
BRAAAAKKKK!!!
"bagaimana bisa seperti ini??!!"
Wijaya menggebrak meja kerjanya. sangat marah atas kinerja menejer keuangan kantornya. data keuangan morat-marit, dan tidak tepat waktu masuk dalam laporan bulanan.
"saya tidak mau tahu Arya. belakangan ini kerja mu amburadul!"
Wijaya melotot pada Arya. sangat tidak puas atas kinerja Arya akhir-akhir ini. Arya hanya menunduk tidak berani menatap bos perusahaan tempatnya bekerja.
"apa ini?"
bbuuurrrr....
Wijaya mencapakkan semua berkas yang di berikan Arya padanya tadi. kertas-kertas berkas keuangan itu berhamburan terbang dan melayang ke udara.
"jika kau tidak menyelesaikan itu dalam waktu satu Minggu, saya akan kirim Tim audit"
Wijaya sudah masuk dalam tahap mengancam kerja Arya.
Arya hanya menunduk dalam. itu semua memang kesalahannya. dia tidak dapat mengelak lagi.
"Minggu depan, kita ada kontrak kerja sama dengan perusahan lain. kalau sampai keuangan kantor anjlok, kau harus bertanggung jawab"
Wajah Wijaya merah karena kemarahan yang memuncak.
"kau mengerti?"
bentaknya lagi.
"baik tuan"
jawab Arya lirih.
"pergilah. perbaiki kerja mu"
Wijaya mengusir Arya dari ruang kerjanya.
dengan lesu, Arya mengutip berkas-berkas yang berserakan di lantai.
Arya berjalan keluar dengan tertunduk lesu. langkahnya gontai. itu semua kesalahannya. kerap kali dia mengabaikan pekerjaannya.
masuk ke dalam ruang kerjanya dan menghempaskan tubuhnya di kursi.
"sial!!!"
praanngg....!!!
Arya menghempaskan apa saja yang ada di meja kerjanya. dia merasa sangat tertekan dengan kehidupannya yang di rasa makin morat-marit saja tanpa caera.
__ADS_1
mengambil minuman beralkohol dan meneguknya langsung dari botol. banyak minuman itu tumpah dan membasahi dagu sampai dadanya. ia tak peduli.
Arya diam melamun menatap langit-langit ruang kerjanya.
kekacauan ini tak dapat di hindari lagi. pekerjaannya terancam di pecat. entah bagaimana dia akan menyelasaikan ini. pikirannya tidak pernah fokus lagi dalam bekerja. ia lebih senang mabuk ketimbang berkutat menyelesaikan pekerjaannya.
rumahnya sudah seperti neraka saja rasanya. Vivi selalu merengek dengan alsan ngidam. belum lagi ibunya yang menuntutnya memberikan uang untuk biaya hidup dan kuliah adiknya.
tidak ada yang mengerti perasaannya. Arya sangat terpuruk. dia rindu caera. wanita yang selalu ada ketika ia dalam masalah. memberi tempat untuk dia berkeluh kesah.
tapi sekarang, wanita itu telah sangat menjauh dan sulit untuk di gapai. seakan cahaya caera makin benderang sekarang. banyak laki-laki yang melirik padanya.
dulu, Arya tidak pernah mengizinkan caera keluar sendiri tanpa dia yang menemani. Arya sering cemburu ketika mata lelaki selalu memperhatikan caera. ia akan dengan cepat menyelamatkan caera dari mata ****** lelaki yang tak tahu diri.
dia tahu dan menyadari kalau mantan istrinya itu cantik. karena itu jarang sekali caera keluar tanpa Arya. dan untung saja caera tidak terlalu suka bersosial media seperti kebanyakan perempuan zaman now. yang lebih suka mengumbar kehidupan pribadinya tanpa tahu apa yang mereka terima. dan Arya juga melarang itu.
waktu itu dia melihat caera bersama Richard. dan dia bilang tidak masalah kalaupun Richard suka main perempuan. dan kini, caera menunjukkan dia ada hubungan yang sangat intens dengan Deva. seakan wanita itu menunjukkan bahwa dia juga bisa menonjolkan kemampuan dan kecantikannya.
"aahh... Rara, aku rindu pada mu"
ujarnya lirih.
tak terasa air mata mengalir dari kelopak matanya yang terpejam. hatinya tersayat sembilu. dia mencintai caera. tapi juga tidak bisa membenci ibunya.
jika saja ibunya tidak terlalu memaksa, dia pasti masih bersama caera sekarang. cinta pertamanya. ia teringat bagaimana dulu sangat mencintai dan di cintai caera. wanita lembut yang penurut. tidak banyak membantah dengan apa yang Arya inginkan.
"hhmmmhhaahhh"
Vivi sama sekali tidak seperti caera. wanita itu sering marah dan bersura keras. dulu dia sempat menyukai Vivi. karena wanita itu memberinya segala madu yang ia miliki. memberikan sensasi yang belum Arya rasakan. tapi kini, untuk menyentuhnya pun Arya malas.
jika tidak Vivi yang memaksa, Arya tidak akan pernah tidur seranjang dengan Vivi lagi. tapi Vivi selalu menangis dan merengek minta di temani. baru lah Arya menemaninya dengan sikap dingin yang dominan ia tunjukkan.
entah apa yang sudah terjadi di rumah itu. ibu dan Vivi menguasai segalanya. sampai pembantu ruamhnya, bik Sari pun kabur entah kemana.
beberapa kali ia mencoba menghubungi caera. tapi nomornya tidak aktif. sampai Arya mencoba dengan nomor baru, agar caera tidak mengenali dan bisa menjawab teleponnya. tapi itu semua tidak ada gunanya. tetap saja nomor caera tidak aktif lagi. mungkin sudah ganti nomor.
Arya selalu merasa sunyi di tengah keramaian. dunianya hampa. pernah dia mencoba untuk menerima Vivi dalam kehidupannya. belajar mencintai karena caera sudah semakin menjauh darinya. tapi itu tidak berhasil. hatinya menolak keras untuk mencintai Vivi.
"hiikkss.. hiikkss"
Arya menaruh tangannya di pinggiran meja kerjanya. merebahkan kepalanya menunduk dan bertumpu pada lengannya. menangis terisak tak dapat menahan gejolak rindu pada mantan istrinya.
"aku cinta kamu Ra. hidup ku hancur. kamu di mana Ra?"
ucapnya di sela Isak tangisnya. otaknya tidak mampu di ajak bekerja lagi. mungkin karena seringnya terkontaminasi dengan minuman beralkohol. kadang sampai ia bawa ke kantor untuk menemaninya.
Arya tampak tidak terurus lagi. malas mencukur jambang di wajahnya. malas mengurus diri. kehidupannya seakan tak berguna dan sunyi.
ibu adalah orang yang harus di hormati. tidak boleh membantah apa perkataan ibunya. tapi karena itu juga lah Arya jadi meretakkan rumah tangganya.
__ADS_1
dia tidak tahu kenapa ibunya sangat menginginkan seorang anak darinya. sejak mengetahui caera di nyatakan sulit mengandung, ibu menjadi sangat cerewet dan kasar pada caera. sering Arya memergoki ibunya marah pada caera. tapi lagi-lagi caera hanya diam dan melarangnya marah pada Maya ibunya.
"ibu sudah keterlaluan Ra. aku tidak suka sikap ibu pada mu"
"jangan mas, sudah lah. ibu hanya kepingin menimang cucu dari mu mas. tidak baik marah-marah sama ibu. ibu itu surga mu"
itulah kata wanita super lembut dan pemaaf itu. sampai akhirnya ibu terlalu ngelunjak selalu berkata kasar yang menyakitkan pada caera. tapi mantan istrinya itu hanya menunduk di perlakukan begitu.
ingin rasanya Arya membawa caera jauh dari ibunya. tapi ia juga harus berpikir kalau ibunya hanya punya Arya sebagai anak lelaki yang harus mengayomi dan menafkahi ibunya. menjaga ibu dan adiknya. karena itu Arya selalu mengurungkan niatnya.
"caera... maafkan aku tidak bisa menjaga hati mu"
Arya masih tersengguk nelangsa. ia tak peduli ia masih di kantor sekarang.
di pelupuk matanya yang ada hanya caera. wanita itu tersenyum dan mencium pipinya. Arya memejamkan mata seakan merasakan kecupan bibir caera di pipinya. itu yang selalu caera lakukan ketika Arya sibuk dan kerja sampai larut malam. caera akan datang dan memeluknya, memberikan kenyamanan di hatinya.
"Ra, kita tidak seperti dulu. aku rindu pada mu"
empat bulan belakangan ini, hanya itu yang di lakukan Arya. minum, dan berbicara sendiri seakan caera duduk bersamanya. ia goyah. jiwanya sungguh terguncang melihat caera dengan lelaki lain dan tak bisa ia sentuh lagi.
kehamilan Vivi tidak bisa membuatnya sadar akan menjadi seorang ayah. sesungguhnya dia tidak menginginkan bayi itu. dia meniduri Vivi hanya karena tuntutan ibunya ingin arya memiliki keturunan.
"Raaaa... aku mencintai muuu"
teriaknya keras. seolah-olah berusaha agar caera mendengar panggilannya.
ia tidak peduli seluruh karyawan kantor mendengar teriakannya. menenggak minumannya membabi buta. tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
bruukk..
Arya jatuh dari kursinya. tapi masih mempertahankan botol minuman di tangannya. seakan Sangat sayang jika botol itu akan pecah dan isinya tumpah.
ia meringkuk di lantai. membiarkan air mata membasahi lantai tempat kepalanya berbaring lemah. kepalanya berdenyut sakit.
"kenapa kau meninggalkan ku sayang" ujarnya lirih lagi.
"raaaaaa.... aku tak biasa hidup tanpaaaa muuuu...."
teriaknya kemudian.
"hiikkss.. hiikkss"
terisak tak berdaya. hatinya perih. hidupnya terombang ambing di ruang sunyi.
sampai ia mendengar suara pintu terbuka, dan beberapa orang menghampirinya.
Arya tak dapat mengangkat kepalanya lagi untuk melihat siapa orang-orang yang datang mengerumuninya. kepalanya terasa berat dan berdenyut sakit.
pandangannya buram karena air mata dan pengaruh alkohol yang kuat. melihat orang-orang itu berbayang terpecah menjadi beberapa bagian dalam pandangannya.
__ADS_1
sampai akhirnya semua terasa gelap. Arya tak sadarkan diri. tergeletak tak berdaya akibat hati yang sengsara.