
caera pulang bersama Dira. Dira terlihat dalam suasana hati yang kurang baik. terlihat murung. mungkin karena pertengkarannya tadi dengan Richard.
mereka banyak diam di dalam mobil. caera melirik Dira yang menekuk wajahnya. tegang juga melihat wajah cemberut Dira. seakan dia siap untuk menggebrak seseorang. tidak seperti biasanya selalu ceria.
"Dira"
caera mencoba memecah kesunyian.
"hmm"
jawab Dira singkat.
caera kaget dengan jawaban itu. tidak biasanya Dira menjawab begitu.
"eh.. maaf kak. ada apa kak caera"
Dira tersadar sudah bersikap tak sopan pada caera.
"tidak apa-apa"
caera tersenyum. mengerti Dira sedang kesal pada Richard.
"menurut kamu, tuan Richard itu bagaimana sih?"
caera mencoba memancing Dira.
"Richard?" Dira tampak berpikir. "eh.. tuan Richard, ya kak?"
"iya, tuan Richard. dia itu tampan ya dir"
caera berpura-pura terlihat sangat terkesan dengan ketampanan Richard. Dira menautkan alisnya. tampak tak setuju dengan caera.
"hhh.. pejantan tangguh itu"
Dira bergumam. bibirnya menyunggingkan senyum sinis.
"kenapa dir?"
"tidak nona. saya tidak kenal"
caera mengerutkan dahi. Dira tampak berbeda jika sedang marah. dan apa tadi? nona? saya? ini dira atau tidak sih?
caera diam. wajah Dira tampak tidak bersahabat.
****
orang utusan Deva datang ke rumah caera. membawa banyak barang-barang, yang katanya caera harus bersiap-siap. caera membuka isinya. ternyata sebuah gaun yang sangat indah, dan baju untuk Gino.
apa lagi yang di inginkan Deva. caera hanya manut saja. sepertinya Deva ingin mengajak Gino juga.
Ting.. Ting..
notifikasi pesan masuk ke ponselnya. ternyata Deva.
bersiaplah nanti malam sayang.
Jacko akan menjemput mu jam tujuh.
❤️ my love
hadeehh.. apa lagi rencana Deva untuknya? makan malam romantis? tapi kenapa Gino ikut?tapi, ya sudah lah. ini perintah si tuan usil. kalau tidak di turuti, nanti harus bayar denda.
__ADS_1
dan benar saja. Jacko datang tepat jam tujuh malam. tapi dia tidak sendiri. ada Dira ikut bersamanya. caera baru saja selesai bersiap siap. dan Gino, sudah lebih dulu menghambur memeluk Jacko.
Gino sudah lebih dekat dengan Jacko akhir-akhir ini. dan Jacko akan kehilangan wajah datarnya ketika bersama Gino.
"sudah siap nona?"
tanya Dira.
caera memelototi Dira, karena memanggilnya dengan sebutan nona. tapi Dira hanya melirik pada Jacko sekilas dari ekor matanya. seakan mengatakan pada caera, kalau ada jacko bersama mereka. dan gadis itu harus bersikap lebih formal.
gadis itu belakangan ini jadi terlihat lebih kaku. caera tidak tahu kenapa. Dira yang biasanya periang, kini seperti kehilangan sikap menyenangkan itu.
"silahkan nona caera"
Jacko mempersilahkan caera naik ke mobil. dan dia menuntun Gino bersamanya. caera merasa seperti seorang princes saja. di jemput dengan dua pengawal di kanan kirinya.
lebay sekali sih tuan mesum itu. apa harus dengan pengawalan ketat begini, hanya untuk makam malam?
Jacko menjalankan mobilnya dengan tenang. Dira hanya diam dan Gino dengan hebohnya mengusik Jacko di depan. Jacko menanggapi Gino sesekali.
caera memperhatikan jalan di sebelah kanannya. mereka tidak menuju pusat kota. melainkan menuju perumahan elit yang hanya di huni orang-orang penting dan tentu saja kaya raya.
caera mengerutkan keningnya. kenapa mereka tidak menuju pusat kota untuk ke restoran. caera melirik Dira. gadis itu hanya diam dan menatap ke luar jendela mobil di sebelah kirinya.
caera mencolek lengan Dira. gadis itu menoleh menatapnya.
"kita mau kemana ini?"
tanya caera bertanya tanpa suara.
Dira mengedikkan bahu. dan menatap ke depan spion di mana mata Jacko sudah mengarah ke arah mereka.
begitu mobil memesuki gerbang besar, terlihatlah di depan mereka sebuah mansion yang sangat megah dan besar. mereka melewati lahan luas yang di tumbuhi banyak pohon dan tanaman bermacam-macam bunga, dengan lampu taman si sana sini. indah sekali.
ada kolam air mancur besar di sebelah kanan yang memancarkan air dengan bermacam warna seperti pelangi. seperti taman impian saja. caera takjub melihat indahnya taman yang di penuhi cahaya lampu ini. dengan rumput yang tertata rapi bak permadani hijau.
mobil berhenti tepat di depan teras mansion. Jacko turun bersama Gino, dan Dira membukakan pintu mobil untuk caera. begitu keluar dari mobil, caera melihat pintu besar di depannya terbuka. seorang pelayan berdiri membungkuk menyambut mereka.
Jacko membawa Gino masuk, dan caera mengikuti bersama Dira. masuk ke dalam mansion yang sangat wah. caera seperti masuk ke dalam kerajaan masa lampau. bangunan mansion bergaya klasik di tambah lampu kristal besar menggantung di langit-langit mansion dengan megahnya.
Deva muncul dari dalam. berhenti menatap caera dengan senyum mengembang. tak lepas matanya menatap wanitanya ini terkesima. caera sampai kikuk di tatap begitu oleh Deva.
"Daddy..."
Gino berlari menyongsong Daddynya. memeluk erat seakan rindu lama tidak berjumpa. padahal, baru pagi tadi mereka jumpa.
"anak Daddy.. " Deva memeluk Gino dengan sayang. "Gino tampan sekali" mengecup pipi Gino berulang kali.
"sama seperti Daddy. Gino harus seperti Daddy kan?"
"wow.. pintar sekali anak Daddy"
Deva memeluknya lagi. lalu menurunkan Gino dari gendongannya. mendekat ke arah caera. menyentuh pipi mulus itu dengan tatapan penuh cinta.
"kau cantik sekali malam ini sayang"
caera gugup. mereka masih bersama Dira dan Jacko yang masih ada di situ juga. caera melirik kearah mereka berdua. malu sekali dengan sikap mesra Deva di tunjukkan terang-terangan.
"terima kasih tuan Dev"
hanya itu yang bisa ia ucapkan.
__ADS_1
"hmm jangan ada tuan. hanya Deva"
Deva mendekatkan wajahnya. caera melotot. langsung membuang pandangannya ke arah lain agar Deva tidak nekat di depan Dira dan Jacko. apalagi ada Gino.
"iya iya tuan Dev. hanya Deva. tidak pake tuan"
jawab caera cepat.
Deva tersenyum lebar. senang caera menurut apa katanya. seorang wanita setengah baya datang menghampiri mereka. caera tahu siapa itu. ibunya Deva.
Soraya terlihat cantik di usia yang terbilang tua. tapi aura wajahnya sangat luar biasa. caera sangat suka melihat wanita cantik ini. kini caera tahu dari mana iris coklat terang Deva. itu dari Soraya. karena tuan Elliot bermata biru.
"ah.. kau sudah datang nak"
"nyonya.."
caera mengangguk hormat pada Soraya.
Soraya mendekat. caera menyalami Soraya dan mencium punggung tangannya . tapi Soraya menarik dan memeluk caera. cipika cipiki.
"kenapa panggil nyonya? panggil aku ibu"
ujar Soraya seraya mengelus pipi caera dengan rasa sayang seorang ibu.
"eh.. ibu?"
caera kaget di suruh memanggil Soraya dengan sebutan ibu.
"iya, ibu. hanya Deva yang memanggil ku ibu. dia itu anak nakal. kakak dan adiknya panggil mommy. tapi Dev bilang lebih suka ibu"
Soraya memukul pelan lengan Deva.
"eeehh.. ini Gino ya?"
Soraya mendekat pada dengan senyum sumringah. senang melihat bocah berpipi gembul itu.
Gino mengangguk malu-malu, dengan tangan kebelakang. Soraya berjongkok menyamai tinggi Gino. mencubit pipinya gemas.
"tampan sekali" mengecup pipi Gino. bocah itu makin malu dan menunduk. "ini nenek. panggil nenek ya"
"iya, nenek"
"waahh... anak pintar"
Soraya memeluk Gino dengan gemas. caera terharu melihat itu. Maya tidak pernah memperlakukan Gino sehangat itu. Gino Sampai meminta neneknya untuk tidur dengannya. tapi dengan kasar, Maya selalu menolak.
tapi kini, ibu Deva yang baru berjumpa dengannya menyambut Gino dengan hangat. itu membuat hati caera berdesir. terharu melihat Soraya sangat menerima Gino. entah apa yang sudah di katakan Deva pada ibunya. mungkin saja Deva sudah memberitahu tentang Gino pada Soraya.
"ayo . nenek kenalkan dengan sepupu Gino ya"
Soraya mengajak Gino bertemu dengan keponakan Deva.
Deva menggandeng caera mengikuti ibunya. tapi Soraya mendekat lagi.
"ayo sayang. ikut dengan ibu"
Soraya memukul tangan Deva yang menggandeng caera.
"menjauh lah. ini giliran ibu"
Soraya menarik tangan caera. mengajaknya ke ruangan lain. Deva merengut karena ibunya merebut caera dari genggamannya. memutar bola matanya malas lalu mengikuti mereka.
__ADS_1