
akhir pekan ini caera menghabiskan waktu bersama Gino. caera bisa lepas dari Deva hanya di hari Sabtu dan minggu. selebihnya dia harus menginfakkan otaknya menjadi lumpuh untuk dapat menerima segala perlakuan mesra dari Deva yang sangat membuatnya gila.
tak ingin terlalu kehilangan momen bersama bocah kecil yang menggemaskan itu. seharian caera bermain bersama Gino. main layangan di ajari Bima, sampai main pedang menjadi raja yang tak terkalahkan. bima sampai kelelahan mengikuti Gino bermain sepak bola.
kini, mereka menghabiskan waktu di dalam kamar. bercanda ria sehabis main petak umpet. caera tak ingin Gino merasa kehilangan dirinya di masa tumbuh kembangnya, karena caera sibuk bekerja.
mereka berdua tidur-tiduran di lantai kamar beralaskan karpet merah yang berbulu tebal. caera mengelus-elus pipi gembul Gino.
"ma, kenapa mama kerja? biasanya mama sama Gino terus tiap hari"
tanya Gino sambil menarik-narik rambut panjang caera yang bergelombang.
"mama kerja kan untuk Gino"
"untuk apa ma?"
"ya untuk beli mainan Gino lah. untuk sekolah Gino, sama untuk isi perut Gino"
"isinya apa ma?"
"maksud mama, biar kita bisa beli beras sayang buat makan"
"iihh.. mama, Gino kan makan nasi. bukan beras ma"
Gino protes.
"iya lah Gino.. maksud mama ya itu sayaaang"
caera menggigit pipi Gino dengan gemas.
"aduuhh.. sakit ma"
Gino meringis kesakitan.
"habis, anak ganteng mama ini ngegemesin"
caera tertawa dan mengusap-usap sayang pipi Gino yang baru dia gigit.
"tapi papa kan udah kerja, ngapain mama kerja? papa kasih uang kan ma, kalau kerja?"
caera terdiam. bocah ini sepertinya telah menyadari kenapa papanya tidak pernah pulang.
"iya sayang. uang papa untuk di tabung. mama kerja buat Gino sekolah"
"di tabung kayak Gino nabung ya ma?"
"iya sayang. biar buuaaanyaak!"
caera mencubit kecil hidung mungil Gino.
Gino terdiam sejenak. memandangi kamar mandi di sudut ruangan. seperti merenung memikirkan kata-kata caera.
"biar banyak segini ma?"
Gino merentangkan tangannya, menirukan tumpukan yang banyak dan lebar.
"iya dong"
Gino diam lagi. masih menatap ke arah kamar mandi.
"Gino lihat apa sih?"
caera penasaran ikut melihat ke arah kamar mandi.
"ma, kalau uang mama udah banyak, sampai penuh kamar mandi gimana ma?"
caera tersenyum. dia bisa mengerti Gino sedang membayangkan, uang yang turun seperti hujan dan memenuhi kamar mandi.
"waahhh.. ya enak dong. kita bisa beli aaapaaaa aja. kita beli mainan yang banyak buat Gino"
__ADS_1
jawab caera.
Gino menoleh menatapnya. seperti heran dengan jawaban mamanya.
"jangan ma"
"loh, kenapa? Gino gak suka, kalau kita punya duit banyak sampai penuh kamar mandi?"
tanya caera.
"Gino gak mau ma"
"tapi kenapa Gino gak mau?"
"mainan Gino udah banyak ma. kalau kita punya duit sampai penuh kamar mandi..."
Gino berhenti bicara. caera menatapnya heran. apa lah kiranya yang di bayangkan Gino kalau punya uang banyak sampai memenuhi kamar mandi mereka.
"kenapa Gino?"
"Gino bingung, kalau kita mau pipis di mana ma. kamar mandinya kan penuh duit"
😖 astagaaa... Ginoooo....
****
diiing... dooong..
bel berbunyi. membuyarkan konsentrasi keluarga alwan yang sedang menonton acara televisi.
"oyaaahh.. lihat siapa itu yang datang"
teriak Rani dari dapur memanggil Oyah.
Oyah pergi keluar rumah memeriksa. Gino masih setia menggelung di pangkuan kakeknya.
Oyah datang lagi. menghadap pada alwan melaporkan siapa yang datang.
tanya alwan.
"itu pak. ada ibu yang kerja di rumah Mbak Rara"
caera kaget. berhenti memainkan ponselnya.
"maksud bibik... bik sari?"
"iya mbak"
caera terdiam. memikirkan kenapa sampai pembantu Arya datang ke rumah ini. Bima melirik caera. melihat reaksi kakaknya itu.
"mana dia bik Oyah?"
tanya Bima.
"itu ada di luar, mas Bima"
Bima beranjak keluar rumah. caera juga ikut bergegas menyusul Bima.
di luar gerimis. caera dan Bima, melihat ke arah gerbang dari teras. tampak sari berdiri di samping gerbang yang sudah terbuka.
cepat-cepat caera mendekati sari. Bima juga ikut. wanita itu terlihat menggigil kedinginan karena bajunya lembab terkena gerimis. dia membawa tas besar yang teronggok di samping kakinya.
"bik sari?"
caera memegang lengan wanita itu. sari hanya menunduk lemah. bibirnya bergetar menahan dingin yang menusuk.
"bibik basah. ayo masuk"
cepat caera menarik tangan sari mengajaknya masuk. Bima mengangkat tas yang di bawa sari.
__ADS_1
"bik Oyah, tolong ambilkan handuk"
ujar caera setelah mendudukkan sari di ruang depan.
Oyah pergi ke belakang mengambil handuk. alwan dan ibu datang ke ruang depan bersama Gino.
"ada apa Ra?"
tanya Rani.
"ini Bu, ada bik Sari datang"
"loh, kok basah begitu?"
Rani mendekati sari yang menggigil.
Oyah datang dan menyerahkan handuk pada caera. caera menyelimutkan handuk itu di badan sari.
"Ra, kamu ambil air hangat. cepat lah"
Rani tampak cemas melihat keadaan sari.
caera beranjak menuju dapur. tapi belum sempat di menjauh, sari sudah menarik tangannya. dan langsung bersimpuh di kaki caera.
"nyonya, tolong terima saya di sini nyonya. saya sama nyonya saja"
sari menangis tergugu di kaki caera. memeluknya erat.
semua yang ada di ruangan itu terperanjat kaget. tidak menyangka sari akan berbuat begitu.
caera segera berjongkok. menarik sari bangkit, dan mendudukkannya lagi di sofa.
"iya bik. tidak apa-apa. sekarang bibik tenang dulu ya"
"nyonya, saya tidak tahu mau pergi kemana. saya mau tinggal sama nyonya saja"
rengek sari memohon dalam tangisnya.
"iya bik, iya. lebih baik bibik ganti baju dulu ya. nanti kita bicara"
"iya benar" kata Rani "Oyah, bawa sari ke kamar mu"
Oyah bergerak mengajak sari ke kamarnya untuk berganti baju. sari menurut. tapi matanya masih menatap caera memohon.
setelah Oyah dan sari pergi, alwan dan Rani duduk bersama caera dan Bima. mereka heran dan hanya bisa menerka-nerka apa penyebab sari datang ke rumah ini.
"Ra, kenapa sari sampai begitu takut kamu tidak nerima dia di sini?"
tanya Rani.
"Rara gak tau juga ma"
"di suruh kali ma. sama si brengsek itu"
Bima nyeletuk. tampak tidak curiga.
"Bima" caera menatap Bima "aku kenal bik Sari sudah bertahun-tahun Bim. dia tidak begitu"
"yah siapa tahu lah Ra. kau tahu kan, nenek sihir itu mulutnya sama seperti otaknya. busuk"
ujar Bima ketus.
"bimaaa.. jangan begitu nak"
Rani menegur anak lelakinya.
caera diam saja. sementara Bima terlihat jengkel kenapa ibu dan kakaknya terlihat membela si nenek sihir mantan mertua caera.
"sudah sudah. kita tunggu saja apa yang akan di katakan sari" Alwan menengahi. "sepertinya dia terlihat sangat sedih dan bingung. tidak sedang berpura-pura "
__ADS_1
mereka semua terdiam. sibuk dengan pikiran masing-masing. menantikan sari datang dan bercerita ada apa sebenarnya sampai dia datang ke rumah ibunya caera dengan keadaan yang kacau.