya yang menyuruh Dira pergi ke kantor tanpa saya"
caera menunduk. agak ngeri juga melihat Deva melotot.
Deva diam. menarik napas dan menghempaskannya perlahan.
"baiklah. lain kali jangan ulangi lagi Dira. keluar lah"
"terima kasih tuan"
Dira membungkuk hormat. dan beranjak pergi. caera mengikuti Dira keluar dari ruangan Deva.
"eeheeemmm!!"
Deva berdehem kencang. sampai caera terlonjak kaget, menoleh kebelakang. Jacko menahan tawanya melihat tingkah konyol Deva.
"siapa yang menyuruh mu keluar?"
tanya Deva jengkel.
"tapi.. tapi tadi tuan suruh keluar"
jawab caera gugup.
"hmmm"
Deva menatapnya tajam. mengetatkan rahangnya geram. caera mengkerut takut. baru kali ini Deva terlihat sebal melihatnya. Jacko mengulum senyum melihat caera tertunduk ngeri.
Jacko bergerak melangkah ke arah pintu. begitu langkahnya di samping caera, Jacko sempat berbisik di dekat telinga caera.
"berhati-hatilah. kekasih mu akan menghabisi mu sebentar lagi"
caera terlonjak ngeri. menatap Jacko yang tersenyum smirk menatapnya. Jacko melewatinya melangkah ke pintu dan keluar dari ruangan Deva.
Deva hanya memandangi caera. membuat caera gugup setengah mati. ingin lari ke luar tapi takut Deva makin marah padanya.
"kemari"
ujar Deva datar.
dengan ragu caera mendekat. berdiri di depan meja kerja Deva.
"siapa yang bilang di situ?"
"ti.. tidak.. ada tuan"
caera melirik Deva sedikit, lalu menunduk lagi.
"hmmm.. kemari"
Deva menggerakkan jarinya menyuruh caera mendekat ke sampingnya.
takut-takut caera mendekat dan berdiri di samping kursi Deva.
"kenapa di situ?"
"tuan yang bilang di sini"
__ADS_1
"dekat lagi"
caera mulai jengkel. dia baru ngeh kalau Deva hanya ingin mengerjainya. caera tidak menuruti. hanya diam menunduk.
"caera, ke sini. lebih dekat"
Deva bicara tak sabar. gemas melihat caera mengulur waktu. dengan jengkel caera mendekat, berdiri di samping kursi Deva. Deva menggeser kursinya menghadap caera. menatapnya tanpa berkedip. membuat caera gugup.
"kau melupakan peraturan mu"
ujar Deva dingin.
"yang mana tuan?"
"huh.. tuan lagi tuan lagi"
Deva geram. memijit keningnya frustasi. begitu susahkah menaklukan makhluk Tuhan yang satu ini? hanya caera yang begini bandel. wanita lain, pasti sudah berlutut meminta cinta padanya.
"tidak pakai tuan kan karena di rumah tuan Deva. tapi ini kantor. mana aku bisa tidak memanggil tuan"
caera membela diri.
Deva mendongak menatapnya lagi. sungguh hatinya jengkel caera masih memanggilnya tuan.
"kau minta di hukum rupanya"
Deva mengetatkan rahangnya. gemas melihat caera tanpa merasa bersalah mengatakan itu. mendengar kata-kata Deva, caera sontak mundur. ia tahu apa yang akan di lakukan Deva. pasti tuan mesum ini mau berbuat yang aneh-aneh lagi. mode melarikan diri berdering di otak caera.
tapi Deva sudah bisa membaca apa yang akan di lakukan caera. dengan cepat Deva memerintahnya lagi.
"sini!"
ujar Deva dingin.
"kemana tuan?"
"duduk di sini!"
Deva melirik pangkuannya. caera mendelik. yang benar saja Deva menyuruhnya duduk di pangkuannya. yang ada, dia pasti akan melakukan seperti yang kemarin.
"eemm.. Dira pasti membutuhkan bantuan ku. lebih baik aku melihatnya"
"jangan begini tuan Dev"
Deva diam saja. hanya menatapnya dalam diam. caera jadi tidak banyak memberontak. ia melihat mata Deva bukan dalam mode mesum. tapi lebih tepatnya sendu.
"A.. ada apa tuan Dev?"
caera jadi tak enak hati melihat Deva menatapnya seperti banyak berpikir.
"Ra, kau masih mencintainya?"
Deg!
caera tak percaya Deva menanyakan itu. apa yang di pikirkan pria ini hingga dia menanyakan hatinya?
"siapa?"
"Arya"
caera membuang pandangannya. tak mau menatap mata coklat itu untuk menguliti perasaannya.
"ada apa tuan Dev? kenapa bertanya itu?"
Deva diam. menyandarkan kepalanya di lengan caera sebelah samping. menatap lantai seakan banyak tulisan di bawahnya dan Deva membaca di sana.
caera tidak mengerti kenapa Deva jadi melow begini. tidak seperti biasanya Deva selalu jahil dan menggodanya.
"aku takut kau pergi dari ku"
lirih suara Deva. seakan banyak makna terkandung di dalam kata-katanya.
hati caera serasa di iris belati tajam. begitu inginkan Deva tetap bersamanya? dulu Arya juga begitu. tapi dia lemah setelah tak bisa menemukan jawaban pasti atas masalah yang di hadapi. apalagi Deva yang nota bene orang penting dan sangat memerlukan keturunan untuk penerus nama keluarganya.
"Ra"
__ADS_1
"ya"
"jangan pergi dari ku"
Deva mengetatkan pelukannya di pinggang caera dan makin menempelkan wajahnya di lengan caera.
"kenapa jadi cengeng begini tuan Dev?"
caera memancing Deva menghilangkan melownya.
"tentang mu, aku akan menjadi air Ra"
Deva mendongak menatap caera. caera menatap Deva dengan lirikan matanya.
"di dunia ini, masih banyak hal yang bisa membuat kita hidup bukan? kenapa melulunya soal cinta? kita akan lemah jika hanya memikirkan itu"
seperti hati ku tuan Dev... aku mencoba untuk tidak jatuh cinta dengan mu. walaupun itu sungguh sulit
"pertanyaan ku belum di jawab"
ucap Deva datar. merasa tersinggung dengan kata-kata caera.
"yang mana?"
"kau masih mencintainya?"
ulang Deva dingin.
caera tersenyum. ia tahu Deva merasa tersinggung. sebenarnya caera juga tidak bisa menentukan sikapnya pada Deva. terlalu banyak tekaanan yang harus di hadapi jika siap menerima cinta Deva. caera harus mempertimbangkan segalanya.
"cinta itu apa sih?"
caera balik bertanya.
"sabar"
mendengar itu, caera melebarkan senyumnya. memiringkan tubuhnya langsung menghadap Deva. menangkup wajah pria tampan yang banyak di puja wanita itu.
"sayang, jika cinta itu adalah sabar, lalu bisakah engkau bersabar tanpa harus memiliki orang yang kau cintai?"
hati Deva berdesir mendengar caera memanggilnya sayang.
"sayangnya, aku sudah melewati itu Ra"
jawab Deva. "apa harus sekali lagi?"
caera tak bisa menjawab. hanya bisa menatap mata tajam deva. hatinya menjerit ingin memeluk dan mengatakan cinta pada Deva. tapi hati yang lain melarang keras agar tidak merasakan di campakkan lagi karena kekurangan yang ia miliki.
"sayang" Deva memanggilnya mesra. "ayo menikah"
"secepat ini?"
"ya"
"alasannya?"
"yang menonjol di bawah sudah tak tahan lagi"
Deva melirik kebawah.
astaga!
caera kaget. saking seriusnya melihat kemelowan Deva, caera sampai tak merasakan ada yang lain di bawah sana.
dengan jengkel, caera menghempaskan wajah Deva yang di pegangnya.
"iiisshh kau mengerikan tuan Dev!"
caera bangkit dengan kasar. menghentakkan kakinya jengkel. lalu melangakah ke luar ruang kerja Deva. tadinya dia sudah lumer karena Deva sudah sangat melow dengan segenap perasaan. tapi dengan kurang ajarnya Deva menjahilinya lagi. menjengkelkan.
caera menyangka, Deva mengajaknya menikah alasannya karena cinta. tapi ternyata jawaban Deva jauh dari kata romantis. itu hanya karena tonjolan yang tak tahu diri itu.
"hahaahaaaa..."
Deva terbahak melihat wajah caera cemberut marah.
__ADS_1
"aku membenci mu tuan deeevv!!!"
teriak caera ketika menutup pintu dengan kencang.