DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 108


__ADS_3

tampak Dira tergesa keluar menemui caera. tapi belum sempat Dira keluar, caera sudah muncul masuk ke dalam ballroom.


"kenapa lama sekali dir?" caera mengambil gelas yang berisi minuman dari tangan Dira.


"maaf kak. tadi di suruh tuan Jacko" jawab Dira.


caera tak menghiraukan Dira lagi. langsung saja berbaur dengan tamu yang lain.


"caera!"


caera berhenti. mencari sumber suara yang memanggilnya. mencari-cari diantara banyak orang.


terlihat seorang wanita melambaikan tangan padanya. itu Miska. menejer personalia Bimo corp. caera mengenalnya. dia teman Arya di kantor dulu. caera mendekat padanya.


"hai Rara. lama tidak jumpa" Miska menyapa dan memeluk caera.


caera tersenyum dan membalas pelukan Miska.


"iya mis. apa kabar?"


"aku baik" Miska melepas pelukannya. "tapi kau berhutang banyak penjelasan pada ku"


"nanti saja" caera menghindari.


"tidak bisa. aku kaget sekali kau dan Arya ternyata sudah berpisah. dan kau.. wow! kau dengan tuan Deva sekarang!" Miska tampak tak percaya dalam kekaguman menatap caera.


caera hanya tersenyum kecut. tak menjawab apa yang di katakan Miska.


"Miska"


seseorang memanggil Miska. caera dan Miska menoleh. teman-teman Miska memanggil. meminta mereka bergabung bersama.


"bawa kesini dong nona caera nya. kita juga mau kenalan sama pasangan tuan Deva"


Miska menoleh pada caera. mengajak caera untuk bergabung bersama rekan kerjanya. caera menuruti. Dira masih saja mengikuti caera di belakangnya.


"halo semua" caera menyapa rekan-rekan Miska.


"halo nona caera"


mereka mengangguk dan tersenyum senang. dalam hati, caera merasa lucu. mereka semua terlihat sudah seperti bertemu fans saja.


"nona caera, cantik sekali ya" Bora memuji caera.


"ahaahhaa.. itu sudah lama. caera ini manis sekali" Miska menyahut dengan pujian.


"kalian ini.. biasa saja. aku juga seperti kalian" caera tersipu.


"tidak nona. tuan Deva tidak akan jatuh kalau nona caera tidak istimewa" lili menimpali.


"tapi maaf nona, setahu saya.. nona caera ini.. istri Arya kan?" nyonya Arma bertanya.


semua orang terdiam ingin mendengar pertanyaan nyonya arma. caera jadi merasa canggung untuk menjawab.


"eehh.. kalian ini. ya biasalah.. masalah pelakor" Miska mejawab kegugupan caera.


"oohh begitu" serempak mereka saling pandang satu sama lain.


"bodoh sekali Arya meninggalkan wanita secantik anda ya. saya lihat pelakornya tidak begitu menyenangkan" lili menimpali.


"iya. tadi saja aku lihat dia marah-marah terus sama pak Arya" nyonya Arma mencolek lili.


"hhh.. biasa itu. suami kalau tergoda dengan pelakor, pasti jatuhnya dapat yang buruk" ujar Bora.


"dan wanita yang baik, pasti jatuhnya pada lelaki yang tepat. seperti tuan Deva" Miska menyenggol caera menggodanya. "ya kan Ra?"


caera hanya tersenyum saja. wanita-wanita ini begitu lucu memujinya. mereka tidak tahu bahwa caera juga merasa dirinya tidak sempurna. karena itu Arya jatuh ke pelukan Vivi.


lili menyenggol Bora di sampingnya. mengedikkan dagunya ke arah belakang caera. yang lain juga menoleh ke arah belakang caera.


terlihat Vivi datang mendekat dengan tergesa. kelihatannya dia belum puas marah pada caera di taman tadi. ingin melabrak caera lagi karena sudah berani memberikan tantangan pada Arya untuk berpisah dengannya agar caera bisa kembali pada Arya.


berhenti sebentar di meja prasmanan, lalu meraih mangkuk sup membawanya dengan wajah marah.


begitu sudah dekat dengan caera, segera dia menuangkan mangkuk berisi sup ke arah kepala caera.


tapi ada Dira. dengan sigap, Dira menangkis tangan Vivi. membuat mangkuk jadi bergeser ke samping kanan caera. isinya tumpah tepat menyiram tubuh nyonya Arma, istri Executive menager dari Bimo corp.


tak tanggung-tanggung. kuah sup mengguyur tubuh nyonya Arma. bajunya jadi basah dan sayur sup dan daging menempel disana.


semua orang yang melihat itu terperanjat kaget. melotot dan menutup mulut mereka tak percaya Vivi melakukan hal bodoh itu.


Vivi juga jadi tercengang takut. menatap Dira dengan marah karena telah menangkis serangannya pada caera. tapi Dira hanya tersenyum sinis menatapnya.

__ADS_1


"aduuhhh... baju kuu!!" teriak nyonya Arma.


"eemm.. maaf nyonya. saya tidak sengaja"


Vivi mendekat pada nyonya Arma. mengebas-ngebaskan sisa sayur yang menempel di pakaian wanita gemuk itu.


"heh!! tidak sengaja kata mu?!" nyonya Arma mendelik marah pada Vivi.


"iya nyonya. saya tidak sengaja" Vivi gemetar takut masih membersihkan baju nyonya Arma.


banyak mata tertuju pada mereka. bergumam riuh membicarakan kejadian itu.


"dasar kau permpuan tidak berguna! kau membuat baju ku rusak! aduuuhh... awas! minggir sana!"


nyonya Arma marah menepis tangan Vivi dari bajunya. Vivi mengkeret takut. menatap semua orang dengan nanar.


"dasar pelakor. itu balasan mu!" lili memaki Vivi.


"iya ini. apa-apaan sih? kau mau mencelakai nona caera ya?" Bora menatap tajam Vivi.


Vivi hanya menggeleng takut. mundur selangkah. menatap caera dengan benci.


"ini gara-gara kamu Ra!" Vivi menuding caera.


"hey pelakor! sudah jelas-jelas kau yang salah. kau mau mencelakai nona caera. bisa-bisanya kamu menuduh orang lain!" lili marah menuding Vivi.


suasana jadi riuh. semua orang bergunjing membicarakan kejadian ini. Vivi sangat malu sekaligus takut. telah membuat kekacauan yang menghebohkan pesta.


yang tadinya ingin mempermalukan caera, kini malah dia yang terpojok. perutnya terasa mulas.


tuan Wijaya mendekat. menatap tidak senang pada Vivi.


"ada apa ini?"


"ini tuan, selingkuhannya pak Arya membuat keributan" lili menjawab.


semua orang menatap lili. mereka tercengang lili menyematkan kata selingkuhan Arya pada Vivi.


"iisshh.. kau ini!" Bora menyenggolnya.


"kenapa? itu benar bukan? itu si pelakor membuat keributan" lili menuding Vivi lagi.


sontak saja wajah Vivi pias. darah tidak mengalir normal lagi di tubuhnya. semua mata kini tertuju padanya. tamu disini kebanyakan karyawan Bimo corp. dan mereka semua pasti mengenal Arya dengan baik.


"kau istri Arya?" tanya tuan Wijaya pada Vivi.


Vivi mengangguk takut. wajahnya pucat pasi. Wijaya mengerutkan kening, lalu menoleh sejenak pada caera. menatap mata caera, lalu menoleh pada Vivi lagi.


"pergi lah. sebelum keamanan menyeret mu keluar" ujar tuan Wijaya dingin.


"tidak bisa tuan. dia harus bertanggung jawab pada ku" nyonya Arma keberatan. "lihat aku ini. baju ku rusak karena dia" tuding nyonya Arma pada Vivi yang sudah mulai mengeluarkan air mata saking takutnya.


Arya muncul dan berlari ke arah keributan itu. lalu menyentakkan Vivi dengan marah.


"apa yang kau lakukan Vi?!"


Arya melotot pada Vivi. membuat Vivi makin takut dan menangis ngeri melihat semua orang menatapnya tidak suka.


"Arya. aku sudah memecat mu. tapi istri mu ini malah membuat kekacauan" tuan Wijaya marah pada Arya.


"maafkan saya tuan" Arya membungkuk merasa bersalah pada tuan Wijaya.


terlihat Deva turun dari tangga lantai atas. langsung menuju ke arah kerumunan orang yang terjadi keributan.


tidak ada yang lain dituju. hanya caera. merengkuh wanitanya dengan cemas.


"ada apa sayang? kau tidak apa-apa?" Deva menatap caera memeriksa terluka atau tidak.


"aku tidak apa-apa Deva" caera menenangkan Deva.


semua mata kini teralih pada Deva dan caera. menatap takjub dengan kecemasan Deva pada caera.


"Arya. aku menerima mu di sini karena menghormati tuan Keenan. tapi kau mengacaukan segalanya. sekarang, pergi lah. bawa perempuan ini juga"


dengan sikap jengkel, Arya melirik Vivi yang sudah tersengguk takut.


"kau memang payah Vi!"


kasar Arya menarik tangan Vivi. menyeretnya keluar ballroom. Arya sangat malu dengan apa yang di lakukan Vivi. Vivi meringis kesakitan. sakit pada tangan, perut, dan hatinya lebih parah.


****


"Dev, maafkan atas kekacauan ini" tuan Wijaya meminta maaf pada Deva.

__ADS_1


"tidak apa kak. yang terpenting caera tidak kenapa-kenapa"


tuan Wijaya menepuk lengan Deva. tersenyum mengucapkan terima kasih.


"kak, sebaiknya kami permisi pulang lebih dulu" Deva pamit.


"masih sore Dev, kenapa begitu cepat?"


"caera tidak bisa tidur terlalu malam kak" Deva melirik caera.


caera mendelik pada Deva. lelucon apa itu?


"iishh kau ini"


caera mencubil perut Deva. dan lelaki itu hanya mengaduh dan nyengir manatap kekasihnya.


"hahaa... baiklah, baiklah. aku mengerti" Wijaya tertawa. lucu melihat Deva menggoda caera.


"baiklah kak. kami permisi"


Deva dan Wijaya saling berjabat tangan. lalu tuan Wijaya kembali berbaur dengan tamu lainnya.


"kita pulang sayang?"


caera hanya mengangguk. Jacko menginstruksikan untuk lewat jalan lain. tidak dari depan hotel lagi. akan banyak pertanyaan dari para wartawan pemburu berita.


Keenan menatap kepergian Deva dengan tajam. semua rencananya gagal total. ingin membuat Deva malu, malah makin membuatnya terpojok oleh tuan wijaya.


dia yang membawa mantan manajernya ke pesta ini. malah Arya juga yang membuat situasi jadi runyam, dan membuatnya malu. pastilah tua. Wijaya membatalkan kerja sama yang bisa menyokong perusahaannya yang dalam keadaan kritis sekarang.


****


"tunngu Dev"


Gisel menghentikan langkah Deva dan caera yang ingin masuk ke mobil. mereka berhenti dan menoleh ke belakang.


terlihat Gisel mendekat dan berhenti menatap caera dengan sinis.


"apa yang kau inginkan gis?"


Gisel mengalihkan pandangannya pada Deva. menarik tangannya. caera diam saja melihat itu.


Deva menepis tangan Gisel yang memegang tangannya.


"ada apa?" tanya Deva sedingin es.


"kenapa kau masih saja membelanya? kau tidak lihat, karena dia pesta kak Wijaya jadi kacau?"


Deva menghela napas. menatap Gisel dengan kedua tangan di saku.


"apa yang kau harapkan?"


Gisel menatap marah. mendekat pada Deva lagi. Deva masih memberi tolenransi melihat tingkah Gisel.


"dia tidak baik untuk mu. dia hanya memanfaatkan mu untuk membalas mantan suaminya!" Gisel menuding caera.


ya Tuhan! apalagi ini? begitu kejamkah mereka memandang ku di samping Deva?


"Gisel" Deva menatap manik mata Gisel dengan dingin "kau kira Keenan baik untuk mu? dan apa kau mau mendengarkan jika orang lain bicara buruk tentangnya?"


Gisel terdiam. tak percaya Deva mengatakan itu. deva sudah sangat berubah padanya. tidak lagi mendengar kata-katanya.


Deva bergeser mendekati caera. merangkul pundak Caera dan menatapnya mesra.


"dia adalah wanita yang bisa menggetarkan hati ku. aku akan menuruti apapun keinginannya. sekalipun untuk menghancurkan dunia"


Deva mengusap pipi caera dengan sayang. caera menatap mata Deva. tak percaya Deva mengatakan itu di depan Gisel.


hatinya terenyuh. berdesir nyeri. begitu besar Deva membelanya di depan semua orang yang menyudutkannya. matanya berkaca-kaca.


Deva menoleh menatap Gisel lagi.


"sekarang kebiasaan buruk mu bertambah sejak bersama Keenan" Deva tersenyum sinis pada Gisel.


"Gisel, jangan suka menuduh orang, jika kau tidak sadar bahwa kau juga hanya remahan roti"


Gisel tersentak. penghinaan Deva lebih menyakitkan dari apapun. Deva sungguh kejam mengatakan itu.


"ayo sayang, kita pulang"


Deva membukakan pintu untuk caera. caera masih menatap Gisel yang terdiam mematung, karena hatinya tertampar telak oleh omongan Deva.


Deva menyuruh caera masuk. dan caera menurut. membatalkan ingin bicara dengan Gisel. sudah cukuplah kata-kata Deva mewakili semua.

__ADS_1


__ADS_2