
Jacko sudah menanti Deva di ruang kerja. Deva masuk dengan wajah bersinar secerah mentari pagi. tersenyum manis semanis gulali dari pasar malam.
"lancar bos?" goda Jacko
"haha... panas Jack. membuat ku meleleh" jawab Deva tertawa.
Jacko melempar kertas yang di rematnya ke arah Deva. membuat Deva semakin terbahak.
"bagaimana? ada perkembangan apa hari ini?" tanya Deva mulai serius.
"lihat ini"
Jacko menyerahkan map berkas ke depan Deva. Deva membuka dan membacanya dengan teliti.
"hhh.. dia sudah bangkrut Jack"
"ya. dan Gisel mungkin akan menyerahkan tampuk kekuasaan pada Keenan pelan-pelan"
"hhhh.. biarkan saja. tarik saham ku dari Gisel secepatnya. aku mau tahu bagaimana mereka tanpa kita"
"kau yakin?"
"aku tidak mau menerima hasil dari kerja Keenan"
"baik lah. aku akan mengurus itu secepatnya"
Jacko membuka laptopnya lagi. memeriksa sejenak lalu menatap Deva.
"bagaimana rencana mu bulan madu?"
"Gino belum libur. aku tidak bisa mengajaknya. bagaimana kalau kita tunggu Gino libur?"
"terserah mu Dev. aku bisa mengurusnya. tapi aku kira, jika kau menunggu Gino, itu terlalu lama"
"hmmm... menurut mu Keenan akan bertindak lagi Jack?"
"aku sudah memecat semua penyusup. kita harus waspada. dia mengincar istri mu"
"apa Dira masih bisa bekerja?"
"keputusan ada di tangannya"
"baik lah. suruh Dira tinggal di sini. dia harus bersama caera"
"baik"
"kau siapkan siapa yang bisa menggantikan Dira di kantor"
"aku akan mengurus itu"
****
sesuai rencana, Dira akan pindah ke rumah bukit. Dira harus membereskan semua berkat yang di perlukan dari kantor. pekerjaannya akan membutuhkan banyak waktu.
Deva juga akan kembali bekerja besok. Dira sudah memindahkan semua file berkas ke email jacko. tinggal membereskan berkas-berkas penting yang ada di lemari.
belum lagi menyerahkan pekerjaan pada sekertaris Deva yang baru, untuk mengurus pekerjaan di kantor. tapi Jacko bilang, dia yang akan mengurus itu. Dira sudah bertemu dengan sekertaris baru itu. menurutnya, lumayan. sekertaris itu cantik dan cerdas. pilihan Jacko.
Dira sibuk memasukkan barangnya ke dalam kotak kardus. tapi sekelebat, dia melihat pergerakkan di luar ruang kerjanya.
dari bawah pintu, Dira melihat bayangan orang melintas. Jacko dan Deva belum datang ke kantor. hanya dia sendiri di lantai paling atas ini. lalu siapa yang berjalan di luar itu?
Dengan sigap, Dira menghentikan pekerjaannya. melangkah pelan ke arah pintu. mencoba mendengarkan suara apa yang ada di luar ruang kerjanya.
__ADS_1
terdengar suara langkah semakin menjauh. cepat Dira membuka pintu dengan hati-hati. melongokkan kepalanya keluar sedikit. memeriksa di luar.
tidak ada orang. tapi matanya tanggap melihat pergerakan di arah toilet di depan lorong. Dira keluar. membuka sepatu hak tingginya, agar langkahnya tidak terdengar.
berjalan mengendap-endap ke arah toilet. waspada pada kemungkinan buruk yang akan terjadi.
terdengar gemericik air di wastafel. Dira mengintip.
astaga!! itu Dika! ngapain si culun brengsek ini di sini? mau maling atau bagaimana sih? hmmm aku akan menghajarnya.
Dika tidak menyadari bahwa Dira sudah berjalan pelan di belakangnya. cepat Dira menendang lutut Dika bagian belakang.
dhuukk!
Dika jatuh dan kepalanya menendang wastafel. lalu jatuh membentur lantai dengan keras. Dira bergerak cepat memelintir tangan Dika kebelakang. membuat Dika menjerit kesakitan.
"aaawww... aduuuhh.."
Dika menggerakkan tubuhnya kencang, berusaha melepaskan pelintiran di tangannya. tapi sia-sia. malah pelintiran itu semakin kencang saja.
Dira membungkuk menahan tangan Dika. lalu menginjak punggung Dika dengan sebelah kakinya.
Dika melirik ke arah atas tempat Dira memiting tangannya. begitu ia bisa melirik dan melihat siapa yang memelintir dan menginjaknya, ada raut lega di wajahnya.
"Dira! lepaskan. ini aku dir. Dika!"
Dira diam saja. mendengus kejam makin memelintir tangan Dika kencang.
"aaawwhhh... aduuhh.. ya ampun!! aku Dika, dir! lepaskan aku!"
seru Dika kesusahan. dadanya sesak akibat injakan kaki Dira di punggungnya yang menekan dadanya ke lantai.
"aaahhh aduuh!! aku.. eekkhh.. napas!!"
menarik kerah baju Dika dengan kasar agar Dika bangkit berdiri. susah payah Dika bangkit berdiri dan terhuyung kehabisan napas. tak ingin buruannya kabur, Dira menendang perut Dika telak dengan tendangan Geri teknik karate.
BHUUUKKK!!
"aaaahhhjkkkkk"
Dika terhempas ke dinding dengan keras. kepalanya membentur dinding di belakangnya. Dika bagaikan tubuh yang kehilangan power. wajahnya pucat pasi merasakan sakitnya tendangan Dira si perutnya.
Dira berdiri tegak memandangi lawannya. tapi Dika tidak bergerak. hanya diam terduduk dengan wajah pias.
tak menggubris keaadaan Dika, Dira maju dan menarik baju Dika bagian depan. menariknya kasar dan menekan lengannya ke leher Dika.
"katakan! siapa yang menyuruh mu?!" bentak Dira.
Dika tampak kesusahan bernapas. pria itu hanya megap-megap.
"aku akan membuang mu ke jurang jika kau tidak mau mengatakan siapa yang menyuruh mu!" bentak Dira menggeram.
"aakkkkhhh.. akkuu.. ingin .. hhhh.. hhh.. me.. nemui.. mu diiiirrr eekkkkhheekk"
jawab Dika susah payah dan terbatuk akibat tekanan lengan Dira di lehernya. wajah bengis Dira yang semula melotot, kini berangsur mengendurkan raut bengis itu.
"mau apa kamu mencari ku??!"
"eeekkhheekk.. uuhujkk.. lepaaaass.. kan du luu."
Dira melepaskan tekanan tangannya. membuat Dika langsung terbatuk-batuk dan menarik napas sebanyak-banyaknya.
"katakan! kenapa mencari ku?" tanya Dira lagi kaku.
__ADS_1
"astaga!! kau ingin membunuh ku Dira!" sentak Dika masih memegangi lehernya yang sakit.
Dira memicingkan matanya. menatap Dika seakan ingin membunuhnya saat ini juga. lalu bergerak maju ingin meninju wajah Dika.
"eeehhh... ampun.. ampuuunn!"
Dika segera menutupi wajahnya dengan lengan yang menyilang. takut kena hajar lagi. tangan Dira berhenti, menggantung di udara. lalu menurunkan lagi.
"sekarang katakan. mau apa kau kesini" suara Dira tajam.
Dika menatap Dira memohon. mengapa jadi begini sangar gadis yang selama ini terlihat lugu dan manis? wajahnya terlihat seperti pembunuh sadis sekarang. Dika sampai bergidik ngeri.
"hey! kau punya mulut tidak?! atau mau aku robek mulut mu sekarang?!" bentak Dira. suaranya menggema.
dengan takut-takut, Dika mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya. mengulurkan pada Dira. tapi Dira diam saja. hanya melirik kotak di tangan Dika sejenak.
"aku inigin memberi ini pada mu Dira. aku dengar, kau di berhentikan sebagai sekertaris tuan Deva. kita bakal susah bertemu" Dika menunduk lesu.
"apa itu?"
Dika mendongak. menatap mata Dira sejenak, lalu membuka kotak kecil di tangannya. isinya cincin. walaupun tidak ada berliannya. Dira terpaku melihat itu. raut wajahnya susah di artikan Dika.
"aku ingin memberi ini pada mu Dira. kau akan pergi dari kantor. dan kita akan susah bertemu. aku tidak tahu alamat mu. aku tidak punya nomor ponsel mu"
Dira diam saja. menarik napasnya dalam, dan menghempaskan kasar. menatap pada Dika lagi dengan tajam.
"lalu, kenapa kau harus mengendap-endap? sudah tiga kali aku memperhatikan mu mengendap-endap ke sini"
"maaf. aku kira kau sudah pergi Dira. aku menunggu mu di loby. tapi kau tidak turun juga. jadi aku ke sini"
Dira memicingkan matanya lagi. meragukan jawaban Dika. bergerak mendekat, menarik baju Dika, dan mengepalkan tangan ingin meninju wajah Dika. Dika mendelik ketakutan.
"dengar. kau bisa menyuruh Sisil untuk menelepon ke sini. menanyakan aku ada atau tidak. kenapa kau jadi penyusup?!!!"
"aduuhh.. jangan begini Dira. kau terlihat seperti algojo pembunuh kalau begini" bergetar suara Dika.
Dira menggegat rahangnya. geram melihat pemuda yang satu ini. ingin segera menghajarnya, tapi masih ada rasa kasihan melihatnya ketakutan.
"baiklah. waktu mu lima menit. jelaskan"
Dira melepaskan Dika. Mundur beberapa langkah, lalu melipat tangannya di dada.
"aku.. aku.. suka pada mu"
hening. Dira diam. Dika menatap Dira. merasa Dira tidak merespon, Dika melanjutkan.
"selama ini aku suka pada mu. tadi aku pikir akan langsung melamar mu Dira. aku takut tidak bisa bertemu lagi. kau selalu menghilang ketika aku mengikuti mu. aku.. aku mencintai mu Dira"
seeeeng.....
mendengar itu nyawa Dira seakan lepas dari raganya. terbengong mendengar penjelasan Dika. dari raut wajahnya, Dika tidak berbohong. Dika sungguh-sungguh.
tapi lamaran itu sekarang jadi terjadi di toilet. bukan lamaran mesra seperti tuan Deva dan nona caera.
Dira mendekat. menarik baju Dika lagi. mendekatkan wajahnya ke wajah Dika dan memberi peringatan keras.
"aku tidak mau melihat kekonyolan mu lagi! simpan rasa cinta mu untuk permpuan lain! aku menolak mu! jangan pernah mengikuti ku lagi! mengerti!!"
sebelum Dika menjawab itu, tiba-tiba dari arah pintu toilet muncul seseorang yang berteriak marah.
"Dira!!! apa yang kalian lakukan di sini??!!!
😱😳😳😱😳😳
__ADS_1