DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 164


__ADS_3

Usia kehamilan Caera sudah penuh berusia sembilan bulan. Semakin berat saja rasanya. Ketika tidur pun sudah semakin tidak nyaman. posisinya selalu salah. Deva sampai kurang tidur setiap kali istrinya mengeluh gerah dan ingin di pijat kakinya.


Tapi Deva melakukan itu dengan senang hati. selalu lembut menghadapi kemanjaan Caera. jabang bayinya yang meminta begitu.


Dokter memperkirakan sepuluh hari lagi caera akan melahirkan. semua sudah di persiapkan. dari pakaian bayi yang sudah jauh-jauh hari Deva siapkan, sampai ruang perawatan yang sudah di persiapkan jika kapan saja Caera melahirkan.


Deva tidak lagi menjadwalkan kerja keluar kota. Kalaupun ada yang mendesak, Jacko akan mengatur segalanya. Deva lebih senang menunggui istrinya di rumah.


Dari menemaninya jalan pagi, sampai senam hamil Deva selalu mendampingi Caera. Tak jarang Deva selalu di usili teman senam Caera, yang semuanya emak-emak berperut buncit. Mereka bilang, Deva adalah suami bucin yang tidak bisa lepas dari istrinya.


Tapi Deva hanya tertawa dan semakin menunjukkan kemesraan mereka didepan semua orang.


Latihan bagaimana menghadapi persalinan. sampai ibu Soraya sering menjitak kepalanya karena lupa apa saja yang pertama kali di lakukan jika istrinya sudah akan melahirkan. menyiapkan baju bayi di dalam tas, menghidupkan mesin mobil, dan membopong istrinya ke mobil.


Rani juga datang ke mansion untuk menemani Caera jika sewaktu-waktu Caera memerlukan bantuan ibunya.


Caera sangat bahagia melihat semua keluarga yang antusias dan penuh perhatian mendampinginya. Walaupun tak dipungkiri ada debaran rasa takut dan cemas menghadapi persalinan normalnya yang pertama.


"Aku ingat jeng, bagaimana dulu waktu melahirkan Deva. uuhh.. dialah yang paling gampang mbrojol. hihihii... "


Soraya mengenang waktu akan melahirkan Deva. dan Caera tersenyum melihat Soraya bersemangat menceritakan pengalamannya.


"Kalau Caera lebih susah jeng. Anak pertama. jadi saya masih belum mengerti" sambung Rani.


"Susah ya Bu?" tanya Caera menatap ibunya.


"Iya, Ra. Kamu sih manja Ra. Masih aja minta yang aneh-aneh begitu mau keluar"


"Rara minta apa Bu?" tanya Caera lagi dengan senyum geli.


"Kamu minta durian yang tidak musim. Ayah mu sampai kalang kabut mencari durian sampai pesan keluar daerah"


"Oh ya? Caera nakal ya Bu" Caera tertawa mendengar kisah ibunya.


"Kamu tahu tidak, begitu duriannya dapat, eeehh... bukannya ibu makan. Ibu cuma mengendur baunya saja. hihihi.."


"Haha.. ayah cemberut dong Bu?"


"Bukan cemberut lagi. Ayah mu nangis"


"Hahahaha..."


Mereka tertawa berbarengan. Geli membayangkan Alwan menangis kerena istrinya ternyata hanya ingin bau durian. bukan makan buahnya.


"Aduuhh..."


Tiba-tiba saja Caera mengeluh. wajahnya seketika tegang. Perutnya terasa mulas.


"Ada apa Ra?"


Rani dan Soraya serempak memegangi tangan Caera. cemas melihat wajah Caera yang berubah tegang.


"Perut Rara terasa mulas Bu" Caera mengernyitkan dahi merasakan rasa mulas dan sakit di perutnya.


"Kamu mau melahirkan?" tanya Soraya panik.


"Tapi ziana bilang, masih sepuluh hari lagi Bu"


"Itu kan perkiraan saja Ra. Tidak bisa di tebak kapan bayinya minta keluar" ujar Rani.


"uuuuhhh... Caera pingin pipis bu"


Caera meminta berdiri. terasa ingin pipis. Rani dan Soraya sama-sama menolong caera berdiri.


Tek!


Seeeerrr...


"aaduuhh.. buuu" seru caera seraya mengapitkan pahanya.


Begitu berdiri, ada air yang mengalir keluar begitu saja tanpa bisa di cegah.

__ADS_1


"Ra!"


serempak Soraya dan Rani berseru kaget karena Caera menjerit.


"aduuhh.. maaf Bu. Caera tidak bisa tahan pipisnya"


Wajah Caera berubah pias karena malu. Tidak bisa menahan pipis di depan mertuanya. Soraya dan Rani melihat air yang mengalir di bawah kaki Caera. Serempak mereka berdua mendongak menatap wajah caera.


"Itu bukan pipis nak" ujar Soraya.


"Apa itu Bu?"


"Pasti ini air ketuban! Ra, kamu akan melahirkan!" pekik Rani.


Sontak saja wajah mereka bertiga berubah panik. Tapi Soraya dan Rani mencoba tenang. Agar Caera tidak takut dan ikut panik.


"Kamu tenang dulu di sini. duduk dulu Ra" Soraya menyuruh Caera duduk lagi. "jeng, jaga Rara ya"


Rani mengangguk. Soraya langsung pergi memanggil Dira dan menelepon Deva.


🌺


🌺


🌺


Hari ini Deva dan Jacko sedang rapat dengan divisi marketing. Membicarakan proyek iklan untuk produk baru yang akan segera meluncur.


Jacko melirik ponselnya yang berkedip. Melihat layarnya yang menampilkan panggilan masuk. Nama Soraya terpampang di sana.


Jacko melirik Deva. pria itu masih serius mendengarkan presentasi karyawan marketing. Pasti Deva tidak tahu ponselnya di hubungi Soraya.


Jacko memutuskan keluar ruang rapat untuk menerima panggilan telepon dari Soraya. Deva hanya meliriknya sekilas.


"Hallo bibi"


"Jack! pulanglah sekarang. Caera mau melahirkan. Deva kemana sih? dari tadi aku meneleponnya. Tapi tidak di..."


"Baiklah bibi. Kami segera pulang"


Bergerak masuk lagi keruang rapat. mendekati Deva dan berbisik. Wajah Deva berubah tegang. Begitu mendengar bisikan Jacko, dia langsung berdiri.


"Rapat di tunda. Permisi"


Semua karyawan peserta rapat menatap heran. Deva pergi begitu saja.


"Kami ada keperluan mendadak yang mendesak. Kita lanjutkan lagi rapat ini nanti. Saya akan menghubungi kalian lagi"


Jacko langsung keluar ruang rapat. Menyusul Deva yang sudah berjalan menjauh dengan tergesa menuju ke lift.


"Hey.. hey.. ada apa Dev?"


Richard kaget melihat Deva dengan wajah panik langsung mendorongnya yang ingin keluar dari lift. Dia baru saja datang. Tapi Deva mendorongnya masuk lagi ke dalam lift. Di susul Jacko di belakangnya.


"Istri ku akan melahirkan" jawab Deva singkat.


Richard Mengerti sekarang kenapa Deva terlihat begitu panik. Jacko ikut masuk kedalam lift. mereka bergerak turun lagi.


Begitu lift terbuka, mereka keluar. Mau tak mau Richard juga ikut keluar dari lift. tapi masih terbengong-bengong.


Deva sudah berjalan menjauh lebih dulu. Meninggalkan Jacko dan Richard di belakangnya.


"Kau ikut apa tidak Rich?" Jacko menatap Richard.


Richard tampak berpikir sejenak.


"Aahh.. lama. Kau membuang waktu"


Jacko pergi meninggalkan Richard sendiri. membuat pria itu langsung mengejar jacko.


"Jack! cepatlah!" teriak Deva yang sudah di dalam mobil.

__ADS_1


Jacko menyusul masuk. sedangkan Richard berjalan ke mobilnya sendiri.


"Hey.. kau! kalau mau ikut, di sini saja" teriak Jacko.


Richard yang sudah membuka pintu mobilnya jadi berhenti. menimbang sesaat, lalu menutup pintu mobil lagi dan bergerak ke mobil Deva. ikut masuk bergabung bersama kedua pria yang sedang tegang itu.


"Lama sekali kau!" sentak Deva gusar.


"Iya.. iya.. jangan panik begitu Dev" ujar Richard.


Deva diam saja. Jacko menjalankan mobilnya meninggalkan kantor.


"Cepatlah Jack. kita harus segera tiba di rumah" ujar Deva memerintahkan Jacko mempercepat laju mobilnya.


Tanpa di perintah yang kedua kali, Jacko langsung tancap gas. membuat Richard pucat pasi karena laju mobil di luar batas kecepatan.


"Wooooyyy... sabar boooss!!! aku belum mau matii!!"


Teriak Richard panik. berpegangan erat dengan mata melotot melihat kedepan. seperti naik wahana rollercoaster saja.


Jacko diam saja. masih fokus ke depan. sementara Deva menghubungi rumah. menanyakan keadaan istrinya.


"jaaack!! bajingan kau!! pelan sedikit jaaackk.. astagaaa!!! aku pusing!!"


Richard tak henti berteriak ketakutan. Tapi Jacko hanya diam dan tenang saja menyetir. menyalip beberapa kendaraan di depannya. mencari jalur sepi untuk di lewati.


"Yaaaa tuhaaaan... tolong lah akuuu... aku masih punya cloe!!! jangan ambil nyawa ku sekaraaang!!! jaaaacckk..."


Wajah Richard sudah seputih kapas. keringat dingin bertaburan di wajahnya. dia sampai ingin muntah rasanya. karena Jacko berzig-zag ria menyalip kendaraan di depan.


"hheeegghhh!!"


Bug!!


Wajah Richard menempel di kaca pintu mobil, ketika Jacko membanting setir di tikungan jalan. Menempel erat di kaca jendela. orang yang melihat dari luar mobil pastilah melihat wajah, bibir, dan hidung Richard penyok dengan air liur yang menetes sakit pusingnya.


"Mati lah aku" Richard menitikkan air mata ketakutan. "Inilah kenapa aku tidak pernah mau semobil dengan mu brengseeekkk!!!" maki Richard.


Deva sedikit terhibur dengan tingkah Richard yang ketakutan.


"Diam lah! ini darurat!" sentak Jacko.


"brengsek kau!!! kalau tahu begini aku menyetir mobil ku sendiri!"


"kau mau turun? biar aku campakkan kau sekarang"


"ya Tuhaaaann... tolong lahh akuu..." tangis Richard pecah.


Jacko makin menginjak gas lebih dalam. sebentar lagi sudah akan masuk ke gerbang mansion. dan tiba-tiba membanting setir ke kanan. mobil masuk ke gerbang halaman mansion dengan bunyi rem yang berdecit nyaring. lalu berhenti mendadak tepat di depan tugu air mancur yang kokoh dan besar.


"Aaaaaaaaaaaagghhhh...."


Richard menjerit dengan menutup wajahnya ketakutan. melihat mobil berhenti tepat di depan air mancur besar yang bisa meremukkan mobil yang mereka tumpangi jika menabraknya keras.


Dengan cekatan Deva keluar dari mobil. meninggalkan Jacko dan Richard. tak peduli lagi dengan mereka berdua. yang paling penting adalah istrinya.


Richard membuka telapak tangannya yang menempel erat di wajahnya. Jacko meliriknya dengan senyum skeptis. tampak tangan Richard berkeringat saking takutnya.


Napasnya tersengal melihat ke depan mobil. dengan menghembuskan napas lega ternyata mobil tidak sampai menabrak tugu air mancur.


menoleh menatap Jacko yang juga menatapnya dengan senyum mengejek.


"hhhh... ternyata kau sepengecut itu rich" ujar Jacko skeptis.


Mendengar itu, napas Richard memburu marah. keringat ketakutan sudah banjir membasahi tubuhnya. Tapi pria kaku yang menjengkelkan itu masih saja mengejeknya. kepalanya pusing dan ingin muntah karena kebrutalan Jacko menyetir.


"Brengsek kauuuuu!!!!" teriak Richard pada Jacko.


"Haaahahahhaaa" Jacko tergelak.


cepat-cepat Richard keluar mobil dan bersimpuh.

__ADS_1


"hhuuuueeekkk!! huuueekkk!!'


"hahahaaa... lagi ngidam bung?" Jacko terpingkal


__ADS_2