
"kapan dia kembali?"
tanya Deva datar pada Jacko. meliriknya sekilas.
"malam nanti"
mereka terdiam lagi. Deva berdiri di depan kaca jendela besar, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. menatap keramaian di luar sana. keramaian kendaraan lalu lalang di seberang jalan, yang suara berisiknya tidak menembus ke dalam ruangan.
sunyi. sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Jacko berdiri tegak di dekat sofa. menatap punggung Deva dari belakang.
Deva menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. hatinya tidak dalam keadaan baik sekarang. Nugraha masih dalam kondisi yang sama. masih kritis.
drrrtt.. drrttt..
ponsel Jacko bergetar. ia mengambilnya dari saku jas. mengecek dari notice pesan tanpa membuka aplikasi, siapa yang mengirim pesan.
nona caera
tuan asisten
apakah sedang sibuk?
"kenapa kau menyembunyikannya dari ku Jack?"
Deva melirik Jacko dengan ekor matanya.
Jacko masih diam tidak menjawab. memasukkan kembali ponselnya tanpa membalasnya. menimbang sesaat apa yang akan di katakan pada Deva.
"aku menunggu waktu yang tepat"
jawab Jacko.
"kau pikir sekarang adalah waktu yang tepat?"
tanya Deva dingin.
"ya"
Deva membalikkan badannya menghadap Jacko. menatap Jacko tajam. Jacko bersikap siap dengan mata yang tak menatap Deva.
"apa alasan mu?"
"kau punya nona caera sekarang"
jawab Jacko tenang.
Deva diam. masih menatap Jacko dalam sunyi. Jacko mengalihkan pandangannya. kini menatap lurus ke mata tajam Deva.
"ini di luar perkiraan ku. aku pikir dia akan kembali setelah kau menikahi nona caera"
Deva bergerak berjalan menuju sofa. duduk di sana memejamkan mata.
"aku mencintainya. tapi bahkan aku tidak bisa menyentuh hatinya. dia masih menutup hati pada ku"
Jacko melirik Deva. ia mengerti kegalauan hati Deva. cepat atau lambat Deva pasti akan berhadapan dengan Gisel nanti. tapi Jacko bisa memastikan, hati Deva tidak akan sesakit dulu lagi setelah ada caera.
"kau butuh empat tahun untuk mengubah suasana hati mu. kenapa kau lemah memikirkan nona caera dengan hatinya yang membatu?"
Deva membuka matanya. menatap langit-langit ruangan khusus untuknya di rumah sakit ini.
"aku hanya takut dia tidak percaya"
"maka yakinkan dia"
Deva menoleh menatap wajah Jacko di sampingnya.
"kau" Deva menunjuk tepat ke wajah Jacko. lalu menggeser tangannya menunjuk pada sofa di depannya. "duduk"
Jacko bergerak menuju sofa. duduk di sana menumpukan kedua lengan ke pahanya. mencondongkan tubuhnya ke depan menghadap Deva.
"hey you , the black man. kau kira mudah, meluluhkan hati wanita yang terlanjur tersakiti?"
ujar Deva sengit. dia juga memajukan tubuhnya ke depan Jacko. geram melihat Jacko seperti mengejeknya tidak dapat membuat caera bertekuk lutut.
Jacko memundurkan tubuhnya dan menaikkan bibirnya sedikit. bersikap lebih santai untuk mengalihkan perhatian Deva yang terlalu tegang.
"itu urusan mu"
ujar Jacko datar.
"huuuhh"
kembali Deva menghempaskan tubuhnya ke sofa. suasana hatinya sedang tidak baik.
ddrrrtt... drrrttt....
kembali ponsel Jacko bergetar. Deva melirik sejenak. memperhatikan Jacko mengecek ponselnya.
Jacko memandang ponselnya dan agak sedikit berubah raut wajahnya. melirik Deva yang masih meliriknya juga. lirik-lirikan 😉
"apa?"
Deva menggerakkan dagunya.
Jacko masih diam. tapi mengulurkan ponselnya dan menghadapkan pada Deva. Deva melihat layar ponsel Jacko yang berisi chatingan caera.
tuan asisten
saya makan di cafetaria kantor
jangan marah
__ADS_1
Deva mengerutkan dahi. Jacko menarik lagi ponselnya. dan memasukkannya ke saku jas lagi.
"kau mau aku membalas pesannya Dev?"
Deva diam saja. menatap lurus pada Jacko.
"dia mulai suka hukuman ku"
katanya geram.
"hhhh... kau menyebalkan"
Jacko berkata mengejek.
"salah mu sendiri. tidak ada yang bisa kau hukum dengan manis"
kini Deva berkata sarkas.
Jacko mengedikkan bahunya. mereka berdua sama-sama terdiam lagi. menyandarkan tubuh ke sofa mencoba serileks mungkin dalam keadaan tegang. paman Nugraha masih dalam perawatan intensif di ruang ICU. sementara bibi Arum masih lemah di ruang perawatan.
****
tidak bertemu tiga hari dengan Deva, caera merasakan kehilangan. terbiasa di jahili Deva, membuat caera terbiasa dengan kehadirannya. kini, hanya memandang kursi direktur yang kosong.
kalau setiap hari dia takut masuk ke ruangan Deva, sekarang malah dia yang bolak-balik kembali melihat kursi kosong itu.
tapi masih tidak berani hanya sekedar menyapa lebih dulu di aplikasi pesan. hanya menatap chatingan Deva beberapa hari kemarin. tersenyum sendiri membaca pesan-pesan yang menurutnya norak.
Dira datang dan duduk di mejanya. melirik caera yang tersenyum-senyum sendiri.
"kak"
pangggilnya.
caera mendongak menatap Dira. masih belum hilang senyumnya sambil menaikkan dagunya.
"kakak sudah lihat trending topik hari ini?"
"hah? tentang apa?"
caera mengernyitkan dahi.
"jadi belum lihat?"
"belum"
caera menunduk lagi. menaik turunkan layar ponselnya. membaca ulang pesan-pesan Deva.
"kakak lihat apa sih?"
tanya Dira yang heran melihat caera dari tadi senyum terus.
"ciieee... dari tuan Deva ya?"
caera terkesiap. mendongak melihat Dira yang tertawa menggodanya.
"tidak kok"
caera salah tingkah.
"ciieee.. cieee... kakak maluuu"
Dira menggoda caera yang wajahnya sudah bersemu merah.
"apaan sih Dir. aku cuma lagi lihat pesan teman ku kok"
caera masih mengelak.
"tuan Deva itu romantis ya kak?"
tanya Dira lagi berusaha mengorek caera.
"romantis apaan sih Dir? kamu ini ada-ada aja. kok malah tanya aku? ya tanya sama pacarnya lah"
ujar caera sambil tertawa masam.
"kakak bukannya kekasih tuan Deva?"
Dira mendelik pada caera.
"ya tidak lah dir. ngaco kamu ya haahaa.. mana mau tuan Deva sama aku"
caera mengibaskan tangannya dan tertawa.
"oohh... bukan kekasih, tapi calon istri"
seru Dira sambil tepuk tangan.
seeerrr....
hati itu berdesir. mendengar kata-kata Dira yang terakhir membuat hati caera teranya ngilu, dan perlahan rasa ngilu itu berganti menjadi sakit. entah rasa apa itu. perasaan takut, atau perasaan berbunga?
dari mana pula si Dira ini bisa berkata begitu. mana mungkin tuan Deva mau dengannya. wanita yang tidak bisa mengandung dan hanya bisa menyusahkan saja.
caera menekan rasa itu kuat-kuat. tak ingin kegeeran merasa di cintai, padahal hanya sekedar mainan penyemangat hari yang sepi.
lelaki sekaya Deva pasti akan dengan mudah mencampakkannya bila tidak berguna. masih banyak deretan gadis-gadis mengantri untuk mempersembahkan segalanya yang caera tidak punya.
sekarang Deva bisa sesalu dekat dan berjuang keras meluluhkan hatinya. tapi nanti, setelah tuan Deva tahu siapa caera, wanita yang tidak bisa di tanami dan menghasilkan buah, tuan Deva pasti akan mencampakkannya jauh lebih menyakitkan dari pada Arya.
"kak" Dira memanggilnya lagi. "kakak sudah lihat tranding topiknya belum?
__ADS_1
"yang mana?"
"itu, yang tuan Deva di rumah sakit"
"hah? tuan Deva kenapa?"
caera kaget. ia tidak terlalu update soal trending topik.
"bukan tuan Deva kak. yang sakit tuan Nugraha"
"oohh aku kira tuan Deva"
caera lega Deva tidak apa-apa.
"tapi, tuan Nugraha itu siapa?"
"loh, Kakak tidak tau? tuan Nugraha kak.."
Dira merasa heran kenapa caera tidak tahu tentang tuan Nugraha.
Dira berpikir, caera sudah tahu segalanya tentang Deva. karena Jacko bilang caera ini calon istri tuan Deva.
caera hanya menggeleng. dia memang tidak tahu apa-apa tentang Deva. dan tidak ingin mencari tahu. karena dia tidak mau masuk terlalu dalam di kehidupan Deva. berbahaya bagi kesehatan hatinya.
"beneran belum tahu?"
tanya Dira meyakinkan.
caera mengangguk. Dira menarik napas gemas. lalu bangkit dan menarik caera ke luar ruangan. menggeret tangan caera tanpa memberi caera kesempatan untuk menyela. Dira mengajaknya ke ruang kerja Deva.
"Dira, ngapain ke sini? memangnya tuan Nugraha di sini?"
tanya caera heran.
"sshhh iihhh.. bukan kak" Dira menghempaskan tangan caera gemas. "bentar deh aku tunjukkin"
Dira menuju lemari berkas. banyak tumpukan berkas-berkas kerja di sana. dan ada beberapa laci besar yang berderet dari atas ke bawah. Dira membuka laci paling bawah. dan menarik sesuatu dari bagian laci yang paling dalam.
sebuah kotak berukuran sedang di tenteng Dira. di bawa menuju meja.
"sini kak"
Dira memanggil caera.
caera agak ragu mendekat. memperhatikan Dira membuka kotak itu. Dira mengeluarkan beberapa bingkai kecil.
"sini dong. Dekat sini"
Dira menarik tangan caera agar mau duduk di sampingnya.
Dira menunjukkan bingkai foto yang pertama. ada seorang lelaki tua dan Deva di dalam foto itu. terlihat itu foto sudah agak lama. karna wajah Deva terlihat lebih muda dari yang sekarang. belum terlihat terlalu dewasa.
"ini kak tuan Nugraha" Dira menunjuk lelaki tua itu. "tuan Nugraha ini yang sekarang sedang sakit. katanya sakit jantung"
seorang lelaki perberawakan tinggi. rambut beruban yang menyeluruh. berwajah manis berkulit bersih. sedang tertawa bersama Deva. tawa bahagia yang menunjukkan saling menyayangi.
"siapa dia?"
tanya caera.
"tuan Nugraha ini, dulu calon mertua tuan Deva. sahabat akrab tuan Elliot ayahnya tuan Deva kak"
jawab Dira enteng tanpa beban. ia lupa tugas yang di berikan Jacko padanya saking semangat memberi informasi pada caera.
deg!
jantung caera mencelos mendengar itu. tapi ia mencoba untuk tenang. caera melirik bingkai gambar yang lain.
"siapa itu?"
caera menunjuk bingkai di bawah tangan Dira. Dira mengambilnya.
"yang ini tuan Nugraha, tuan Elliot, tuan Deva, dan ini nona Gisella"
jawab Dira tersenyum sumringah. ia tidak memperhatikan perubahan wajah caera.
caera memperhatikan foto itu. tuan Elliot berwajah Inggris yang kental. bermata biru, dan bertubuh jangkung. sementara nona Gisella berwajah cantik sekali. tubuh yang semampai dengan rambut lurus yang panjang. hidungnya mancung, bermata bulat besar, dan bibir yang indah menawan berhias tawa yang cemerlang. dan berkulit putih susu. sungguh wanita sempurna.
keempat orang itu berfoto berjejer saling berangkulan. tuan Elliot, tuan Nugraha, Deva, lalu nona Gisella merangkul leher Deva dan memegang dadanya, merapatkan pipi mereka.
"ini siapa?"
tanya caera lagi dengan suara yang bergetar halus.
"nona Gisella ini, putri tuan Nugraha. mantan tunangan tuan Deva"
Dira mengira, caera sudah tahu semua tentang Deva. kan calon istri. masak gak tahu?
glek..
caera menelan salivanya kasar. kalau begitu, sekarang Deva sedang bersama mantan tunangannya di rumah sakit menunggui tuan Nugraha.
pikiran caera berkecamuk. tidak mendengarkan lagi semua kata-kata Dira.
"sudah dir. simpan lagi itu"
caera mengajak Dira keluar. Dira menurut. menyimpan semua bingkai gambar itu kedalam kotak lagi. dan menaruhnya di laci tempat semula.
mereka keluar ruang kerja Deva. caera tak menghiraukan apa yang di katakan Dira setelah keluar. dia berjalan masuk ke ruang kerjanya. duduk dengan lemas di kursi.
caera menunduk. rasa ngilu itu tidak mau pergi. tadi dia merasa rindu. entah kenapa kini ia takut untuk merindukan Deva lebih. dia tersadar dari khayalan di cintai. berjanji tak akan goyah lagi karena hanya akan tersakiti.
__ADS_1