DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 36


__ADS_3

seorang lelaki tampan berperawakan tinggi, sedang berdiri di hadapan caera dan ayahnya alwan. di usianya yang menginjak 27 tahun, dia terlihat gagah.


Bima, adik lelaki caera memaksa mengambil cuti untuk pulang. dia mendengar cerita dari ibu tentang perceraian caera dan Arya. Bima tersulut emosi dan memutuskan mengambil cuti untuk beberapa hari, walaupun masa cutinya masih tahun depan.


caera menghambur memeluk erat adik lelakinya. melepaskan rindu karena sekian lama tidak bertemu.


"kau jahat"


caera memukul pelan dada Bima.


"kenapa?"


Bima tertawa dan melepaskan pelukan kakaknya.


"kau lupa rumah mu hiks.. hiks"


"haha.. kau masih saja cengeng kak"


Bima mengusap dengan sayang pipi basah caera. dan memeluknya lagi.


"ayah jadi tak penting Bim?"


ayah mengeluh karena merasa tak di hiraukan.


Bima melepas pelukan caera dan beralih pada ayahnya.


"ayah"


Bima memeluk ayahnya erat. alwan menepuk-nepuk punggung Bima. sangat merasa bangga dengan anak lelakinya.


"ayo masuk. kau pasti lelah"


alwan mengajak mereka masuk ke dalam rumah. sementara Rani, baru menyelesaikan menu masakan terakhirnya. memeriksa ke depan dan kaget melihat Bima sudah ada di sana.


"Bimaaaa"


"ibu"


anak dan ibu itu saling berpelukan. ibu menangis terharu. sangat rindu pada anak lelakinya ini.


"sudah Bu jangan nangis. Bima kan pulang, bukan pergi"


"anak ibu gagah"


ibu meremas kedua lengan Bima, memandang kagum pada anak lelakinya


"Bima kan anak ayah, Bu"


Bima menggoda ibunya.


"ah kamu ini" Rani menangkup wajah tampan itu. "kamu pasti belum makan. ayo sini. ibu sudah masak makanan kesukaaan mu"


ibu menarik Bima ke meja makan. dan mendudukkannya di kursi. Bima menurut saja di perlakukan begitu oleh ibunya. seperti anak kecil yang siap di beri makan siang.


"ini semua untuk mu"


ibu menyendokkan nasi dan lauk pauk ke piring Bima.


"ibu, ini terlalu banyak"


Bima tertawa melihat kelakuan ibu.


"kau harus makan banyak. kau pasti belum makan bukan?"


"ibu"


Bima menghentikan tangan ibu memberi lauk ke piringnya. ibu berhenti, dan menatap manik mata Bima.


"Bima sudah di rumah Bu. tidak kemana-mana"


"Bima"


sangat terharu ibu memeluk Bima lagi. dia rindu. seorang ibu yang merindukan anaknya yang sekian lama jauh dari rumah dan jauh dari ibunya.


"wah wah.. kami berdua jadi anak tiri ini"


alwan melipat tangannya di dada memperhatikan anak dan ibu mengharu biru.


caera terharu melihat ibu yang tak dapat menahan rasa rindu bertemu anak lelakinya. dia dapat merasakan bagaimana rindunya seorang ibu yang jauh dari anaknya.


Gino datang berlarian dan berhenti di dekat caera.


"mama"


Gino mematung memandangi neneknya yang sedang berpelukan dengan seseorang yang tidak di kenalnya.


"kenapa sayang?"

__ADS_1


caera berjongkok dan memandangi Gino.


"itu siapa ma?"


dengan polos dia menunjuk pada Bima. Gino belum mengenal Bima. dulu Bima pulang sewaktu Gino masih berumur 2 tahun. Gino pasti belum mengingat itu karena masih terlalu kecil.


memang Bima pulang sudah lama sekali. menghabiskan masa kontrak kerja dengan perusahaan tempatnya bekerja. jadi Gino tidak terlalu mengenalnya karena terlalu lama berpisah.


Bima menoleh pada Gino. beranjak dari tempatnya duduk dan menghampiri Gino. berjongkok di depan bocah itu.


"halo jagoan"


Bima menowel hidung mungil Gino.


bocah itu beringsut mundur memeluk caera. dia merasa tidak mengenal Bima.


"sayang. ini paman Bima. adik mama"


caera memperkenalkan Bima pada Gino.


Gino menatap mamanya dan Bima bergantian. Bima tersenyum lucu melihat Gino terbengong.


"iya sayang. ini paman Bima. pamannya Gino"


Bima menepuk-nepuk dadanya, memperkenalkan diri pada Gino.


"paman Bima?"


Gino sampai memiringkan kepalanya menatap Bima.


"iya. paman Bima. salim dong pamannya"


caera meraih tangan Gino dan mengulurkannya pada Bima. dan Bima menyambut tangan mungil itu. Gino mencium tangan Bima.


"anak baik. ayo sekarang kita makan"


Bima menarik tangan Gino menuju meja makan. Gino hanya menurut saja. mereka semua duduk.


menyantap makanan sambil asik mengobrol. yang paling heboh sudah tentu ibu. suasana hangat itu hadir kembali. keluarga caera berkumpul lagi. caera bahagia dengan pulangnya Bima walau hanya sebentar.


rindu dengan suasana keluarga yang seperti ini. ingat masa kecil yang telah lama berlalu.


****


"kenapa kau tidak menuntutnya saja kak?"


"sudah lah. tetap saja semua tidak akan kembali"


ujar caera menenangkan Bima.


mereka berdua duduk di bangku di bawah pohon mangga belakang rumah. sudah lama sekali hal ini tidak mereka lakukan. semenjak caera menikah, dan Bima kuliah ke negeri Jiran.


"aku tidak akan memaafkannya"


Bima berkata dengan geram. "mereka sudah menikah?"


caera menatap adik satu-satunya ini dan mengangguk.


"aku dengar begitu. biar lah Bim. memang sudah seharusnya begitu"


"kau terlalu baik kak"


Bima merasa geram. mengepalkan tangan dan meninju telapak tangannya sendiri.


"Bim, ini yang aku takutkan dari mu. kau selalu emosi"


caera mendorong pelan tubuh Bima di sampingnya.


Bima menoleh menatap kakaknya. mengerutkan dahi menatap menyelidik.


"kau masih mencintainya?"


"ishh.. apa sih kamu?"


caera membuang muka tak ingin Bima mengorek lebih ke dalam matanya.


"kalau kau terlalu baik begini, itu pasti karena kau masih mencintainya"


"tidak lah. aku hanya tak mau ada keributan lagi"


caera menghindari tatapan Bima.


"Ra, kau kakak ku. aku kecil bersama mu. aku tahu hati mu"


Bima memegang wajah caera dan menghadapkan ke wajahnya.


caera menatap mata Bima. ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya dan menangis sepuas-puasnya di pelukan Bima. tapi ia tahu Bima pasti emosi dan akan mencari Arya.

__ADS_1


"tidak Bim. aku hanya ingin berpisah darinya"


ujar caera.


Bima menarik caera ke dalam pelukannya. memeluk sayang kakak satu-satunya ini.


"kenapa sewaktu kau memergoki mereka, kau tidak mau meminta ku pulang? aku pasti akan meremukkannya"


"kau tukang batu ya?"


"apa?"


Bima mengendurkan pelukannya dan menatap caera di pelukannya.


"kau senang sekali meremukkan. aku pikir kau tukang batu"


"ah kau ini"


Bima melepas pelukannya.


caera tersenyum melihat Bima merajuk. menangkup wajah adiknya.


"aku tahu kau sayang pada ku Bim. tapi jangan pakai remuk-remukan dong"


caera mencubit hidung Bangir Bima.


"jadi apa rencana mu ke depan kak?"


"aku sudah coba melamar pekerjaan di beberapa perusahaan. aku akan mulai bekerja"


"kenapa tidak di toko kita saja?


"nanti ayah bosan di rumah"


"ayah pasti senang kau menemaninya"


"aku ingin suasana baru Bim"


mereka berdua terdiam. sama-sama menyandarkan punggung di sandaran bangku. bermain dengan pikiran masing-masing.


"ayo ikut aku ke Malaysia. kau pasti dapat suasana baru. tidak usah kerja. aku akan mengantar mu kemana pun kau mau"


ujar Bima tiba-tiba.


"haha.. lalu Gino mau aku kemanakan?"


"ikut. aku yang akan menanggung kalian berdua. aku bisa"


"terus, kalau kau punya istri, kami berdua akan mengemis disana?"


Bima menoleh ke sampingnya. menatap terkejut.


"kamu ngomong apa sih kak?"


caera hanya tersenyum. dia tahu Bima tidak akan pernah membiarkannya bersedih.


"jangan pernah bilang itu lagi Ra"


Bima marah.


"kau juga harus menikah bukan? masak mau melajang terus?"


"ah gampang itu kak"


Bima mengibaskan tangannya.


"gampang apanya? kau sudah kerja, punya penghasilan, tampan, sudah dewasa, apa lagi yang kau tunggu?"


"aku belum berminat"


"apa? kau tidak berminat pada wanita Bim?"


caera membulatkan matanya. menggoda Bima.


"Ra, aku tidak bilang begitu"


ujar Bima seraya menegakkan badannya. agak merasa jengkel.


"haha.. aku kira kau penyuka lelaki tulang presto"


"apa itu lelaki tulang presto?"


Bima mengerutkan dahi.


"lelaki bertulang lunak"


Bima membulatkan matanya sempurna. kaget caera berkata begitu. sebelum Bima menarik rambutnya, caera sudah lebih dulu bergerak menjauh. berlari masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2