DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 125


__ADS_3

Jacko masuk ke dalam kamar Deva. menunggu bosnya bersiap. memperhatikan Deva memakai kemejanya di depan cermin.


"apa? kau memandang ku seperti black panther" ujar Deva.


""kau sudah siap?"


Deva mendekat ke arah Jacko. berdiri sambil mengancingkan kemejanya di bagian lengan.


"aku terlihat tampan?"


Jacko menarik kemeja Deva. mengancingkan bagian depan kemejanya.


"hhhh.. kau tidak pernah terlihat jelek Dev"


"ah kau sudah seperti Istri cerewet saja"


setelah selesai, Jacko menepuk pipi Deva pelan.


"terlalu narsis! itu yang aku benci dari mu. kau selalu menyaingi ku"


"hahaa... jangan khawatir. Neneng mencintai mu"


Jacko menoleh dengan memicingkan matanya menatap Deva.


"bisakah kau tidak menyebut nama itu bos?!"


"kenapa? kau mau aku menyebutnya dengan nama Doni?"


"diam lah Dev!"


"hahaahaaa"


Deva tergelak. kali ini dia sudah bisa mengejek Jacko. dia akan menikah. dan Jacko masih melajang. ini kesempatan Deva untuk gantian mengoda Jacko.


"ayo. aku siap"


mereka beranjak keluar kamar. Jacko turun ke lantai bawah, dan Deva menjemput caera di kamarnya.


terlihat caera juga sudah siap. Deva tertegun di depan pintu kamar. melihat wanitanya makin mempesona di matanya.


"kenapa menatap ku begitu?"


"kau semakin cantik saja sayang"


"sudah Dev. jangan gombal terus"


"itu memang benar sayang. kau terlihat makin cantik. dan aku..."


"deevv... sudah. jangan selalu mesum"


potong caera karena melihat gelagat Deva yang mendekat dan ingin menciumnya.


"hhuhh.. pelit sekali"


"ayo. kita pergi"


****


suasana pemakaman yang nyaman menambah syahdu. Deva dan caera berdiri di depan makam tuan Elliot. Jacko berdiri di belakang mereka.


"dad, i'm coming. ini caera, dad. cinta Deva"


Deva berkata dan merangkul pundak Caera. caera menatapnya penuh cinta. suasana haru menyelimuti mereka.


"Daddy sudah tenang sekarang ya. Dedev sudah menemukan cinta yang akan menemani Dedev sampai akhir"

__ADS_1


caera merapat pada Deva. menyentuh dada Deva dan berbisik.


"kenapa Dedev, Dev? kok unyu banget?"


"iya sayang. Daddy panggil aku Dedev dari kecil"


"mmmppptthh" Jacko geli sampai menahan tawanya kuat-kuat.


Deva melirik Jacko jengkel. caera tersenyum geli melihat Deva mangkel pada Jacko. yang tadinya suasana haru, kini berganti dengan kikikan Jacko.


"tidak apa sayang. aku suka nama Dedev"


"terima kasih sayang"


Deva mengecup puncak kepala caera.


"Daddy.. Dedev pergi dulu ya. ke makam paman Nugraha"


pamit Deva pada ayahnya. dan mereka kini beranjak ke makam tuan Nugraha. ternyata makam itu berdekatan.


Deva berjongkok di samping makam Nugraha. menabur bunga dan berdoa sejenak.


"paman, tenanglah di sana. ini caera calon istri ku. dia baik dan cantik paman. yang paling penting, dia mencintai ku"


Deva merangkul caera.


"seperti janji ku pada paman. maafkan aku paman. sepertinya Gisel jauh dari jangkauan ku. tapi, aku akan mencoba menjaganya juga"


mata Deva berkaca-kaca. teringat bagaimana sayangnya Nugraha padanya melebihi anak kandungnya sendiri.


"paman. kami pamit. semoga paman dan Daddy di tempatkan terbaik di sisiNYA"


"amiin" sahut caera dan Jacko berbarengan.


****


semua sibuk mengurus pernikahan Deva dan caera. apalagi Soraya. cerewetnya jadi bertambah. Jacko sampai pusing mendengarkan kecerewetan ibu yang akan mendapatkan mantu baru.


"deeevv.. jangan lupa. nanti harus fitting gaun pengantin caeraaaa.." seru Soraya pada Deva yang masih asik mengelus pipi wanitanya.


"ohh tuhan... sungguh! ibu selalu mengganggu ku" gerutu Deva sebal.


caera hanya tertawa.


"Dev.. tak bosan-bosan kau menjahili mantu ku. tidak ada kerjaan lain apa?"


"ibu, kenapa jadi tambah cerewet saja? aku masih rindu padanya Bu"


"iiihh... " Soraya mencubit Deva " kau bisa melanjutkan itu setelah menikah. kenapa tidak sabar? tidak boleh kau selalu menempel begitu. seharusnya caera di pingit. kau tidak boleh bertemu dengannya"


"apa???!!! tidak boleh??!!!" Deva mendelik.


"iya. tidak boleh. mulai besok kau tidak bisa bertemu dengan caera. dia harus ibu simpan di kamar ibu"


dengan gusar Deva memegangi tangan ibunya. memohon untuk tidak melaksanakan apa yang di katakan ya tadi.


"ibu... jangan menyiksa ku Bu. aku tidak bisa hidup tanpanya"


berlutut di depan ibu dan menciumi tangan ibu agar menolongnya.


"aduh Dev. jangan lebay! kau harus mengikuti peraturan. ibu tidak bisa menolong mu"


Soraya menghempaskan tangannya dari genggaman Deva. bergerak menjauh. tapi Deva tak putus asa. menyeret lututnya bergerak mengikuti ibunya.


"Bu... tidak usah di pingit Bu. Dedev akan menjaganya" rengek Deva.

__ADS_1


"ibu tidak percaya pada mu soal itu. kau tidak akan menjaganya. kau malah akan menelannya bulat-bulat" Soraya mencebik.


caera tertawa melihat kelakuan ibu dan anak ini. mereka sangat kompak sekali.


"tidak Bu. Dedev tidak akan menyentuhnya. asalkan bisa melihatnya terus Bu"


Deva masih merengek. memegangi tangan ibunya. memohon agar di kabulkan.


"hhhh... apa aku bisa percaya itu?"


"iya Bu... percayalah"


Deva memasang wajah unyu. menatap mata ibu dengan mengedip-ngedipkan matanya lucu. Soraya melirik caera. dan caera menggerakkan tangan menolak permintaan Deva. lalu menatap anaknya lagi.


"aahh.. minggir Dev. permintaan mu di tolak"


Soraya bergerak berdiri dan melangkah menjauh. itu membuat Deva kehilangan pegangan. habis sudah harapannya untuk selalu bersama caera. karena besok, caera akan di pingit.


"ibuuuu... tolong lah akuu buuuu..."


Deva bersujud di lantai. memukul lantai dengan tinjunya. meratap memohon pada ibunya untuk menyerahkan caera padanya.


Soraya berbalik. menatap Deva yang berdrama seperti anak kecil.


"itu tidak mempan Dev. kau sudah karatan melakukan drama itu"


Soraya mencebik lagi. lalu melangkah pergi sambil berseru.


"jangan lupaaa... kau harus mengantar caera fitting baju sore ini. itu waktu terakhir mu untuk bisa menemuinyaaaaa... ingat itu deeev"


Deva bangkit dari sujudnya. wajah unyu yang tadi di pamerkannya pada Soraya, kini lenyap sudah. menatap kepergian ibu dengan memicingkan mata.


bergerak mendekati caera lagi. memeluk caera dan menyandarkan kepalanya di dada caera.


"sayang, aku tidak bisa. tolong bujuk ibu untuk tidak menyimpan mu di kamarnya" rengek Deva.


"ibu benar sayang. aku pun tidak bisa percaya pada mu soal itu"


"apa?" Deva merenggangkan pelukannya. menatap mata caera. " kenapa kalian begitu kejam pada ku?"


"haha.. bukan kejam sayang. tapi kau terlalu mesum. aku tidak bisa menahan mu"


"kali ini juga kau tidak bisa menahan ku bukan?"


Deva menggerak-gerakkan alisnya naik turun. datanglah kejahilan itu lagi. caera melotot.


"Dev.. jangan mulai"


tapi belum saja caera menolak, Deva sudah menge cup bibir itu. menyumpalnya agar tidak bicara lagi.


mema gut mesra. caera tak dapat menolak. hanya pasrah. Deva menye sapnya lembut. menjelajahi bibir itu dengan hikmat.


"balas sayang" bisik Deva.


caera hanya menggeleng. tak mau membalas ciuman Deva. gemas Deva men jilat bibir caera. menjulurkan lidahnya memasuki mulut caera. mengapsen gigi depan caera. dan menelusup sampai ke bibir atas bagian dalam.


caera mendorong dada Deva. tapi pria itu malah makin menindihnya. memperdalam lu ma tannya. memaksa caera membuka mulutnya.


merasa terdesak kehabisan napas, caera membuka mulut. Deva langsung menelusup masuk. menge mut lidah basah nan hangat itu. membuat caera bergetar merasakan lembutnya lidah Deva.


"Dev.. sudah. nanti ada yang lihat"


caera ngos-ngosan kehabisan napas setelah ciu man itu terlepas. Deva menggegat giginya. gemas melihat bibir caera.


"astaga!! besok saja menikah sayang. akusudah tidak tahaaannn.."

__ADS_1


__ADS_2