DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 49


__ADS_3

malam ini, caera, Bima, dan Gino berada di sebuah restoran seefood. bergabung bersama Dinda, Alfian, dan kedua anak mereka Azam dan prila.


ingin merayakan hari pertamanya bekerja. berbagi bahagia bersama orang-orang terdekatnya. ayah dan ibu menolak untuk ikut. karena harus menghadiri pengajian di komplek sebelah.


apalagi Dinda, antusiasnya luar biasa. dia ingin mempertemukan Bima dengan Jiya adiknya. tapi Jiya belum datang. masih ada sedikit pekerjaan katanya.


"Bim, masih lama kan kamu balik ke Malaysia?"


tanya Dinda sambil sibuk mengupas kerang.


"Minggu depan kak"


jawab Bima.


"jangan dulu Bim. kalau kamu sudah balik, yang antar Gino ke sekolah siapa?"


Dinda mencoba memprovokasi Bima. agar lebih lama tinggal di indonesia.


"ayah bisa kak"


Bima masih tidak menyadari kompor Dinda.


"aku juga bisa kok Din, sebelum ke kantor, aku antar Gino"


caera menimpali.


"iisshh!"


Dinda menyenggol tangan caera. caera menoleh ke arah Dinda. mengerutkan keningnya tak mengerti maksud Dinda.


"ssstt"


Dinda mengedipkan matanya dan memonyongkan bibirnya. memberi isyarat pada caera agar mengerti maksudnya Dinda ingin menahan Bima agar tidak cepat kembali bekerja. kalau Bima sudah pergi, maka gagal lah ia menjodohkan Jiya dan Bima.


caera hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Dinda ini memang usil.


"jangan Bim. nanti Rara repot loh kalau harus ngantar Gino dulu. kamu tambahin aja ambil cuti Bim"


Dinda masih tak mau menyerah.


"kak, kamu bisa kan?"


tanya Bima pada caera.


"ha?"


caera pura-pura tidak mengerti.


"kamu bisa kan kalau harus antar Gino dulu?"


Bima mengulangi pertanyaannya.


"alaaahh.. gak bisa dia Bim. kamu aja"


Dinda memotong sebelum caera menjawab.


"Din, kenapa kamu yang ngotot sih?"


Alfian menengahi.


"iiihh.. kamu ini. nempel aja"


Dinda gemas pada Alfian yang akan membuyarkan rencananya.


"mama, Gino mau itu"


Gino menunjuk kepiting yang lebih besar.


caera mengambilkan untuk Gino. tampak anak-anak itu tidak banyak bicara karena sibuk dengan makanan masing-masing.


"Al, jangan makan terlalu banyak. entar kamu mupeng lagi"


Dinda memperingatkan Alfian suaminya, agar tidak makan kepiting terlalu banyak.


"kan ada kamu sayang"


Alfian menatap Dinda mesra dan mengedipkan sebelah matanya.


"ogah.. kamu belum punya gambarnya Tom Cruise!"


tolak Dinda.

__ADS_1


"ya udah, nanti aku ke rumah ibu"


jawab Alfian santai.


"heh..?? ngapain kamu ke rumah ibu Al?"


Dinda menoleh pada Alfian lagi. merasa heran untuk apa suaminya itu ke rumah ibunya pada saat mupeng. maksudnya Dinda, pas hormon lagi naik.


"pakai kalender ibu lah?"


"ha?!"


Dinda kaget dan tercengang.


"apa sih kamu?" Alfian menyadari kenapa istrinya kaget. "ibu kan punya kalender yang foto-foto model itu"


"ooohhh"


panjang oh Dinda. paham maksud Alfian kenapa ke rumah ibunya. Bima terkekeh geli melihat suami istri ini.


"apa sih kalian ini. ada anak-anak ini"


caera jengah mendengar percakapan Dinda dan Alfian.


"jadi Ra, gimana kesan kamu bekerja di perusahaan elit?"


Alfian mengalihkan pembicaraan.


"masih satu hari Al. tapi, yah lumayan lah, ada rekan kerja ku yang mengarahkan"


jawab caera sambil sibuk membantu Gino mengupaskan kulit kepiting yang keras.


"kamu beruntung Ra. banyak orang yang ingin masuk ke sana. tapi seleksinya ketat sekali"


"begitu ya Al?"


"iya Ra. dulu aku melamar ke sana sampai tiga kali. hmmm.. gagal terus. di sana itu orang-orang pilihan"


"waahh.. beruntung dong kamu Ra. kamu pilihan tuan Deva"


celetuk Dinda seraya menyenggol caera dengan bahunya. Dinda mengedipkan mata menggoda caera.


"iya kak al. betul itu. perusahaan tempat ku bekerja juga ada kerja sama dengan Elliot corp"


Bima menimpali.


"ohh.. jadi tuan Deva sering ke sana juga ya Bim?"


tanya Dinda antusias.


"ya, kak Din"


"kamu sering ketemu dong ya?"


"tidak juga..."


"haaaii kaakkk"


omongan Bima terpotong. suara melengking itu membuyarkan obrolan mereka. semua menoleh serempak ke arah datangnya suara.


tampak jiya berjalan melenggang dengan seorang temannya dengan gaya yang sama dengan jiya, melenggang dan melambai. padahal dia itu seorang lelaki. penampakannya seperti itu.


"hai kak"


jiya mendekat pada Dinda dan cipika-cipiki. lalu beralih pada caera dan melakukan hal yang sama.


"hai Bima"


sapa jiya pada Bima.


Bima mengangguk dan tersenyum pada jiya. sudah lama dia tidak melihat jiya. terakkhir kali bertemu, ketika jiya masih di bangku SMA. sekarang jiya sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan energik.


Jiya memiliki mata yang indah. rambut potongan Bob yang sangat serasi dengan gaya cueknya.


Jiya mengambil bangku lain yang kosong, dan duduk di sebelah Bima. sementara temannya masih sibuk mendekati dinda.


"hai cantiiikkk"


sapa teman jiya. mendekat pada Dinda dan ingin melakukan hal yang sama yang di lakukan jiya pada kakak perempuannya.


"hey.. hey.. hey... huuss huuss..."

__ADS_1


Alfian mencegahnya. mendorong dada lelaki itu untuk menjauh dari istrinya.


"ah kakak tampan, kenapa kau pelit sekali sih?"


lelaki itu menghentakkan kakinya ke lantai dengan gaya sebalnya seorang perempuan merajuk.


"menjauh dari istri ku"


Alfian menggerakkan tangannya mengusir.


"kalau gitu, sama kakak tampan aja deh"


dia bergerak centil mendekat pada Alfian ingin cipika-cipiki.


"hey! menjauh dari suami ku fris. jangan jadi pelakor!"


umpat Dinda.


"ah kalian pelit pada ku"


lelaki yang di panggil fris oleh dinda itu memberengut kesal, dan menghentak-hentakkan kakinya.


Bima melongo melihat itu. tak percaya lelaki yang terlihat sempurna itu menunjukan sikap feminim yang kental. menirukan perempuan teraniaya dan merajuk persis seperti anak kecil.


"eh, centong sayur. sini lu. ganjen banget sih"


ujar jiya memanggil temannya.


tiba-tiba dia berbalik dan mendekat pada jiya. begitu melihat ke arah Bima, dia berhenti mendadak. membelalakkan matanya sempurna. menutup mulutnya dengan jari lentiknya.


"aawwwhh... ternyata ada babang ganteng di sini"


ujarnya centil.


Bima terjengkit kaget. merasa terancam bahaya. menghentikan makannya seketika. lelaki gemulai itu mendekat padanya.


"jiya.. kenapa tidak bilang kau mau makan malam sama Arjuna dari surga ini? uuhh..."


dengan centil dia membungkuk menatap Bima dengan mata yang berbinar takjub. Bima setengah mati menahan tangannya untuk tidak menjotos wajah lelaki beralis rapi karena sulaman itu.


"Friska. jangan norak deh. duduk lu"


jiya kesal melihat temannya yang di panggil Friska itu.


Friska mencebik pada jiya. dan cepat-cepat mengambil bangku kosong. tapi dia bingung ingin merapatkan kursinya di samping Bima. karena ada Azam di sana.


Friska meletakkan lagi kursinya di tempat semula. lalu menggulung lengan kemeja kotak-kotaknya sampai ke siku. sedikit membungkuk ke kursi Azam. lalu mengangkat Azam dengan kursi-kursinya sekalian.


"hhhhuuup.."


Friska mengangkat Azam dan memindahkan ke sebelah Alfian. lalu menepuk-nepuk kedua tangannya merasa pekerjaan beratnya sudah beres.


semua yang ada di meja itu kaget dan hanya bisa melongo melihat kelakuan Friska. jiya menepuk dahinya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


dengan cuek dan tidak memperhatikan mereka semua, santai Friska berjalan melenggang mengambil kursinya lagi, dan di letakkan tepat di samping Bima.


duduk manis di sana dan jarinya menirukan menaruh rambut panjangnya ke belakang telinganya. padahal rambut itu pendek seperti potongan laki-laki.


astaga! Bima bergidik ngeri. sementara caera, Dinda, Alfian dan juga anak-anak tertawa dan terkikik geli melihat sikap Friska.


"babang tampan, perkenalkan... aku Friska Syafitri tralala lili yang baik hati, suka menabung, dan gadis solehhhaahhhh.."


ujar Friska mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri pada Bima. dengan penekanan huruf H pada kata Solehah.


"hhiiihhh.."


Bima menegang. bergidik ngeri. matanya tidak mau melihat pada Friska. hanya bola matanya yang melarak lirik pada caera, Dinda dan Alfian. tampak benar mimik ngeri pada wajah Bima. seolah-olah yang memperkenalkan diri itu adalah hantu.


sementara caera dan Dinda sudah terpingkal-pingkal. anak-anak juga ikut riuh menertawakan Friska karena melihat Friska mengedip-ngedipkan matanya dengan cepat.


"paman fris, itu paman Bima"


prila nyeletuk karena Bima tidak menjawab dan tidak menyambut uluran tangan Friska.


"hey... gadis kecil. kau tidak lihat alis ku?" Friska marah menoleh pada prila judes "panggil aku Tante. taaannnteeee.... " Friska mengerjakan kata Tante pada prila.


anak-anak tertawa riuh lagi.


"taaannn... teeee... fris...kaaa"


mereka nengejakan itu berbarengan. lalu tertawa terpingkal-pingkal.

__ADS_1


__ADS_2