
Caera agak sedikit merasa bosan. sudah tiga hari ini Deva tidak ada kabar. entah kemana pria mesum itu. terakhir kali caera bersamanya di rumah bukit. dan deva bilang, ada pekerjaan mengurus launching perusahan baru yang bergerak di bidang IT.
Yang membuat caera jengkel, setiap kali menghubungi Deva, panggilannya di reject. setelah itu, Deva malah mengirim foto dengan background para model cantik yang berkerumun di belakangnya.
Langsung saja dua tanduk merah muncul di kepala caera. tapi, begitu di hubungi lagi, Deva malah mematikan ponselnya.
Yang lebih parah, Deva melarang keras caera datang ke kantor. Dira yang menyampaikan itu bukan deva. Dira bilang, caera di pecat jadi sekertarisnya.
Wajah caera merah padam. entah apa maunya pria sinting itu melakukan ini. kenapa setelah cintanya berlabuh, dia malah membuat caera makin kesepian? dan deva sama sekali tidak datang atau menghubunginya sama sekali.
Itu membuat caera uring-uringan. caera berulang kali bertanya pada Dira, kemana Deva. tapi Dira bileng tidak tahu. sudah beberapa hari Deva tidak masuk ke kantor.
Caera mencoba bertanya pada Jacko. tapi si pria black sweet itu malah makin membuatnya jengkel. selalu menjawab dengan "hhmm" dan emoticon 🤷 dan 🤦.
Caera ingin menangis saja rasanya. rindu dan rasa penasaran dimana Deva membuatnya sering melamun.
Kesempatan terakhir, ada pada Gino. caera membujuk Gino untuk menghubungi Deva. atau paling tidak mengirim pesan pada Deva. tapi dengan sengit, Gino menolak.
"mama... Daddy lagi sibuk. kata Daddy tidak boleh di ganggu. nanti Daddy marah sama Gino, mamaaaa..."
ujar bocah kecil itu membela Daddy nya. dengan wajah masam caera pergi meninggalkan Gino. sungguh bosan hari-harinya hanya di habiskan di dalam kamar. sudah terbiasa beberapa bulan ini penuh kesibukan di kantor membantu Dira. tapi kini, dia harus malas-malasan. membuatnya pusing.
Mau kerumah ibunya, tapi takut nanti ibu malah bertanya tentang lamaran itu lagi. hal itu juga membuatnya takut bertemu ibu. hanya tidak sanggup menolak permintaan ibu dengan wajah sedih dan mau menangis.
"kenapa sih Dev.. kau jadi berubah begini? baru saja beberapa hari kita saling menyatakan cinta. kamu malah menghilang begini? apa kamu selingkuh? kamu punya wanita lain? atau kamu lagi sibuk mengejar cinta lain seperti kamu mengejar ku dulu?"
Caera bicara pada dirinya sendiri. bingung harus bagaimana.
"tidak mungkin kan aku harus mengikat mu di tiang agar kau tidak lepas dari pengawasan ku? hehehee.. lucu juga ya kalau aku ikat dia. aku cambuk biar dia tidak pergi dan menggoda wanita lain. hahaaa..."
caera sudah seperti orang gila. bicara pada dirinya sendiri, dan membayangkan mengikat Deva di tiang hanya memakai boxer, dan mencambuknya dengan keras.
tiiin..tiinn..
suara deru mesin mobil dan klakson di halaman depan. caera memeriksanya. ternyata Dinda yang datang.
"hai sayaaaang..."
Dinda datang menghampiri caera dan cipika cipiki. caera membawanya masuk.
"kamu dari mana Din? kok kamu tahu aku di rumah?"
"aku tadi dari kantor mu. tapi katanya kamu tidak masuk. jadi aku ke sini langsung"
"hmmm.. mereka bilang begitu?"
"iya. kenapa kamu tidak masuk kerja?"
"aku di pecat" caera cemberut. menekuk wajahnya.
__ADS_1
"apa??!!"
"iya Din. gila tidak? mana di pecatnya Dira yang nyampein lagi"
"bukan Deva?"
caera menggeleng. Dinda tampak kaget dan antusias sekali.
"terus, kamu udah tanya sama Deva, kenapa di pecat?"
"gimana aku mau tanya? lelaki tengil itu entah menghilang kemana. aku sudah tidak jumpa beberapa hari ini"
wajah caera tampak sedih. matanya mulai berkaca-kaca.
"dia lagi sibuk mungkin Ra" Dinda menenangkan caera.
"sibuk ya sibuk. masak kirim pesan saja tidak bisa? malah kirim foto sama perempuan"
"astaga... yang benar kamu Ra! jangan becanda deh"
caera gemas. menunjukkan foto Deva di ponselnya.
"nih lihat!"
Dinda mendelik. melihat foto Deva dengan background banyak model cantik di belakangnya.
"mana dia tampan banget lagi di foto ini Ra. macho gitu"
"hehee... maksud ku, ya Deva keterlaluan.. tampannya"
"aduh diiinn... kamu sama saja deh. sebel banget aku"
caera menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. geregetan melihat Dinda malah cengengesan.
"ya sudahlah Ra. Deva cuma lagi sibuk mungkin. kamu kan tahu, dia harus memimpin beberapa perusahaan. belum lagi menghadiri rapat, trus bertemu klien, kolega, rekan bisnis..."
"heh Din, kamu itu istri Alfian atau sekertaris Deva sih? lancar benar ngasih jadwal kerja?"
"hahahhaaa... kamu beneran kesal ya Ra? hahaa.." Dinda tergelak melihat caera sewot.
pak dirman muncul di depan pintu. membungkuk hormat.
"nona.. ada tamu, utusan dari tuan Deva"
"Deva? mana pak?" caera tampak antusias.
"ini nona"
pak dirman mempersilahkan tamu itu menghadap. seorang wanita dan seorang lelaki membawa gaun malam yang di tutup cover plastik.
__ADS_1
"selamat siang nona caera. saya venya dari brayya colection. saya membawa gaun ini untuk nona caera"
"untuk acara apa?" caera merasa tidak ada acara malam ini.
"tuan Deva bilang, gaun ini untuk acara nanti malam"
caera berpikir sejenak.
acara apa? Deva tidak ada bilang kalau dia harus menghadiri acara dengannya
"ya sudah Ra, terima dulu. itukan dari Deva" Dinda menyahut.
"ya sudah. tidak apa-apa. masuk lah"
venya masuk. dan meminta caera mencoba gaunnya. sangat cantik. pas sekali di tubuh caera. dan venya puas sekali melihat gaunnya sangat cocok di pakai caera.
"anda sangat cantik nona caera. mempesona" puji venya.
"terima kasih venya"
venya meminta caera membuka lagi gaunnya. dan menggantungnya lagi. caera menyimpan gaun itu.
setelah venya pergi, caera bergabung lagi bersama dinda.
"coba lihat. gila kan dia? kirim kabar tidak pernah. tapi ini kirim gaun. padahal aku tidak tahu acara apa yang harus ku hadiri"
"ya percaya saja lah. pasti Deva bersama mu. kan ini kesempatan mu bertemu Deva. katanya kangen" Dinda mengedipkan sebelah matanya.
"siapa yang kangen? aku cuma heran kemana dia menghilang Din"
"itu namanya kangen Ra. kalau kamu gak kangen, kan tidak nyariin Deva "
"iihh.. iya, iya. aku kangen"
caera mencubit dinda. malu karena Dinda menggodanya.
"ini aku gak di kasih minum? haus nih"
"loh, kamu masih doyan minum Din?"
"aaiijhh.. emang aku onta? yang bisa nahan haus berhari-hari?"
"haha.. siapa tahu benar"
caera beranjak ke belakang. memanggil Bu Ima untuk menyediakan minuman dan makanan kecil untuk Dinda.
Dinda mengambil kesempatan itu. membuka ponselnya, dan mengirim rekaman suara percakapan mereka berdua pada seseorang.
yang menerima rekaman itu tersenyum dan mengecup ponselnya dengan perasaan rindu membuncah.
__ADS_1
"aku rindu kamu sayang"