
caera sibuk berkutat di dapur menyiapkan sarapan. Deva memberikanya kitchen set minimalis yang elegan di dapur baru caera. lengkap semua dari mulai teflon sampai sendok pun tak ketinggalan. dan Friska memang berbakat menjadi design interior yang handal. caera suka dan merasa nyaman.
hari ini hari libur. Deva memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama caera. dia telah menelepon Jacko tadi. dan si tuan tanpa expresi itu datang mengantarkan pakaian Deva. lalu pergi lagi.
Deva si tuan mesum itu masih mandi. sekarang caera dengan leluasa bergerak tanpa tatapan cinta dari Deva.
deru mesin mobil terdengar di halaman rumah. caera sudah selesai masak. menaruhnya di meja makan, dan beranjak ke depan memeriksa siapa yang datang. ternyata Dira. tapi Dira tidak sendiri. ia bersama Gino dan bik Sari.
caera mengerutkan kening melihat Gino. bocah kecil itu seperti tak bersemangat. tatapannya kosong. seperti ada yang di pikirkannya.
Gino berjalan lambat menghampiri caera. caera memeluknya begitu bocah itu sampai di dekatnya.
"anak mama kenapa?"
tanya caera setelah melepas pelukannya dan menatap Gino heran.
bocah itu hanya menggeleng. dan berlalu masuk tanpa menghiraukan caera lagi.duduk dengan lesu di sofa depan televisi.
tidak biasanya Gino bersikap begitu. caera menatap bik Sari yang masih berdiri di teras. tapi bik Sari juga menggeleng menyatakan dia tidak tahu kenapa Gino murung.
"kenapa dia bik?"
tanya caera.
"Ndak tahu nyonya. dari kemarin pulang sekolah, den Gino sudah murung begitu"
caera diam. memikirkan kenapa Gino jadi murung begitu. caera masuk dan menghampiri Gino lagi. Dira dan sari ikut masuk menyusul caera.
caera duduk di sisi Gino. mengelus kepala bocah itu dengan sayang. Gino masih diam dan tertunduk lesu.
"Gino, kamu kenapa sayang? kok murung begitu? Gino marah sama mama ya?"
tanya caera.
bocah itu menggeleng lagi. tapi tidak mau melihat wajah mamanya. caera jadi khawatir melihat sikap Gino.
"terus, Gino kenapa? ayo dong cerita"
caera menggenggam tangan Gino. memainkan jari-jari kecil itu, agar Gino mau di bujuk.
"biasanya Gino cium pipi mama. ini kok tidak di cium?"
Gino merespon. mendongak dan menoleh pada caera. caera mencondongkan pipinya pada Gino. bocah itu menurut. mengecup pipi caera sekilas. lalu tertunduk lagi.
caera bingung. ada apa dengan Gino. menatap bik Sari dengan alis bertaut. bik Sari diam saja.
"Gino lapar tidak? mama masak nasi goreng sosis sama ayam goreng. kita sarapan yuk?"
caera masih membujuk Gino.
Dengan diam Gino bangkit. tak menghiraukan caera yang menatapnya bingung. berjalan menuju meja makan. lalu duduk di meja makan dengan tatapan kosong.
caera makin cemas saja melihat itu. dia menyusul Gino di meja makan. duduk di sisi Gino dan memandangi bocah kecil itu dengan pikiran berkecamuk. tapi dia tidak bertanya lagi. hanya menatap Gino yang terlihat lesu dan tak ceria seperti biasanya.
Deva datang sudah berpakaian rapi. melihat Gino sudah datang, Deva langsung duduk di dekatnya. mencolek lengan kecil itu.
"hallo jagoan. kangen dengan Daddy tidak?"
tanyanya menggoda Gino.
Gino hanya tertunduk. Deva mengerutkan dahi. heran juga kenapa sikap Gino berubah. biasanya Gino akan senang jika bertemu Deva. tapi lain hari ini. kelihatan kalau Gino tidak berselera.
Deva mendongak menatap caera minta penjelasan. tapi caera juga mengedikkan bahu.
"ya sudah. sekarang kita sarapan dulu ya"
caera mencairkan suasana.
"ayo Dira, bik Sari, sini duduk. kita sarapan dulu"
ajak caera.
tapi Dira dan bik Sari malah ngeloyor ke dapur. menghindar makan bersama di meja makan. memilih untuk sarapan di dapur saja.
caera diam saja. lebih memilih fokus dengan Gino. menyendokkan nasi goreng ke piring Deva dan Gino, lalu kepiringnya sendiri.
__ADS_1
"niihh.. Gino suka ayam goreng kan? ni mama kasih yang gede"
caera mencoba mengambil perhatian Gino. bocah itu hanya diam dan makan dengan malas.
caera bertatapan dengan Deva. sama-sama tidak mengerti kenapa Gino terlihat sangat murung.
mereka makan dengan hikmat. hanya sesekali Deva menjahili Gino. dan bocah itu masih sama dengan sikap cueknya.
*****
tak habis akal, Deva meminta Jacko datang membawa banyak mainan. bocah lelaki yang tadinya hanya duduk dengan lesu, kini mulai lupa dengan kesedihannya. Jacko membawa jumping animal berbentuk kuda. Gino bosan memainkan itu berlonjakkan.
Gino meminta Jacko untuk menggantikan menjadi kuda. dengan senang hati Jacko menurut main kuda-kudaan bersama Gino.
caera sampai bengong menyaksikan pemandangan yang menurutnya menakjubkan. karena Jacko seperti lupa mengexpresikan wajah datarnya. lelaki hitam manis itu sangat menikmati bermain dengan Gino. Deva sampai terpikal-pingkal melihat Jacko menirukan bunyi kuda, dan membawa Gino terlonjak-lonjak di antara punggung dan pinggang belakangnya.
caera sangat menikmati itu. terkikik geli melihat dua pria yang berstatus paling top di perusahaan besar, kini terlihat seperti remaja tanggung, dengan bersemangat dan sangat ceria bermain bersama Gino.
caera membawa sepiring besar potongan bermacam-macam buah segar. menyuguhkannya pada mereka. meminta mereka berhenti bermain.
Deva membopong Gino yang terkikik kegelian karena Deva mendusalkan wajahnya ke perut Gino. lalu duduk di sofa depan televisi. sementara Jacko, hanya memilih minum segelas jus.
"Gino, Daddy boleh tanya tidak?"
tanya Deva sambil menyuapkan potongan buah ke mulutnya.
Gino hanya mengangguk karena sibuk mengunyah.
"Gino kenapa tadi cemberut? ada yang jahil sama Gino di sekolah?"
seketika Gino menunduk. tidak berani menatap mata Deva. Deva dan Jacko saling pandang. dapat menebak ada sesuatu yang terjadi pada Gino di sekolah.
""teman Gino nakal?"
Deva bertanya lagi.
Gino mendongak menatap mereka berdua bergantian. dengan wajah murung Gino memainkan mobil-mobilan kecil di tangannya.
"Gino bukan anak mama ya Daddy?"
DEG
jantung caera terasa berhenti. ada rasa sakit menyengat di sana. sembilu mengiris hati dengan pedihnya.
Deva agak terkejut. menatap kepala Gino yang tertunduk.
"siapa yang bilang begitu?"
tanya Deva.
"mamanya Dedi"
jawab Gino makin menunduk.
Deva mengerutkan dahi.
"Dedi teman sekolah kamu?"
Gino menganggukkan kepalanya. bocah itu terlihat sangat sedih. mata caera sudah berkaca-kaca. tak menyangka bocah sekecil Gino mendengar kata-kata buruk itu dari orang tua temannya.
"kenapa mamanya Dedi bisa bilang begitu?"
tanya Deva lagi.
Gino mendongak. menatap mata Deva dengan pandangan takut.
"itu bukan salah Gino Daddy"
mata Gino mulai berkaca-kaca. rasa takut menyerangnya.
"Daddy tahu itu bukan salah Gino. Gino anak yang baik. sekarang, cerita sama Daddy semuanya. oke?"
Deva menenangkan gino. menyeka air mata yang meleleh di pipi bocah kecil itu.
"Dedi baru pindah ke sekolah Gino. kenalan sama Gino, dia bilang namanya Dedi. Gino ingat sama Daddy Superman"
__ADS_1
"terus?"
dengan sabar Deva mendengarkan Gino.
"Gino ingat. Daddy kan bilang, kalau Daddy itu artinya ayah atau papa. jadi waktu Dedi bilang namanya Dedi, terus Gino bilang, oohh ayah? Dedi marah sama Gino. katanya bukan. nama ku Dedi. terus Gino bilang lagi, iya ayah kan? Dedi malah nangis"
Gino menjelaskan panjang lebar.
mendengar itu, Deva tertawa. Jacko juga tersenyum geli. hanya caera yang tersengguk sedih. hatinya terasa sangat sakit melihat kepolosan Gino.
"itu bukan salah Gino"
Deva mengelus dan menepuk pelan punggung Gino. menenangkan bocah kecil itu, agar percaya diri lagi.
"tapi mamanya Dedi marah. mamanya Dedi bilang, Gino tidak punya mama sama papa. Gino bukan anak mama"
Gino tersengguk sedih.
makin hancur rasanya hati caera melihat Gino. tega sekali wanita itu mengatakan yang seharusnya tidak di katakan pada anak sekecil Gino.
Deva mengangkat Gino dan mendudukkan di pangkuannya. menatap wajah mungil yang berlinang air mata.
"Gino, sekarang dengar apa kata Daddy" Deva menangkup wajah Gino. menghadapkan tepat di wajahnya.
"Gino sayang mama?" Gino mengangguk. "mama juga sayang Gino. Gino itu anak mama. mengerti?"
bocah itu mengangguk lagi.
"mulai hari ini, Daddy ini adalah papanya Gino. Gino itu anak Daddy. mengerti sayang?"
Gino mengangguk lagi.
"mulai hari ini, Gino anak Daddy. Daddy sayang sama Gino. Gino sayang tidak sama Daddy?"
gino mengangguk lagi. caera makin terisak pilu. hatinya tersayat-sayat oleh keharuan yang memenuhi rongga dadanya.
"Gino anak yang baik. anak yang kuat. harus kuat seperti Daddy. mau tidak?"
"mau Daddy"
dengan polosnya bocah itu menjawab.
"anak pintar. sekarang jangan menangis lagi ya. kalau siapapun bilang Gino bukan anak mama atau bilang bukan anak Daddy, Gino harus cepat bilang sama Daddy ya"
Gino mengangguk lagi.
Deva memeluk bocah kecil itu dengan erat. menyalurkan rasa hangat seorang ayah pada putranya. menatap caera yang menatapnya juga dengan berlinang air mata. Deva mengangguk dan tersenyum sayang pada caera. caera membalas senyum Deva dengan senyum kegetiran yang menusuk hatinya.
"sekarang peluk mama"
ujar Deva melepas pelukannya. membiarkan Gino pergi ke arah caera dan memeluknya.
caera menyambut Gino dengan pelukan erat. serasa tak ingin melepasnya lagi. tersengguk menciumi seluruh wajah Gino dengan sayang.
"Gino anak mama. mama sayang sama Gino"
****
"rich, aku perlu bantuan mu"
ujar Deva menelepon Richard.
berhenti sejenak mendengarkan Richard berbicara di seberang sana.
"ambil alih perwalian Gino. buat Gino di atas pengawasan ku. aku yang menjadi walinya sekarang"
diam lagi mendengarkan Richard bicara.
"aku ingin secepatnya. besok sudah harus ada. aku tidak peduli. karena itu aku membutuhkan bantuan mu"
terdengar suara Richard agak meninggi. Deva menjauhkan telepon dari telinganya.
"itu urusan mu. kalau tidak, aku tidak akan pernah menyerahkan wanita mu sampai kapan pun"
Deva memutuskan sambungan telepon tanpa memberi Richard kesempatan meneriakinya lagi.
__ADS_1
menatap ke depan sambil merengkuh caera di pelukannya. wanita itu masih murung mengingat apa yang di katakan Gino tadi.