DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 165


__ADS_3

"Sayang"


Deva mendekati Caera yang terlihat meringis kesakitan. Panik begitu melihat banyak air yang merembes di pakaian bagian bawah Caera.


"Apa ini?" tanyanya.


"Itu air ketuban Dev. Capat lah, istri mu sudah mau melahirkan Dev"


Soraya menepuk bahu Deva. membuat Deva langsung tersadar. Dira sudah menaruh tas di mobil. Deva langsung membopong Caera menuju mobil.


"Tahan sedikit sayang" ujar Deva.


Caera hanya mengangguk. Deva memasukkannya ke mobil. Jacko yang menyetir. sementara yang lain naik mobil lain bersama Dira.


Richard masih terbengong melihat Caera kesakitan. Hatinya terasa ngilu. Melirik Dira yang tampak tidak menghiraukannya. Begitukah Dira sewaktu hamil Cloe? sungguh Richard merasa seakan dirinya menjadi tidak berguna.


Mereka berangkat ke rumah sakit. Deva sudah menghubungi Ziana dan mempersiapkan semua di rumah sakit.


"Dev... sakit" keluh Caera.


"iya sayang. sabar ya"


Deva mengecupi puncak kepala istrinya yang meringis kesakitan.


"cepat lah Jack"


Jacko menjaga kecepatan mobil. Khawatir Caera akan ketakutan. Deva terlihat sangat cemas dan panik. tapi mencoba tenang di depan istrinya.


sesampainya di rumah sakit, para perawat jaga sudah bersiap sedia menyediakan brankar.


dengan hati-hati Deva membopong Caera keluar dari mobil. di bantu beberapa perawat dan menaikkannya ke atas brankar.


Dengan cekatan, para perawat membawa caera keruang persalinan. Ziana juga telah siap membantu persalinan Caera.


"Dev, kalau tidak kuat, tunggu saja di luar" ujar Ziana.


"Tidak. aku kuat zi. aku mau masuk" Deva memaksa.


Ziana mengizinkan. Deva ikut masuk ke ruang persalinan menemani Caera. Wajah Caera sudah terlihat pucat. menahan rasa sakit yang tidak terkira.


Perutnya terasa mulas yang rasanya seperti sampai menembus jantung. pinggangnya sakitnya luar biasa. baru kali ini Caera merasakan sakit yang tidak bisa ia gambarkan. sakitnya bercampur aduk. tapi terkadang hilang untuk beberapa menit, lalu sakit lagi.


Ziana memeriksa Caera. Caera terbaring dengan kaki mengangkang. Deva seperti ingin pingsan rasanya melihat itu.


Gemetar melihat wanita yang di cintainya menahan sakit yang menurutnya luar biasa.


"Sayang. aku di sini. aku bersama mu" ujar Deva menenangkan caera.


"ssshhhh... deeevv... sakit Dev" rintih caera dengan keringat yang bercucuran menahan sakit yang di rasa.


"Iya sayang. aku tahu itu sakit. tapi sabar sayang"


Bergetar suara Deva menenangkan caera. lututnya lemas. tenaganya seakan terkuras habis.


"Masih sebentar lagi. sabar kakak ipar" ujar Ziana.


"Zi! cepat keluarkan bayinya. istri ku sudah sangat kesakitan!" sentak Deva.


"astaga! sabar Dev. sebentar lagi"


"ya Tuhan! aku tidak tahan"


Deva meneteskan air mata melihat Caera. dia sangat panik. melihat wajah pucat istrinya dengan keringat membanjir. meringis menahan sakit. hatinya sungguh terluka dan Deva tidak tahan. menangis terisak.


"Dokter Zi.. rasanya aku ingin mengejan" ujar Caera lemah.


Ziana memeriksa lagi. dan ternyata sudah waktunya untuk bayi keluar. semua perawat yang bertugas dengan cekatan membantu. dan Deva hanya bisa menangis dengan tangan menggenggam erat tangan caera.


"bersiaplah Kakak ipar. hitung saja ketika rasa ingin mengejan, maka lakukannya"


Caera mengangguk. merasakan kapan baby-nya mengajak mengejan. Deva masih terisak di sebelah Caera. membuat Caera sulit berkonsentrasi.


"huu..huuuhuuu.. maafkan aku sayang. aku yang membuat mu begini" Isak Deva.


"Deeeeevvv"

__ADS_1


Teriak Caera tiba-tiba. membuat Deva terlonjak kaget. panik melihat wajah istrinya yang merah padam.


"huhh.. huuuhh.. eeeeeggghh..."


Caera mengejan. Ziana sibuk memberi instruksi. sementara Deva rasanya sudah ingin buang air kecil saking shocknya melihat proses kelahiran bayinya.


"Yaaa.. bagus kakak ipar. ayo tarik napaaaaasss..."


"heeeeegggghhhh" Caera mengejan lagi dengan sekuat tenaga.


"aaaaaahhh... aku tidak kuaatt"


Deva menggelongsor di lantai. lututnya lemas seluruhnya. ia tidak kuat melihat Caera berjuang antara hidup dan mati.


"ASTAGA lelaki ini!!" Ziana kesal melihat Deva yang sudah pucat pasi tak sanggup melihat proses persalinan.


"huhhh.. huuhh.. Deeeevaaaa...heeeegggghhh..." teriak Caera lagi. merasakan sakit yang luar biasa.


Deva sontak bangkit lagi melihat istrinya. dengan lutut gemetaran mencoba berdiri dengan air mata berlinang.


"sayang.. huhuhuu.. maafkan aku Ra. aku janji tidak akan memasukkan naga ku lagi dengan keras. huhuuuu.. huuu"


Deva meraung. semua perawat yang membantu persalinan, dan juga Ziana, tercengang mendengar apa yang di ucapkan Deva. sungguh konyol sekali Deva ketakutan melihat istrinya berjuang mengeluarkan seorang bayi.


"huuuhh... huuhhh.. eeegghhhh..."


kali ini caera mengejan sambil menjambak rambut Deva dengan keras. membuat kepala Deva menunduk paksa akibat tarikan Caera. dan Deva diam saja. makin memberi kepalanya untuk di Jambak istrinya berulang kali.


"ya sayang... Jambak aku.. aku siap sayang. bagi sakit mu pada ku Ra" seru Deva.


Ziana merasa terganggu dengan ulah suami istri ini. Deva berteriak kencang memberi semangat istrinya mengejan. suara Deva sudah lebih kencang dari suara caera yang kesakitan.


"astaga!! kau mengganggu sekali Dev! istri mu tidak apa-apa. kenapa kau seheboh itu?"


Ziana melotot pada deva. tapi Deva tidak peduli. wajahnya sudah terlihat kacau. air mata berlinang dengan ingus yang meleleh. dan wajahnya sebentar merah, sebentar pucat pasi. menangisi caera yang masih berjuang.


"suster. panggilkan asisten Jacko. bilang padanya untuk menenangkan lelaki cengeng ini" perintah Ziana pada seorang suster.


seorang suster pergi melakukan apa yang di perintahkan Ziana. memanggil Jacko di luar. dan dengan tegang Jacko masuk. meraih tangan Deva yang gemetaran.


"Dev, tenanglah. ayo sini bersama ku" ujar Jacko menarik Deva agak menjauh.


"iya.. sudah. ayo ke sini dulu"


dengan nelangsa, Deva memeluk Jacko. menangis di pelukan Jacko. dan Jacko hanya bisa menepuk punggung Deva menenangkan pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu.


"kakak ipar, sedikit lagi. jangan di tahan" ujar Ziana memberi instruksi. " sudah terlihat kepalanya. sedikit lagi. kita hitung ya. pada hitungan ketiga kakak ipar harus mengejan"


caera mengangguk. dia sudah terasa lemas. baby-nya masih kesulitan untuk keluar. Deva merasa penasaran. apalah kiranya yang membuat bayinya sangat susah keluar.


Deva melepaskan pelukannya dari jacko. melangkah mendekati Ziana yang ada di depan kaki caera yang mengangkang lebar. Jacko tidak berani mendekat kesana. jadi hanya membiarkan Deva saja.


"kita hitung kakak ipar. tarik napaaaas... satu, dua, tiga! ayo dorong kak"


"heeeeegggghhhh..."


caera mendorong sekuat tenaga. dan Deva, begitu tercengang melihat apa yang terjadi. dia terpaku memelototi jalan keluarnya bayi. tak bisa berkata apa-apa. Deva shock! wajahnya pucat pasi.


dia melihat kepala besar dengan rambut tebal sedang memaksa keluar dari lorong caera yang terlihat terbuka lebar. dengan darah yang mengalir akibat robekan daging segar. begitu sesak dijejali kepala bayi yang ingin keluar.


darah Deva seakan berhenti mengalir. detak jantungnya berdegup kencang. beginilah perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya ke dunia.


Deva lemas. wajahnya pias. wanita yang di cintainya berjuang antara hidup dan mati. air mata menetes di pipinya. hatinya bergetar sakit.


"Dev! kau pucat sekali" ujar Jacko cemas melihat Deva hanya terpaku melihat bayi yang akan keluar.


"bawa dia keluar Jack" ujar Ziana.


dengan tergesa, Jacko menarik Deva menjauh. membawanya keluar ruangan bersalin. Deva diam seperti orang linglung. di dudukkan Jacko di bangku ruang tunggu.


"kenapa dia Jack?" tanya Soraya.


"dia shock bibi"


"astaga Dev... tidak apa-apa Dev. istri mu akan baik-baik saja" ujar Soraya.

__ADS_1


Deva menatap ibunya dengan pandangan kosong. hatinya teriris sembilu. begitukah ibu ketika melahirkannya?


"ibu!!"


Deva menarik Soraya dan memeluknya erat. menangis sejadi-jadinya di pelukan Soraya.


"maafkan Deva Bu. maaf kan Deva"


Soraya mengerti perasaan Deva saat ini. ia tahu anak lelakinya telah melihat proses persalinan yang pasti telah membuatnya shock.


"iya Dev. ibu memaafkan mu" Soraya mengelus kepala Deva dengan sayang.


semua keluarga yang telah berkumpul di ruang tunggu terharu melihat itu. mereka juga menitikkan air mata melihat Deva memeluk ibunya dengan tangis yang menyayat hati.


terlebih Richard. tak lepas matanya memandangi Dira. hatinya berdenyut sakit melihat Caera kesakitan menjalani proses persalinan. begitu jugalah Dira saat melahirkan cloe putrinya.


Caera lebih beruntung di kelilingi orang-orang yang menyayangi nya. tapi Dira? dia seorang diri. dia berjuang tanpa suami. dan orang tuanya sangat marah saat itu.


air mata Richard menetes dari sudut matanya. hatinya robek mengingat perjuangan Dira pada fase kehamilan cloe.


Dira menyadari Richard menatapnya. Dira menoleh membalas tatapan Richard. heran kenapa pria itu menangis.


"Ooooeeekkkk... oooeeekkk..."


mereka semua mendengar tangisan itu. bayi Deva sudah lahir. Deva panik. berlari lagi masuk kedalam ruang persalinan. melihat istrinya terbaring lemah dengan keringat yang membasahi wajahnya.


"anak mu sudah lahir Dev" ujar Ziana tersenyum.


perawat sedang membersihkan bayi mereka. Deva melihat itu. bayi mungil dengan kulit putih kemerah-merahan menangis kencang.


Deva mendekati istrinya. memeluk kepala caera. menangis di sana. mengecupi istrinya dengan rasa haru yang membuncah.


"terima kasih Ra. terima kasih. kau wanita hebat. terima kasih sayang"


tak henti Deva mengucap syukur dengan kelahiran bayinya. berkali-kali mengecup kening istrinya dengan rasa sayang yang semakin berlipat ganda.


caera hanya tersenyum lemah. ia juga menangis. akhirnya, caera menjadi seorang ibu. berjuang melahirkan seorang bayi yang nanti akan memanggilnya ibu.


Ibu


kata itu terngiang-ngiang di telinganya. caera menangis terharu. perawat mendekatkan bayinya, dan menaruhnya di dada.


Caera dan Deva menangis bersama. melihat seorang bayi mungil bergerak mencari hangat di dada ibunya. caera memeluk bayinya. menangis terharu. bahagia yang tak terhingga. takjub melihat bayinya bergerak di dadanya.


"Dev, kita punya bayi"


"ya sayang. kita punya bayi"


perawat mengambil lagi bayinya. membersikan bayi itu dan memakaikan baju. Ziana masih sibuk di **** ***** caera.


"kakak ipar. harus di jahit" ujar Ziana.


"apa?!"


Deva kaget. mendelik menatap Ziana yang juga terkaget menatap Deva.


"di jahit Dev. robekannya cukup lebar"


"astaga!!"


"apa sih Dev?" Ziana terlihat kesal dengan tingkah Deva.


"kau akan menjahitnya?!" Deva mendelik.


"iya Dev. kenapa sih?"


"Zi... tolong. jangan menjahit lorong hangat itu seluruhnya. sisakan sedikit buat ku"


"brengek kau!"


ziana terlihat sangat kesal pada pria mesum seperti Deva. Ziana kesal Deva tadi meratap menangis mengatakan tidak akan mendorong naganya dengan keras lagi. Sekarang dia malah ketakutan Ziana akan menjahit seluruhnya.


❤️🌺❤️🌺❤️🌺❤️❤️❤️


readeeerrrsss.. yuk kasi ide siapa nama baby-nya Deva dan Caera.

__ADS_1


baby-nya perempuan loh. princessss 🌺🌺🥰🥰🥰


yang punya nama bagus silahkan koment ya 🥰🙏


__ADS_2