DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 47


__ADS_3

pagi ini caera menginjakkan kaki lagi di depan gedung megah nan tinggi menjulang milik Deva. setelah berkompromi panjang dengan Dinda, caera memutuskan mengikuti ide Dinda.


kerja! kerja! kerja!


itu prinsip caera. yang penting bisa menghidupi Gino kedepannya. walaupun Gino agak protes karena caera tidak bisa menemaninya ke sekolah.


para karyawan sudah berdatangan. caera melirik ponselnya. masih jam delapan lebih lima menit. caera memantapkan langkah memasuki gedung.


agak canggung dia melewati reseptionis. tampak Sisil mengangguk dan tersenyum padanya. caera membalas senyuman Sisil dan terus menuju lift menuju lantai atas.


tapi caera tidak berani naik lift khusus Executive. dia memutuskan bergabung dengan karyawan lain.


memasuki lift yang sudah di isi tiga orang karyawan. begitu caera masuk, mereka menatapnya dan saling bersenggolan. mungkin karena tidak pernah melihat caera ada di gedung ini.


caera mencoba menyapa dengan anggukan dan senyum. tapi mereka hanya menaikkan bibir sedikit.


"karyawan baru ya?"


tanya seorang di antara mereka.


caera mengangguk tersenyum.


"dari divisi mana?"


caera bengong. dia belum di tempatkan di divisi manapun. tapi ia ingat Dira.


"bersama nona Dira"


jawab caera.


"Dira?"


mereka saling menatap bergantian. merasa aneh jika caera bilang bersama Dira.


"Dira? maksudnya, sekertaris tuan Deva?"


tanya seorang karyawan. caera hanya mengangguk mengiyakan. caera melirik ID card yang tergantung di dadanya. Kiki namanya.


mereka terdiam begitu caera mengangguk mengiyakan. hanya berbisik-bisik sedikit. caera tak mempedulikan lagi.


TING...


lift terbuka. ketiga karyawan itu keluar sambil melirik caera dan berbisik-bisik lagi. caera hanya memperhatikan saja. dia melanjutkan naik ke lantai atas. tapi agak perpikir juga dengan apa yang di katakan mereka tadi. ternyata, Dira itu sekertaris Deva? terus ngapain dia jadi sekertaris lagi?


begitu lift terbuka di lantai paling atas, caera keluar dan terlihat lah Dira sedang sibuk menerima telepon. caera mendekati dan menunggu Dira selesai dengan urusannya.


"nona caera?" Dira menyapa "selamat pagi"


"selamat pagi nona Dira. tuan Deva sudah datang?"


"ya, nona. tuan Deva sudah datang"


"bisa saya bertemu?"


Dira tersenyum. mengangkat telepon dan menghubungi Jacko. setelah selesai berbicara sebentar, Dira mempersilahkan caera menuju ke ruang kerja Deva. karena Jacko ada di sana.


"silahkan nona"


"terima kasih"


mereka berdua saling mengangguk dan Dira pergi ke mejanya lagi.


caera menatap pintu besar dan kokoh di depannya. jantungnya berdegup kencang. ia memutuskan menelan rasa malu di depan Deva dan Jacko. dan akan meminta maaf pada Deva nanti.


menarik napas panjang dan menghembuskanya perlahan. menguatkan hati ia bisa melewati ini. caera mengangkat tangan ingin mengetuk pintu. tapi belum sempat tangannya sampai ke pintu, pintu itu sudah terbuka.


caera kaget dan cepat menurunkan tangannya. terlihat wajah kaku Jacko menatapnya lekat. jantung caera seperti di tonjok tangan besar. tatapan itu kembali tak bersahabat.


"silahkan nona"


ujar Jacko mempersilahkan caera masuk dengan membuka lebar pintu ruang kerja Deva.


"eh.. terima kasih tuan"

__ADS_1


caera melangkah masuk. menguatkan hati agar kakinya tidak gemetar.


terlihat Deva duduk di kursi kebesaran di balik meja kerjanya. menatap caera dengan senyum simpul yang mempertontonkan kemenangan telak.


"selamat datang kembali nona caera"


ujar Deva masih dengan senyum yang menurut caera, itu adalah senyuman geli melihat caera muncul lagi dengan setengah keberanian.


"terima kasih tuan"


jawab caera seraya membungkuk sedikit.


"silahkan duduk"


Deva melirik kursi di depan mejanya.


seperti seorang pesakitan di depan meja hakim agung yang akan membacakan putusan hukuman padanya, caera duduk di depan Deva.


"bagaimana? sepertinya anda sudah menyetujui syarat-syarat yang kami berikan?"


tanya Deva.


caera menatap Deva sejenak. lalu dengan cemas ia meremat jari jemarinya.


"ya tuan. saya menyetujui"


"hmmm"


Deva menyandarkan punggungnya ke kursi. menatap caera sambil memainkan pena yang ada di tangannya.


caera melirik Deva lagi. dan jadi salah tingkah karena Deva menatapnya tanpa berkedip.


aku culek ntar mata mu tuan. tajam banget


"tapi... bagaimana kalau saya menolak anda sebagai sekertaris saya?"


DEG!


tubuh ceara menegang. kaget dengan apa yang di ucapkan Deva. menolak? itu artinya dia gagal kerja dong.


caera lebih menegakkan tubuhnya. tampak tidak terima dengan keputusan Deva.


caera menoleh menatap Jacko. tapi lelaki itu hanya diam tegak berdiri di dekat sofa. caera merasa agak sedikit jengkel. ternyata dia hanya di permainkan kembali ke sini.


menatap Deva lagi yang tersenyum menang.


"maksud saya.."


Deva menggantung ucapannya. caera makin merasa sebal melihat Deva. Deva melirik Jacko dan Jacko bergerak keluar dari ruangan.


eeehh...


caera melongo. kenapa robot itu jadi keluar? apa sih ini?


aduuhh aku salah kembali ke sini. mereka berdua menghukum ku karena kesalahan ku kemarin


caera makin belingsatan. merasa tertampar karena sikapnya yang mengecewakan Deva kemarin menjadi berbuah penghinaan dengan menolaknya bekerja.


caera lemas. habis lah sudah kesempatannya mendapat pekerjaan. dia tertunduk lesu di kursinya.


bodooohh.. sok kepedean banget sih aku kalau tuan Deva ini suka pada ku! aku ini siapa sampai berani membuat dia kecewa? nih lihat! kan dia jadi menolak ku bekerja!


Deva bangkit bergerak mendekati caera. caera tidak memperhatikan itu. ia sibuk menentramkan hati yang terlanjur berkecamuk. matanya sudah memanas. mata itu berkaca-kaca menahankan kekecewaan yang telah berharap penuh dari bangun tidur tadi pagi.


Deva berhenti di belakang kursi caera. menatap pucuk kepala caera dari belakang yang tertunduk lunglai.


ingin rasanya ia merengkuh kepala itu kedalam dekapannya, dan membelai dengan sayang, menenangkan bahwa dia tidak akan pernah melepaskan wanita ini sampai kapan pun.


Deva membungkuk. menipiskan jarak mereka. mendekatkan bibirnya ke belakang telinga caera.


sejenak ia menghirup harum rambut caera. sangat menenangkan hatinya. tersenyum melihat wanitanya itu jadi begitu lemas karna kata-katanya tadi.


"maksud saya bukan sebagai sekertaris. tapi sebagai istri"

__ADS_1


bisik Deva lembut


Seeerrr....


caera menegang. menegakkan tubuhnya. meremang bulu kuduknya. ada gelenyar indah menelusup ke syaraf otak dan jantungnya. hatinya berdenyut lembut merasakan kata-kata Deva seperti mengambang mengelilinginya.


Deva tersenyum geli. ingin rasanya terbahak dan mengunyar rambut lembut milik caera. ia menegakkan tubuhnya lagi. berjalan menjauh dari caera dan duduk di kursinya lagi.


"maksudnya? eh.. maksud tuan?"


makin salah tingkah caera melihat Deva yang tersenyum-senyum. pipinya sudah merah merona seperti tomat terlalu matang yang siap jatuh dari pohonnya.


"kau manis sekali Ra"


ujar Deva tidak menjawab pertanyaan caera tadi. ia hanya menatap caera seperti melihat sesuatu yang indah luar biasa.


caera mengusap matanya yang sudah di penuhi air mata tadi. menatap Deva dengan mimik muka tak percaya.


"saya di terima kan tuan?"


tanyanya antusias.


Deva tertawa geli tanpa suara. hanya tubuhnya yang berguncang halus menahan supanya ia tidak terbahak. dan mengangguk menatap sayang pada caera.


"ya. kamu di terima"


jawab Deva.


"aahh.."


caera menutup mulutnya dan membelalakkan matanya sempurna.


"terima kasih tuan"


caera berdiri dan membungkuk berterima kasih.


"nanti Dira akan memandu mu tentang apa saja tugas mu"


"baik tuan"


jawab caera dengan wajah yang tak lepas dari senyum gembira dan timbul semangat baru di hatinya.


pintu terbuka. Jacko masuk lagi. dan berdiri tegak di belakang Deva.


"Jacko akan menjadi senior mu"


ujar Deva lagi.


"baik tuan. terima kasih"


caera menatap Jacko mengucap terima kasih dari pandangan matanya. Jacko hanya mengangguk sedikit. masih tetap kaku seperti pohon kokoh yang tak berdaun. tepatnya terlihat angker.


"sekarang temui lah Dira"


ujar Deva pada caera.


caera bergerak berdiri. membungkuk lagi mengucapkan terima kasih, dan beranjak keluar ruang kerja Deva.


setelah caera keluar dan pintu kembali menutup, Deva dan Jacko saling bertos tinju.


"yes!!!"


sorak keduanya. tampak merasakan kemenangan yang luar biasa. Jacko pun bisa tersenyum dan mengendurkan syaraf pipinya.


tak puas hanya beryel-yel Ria karena kembalinya caera, Deva meninju lengan Jacko dengan keras.


Bhuukkk!!


"aawwwhh!!"


Deva mengibas-ibaskan tangannya. merasakan sakit di bagian buku-buku jari tangannya.


"masih saja kau seperti besi Jack"

__ADS_1


ujar Deva meringis kesakitan.


Jacko hanya mengedikkan bahu, dan mengubah mimik wajahnya lagi menjadi kaku. lalu keluar ruangan untuk menemui caera dan Dira.


__ADS_2