
pakaian caera sudah tersedia di tempat tidur Deva. kata Deva, Dira yang membawakan pakaiannya. caera merasa malu pada Dira. pastilah Dira berpikir yang tidak-tidak tentangnya. sampai harus ganti baju ketika masih di kantor.
Deva mengurungnya di kamar. tidak boleh keluar lagi. caera tak kuasa melawan. hanya menunggu Deva menyelesaikan pekerjaannya sedikit dengan Jacko.
menghabiskan waktu dengan menonton televisi yang ada di kamar itu. suasana kamar masih sama seperti pertama kali caera masuk ke sini. lukisan Deva juga masih sama. jika melihat lukisan itu, caera jadi ingat insiden dia pingsan karena ketahuan Deva sedang memandangi lukisannya.
caera malu sendiri. lucu jika mengingatnya. sekarang, dia sudah sah menjadi kekasih Deva. tapi masih ada yang mengganjal pikirannya. bagaimana caranya memberitahu Deva perihal kekurangannya. apa Deva akan menerima? atau justru melepaskannya dan tak ingin bertemu lagi?
tapi biarlah dulu. caera belum siap di tinggal Deva. dia baru melabuhkan cintanya. tak ingin merusak momen indah bersama Deva.
lama kelamaan rasa kantuk menyerangnya. berbaring di ranjang dengan nyaman membuat matanya minta di istirahatkan.
membuai alam bawah sadarnya mengembara ke alam mimpi.
****
"Dev, besok ada acara ulang tahun perusahaan Bimo corp. kita di undang sebagai tamu kehormatan. bagaimana? kita hadir?"
tanya Jacko.
"menurut mu?"
Deva balik bertanya.
"dugaan ku benar. Keenan merekrut Arya lebih cepat dari yang ku kira"
Jacko melipat tangannya. menatap Deva di depannya.
"dia akan datang?"
"pasti. karena undangan ini dengan pasangan. Keenan juga pasti datang bersama Gisel. Keenan memberi ruang pada Arya dari pihaknya. karena dia tahu, kau telah menunjukkan sikap pada caera terang-terangan"
"hhh... secepat itu ba jingan itu mengirim info penting"
ujar Deva sinis.
"jadi, kita sudah tahu siapa orangnya bukan. tinggal kita menangkap basah saja. dia licik dan pandai menyamar"
"baiklah. kita penuhi undangan itu. kau siapkan segalanya. aku akan membawa caera"
"kau yakin? Arya pasti datang bersama wanitanya"
"aku ingin memberi caera kesempatan untuk membalas. dia hanya tidak tahu bagaimana caranya"
"baiklah. terserah mu saja"
"kau siapkan saja orang-orang mu. dan bilang pada Dira, untuk lebih waspada"
"ah ya.. aku lupa. Richard meminta ku melepaskannya"
Jacko mencondongkan tubuhnya ke depan.
"kenapa tidak pada ku?"
Deva menaikkan alisnya.
"hhh.. ku rasa dia takut kau akan menghajarnya"
Jacko menyandarkan punggungnya lagi.
"aku tidak mau wanita itu di sakiti lagi Jack. dia sudah cukup menderita karena Richard"
"tapi dia yang menolak sekarang. bukan Richard. aku rasa Richard sudah banyak berubah"
"aku belum percaya sepenuhnya. aku ingin menghajarnya terlebih dulu"
"hahaaa.. karena itu dia takut pada mu"
Deva hanya mengedikkan bahunya. Richard memang sepupunya. tapi dia tidak bisa membiarkannya terus jatuh di setiap pelukan wanita. dia harus tahu caranya jatuh cinta yang benar.
tapi Casanova seperti Richard, akan sulit di tundukkan. selalu menganggap sepele semua hati.
"baiklah. aku pergi dulu"
Jacko bergerak bangkit
"dua jam lagi, aku menjemput mu"
"kenapa dua jam?"
Jacko melirik Deva dan menaikkan alisnya.
"maksud mu?"
"aku ingin bersama caera lebih lama. jangan mengganggu ku Jack"
Jacko memutar bola matanya malas. mengerti apa maksud Deva.
"ciihh.. bastrad!"
"hahaahaaaa"
Deva tertawa senang membuat Jacko muak.
"berbuat lah sesuka hati mu tuan bos. aku tinggal mengirim berita acara pada bibi. bersiaplah"
Jacko balik menghajar.
"ck.... i Will kill you! loser!!!"
"hahaahaaa.... gotcha!!!"
Jacko membidik Deva dengan jarinya seperti pistol. dan pergi meninggalkan Deva yang kini bermuka masam.
****
caera menggeliatkan tubuhnya. terasa sesak dan berat seperti ada yang menindihnya. membuka matanya dan mengumpulkan nyawanya.
matanya masih mengantuk. entah sudah berapa lama ia tertidur. meraba dadanya yang terasa berat.
__ADS_1
ia merasa ada tangan kekar berbulu tipis menindih dadanya. menolehkan kesamping dan terlihatlah Deva mendengkur halus tertidur di sampingnya.
caera tak lagi menjauhkan diri seperti biasa. kini ia bisa tersenyum melihat wajah tampan itu di sampingnya.
mengangkat pelan tangan Deva dan menggesernya agak kebawah. membiarkan tangan kekar itu berada di perutnya.
caera melirik jam. ini masih jam Lima. bisa-bisanya mereka berdua tertidur di jam pulang kantor. biasanya mereka berdua pasti masih sibuk. apalagi Deva, caera pikir jam segini Deva tidak akan pernah menghabiskan waktunya dengan tidur mendengkur.
tapi kini, wajah tampan nan rupawan paripurna itu terlelap seperti bayi. wajah polos tanpa harus menonjolkan expresi bossy pada semua karyawan. terlihat sangat manis menggemaskan.
caera bergerak pelan menyamping memandangi wajah tampan itu. bulu matanya panjang dan lentik. wajahnya lebih dominan milik nyonya soraya ibunya. tapi hidung dan alisnya seperti tuan Elliot.
baru kali ini caera menatap wajah Deva dengan intens. biasanya dia akan takut dan memalingkan wajahnya tak mau menatap Deva dengan jelas.
caera meraba pipi Deva. mengelusnya lembut. sungguh sempurna ciptaan tuhan pada wajah pria yang satu ini. dia sangat tampan. caera kadang minder jika bersama Deva. merasa tak pantas bersejajar dengannya.
inilah wajah tampan yang selalu mengatakan cinta padanya. lelaki yang selalu menjadi benteng dan mengulurkan bantuan di saat caera benar-benar membutuhkannya.
entah bagaimana Deva selalu hadir tepat waktu ketika caera meresa terdesak dan tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"kekasih ku. Deva"
bisik caera. mengusap bibir indah di depannya. rasa cintanya semakin keluar dan melonjak menyadari masih ada orang yang bisa mencintainya sebesar itu, setelah hatinya penuh dendam dan derita sehingga menutup hati untuk siapa pun.
Deva bisa mendobrak dan mencairkan hatinya bagai madu lebah yang meleleh siap di panen.
dengan sabar selalu mengguncang dunianya dengan banyak keusilan.
"i love you"
bisiknya mesra. seakan bermain bersama lelaki ini di alam mimpinya.
"i love you more honey"
jawab Deva tiba-tiba tanpa membuka matanya.
caera kaget. ternyata Deva sudah bangun. wajahnya bersemu malu. menarik tangannya dari pipi Deva.
tapi Deva menangkap tangan itu. menahan tangan caera agar tidak pergi dari pipinya. membuka matanya perlahan dan menatap caera dengan sayang.
"kau romantis sekali sayang"
Deva tersenyum.
caera menunduk. menyembunyikan wajahnya ke bawah dagu Deva agar tak terlihat. wajahnya terasa panas. Deva tersenyum lebar. wanitanya masih saja malu ketika dia menggodanya.
"aku bahagia. baru kali ini kau menyentuh ku tanpa ku minta"
ujar Deva lagi seraya mengecup puncak kepala caera.
"kau tetap jahil Dev. sudah berapa lama kau bangun?"
caera masih menyembunyikan wajahnya. menarik kancing kemeja Deva di depannya.
"sejak kamu bilang kekasih ku" Deva meraih dagu Caera. "dan menyebut nama ku "Deva" dengan sempurna tanpa aku memintanya"
tersenyum menatap manik mata caera. tatapan mereka bertemu. memandang dengan rasa penuh cinta.
"sayang"
"hmm"
"aku mau"
"apa?"
"ini"
Deva menunjuk bibir caera.
"hehm.. biasanya juga kamu nyosor"
"hehe"
"kalau ini?"
Deva menunjuk gundukan di dada caera.
"jangan"
"kenapa?"
"belum boleh"
"tadi boleh"
"kau mencuri start"
"ohh.. jadi kalau mencuri boleh?"
"tidak"
"hmmm"
"he'em"
"sedikit"
"tidak"
"boleh"
"tidak"
"boleh"
"tidaaak!"
"tidak"
__ADS_1
"boleh!"
uuppsss!!
caera menutup mulutnya dan mendelik kaget. terbalik. di bilang boleh. Deva menyeringai sadis.
menarik tangan caera yang menutup mulutnya. menarik tangan itu ke atas kepala caera. caera meronta berusaha melepaskan tangannya. tapi kalah kuat dengan tenaga dan tangan besar Deva.
caera tidak punya pertahanan untuk menutupi apapun dari bagian tubuhnya. seluruhnya terpampang jelas di depan Deva.
"hehe... sekarang boleh kan?"
Deva menyeringai dan menggerak-gerakkan alisnya menggoda. merasa menang mengungkung caera di bawahnya.
"tidak boleh de... mmppphh"
Deva menyumpal bibir judes itu dengan bibirnya. me ma gut lembut dan menyesapnya. me lu mat dan menggigit kecil di sana. membuat caera membuka mulutnya.
mendapat kesempatan, Deva menelusupkan lidahnya. menari dan mengabsen setiap inci gigi caera. menjulurkan lidahnya sampai ke langit-langit mulut caera.
caera terguncang karena serangan geli. menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan menolak lidah Deva mengobrak-abrik mulutnya.
Deva melepaskan pa gu tannya. napasnya memburu. memandang caera sayu. wajah caera sudah merah padam. tak kuasa menghadapi godaan Deva.
"aduuhh sayang.. aku tidak kuat"
desis Deva di telinga caera.
"jangan Dev. belum bisa"
suara caera bergetar.
"sidikit ya"
bujuk Deva.
caera hanya menggeleng lemah. Deva mengernyitkan alisnya. dan menggigit bibir bawahnya gemas menatap wajah cantik di bawahnya.
sebelah tangannya menelusup ke dalam kemeja caera. merayap menelusuri perut rata caera. caera bergerak geli merasakan tangan hangat Deva meraba perutnya.
makin lama makin ke atas. menyentuh penutup dadanya. masih saling memandang dengan sayu.
"Dev, hentikan"
caera menolak. bergerak agar tangan Deva menjauh dari dalam kemejanya. tapi Deva hanya memandangi matanya dan tidak menghentikan aksinya.
mengangkat penutup dada caera. membuat caera mendelik gusar.
"jangan Dev. tidak bisa. jangan jahil kamu"
"ssshhh.. sedikit saja sayang"
Deva mende sah gemas. semakin mengernyitkan alisnya menatap mata caera yang melotot padanya.
tak peduli wanitanya protes. tetap mangangkat penutup dada itu. menyentuh sisi bawah yang menggembung lembut.
"hhhmmm.. hentikan Dev. atau aku.. aawwhhh"
tak sampai kata-katanya mengancam. Deva sudah menyentuh ujung gundukan dadanya. membuat caera mendongak dan melentingkan dadanya menerima sentuhan itu.
Deva tersenyum menatap caera yang semaput. gemas melihat caera melenting dengan mengigit bibir bawahnya menahan ge jolak yang menghantam jiwa.
"ssshh.. kau sungguh indah sayang"
bisik Deva tak henti menyentil dan me mi Lin lembut ujung kecil yang kini mencuat di antara jarinya.
"deeevv.. tolong berhenti lah.. aku.. aduuhh.."
caera tak sanggup melanjutkan kata-katanya. merasakan jari-jari Deva dengan sombong mempermainkan daging kecil itu.
bibir caera terbuka. megap-megap seperti ikan tak mendapat air untuk memompa oksigen.
Deva menjulurkan lidahnya. memasukkannya ke sela bibir caera yang terbuka. men ji lat di sana. sambil tak henti tangannya bermain di kanan kiri daging gemuk di dada caera.
caera makin blingsatan. Deva membuatnya sungguh kacau. hanya jarinya sudah membuat caera bagai cacing kepanasan.
Deva Melu mat bibir itu. membagi Saliva dengan hikmat. menikmati kemanisan bibir yang memberi semangat diri setiap hari. dan melepas pa gu Tan nya lagi menatap raut wajah wanitanya yang makin tergoda.
"deevaa.. berhentiii.. ahh.. tolong Dev"
wajah caera merah padam. tak dapat berpikir jernih. tapi masih berusaha menghentikan Deva. habis sudah bagian atas tubuhnya di acak-acak Deva. makin hari Deva makin nekat saja melakukan sedikit demi sedikit.
dan bagaimana caera dapat menolak dengan rasa cinta yang mulai menyerang hatinya?
Deva berhenti. diam tak bergerak. alarm di otaknya berdering keras.
"sayang. jangan menggoda ku terus"
ujarnya lemah.
caera menoleh menatap Deva.
apa? menggoda? iihh.. bukannya dia yang mesum? kenapa jadi aku yang menggoda?
Deva tersenyum. menatap caera yang mulai jengkel.
"ini pemanasan sayang. besok naik tingkat"
ujarnya menggoda.
"iihh.. awas! kau mesum sekali"
dengan wajah terasa tebal, caera berontak minta di lepaskan.
"kamu menikmati itu sayang. aku suka"
"hentikan Dev"
"hahaa... itu mungil sekali sayang"
__ADS_1
"diam lah"