
Deva tidak mengijinkan caera keluar kamar. caera benar-benar tidak bisa berjalan. hanya memanggil pelayan untuk menyediakan keperluan mereka. selain mengantar makan siang, juga mengantarkan pakaian caera yang di ungsikan ibunya.
Deva merasa bersalah sudah menggempur istrinya tidak kenal lelah. tapi dengan senyum hangat, caera menenagkan suaminya.
"maafkan aku sayang. gara-gara aku kamu jafi sakit begini"
"sayang, aku tidak sakit. hanya ngilu sedikit. tidak apa-apa Dev"
"tapi kamu tidak bisa jalan sayang"
"bisa Dev. cuma susah saja. pangkal paha ku ngilu kalau di buat berjalan"
"aku tidak akan membukanya terlalu lebar sayang. aku sudah panggil ziana. nanti dia datang"
caera hanya tersenyum menatap suaminya. memang caera sebenarnya tidak apa-apa. tapi jika dia berjalan jadi terasa susah. tampak seperti robot. karena persendian selang kangannya yang terasa sakit.
ziana, istri Zaki sudah datang. caera agak sedikit kikuk melihat ziana tersenyum penuh arti menatapnya.
"apa keluhannya nona caera?" tanya ziana sambil memakai sarung tangannya.
"ehmm.. ini.. pinggul ku sedikit ngilu dok"
"panggil saja nama ku, nona. kau adalah Kakak ipar ku" ujar ziana masih tersenyum.
caera mengangguk tersenyum kikuk. ada rasa malu di hati. semua keluarga heboh dengan drama malam pertama yang tidak pertama kali baginya.
"berbaring lah nona caera"
ziana menyuruh caera berbaring. caera menurut. Deva hanya duduk di sofa menatap serius.
ziana meminta caera menekuk lututnya. dan ziana memeriksa. tersenyum dan meminta caera duduk lagi.
tidak mengatakan apa-apa pada caera. tapi ziana menatap Deva seakan mengatakan banyak hal dari pandangan matanya.
"istri mu tidak apa-apa Dev. dia hanya kelelahan"
"tapi dia tidak bisa berjalan zi"
ziana tersenyum lebar. menatap Deva seakan ingin menggetok kepalanya.
"jangan terlalu menggebu. ada hari esok bukan?"
ziana mengedipkan sebelah matanya pada Deva. tersenyum menggoda. Deva hanya nyengir kuda dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
mendengar itu, wajah caera terasa panas. malunyaaaa...
"nona caera kelelahan. sangat puas rupanya" ziana terkikik geli sendiri, sambil mengambil obat dari dalam tas nya.
aahhh... malunya akuuu...
caera menunduk malu. Deva hanya nyengir saja. melirik caera yang terlihat ingin meringkuk menyembunyikan wajahnya di dalam selimut saking malunya.
"ini salep untuk di oleskan. dan ini untuk menghilangkan rasa ngilu"
ziana memberikan obat ke pada Deva. lalu beranjak ingin pergi. tapi, sebelum pergi, ziana mendekati caera.
"kakak ipar, bersabarlah menghadapi suami bucin mu itu. biasa, perjaka. menggebu-gebu" ujarnya.
caera makin merah padam. sangat malu ziana menggodanya. hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Deva mengantar ziana sampai ke pintu. melirik caera sebentar, menutup pintu, lalu berbisik pada ziana di luar kamar.
"zi, apa yang kau berikan pada Zaki untukku semalam?"
"Dev, itu hadiah ku untuk mu. kami sudah menguji cobanya di lab dan pada lima orang yang susah mengandung. tapi belum ada di pasaran. itu ekslusif. hanya ada tiga botol"
"iya, tapi apa manfaatnya?" Deva terlihat sangat penasaran.
__ADS_1
"Zaki tidak mengatakan pada mu?"
"tidak. sedikit sekali informasi darinya. kau tahu.. setelah meminum itu, istri ku jadi perkasa lagi"
ziana tertawa melihat wajah Deva yang bersemangat mengatakan istrinya jadi perkasa lagi.
"kau gila Dev. karena istri mu perkasa dan kau menghajarnya sampai dia gemetaran begitu?"
Deva nyengir lagi.
"Dev, itu sudah mencakup segalanya. mungkin selama ini caera tidak terlalu aktif di ranjang. obat itu merangsangnya untuk lebih aktif. dan dapat menyuburkan rahimnya. berdoalah. semoga saja obat racikan ku bisa berhasil pada istri mu"
"ah.. terima kasih zi" Deva tersenyum.
"jangan terima kasih saja. naikkan gaji ku di rumah sakit. aku dokter obgyn paling berprestasi di rumah sakit mu"
wajah Deva berubah. menatap ziana yang sudah beranjak meninggalkannya.
"hhhh... ternyata, suami dan istri sama saja. matreee!!!" dengus Deva.
ziana tidak menggubris Deva. tetap berjalan menjauh.
""dosisnya dua kali satu Minggu. tidak lebih!" seru ziana pada Deva. masuk ke lift dan menghilang dari pandangan Deva.
Deva masuk ke kamar lagi. melihat caera masih di ranjang. Deva tersenyum licik dan mendekat. keeeseemmpataaannn...
"sayang, minum obatnya dulu. biar hilang sakitnya" ujar Deva sambil mengambil air dan menyerahkan pada istrinya.
caera hanya menurut. meminum obat yang di berikan ziana tadi. Deva meminta gelas dari caera dan menaruhnya di nakas. cepat merapat pada istrinya lagi.
"sayang, sudah sembuh kan?"
"Dev.. baru saja di minum obatnya. gimana bisa langsung sembuh?"
"aku mau sayang" rengek Deva.
Deva merangsek memeluk caera. menyandarkan kepalanya di dada caera.
"aku masih terbayang rasa nya terus sayang"
"aiiisshh.. mesum banget sih Dev"
"tapi kamu suka kan sayang?"
"iya. tapi kan masih capek Dev"
Deva mendongak. menatap memohon pada caera.
"janji ya sebentar lagi?"
caera mengangguk. tersenyum lucu melihat Deva jadi merengek seperti Gino minta di belikan es krim.
ya ampuunn.. terbalik ini mah.. seharusnya aku yang manja begitu Dev
Deva menatap sayu pada caera. hapal sekali caera dengan pandangan itu. pasti minta di sun.
cup
caera mengecup sekilas. Deva merengut.
"sedikit sekali sayang?"
"kurang?"
Deva mengangguk. caera mendekatkan lagi wajahnya. takut istrinya hanya mengecup sekilas, Deva langsung menahan belakang kepala caera. me ma gut bibir manis itu. menyesapnya tanpa bosan.
tok tok tok..
__ADS_1
suara ketukan di pintu. tapi Deva tidak peduli. masih saja me lu mat bibir caera lembut.
tok.. tok.. tok..
caera mendorong dada Deva agar menghentikan ciu mannya. tapi Deva tidak bergerak. masih men ji Lati lidah istrinya.
"deevv... ini ibu!" seru Soraya dari luar kamar.
Deva berhenti. menoleh kepintu dengan malas. menekut wajahnya merasa terganggu.
"ibu lagi..." keluh Deva.
"Dev, jangan begitu. itu ibu. mungkin ada yang penting" caera meminta Deva membuka pintu.
dengan malas, Deva beranjak membuka pintu. terlihat ibu memelototinya.
"ada apa Bu?"
"minggir kamu!"
Soraya mendorong pintu terbuka lebih lebar. langsung mendekati caera dengan cemas.
"kamu kenapa Ra? sakit?"
caera gugup. apa yang harus di katakan pada ibu?
"tidak Bu. caera baik-baik saja" Deva yang menyahut.
"iihh.. ibu tidak tanya kamu Dev" Soraya melotot pada Deva.
"iya Bu, Rara tidak apa-apa" jawab caera dan beranjak turun dari ranjang.
melangkah hati-hati ke arah sofa. Soraya melihat itu dengan pandangan heran. begitu ganaskah anaknya menggempur menantunya ini? sampai caera sulit berjalan.
"ya ampun Dev! kamu apakan caera?" seru Soraya menjewer telinga Deva.
"aduuh.. aduh.. sakit Bu" Deva kesakitan.
Soraya melepaskan jewerannya dari telinga Deva. melotot marah.
"apa Bu? Deva tidak apa-apakan Rara Bu" ujar Deva sambil mengusap telinganya.
"iihh.. caera sampai kesakitan begitu!"
Soraya berpikir, caera robek tercabik-cabik 😂. caera sampai gugup setengah mati. bagaimana caranya menjelaskan pada ibu? dia malu!
"salah ibu dong. ramuan apa yang ibu beri pada istri ku? aku susah menjebolnya" Rungut Deva. "ibu juga kasih jus apa itu semalam?"
Soraya terdiam. itu memang kerjanya. dia pikir biar Deva merasakan menembus perawan.
"hehe.. cuma ramuan rapat saja Dev"
"naahh.. itu... salah ibu kan berarti?"
mendengar percakapan ibu dan anak ini, membuat caera makin merasa ngilu. menutup wajahnya malu.
"ya ya.. ya sudah.." Soraya bergerak keluar kamar.
Deva mengikuti. mau menutup kamar. tapi ibunya menarik kerah bajunya agar mendekat.
"tapi jangan kesar begitu Dev. kasian istri mu" bisik Soraya. lalu melepaskan tarikannya. dan pergi berlalu.
"aaahh.. ada-ada saja ibu ini"
"kau persis Daddy mu deeevv!!"
seru Soraya dari luar. dan terkikik geli. mendengar itu, caera sungguh merah padam. ironi malam pertama yang membuat semua orang heboh.
__ADS_1
"