
pagi ini, Dira menyerahkan jadwal kerja Deva pada caera untuk di serahkan ke ruang kerja Jacko. sudah seminggu ini Deva sibuk dengan banyaknya rapat dengan perusahaan lain, dan masih memantau perkembangan perusahaan yang dipimpin Gisel. hari ini Jacko dan Deva juga datang terlambat.
caera menemui Jacko di ruangannya. ingin menyerahkan agenda kerja padanya. tetapi, Jacko tidak ada di ruangannya. caera kembali lagi pada Dira, dengan wajah cemberut.
"Dira, tuan Jacko tidak ada di ruangannya"
ujar caera seraya meletakkan buku agenda kerja Deva, di meja kerja Dira.
"mungkin di ruangan tuan Deva kak"
"biasanya kamu kan yang kasih ke sana. kenapa sekarang aku?"
caera protes. sebenarnya, hanya tidak ingin masuk keruangan Deva. ingat gadis macan tutul. caera malas bertemu Deva.
"Dira banyak kerja kak. nanti mau ada rapat jam sebelas. kakak tolong Dira ya"
Dira beralasan.
Caera menatap Dira tak berkedip. ia tahu Dira hanya membuat alasan saja. dan Dira pasti mau mengerjainya.
tapi Dira pura-pura tak melihat caera. dia sibuk mengetik di laptopnya. dengan berat hati, caera mengambil lagi buku agenda kerja Deva. membawanya keruang kerja Deva.
tok tok tok
caera mengetuk pintu. tak berapa lama, pintu terbuka dan muncullah Jacko di ambang pintu. seperti biasa, lelaki black sweet ini hanya menatapnya datar. menyingkir dari pintu, dan mempersilahkan caera masuk.
tapi caera tidak ingin masuk. mumpung ketemu Jacko di pintu, dia mau langsung menyerahkan laporan jadwal Deva sekarang.
"tuan, ini..."
caera tidak dapat meneruskan kata-katanya. menggantung tak terselesaikan ketika melihat Jacko menatapnya dan menggerakkan kepalanya menyuruh caera masuk. dengan menarik napas berat, caera terpaksa mengikuti apa maunya asisten yang mirip dengan sebuah robot ini. saking datarnya wajah Jacko.
caera melangkah masuk. tapi tak melihat Deva di meja kerjanya. menolehkan kepalanya ke arah kanan.
eeehh.. dia sudah siap-siap ya? seperti sudah menunggu ku.
caera agak mengernyitkan keningnya. tidak bisanya deva langsung duduk di sofa. biasanya dia pasti duduk di meja kerjanya. tapi sekarang, caera melihat pemandangan aneh.
Deva duduk di sofa dengan santai. menatapnya tak berkedip dari mulai caera masuk sampai caera berdiri di dekat meja kerja Deva. deva menampilkan senyum manis yang bisa melelehkan baja sekalipun. duduk merenggangkan kedua pahanya. dan merentangkan kedua tangan di atas sandaran sofa panjang itu. bersikap menunjukkan kekuasaan dan santai sekaligus. lebih tepatnya bossy.
caera melihat Jacko beranjak membuka pintu. itu artinya, Jacko akan meninggalkannya sendiri bersama tuan sok tahu ini. berharap pintu itu tidak akan menutup. berharap Jacko membuka pintu itu lebar-lebar.
tuan asisteeeennn... jangan pergiii.. berhentiiiii....
hati caera menjerit memanggil Jacko. tapi apalah daya. Jacko sudah keluar dan menutup pintu dengan rapat.
klek!
uuuffff
caera kalah. melirik Deva sekilas. pria itu masih menatapnya dengan senyum menggoda. caera cepat-cepat membuka buku agenda di tangannya. dan bersiap membacakan semua jadwal kerja Deva hari ini.
"tuan, akan ada rapat pukul sebelas nanti. dan pukul satu..."
"aku tidak dengar"
Deva memotong bicara caera. caera mendongak melihat Deva.
astaga! bisa tidak sih kau hentikan senyum itu?
caera agak mengencangkan suaranya sedikit.
"ada rapat nanti jam sebelas tu...."
"aku tidak dengar"
Deva menyela lagi.
__ADS_1
caera terdiam. menatap Deva dengan jengkel.
"mendekat lah. aku tidak mendengar mu"
ujarnya. menggerakkan dagunya mengisyaratkan caera untuk lebih mendekat.
dengan patuh, caera maju lebih mendekat lagi. berdiri di samping sofa yang di duduki deva. melirik tuan yang hari ini namanya jadi berubah. tuan sok tuli.
"tuan, jam sebelas nanti tuan ada rapat dengan divisi pemasa..."
" aku tidak bisa mendengar mu nona"
kembali Deva menyela. membuat caera jengkel setengah mati. ingin rasanya berteriak di telinga Deva langsung. tapi pria itu hanya senyum-senyum menggodanya.
"duduk di sini. agar aku bisa mendengar mu"
Deva melirik sofa di sampingnya. memerintahkan caera untuk duduk di sampingnya dan membacakan jadwal hari ini.
astaga.. kenapa kau jadi tuli begini sih?
jengkelnya makin membengkak di dada. mengetatkan giginya merasa geram melihat bos tampan yang selalu menjailinya ini.
hhmmmhhaahhh..
menarik napas menetralisir rasa jengkel yang mendera. lalu bergerak di depan Deva, melewati kaki Deva begitu saja. ingin menunjukkan kalau dia jengkel karena Deva seolah-olah sengaja menulikan telinganya.
Deva mengulum senyumnya. geli melihat caera memendam kejengkelan membara. caera menghempaskan pantatnya di sofa bersisian dengan Deva, dalam jarak satu jangkauan. pantatnya hanya berada di pinggir sofa. tidak menempatkannya dengan benar. tidak ingin terlalu dekat. karna sofa itu hanya bisa di duduki dua orang saja.
caera menguatkan hati. lalu membuka lagi buku agenda di tangannya. menarik napas dalam, menunduk membaca agenda, dan agak mengencangkan suaranya membaca jadwal kerja.
"pukul sebelas, ada rapat dengan divisi pemasaran. pukul satu, perwakilan dari Star Estate akan menemui anda, lalu pukul dua..."
"jangan berteriak. aku tidak tuli"
DEG!!
"pelan pelan saja sayang. aku sudah dengar"
lagi-lagi bisikan itu terdengar berat. tubuh caera menegang. kepalanya tegak menatap lurus ke dinding di depannya. tak berani menoleh ke arah Deva.
"lanjutkan sayang. aku ingin dengar suara mu"
tangan caera berkeringat. cemas dengan apa yang akan di lakukan Deva salanjutnya. napas hangat itu masih setia menghembus perlahan di bagian tengkuk dan bahunya.
"pukul.. du.. dua, ada rapat di hoteeell..." caera bergidik. "hhiiihh.." terasa ada yang lembut kenyal menyentuh antara pundak dan tengkuknya. "hot.. hotel.. x"
dengan susah payah caera menyelesaikan membacakan jadwal. kian menegang ketika bibir itu menggesek samar di pundaknya. ingin segera bangkit berdiri. tapi tiba-tiba tangan Deva memegang lengannya erat.
hhhppp...
caera menahan napas. kesusahan bergerak ketika tiba-tiba Deva merengkuhnya. memeluk caera dengan erat. merebahkan kepalanya di bahu caera.
"aku rindu kamu"
ujar Deva lirih.
memejamkan mata meresapi rasa rindu yang lama tertahan. melingkari pinggang caera dan menautkan jarinya di sana. seakan tak ingin caera bergerak menjauh.
"tuan Deva, jangan begini"
caera mencoba melepaskan diri.
tapi Deva tak menghiraukan itu. ia masih terpejam di bahu caera. napas caera sesak rasanya. bukan karena ketatnya pelukan Deva. tapi karena debaran jantungnya yang menggetarkan terasa sampai ke kepalanya.
"ini di kantor tuan. le.. leepas.. kan saya"
caera terbata-bata. takut kalau Jacko masuk dan memergoki mereka dalam keadaan tak pantas begini.
__ADS_1
"hmmm kenapa?"
Deva berbalik arah menghadapkan wajahnya ke wajah caera. menipiskan jarak wajah mereka. kini menjadi semakin dekat sekali. Deva membuka matanya menatap tepat di pipi sebelah kiri caera. tampak pipi itu telah penuh semburat merah.
"hehe.. manis sekali jika pipi mu merah begini sayang"
kekeh Deva seraya mengelus lembut pipi caera.
astaga! aku akan menendang kaki mu tuan! kenapa jadi lebih gila begini setelah satu Minggu tidak datang!
otak caera lumpuh. bingung harus tetap duduk dengan ketegangan, atau lari dengan kekuatan penuh.
"tuan, jangan begini. tidak baik di lihat orang"
caera mencoba menyadarkan Deva dari kegilaannya.
Deva menegakkan kepalanya. meraih wajah caera dan menghadapakn padanya.
"siapa?"
tanya Deva memandang lekat manik mata wanita yang di cintainya ini.
"o.. orang.. tuan"
tergagap caera bicara. ngeri melihat pandangan mata yang penuh cinta itu.
Deva tersenyum. tangannya menempel di pipi sampai ke bawah telinga caera.
"hahaaa.. "
Deva tergelak karena caera mencemaskan yang tidak akan pernah terjadi.
"siapa? Jacko? hmm?"
tanyanya lagi dengan suara yang makin berat.
caera hanya mengangguk lemah. mengiyakan saja apa yang di tanyakan Deva.
"jadi, kamu lebih takut kalau Jacko melihat aku memeluk mu? hmm?"
jari jempol Deva begitu saja sampai di bibir ranum nan merah milik caera. mengusap di sana merasakan sensasi rindu ingin segera mamiliki wanita yang polos ini.
mata caera sedikit mendelik. merasakan jari Deva menari-nari di permukaan bibirnya. dan sibuk memikirkan apa yang di tuduhkan Deva barusan. bukan itu maksudnya. dia hanya tidak mau kalau orang lain melihat mereka dalam posisi seperti ini.
"bukan. bukan begitu maksud... mmmmpppp..."
kata-kata itu terputus. bibir itu telah tersumpal bibir lembut nan kenyal milik Deva. matanya mendelik gusar. buku agenda kerja jatuh dari tangan caera. sibuk mencari pegangan agar bisa melepaskan diri. bertumpu di dada bidang Deva. berusaha mendorong agar Deva melepaskannya.
tapi bukannya lepas, malah makin terbelenggu sang CEO romantis ini. Deva menye sap bibir itu. mencu cup-cu cup kecil di permukaannya. dan kembali me lu mat lembut sangat melenakan.
tanpa sadar, caera memejamkan matanya. lelah mendorong dada bidang Deva nan perkasa. lu ma tan itu membawanya melayang. wajahnya terasa panas.
deva melepaskan pa gu Tan nya dari bibir manis caera yang memabukkannya. menatap wanita yang di cintainya dengan tatapan cinta yang membuncah. caera membuka matanya. menatap manik mata lelaki yang sangat dominan memenjarakan hatinya yang masih ada luka. mengobatinya sedikit demi sedikit.
sama-sama terengah kehabisan napas. saling menatap satu sama lain. mencari cari sepercik harapan cinta di sana.
"tidak ada yang akan mengusik kita Ra"
Deva berbisik dan mengusap bibir basah akibat pa gu tannya tadi.
"kau milik ku"
ujarnya lagi seraya menge cup bibir itu lagi. men ji lat nya lembut. caera sampai bergidik merasakan kelembutan itu.
Deva mendekatkan bibirnya ke telinga caera. setengah memeluk wanita yang terpaku terpesona dengan sikap mesranya. membisikkan kata-kata yang telah di pendamnya lama. mengecup telinga itu lembut.
"aku mencintai mu"
__ADS_1