
"tolong!! tolong suster!!"
teriak caera pada suster jaga setelah sampai di rumah sakit. beberapa suster berlari membawa brankar.
beberapa suster mengangkat Vivi dari dalam mobil. caera sangat terlihat panik. air mata berlinang tak henti. menghapus air matanya kasar dengan tangan yang di penuhi darah. membuat wajahnya tercoreng noda darah.
"tolong suster. tolong dia. dia teman ku sus! hikksss hikksss.. tolong dia!"
seru caera sambil menangis histeris.
"iya nona. tolong tenang lah" perawat meminta caera tenang.
mereka cepat berlari membawa Vivi ke ruang UGD. caera tidak boleh masuk. Arya dan Dira mengikuti dari belakang.
mereka bertiga menanti di luar ruang UGD. dengan terisak, caera terduduk lemas. menatapi tangannya yang penuh noda darah. bajunya juga sudah di penuhi noda darah.
Arya tertegun berdiri tegak. wajahnya lesu dan penuh kesedihan. sementara Dira, ikut duduk di samping caera.
"ini semua salah ku. hikss.. hikkss..."
caera menatap darah di tangannya. menangis menyesali apa yang telah terjadi. menutup wajahnya dengan kedua tangannya. menangis terisak-isak. Dira menyentuh pundak Caera. mengusapnya perlahan.
dari arah depan, tampak Maya datang berlari kecil dengan tergesa. sesampainya di depan ruang UGD, Maya bertanya panik pada Arya.
"bagaimana bayinya Ar? Vivi baik-baik saja kan? katakan Arya!!"
Maya mengguncang tangan Arya. tapi Arya hanya diam tertunduk lesu.
"Arya! jawab ibu!" teriak Maya.
"aku tidak tahu Bu" jawab Arya masih tertunduk.
seorang perawat keluar dari ruang UGD. semua mereka langsung menyerbu dengan pertanyaan.
"Suter. bagaimana keadaan menantu ku?" tanya Maya.
"maaf nyonya. pasien harus segera di operasi. silahkan beri pernyataan untuk kami melakukan tindakan operasi secepatnya"
"apa?! kenapa dengan Vivi? bayinya baik-baik saja bukan?" Maya mencecar perawat itu.
"tolong nyonya. segera beri pernyataan. kami harus segera melakukan tindakan operasi. ini keadaan kritis"
"lakukan segera. saya suaminya. saya menyetujui" ujar Arya cepat.
caera menatap Arya. terenyuh hatinya melihat Arya dengan tegas mengatakan dia adalah suami Vivi.
"lakukan segera suster. selamatkan dia" ujar caera.
Arya berlari menuju ke bagian administrasi. setelah suster itu masuk lagi, Maya kini memandang caera dengan marah.
"ini semua gara-gara kamu!!" bentak Maya.
caera hanya diam. tidak mau menyahuti Maya. kembali duduk dengan lesu.
mungkin Maya benar. ini salahnya. kalau saja dia tidak membalas dendam dan mengatakan pada Arya agar meninggalkan Vivi, pasti ini semua tidak akan terjadi.
caera menutup wajahnya menangis terisak. sangat merasa bersalah. tampak beberapa suster mendorong brankar Vivi keluar dari ruang UGD. Maya berlari mengejar.
__ADS_1
wajah Vivi semakin pucat pasi. tergeletak lemah tak sadarkan diri. perawat membawanya menuju ruang operasi dengan tergesa. keadaan Vivi kritis.
****
beberapa jam menunggu dengan gelisah. Maya menatap marah pada caera. Arya berjalan mondar-mandir dengan cemas. Dira duduk di samping caera.
dokter keluar dari ruang operasi. dengan cepat, mereka mendekat.
"dokter, bagaimana istri dan anak saya?"
"iya dokter. bayinya tidak apa-apa kan dokter?" cecar Maya pada dokter.
dokter itu menarik napas berat. menatap Maya dan Arya bergantian.
"maafkan kami tuan. kami sudah berusaha semaksimal mungkin. tapi keadaan pasien cukup parah"
"katakan dokter. bayinya tidak apa-apa kan?!" dengan tak sabar Maya memegang tangan dokter dan mengguncangnya.
"maaf nyonya. pasien mengalami rahim robek atau ruptur uteri tiba-tiba yang cukup parah. kami tidak dapat menyelamatkan bayinya. maaf tuan"
"apa?!" Maya terkejut bukan main.
Arya terhuyung oleng mendengar jawaban dari dokter. sementara caera diam mematung. pandangannya kosong. sangat terpukul mendengar jawaban dokter.
dokter pergi. Maya langsung menoleh menatap caera dengan bengis. seperti ingin meremukkan caera saat ini juga.
"ini semua gara-gara kamu!! kau yang menyebabkan ini terjadi!!"
Maya menuding wajah caera. mendorong pundak Caera kasar. membuat caera terhentak ke belakang. Dira berdiri di samping caera menghalangi Maya.
"kau memang perempuan tidak berguna!!" seru Maya marah.
"kau permpuan yang tidak bisa menghasilkan anak!! kau telah membunuh cucu ku!!"
"maafkan aku" ujar caera lirih. menatap Maya nanar.
"aku benci pada mu!! pergi kau dari sini!! pergi!!"
Maya menyentakkan bahu caera. mengusirnya dengan marah. caera tersudutkan. Dira menepis-nepis tangan Maya yang ingin mencakar caera.
dari lorong depan, tampak Deva dan Jacko datang mendekat. Dira langsung membungkuk hormat ketika Deva sudah dekat.
caera menatap Deva dengan sedih. ingin mengadu segala apa yang telah terjadi. Arya menatap Deva dengan tegang. sementara Maya menatap tak senang.
"kamu tidak apa-apa sayang?" dengan cemas Deva menatap wajah caera yang banyak bernoda darah.
caera hanya menggeleng terisak. Deva memeluknya khawatir. melepas pelukannya dan memeriksa keadaan caera.
"tapi ini banyak darah"
"darah Vivi, Dev. hikss.. hikkss.."
"ya sudah, tidak apa-apa. semua akan baik-baik saja"
Deva memeluknya lagi. menenangkan caera yang merasa sangat terpukul dengan kejadian ini.
"huh!! apanya yang tidak apa-apa?? dia itu pembunuh!!" Maya bergumam lirih. sangat muak melihat adegan kekhawatiran Deva.
__ADS_1
Deva hanya diam melirik Maya dingin. Jacko berdiri tegak di samping tempat duduk. memperhatikan.
caera menangis pilu. terguncang dengan kata-kata Maya. dia pembunuh? membunuh bayi Vivi?
"lebih baik kalian pergi dari sini. kau sudah puas bukan? keinginan mu tercapai dengan membunuh cucu ku! anak Arya. itu yang kau inginkan bukan?!" tuding Maya pada caera.
pikiran caera makin kacau. apa benar ini keinginannya? menghilangkan bayi itu? tidak! tidak pernah.
"ayo sayang kita pergi" Deva menarik caera pergi.
caera menatap Arya yang diam seribu bahasa. lelaki itu tampak menatap kosong. entah apa yang di pikirkannya.
"Dev.. Vivi.." caera menunjuk ke arah ruang operasi.
"sudah.. nanti saja sayang. kita harus pulang. bersihkan diri mu dulu" dengan sabar Deva mengajak caera pergi.
Arya menatap caera. mata mereka bertemu. tapi caera juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. bayi Arya sudah tidak ada lagi. sementara Vivi masih belum sadarkan diri.
kembali hati caera terasa di hujan sebilah belati tajam. dia tidak bermaksud sejauh ini. dia hanya ingin Vivi merasakan rasanya sakit di hianati. bukan untuk menghilangkan bayinya sekaligus.
"ayo sayang" Deva mengajak caera bergerak pergi. tapi caera masih enggan meninggalkan Arya.
"pergilah! pembunuh!" Maya menatap caera skeptis.
Deva geram. cukup sudah wanita tua itu menuduh caera sebagai pembunuh. dia tidak tahan lagi. sedari tadi dia menahan diri untuk tidak emosi.
"Dira. bawa caera pergi" ujar Deva dingin.
Dira mendekat dan memegang tangan caera mengajaknya pergi. caera menuruti. pergi dengan perasaan luka yang bercampur aduk.
Deva menatap Maya dengan dingin. Maya hanya mencebik melihat tatapan Deva.
"nyonya. tolong jaga kata-kata anda. saya masih menghormati anda sebagai orang tua"
"aku mengatakan yang sebenarnya. dia itu sangat menginginkan bayi Vivi lenyap!" Maya melotot marah.
Deva mencoba tidak bersikap kasar. menarik napasnya dalam dan menghempaskan perlahan. mengatur emosinya agar tidak meledak.
"sebenarnya keadaan ini cocok terjadi pada anda. anda menanam kejahatan bukan? maka anda akan menuai semua hasil dari yang anda rencanakan"
maya terdiam. kata-kata Deva memukulnya telak tanpa menyentuhnya.
"saya harap, anda mengambil pelajaran dari kejadian ini"
kini Deva menoleh pada Arya. Arya hanya diam.
"dan anda tuan Arya. saya turut berduka dengan kejadian ini. tapi saya pikir, anda juga tahu dimana letak salahnya"
Arya menatap Deva dalam diam. berhadapan dengannya dengan jelas baru kali ini. dan Arya mengagumi Deva. pantas menjadi seorang pemimpin.
"saya permisi"
Deva berbalik pergi meninggalkan Arya dan Maya. Jacko mengikutinya di belakang.
Arya ambruk. tak kuat menahan sedih di hatinya. hidupnya kini benar-benar hancur. ini semua karena ibunya.
dan Maya kini hanya diam membisu. cucu yang di idamkan bisa menjadi pewaris harta orang tua suaminya, kini kandas. bayi itu pergi sebelum lahir kedunia.
__ADS_1
meratapi pun tiada guna. bayi itu tidak bisa kembali lagi. semuanya berantakan.
"Arya. maafkan ibu"