
tidur bertiga bersama Gino, memberikan semangat baru buat Deva dan caera. bangun dengan semangat membakar jiwa.
caera sudah bisa tersenyum walaupun masih dengan mata yang sipit karena sembab. menghabiskan waktu bersama.
Deva bermain bersama Gino dengan ceria. caera merasa sangat bersyukur bertemu Deva. lelaki yang baik dan sangat penyayang. tidak hanya menginginkan dirinya, tapi juga bisa mencintai Gino dengan tulus.
"Daddy.. ayo bantu Gino" seru Gino pada Deva.
"siap meluncur bos!" Deva menyerbu Gino dengan banyak ciuman dan menggelitik perut Gino.
bocah itu tertawa kegelian. tapi cepat mengacungkan ponsel di tangannya.
"Daddy, tolong Gino"
"apa itu?"
"teman-teman Gino bilang, Daddy tidak eksis"
"what?!"
Deva tercengang. siapa yang berani mengatainya tidak eksis?
"iya, Daddy" Gino mengangguk-anggukkan kepalanya.
"siapa yang berani bilang Daddy tidak eksis?"
Deva berdiri. mengangkat sebelah tangannya menunjukkan otot besar di sana.
"Daddy lah pria tampan paling eksis di negeri ini Gino" tersenyum lebar sambil mengerak-gerakkan alisnya naik turun.
Gino terbahak melihat tingkah Daddynya.
"Daddy, teman Gino bilang, Daddy masih belum eksis kalau belum pargoy di tok tok"
"OMG! what is tok tok?" Deva mengerutkan kening.
gino mengerakkan jari telunjuknya meminta Deva mendekat padanya. menunjukkan ponsel yang di beri Deva padanya.
"ini Daddy. tok tok. pargoy"
Gino menunjukkan aplikasi tok tok. menampilkan orang berjoget pargoy.
"astaga! Gino mau Daddy bergoyang itu?" Deva mendelik.
Gino mengangguk dengan semangat. Deva pucat. belum pernah dia berjoget seperti itu. dasar bocah, Gino memaksanya.
"ayo Daddy... nanti Gino tunjukkan sama teman Gino. Daddy nya Gino hebat" bocah itu bicara sampai memonyongkan bibirnya.
"oohh.. begitu ya?"
Deva berpikir sejenak. bukannya tidak mau. tapi dia tidak tahu bagaimana caranya menggerakkan tubuh bergoyang pargoy. pastilah gerakannya akan terlihat seperti ondel-ondel.
"iya Daddy. ini lihat. begini caranya" Gino menunjukkan gerakan goyang pargoy di tok tok.
Deva menelan salivanya kasar. mati lah dia. ada gerakan menggoyangkan pinggul pula. tapi Gino pasti kecewa.
"hai Gino.." Jacko datang. menyapa Gino yang sedang sibuk bicara mengajari Daddynya.
"aahh.. kebetulan sekali kau datang Jack. kemari lah"
Deva menyeringai licik. Jacko sudah merasakan gelagat tak baik. ingin buru-buru menghindar.
"eeemm.. aku ada pekerjaan Dev"
Deva segera bergerak menangkap Jacko. menarik bagian belakang kerah kemeja Jacko.
"jangan mengelak black. kau harus membantu ku "
Deva menyeretnya ke sofa tempat Gino menunggu. Gino makin senang melihat Jacko berabung.
"paman jack. ayo bantu Daddy. paman pasti lebih jago"
Gino mengacungkan jari jempolnya. kompor masuk. Gino memprovokasi kedua pria karatan ini.
"membantu apa Gino?"
Gino menunjukkan pargoy nya lagi pada Jacko. dengan susah payah Jacko mendelik menelan salivanya, melihat goyang pargoy yang harus dia lakukan. haruskah pria kaku sepertinya berjoged ala anak muda jaman now? habislah Jacko.
__ADS_1
"sepertinya paman tidak bisa melakukannya, Gino. biar Daddy mu saja ya"
Jacko menepuk kepala Gino pelan. lalu bergerak ingin pergi. taktik mengelak yang takkan pernah berhasil.
Gino terlihat sedih mau menangis. Deva menahan Jacko. menghadapkan wajah Jacko pada Gino.
"kau mau menyakitinya? ayo lakukan. kau harus membantu ku!"
Deva berbisik tertahan penuh penekanan. membuat Jacko menekuk wajahnya. dengan berat hati Jacko mengalah.
"aaahh.. baik lah Gino. ayo kita lakukan. Gino ajari paman dan Daddy dulu ya"
Jacko menenangkan Gino yang matanya sudah berkaca-kaca. seketika Gino tersenyum. wajah sedih itu tiba-tiba saja sudah menghilang entah kemana. tersenyum lebar dan bersemangat berdiri menunjukkan bagaimana goyang pargoy.
Deva dan Jacko Saling pandang. sama-sama menunjukkan wajah ngeri melihat goyangan Gino menirukan dari ponselnya.
tapi tak urung mereka juga berdiri berbaris di belakang Gino. menirukan apa saja gerakan Gino.
terkikik-kikik karena banyak gerakan yang salah. memajukan pinggulnya menyentak-nyentak, dengan sebelah tangan lurus kedepan agak naik sedikit. yang sebelah lagi bergerak dari atas ke bawah mengikuti irama musik.
"astaga... gerakan ini mengingatkan ku pada caera" gumam Deva.
mendengar itu, Jacko menendang kaki Deva. mendelik pada lelaki mesum itu.
"sudah bisa kan paman dan Daddy? kita mulai ya?" tanya Gino.
mereka berdua hanya mengangguk saja. Gino mulai menyetel musik dan merekam. bocah itu sudah seperti kameramen profesional mengarahkan Deva dan Jacko.
π΅πΆπ΅πΆπΆ teett teett teet teetteettt.. aduh bang jago.. aaduh bang jago... πΆπΆπ΅π΅πΆπΆ
musik mulai berbunyi. Gino paling depan. Jacko dan Deva di belakangnya. gino berjoged dengan semangat. sementara Jacko terlihat seperti robot. Deva malah lebih luwes. membayangkan dia bergerak di atas caera dengan erotis. membuat dia lebih bisa mengikuti gerakan Gino. ππ
"Jack.. bodoh kau. anggap saja kau sedang tid ur dengan Neneng" bisik Deva.
seketika Jacko berhenti. melotot gusar melihat Deva. Deva terkikik terpingkal melihat wajah Jacko sangat kesal padanya.
"yyeeeeyyy.... asiiikk... Daddy hebat!!"
Gino bersorak heboh setelah rekaman selesai. memeluk Deva dengan riang. mengucapkan terima kasih dengan memberi Deva banyak ciu man di pipinya.
"Daddy hebat kan? tidak seperti paman mu ini. terlihat seperti sakit pinggang"
Deva terbahak sampai sakit perut.
****
semilir angin sore menerpa syahdu. menyebarkan aroma hangat Pinus yang kuat. duduk bersandar pada dada Deva adalah hal yang menenangkan jiwa caera. Deva memeluknya dari belakang. memandang hamparan permadani hijau berundak-undak di depan mereka.
Gino bermain bersama bik Sari di taman depan. dan Jacko sudah kembali ke kantor lagi.
Deva mengecup pipi caera mesra. membuat caera tersenyum menatapnya.
"kau memberi Gino ponsel Dev?"
"ya, sayang"
"jangan terlalu memanjakannya. itu tidak baik"
"aku tahu. tapi dia anak ku. biarlah dia menikmati apa yang ku berikan"
"hmmm.. tapi jangan berlebihan Deva"
"ya, sayang. ponsel Masih hal yang wajar. aku tidak akan memberinya pesawat di usia sekecil itu bukan?"
"Hhh.. kau selalu punya jawaban"
caera mencubit tangan Deva. Deva hanya tersenyum.
"sayang"
"hmm"
"dari kemarin aku belum dapat morning kiss" Deva mulai usil.
"iya. besok pagi"
"kenapa tidak sekarang?"
__ADS_1
"inikan sudah sore Dev"
"yahh.. noon kiss juga tidak apa-apa"
"Ahh.. kau.. selalu punya alasan"
"hahahaa.. alasan masuk akal kan?"
"kau mesum Dev"
"he'em.. bersama mu aku tidak bisa menahan. kau membuat ku selalu bangkit"
"bangkit?"
"he'em.. junior ku selalu berontak"
caera menyernyitkan dahi. mendengar Deva mengatakan itu, caera jadi waspada. menggerakkan matanya merasakan sesuatu di bagian pinggang belakangnya dengan seksama.
benar saja. ada yang mengganjal. caera menegang. sungguh Deva benar-benar me sum
"iisshh.. kau ini. hanya duduk begini bisa membuat mu bangkit?"
"hehee... aku tidak tahu sayang. dia benar-benar merindukan mu"
"Dev.. jangan usil. kita di luar ini"
"kamu mau kita ke kamar?"
"apa?!" caera menegakkan punggungnya. tak mau bersandar pada dada Deva lagi.
"hahaa... kemari lah. jangan tegang begitu. kau lucu sekali sayang"
Deva menarik pundak Caera, bersandar di dadanya lagi. dengan berat hati, caera menurut.
"jangan usil Deva"
"tidak sayang"
caera ingin bangkit lagi. tapi Deva menahannya. tidak mempedulikan caera protes. menolehkan kepala caera menghadap ke wajahnya.
"kau sangat indah sayang"
bisik Deva mengu sap bi bir caera lembut.
caera tersenyum. menyandarkan kepalanya di dada Deva. menyentuh dada Deva dan membuat gerakan bulat-bulat di dada bidang berotot itu.
"Dev.. boleh aku minta sesuatu?"
"hemm? apa sayang?"
caera masih diam. mempertimbangkan sejenak. mendongak menatap Deva. dan Deva menunduk menatap wanitanya.
"mau minta apa? hmm?"
"temani aku menemui Arya"
Deva terdiam. tak menyangka caera akan mengatakan itu.
"kenapa?"
caera menyandarkan kepalanya lagi. menarik-narik kancing kemeja Deva.
"agar hati ku tenang. aku harus bicara dengan nya"
"dengan begitu kau bisa tenang?"
caera mengangguk. Deva mengetatkan rahangnya. ada rasa gelisah timbul di hatinya. bagaimana jika caera berubah pikiran? bagaimana jika caera tidak bisa menoleh padanya lagi setelah itu?
"kau mau Dev?"
"harus begitu sayang?"
caera mengangguk lagi. mendongak dan menge cup dagu Deva.
Deva mengetatkan rahangnya lagi. rasa cemburu menguasai hatinya. tapi ia tekan dalam-dalam. kalau jodoh tidak kemana.
"baiklah. apapun yang membuat mu bahagia sayang"
__ADS_1
caera tersenyum. menge cup bi bir Deva lem but. dia tahu Deva tidak akan menolak permintaannya.