
malam menjelang meneduhkan rasa. menghadirkan gelap memendam terang yang telah berkibar siang tadi. sebagian orang-orang menghentikan aksi bergelut dengan peluh mengistirahatkan raga yang rapuh. tapi tak sedikit juga orang-orang yang bangkit menyongsong asa ketika gelap menyergap.
di temani sepiring sate yang masih mengepulkan asap menguarkan aroma lezat, caera dan Bima duduk menikmati malam di kaki lima, tempat Abang Rozak menjajakan dagangannya.
langganan mereka dari dulu ketika perut minta di isi menu lain, selain nasi. caera dan Bima menyantap satenya sambil sesekali bercengkrama hangat.
besok Bima akan berangkat lagi kembali ke negeri Jiran, dan melanjutkan pekerjaannya yang telah lama tertunda.
"maaf ya Bim, besok aku tidak bisa mengantar mu sampai ke bandara"
ujar caera.
"tidak apa-apa kak. aku tahu kau sudah jadi sekertaris perusahaan besar sekarang"
"iihh.. apaan sih kamu" caera menendang bahu Bima dengan bahunya.
"jangan terlalu capek Ra. nanti kau sakit"
"namanya juga kerja. ya capek lah Bim"
"iya, aku tahu. tapi tetap jaga kesehatan" Bima meneguk air putih di depannya. " bos mu cerewet ya?"
"tidak juga. hanya sadis"
"eh.. sadis? kejam dong?"
"tidak. hanya banyak peraturan saja. apalagi sekarang dia agak tuli. hihihi.."
caera terkikik.
"tuan Deva tuli?" Bima menoleh menatap caera tidak percaya. " yang benar saja Ra?"
"iihh.. gak percaya deh kamu. dia itu sudah agak budek. masak aku sudah ngencengin suara dia masih tidak dengar"
"kurang gizi juga tu tuan Deva ya"
ujar Bima geleng-geleng kepala.
"hihihi..."
caera hanya terkikik geli.
"tapi, dia genit apa tidak sih?"
Bima penasaran.
caera diam. seingatnya, Deva itu genit lah. suka sekali panggil-panggil sayang padanya. tapi caera tidak tahu Deva bersikap begitu atau tidak dengan gadis lain.
"tidak juga"
caera menyembunyikan kebenaran, kalau Deva bersikap mesra padanya.
"tidak juga, berarti pernah dong?"
"ya enggak lah. kamu ini... " caera menonyor bahu Bima. " maksud ku... ya tidak"
"aaahh.. ya tidak gimana sih, Ra?"
"alaaahh.. udah ah. jangan ngomongin dia lagi. yang pasti tuan Deva itu aneh"
caera menghindari Bima membicarakan soal Deva. takut ketahuan ðŸ¤
"aneh gimana Ra? setahu ku, tuan Deva itu tegas. dingin, dan lidahnya itu tajam mematahkan saingan bisnisnya"
ujar Bima berapi-api.
hadeeehhh... kamu belum tahu aja Bim... lidahnya memang tajam, tapi kalau masuk mulut ku lembut tuh
"sok tahu kamu ah"
caera mencebik.
"iya, Ra. tuan Deva kan banyak bisnisnya di Malaysia. aku beberapa kali ikut rapat dengan tuan Deva di kantor"
"serius kamu?"
__ADS_1
kali ini caera yang menatap Bima tidak percaya.
"enggak percayaan amat sih"
Bima melengos.
"rekan bisnis dengan bos mu ya Bim?"
"he'em"
jawab Bima singkat. sibuk mengunyah sate.
caera tidak menyangka Bima sudah pernah satu meja, mengadakan rapat dengan Deva. untungnya, tuan sok tahu itu tidak kenal siapa Bima.
"Ra"
"hmm"
"menurut kamu, cocok tidak aku dengan Jiya?"
"kamu rasa gimana?"
"malah balik nanya sih?"
"kan kamu yang rasa Bim. kalau aku sih, ya cocok cocok saja"
"aku titip jiya ya"
"kamu tidak percaya dia?"
"percaya sih. yang buat aku sangsi, si pria tulang lunak itu"
caera tertawa. pengaruh Friska memang besar buat jiya. gadis itu seolah larut berteman dengan Friska. Bima khawatir, Friska akan banyak mempengaruhi jiya.
"sudah, jangan khawatir. ada Dinda yang akan memantau jiya"
"ah, sangsi juga Ra. kak Dinda sama sablengnya sama jiya"
"hus, kamu ini"
****
caera menyerahkan dekorasi rumahnya pada Friska dan jiya. memberi kesempatan mereka berdua memulai bisnis dekorasi. sebenarnya Friska sudah cukup punya nama dalam bisnis ini. Friska terlahir dari keluarga dengan ekonomi mapan. hanya dia seorang yang lari jalur kepribadian dengan gemulainya.
caera sudah memesan furniture untuk rumah barunya, sejak satu Minggu yang lalu. rencananya sore ini akan tiba pesanannya. semua perabot sekaligus ia pesan. agar tidak membuatnya repot lagi.
sore ini Dira juga ikut ke rumah baru caera. jiya dan Friska juga sudah ada di sana. tapi pesanan itu belum datang juga. caera mencoba menghubungi toko tempatnya memesan. mereka bilang masih dalam perjalanan.
"masih lama kak?"
tanya jiya sambil duduk menggelongsor di lantai beralaskan permadani.
"mungkin sebentar lagi ji. katanya masih di perjalanan"
"kak, nanti rumah mu pasti indah dan nyaman"
Friska menimpali.
"bagus dong. itu karna kamu yang dekor fris"
caera tersenyum memuji kerja Friska.
Friska menepuk-nepuk dadanya. bangga akan dirinya sendiri. jiya tertawa dan menendang kaki Friska.
"heeeyyy.. sodaraaa... benar dong. Friska... pendekor paling berprestasi di zamannya.."
Friska membusungkan dada gempalnya.
"iya, zaman batu"
ujar jiya
"heeyy... canggiiihh... enak dong"
caera hanya geleng-geleng kepala. Dira hanya tersenyum dan sibuk bermain bersama Gino.
__ADS_1
tin.. tiinnn..
klakson mobil beberapa kali berbunyi di depan rumah. mereka semua melongok melihat ke depan. terlihat beberapa truk bak terbuka parkir berderet di pinggir jalan, depan rumah caera.
"naahh... kak, itu perabotan yang kakak pesan sudah datang"
kata jiya.
"bukan itu mungkin ji"
ujar caera mesih melongokkan kepalanya memperhatikan mobil truk di depan.
"kenapa kak?"
"banyak benar itu mobil truk. bukan pesanan kakak itu ji"
caera merasa tidak memesan perabotan begitu banyak. sampai ada lima mobil truk besar mengangkut banyak kotak kardus besar, dan perabotan lainnya.
mereka kembali duduk. sudah tak menghiraukan mobil-mobil truk di depan.
"permisi"
seseorang memberi salam di teras.
mereka saling pandang. lalu caera keluar bersama jiya.
terlihat seorang lelaki paruh baya, dan beberapa orang menurunkan banyak kardus dan barang perabotan ke halaman depan rumah.
"loh, ini kenpa di turunkan ke sini pak?"
tanya caera heran.
"ini rumah nona caera kan?"
tanya lelaki paruh baya itu.
"iya. ini rumah saya. tapi sepertinya bapak salah alamat"
"tidak nona. ini alamat yang benar. kami hanya di perintahkan mengantar barang ke alamat ini"
pria itu memberikan kertas yang tertulis alamat rumah caera. alamatnya benar. tapi, barang pesanannya terlalu banyak. caera merasa tidak memesan barang-barang sebanyak itu.
tapi para pekerja itu tidak menghiraukan protes caera. mereka tetap menurunkan barang-barang kerumah caera.
sampai sudah menurunkan sofa besar, dan tempat tidur ukuran king size masuk sampai ruang tamu. caera, jiya dan Friska bengong. sofa dan tempat tidur king size itu bukan pesanan mereka.
cepat-cepat Friska membuka kardus-kardus besar yang banyak berjejer. memeriksa isinya dan makin terbengong. lalu menghampiri caera dan berbisik.
"kak, sepertinya ini bukan pesanan kita deh. salah kirim nih"
caera bingung. pesanannya biasa saja. tapi kenapa yang datang berbeda?
caera mencoba menghubungi toko tempatnya memesan. tapi belum sempat dia menghubungi, Dira memanggilnya keluar lagi.
"kak caera. sini deh"
seru Dira dari teras.
Caera, jiya dan Friska, keluar lagi. menemui Dira yang berdiri bengong di teras .
"apa dir?"
tanya caera.
"itu"
Dira menunjuk ke jalan di depan pagar. terlihat mobil sport dengan warna merah menyala parkir di pinggir jalan. mereka semua memandang ke arah yang sama. terlihat pintu mobil terbuka.
"hah?!" 😮
caera bengong. terlihat dari dalam mobil turun seorang pria tinggi. lalu membukakan pintu sebelahnya, dan tampaklah seorang pria tinggi tegap berjas lengkap turun dari mobil itu.
"astaga!"
caera kaget dan menutup mulutnya dengan mata melotot.
__ADS_1