
menatap langit gelap yang menampilkan pertunjukan KerLiP bintang itu sungguh indah. tak bosan bintang-bintang itu berkelip seperti titik-titik kecil bertaburan di angkasa.
Deva memeluk pundak Caera erat. merapatkan tubuhnya untuk menyalurkan rasa hangat. sesekali mengecup pelipis caera dengan sayang.
duduk di balkon kamar Deva sungguh menyenangkan. terasa nyaman dengan pelukan hangat tubuh tegap di sampingnya.
"tuan Dev"
"hmmm.. kau sudah janji tidak ada kata tuan bukan?"
Deva berbisik di telinga caera.
"aduuhh.. iya iya maaf. aku lupa"
caera menyingkirkan wajah Deva dari telinganya.
"ulangi lagi"
caera melirik Deva sejenak. pria ini selalu punya trik berbuat sesukanya. tanpa memberi caera kesempatan untuk menolak.
"Dev"
"hmm"
"terima kasih"
"untuk apa?"
"makan malamnya"
"hmm"
"kenapa hmm? tidak ada kata lain?"
"kau suka?
caera mengangguk. tersenyum menatap Deva di sampingnya.
"keluarga mu sangat baik Dev"
"sudah seharusnya begitu"
"keluarga mu juga baik"
caera mengernyitkan dahinya.
"keluarga ku? makasudnya?"
"hmm.. maksud ku, keluarga mu juga baik-baik saja bukan? ayah, ibu, semua sehat"
caera makin mengernyitkan alisnya. tak mengerti arah pembicaraan Deva.
"maksudnya apa sih Dev?"
"hmm.. lupakan lah"
Deva mendekatkan bibirnya ke telinga caera lagi. mengecup kecil daun telinga itu. caera agak menggeliat karena geli.
"kau sudah bicara pada ibu tentang Gino?"
"he'em"
"lalu ibu bilang apa?"
"tidak ada"
Deva kembali mengecup telinga caera.
"maksudnya, bagaimana sih?"
"hmmm.." Deva menghembuskan napasnya ke telinga caera. "ibu suka" bisiknya.
ini maksudnya, ibu suka pada Gino, atau dia suka mencium telinga ku sih?? mesum sekali
"Dev"
"hmm"
"aku mau pulang"
"kemana?"
"ya ke rumah ku tuan Dev. jadi aku pulang ke mana?"
"hmmm"
Deva memicingkan matanya.
__ADS_1
"apa tadi?"
"tuan Dev"
"hmm.."
rahang Deva mengetat. wanita ini sungguh memancingnya. "ulangi"
"tuan Deva"
Deva menarik dagu Caera menghadapnya. caera sampai kaget.
"ulangi"
ucap Deva tajam.
"tu..an de..."
uummmpphhh..
bibir itu tersumpal. tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Deva menyumpal dengan bibirnya. me lu mat lembut.
melepasnya dan menatap manik mata caera.
"masih berani?"
tantangnya.
"ah awas. aku mau pulang tuan Dev"
caera bergerak ingin bangkit. menghentikan Deva agar tak selalu menyumpal bibirnya lagi. dia lupa dengan peraturan tanpa kata tuan.
Deva menariknya duduk lagi. caera terhenyak duduk dan Deva mencondongkan tubuhnya menghimpit caera. caera tak dapat menahan beban kokoh di atasnya. sehingga merebahkan tubuhnya di pegangan sofa empuk itu. menautkan tangannya di depan dadanya agar dada Deva tak menghimpit gunung kembar miliknya.
"kau lupa peraturan mu"
Deva menggeram berat. menatap bibir caera dengan ganas. napasnya tersendat ketika tangannya menyentuh bibir basah itu perlahan.
"peraturan apa lagi tuan..."
uummpphh...
lagi-lagi Deva me lu mat bibirnya dengan ganas. caera sampai kelojotan dan memukuli dada Deva.
Deva melepasnya lagi. memberi kesempatan caera mengambil napas.
"panggil aku"
"dev"
"yang benar"
caera takut. dari pada di lu mat lagi, lebih baik menyerah.
"iya.. Deva"
"hmmmm"
Deva mendekatkan bibirnya lagi. men ji lat bibir caera. sungguh caera bergidik menerima sensasi aneh dalam dirinya merasakan lidah basah Deva. mendorong dada Deva sekuat tenaga. tapi percuma. dada itu kokoh sekali.
"panggil yang benar"
bisik Deva lagi.
"de.. Deva"
begitu bibir caera terbuka menyebut nama Deva, lelaki itu tak menyisakan kesempatan. lidahnya masuk menelusup mencari lawannya. menari untuk mengabsen setiap gigi caera.
tubuh caera bergidik ngeri merasakan hangatnya lidah lembut dan basah menjelajahi rongga mulutnya. otaknya berpikir memprotes apa yang di lakukan Deva. sepertinya dengan atau tanpa kata tuan pada namanya, itu sama saja. Deva tetap me lu mat bibirnya.
mengerang untuk melawan pun percuma. Deva terlalu kuat memberinya sensasi membuai dengan permainan lidah nya.
dengan perlahan, Deva menyingkirkan tangan caera yang menghalangi dadanya. tanpa sadar, caera menurut. melonggarkan otat tangannya untuk menyingkir dari dadanya.
kini mereka menempel seperti lintah. saling menyesap dan menggigit dengan gemas. caera jadi terbuai dengan panasnya persilatan lidah itu.
tangan Deva menyusup ke punggungnya. menaikkan punggung caera dan melepas permainan lidahnya. kini leher dan telinga caera jadi sasaran lidah basah nya.
"uuhh.. deeevv.. sudah"
caera mencoba menolak. mengingatkan Deva untuk berhenti. tapi Deva tak menggubrisnya. masih asik men ji Lati leher dan telinga caera.
"deeevv.."
memanggil nama Deva mengingatkannya. tapi yang keluar dari mulutnya bukan panggilan tegas. tapi malah desa han yang membuat Deva makin bersemangat melanjutkan aksinya.
caera memegangi wajah Deva agar berhenti. menahan wajah itu untuk tidak melanjutkan ji la Tan nya pada rahang dan pipi caera.
__ADS_1
"ya ampuuunn.. henti khaaann deevv"
caera mengerang. sangat merasa geli. Deva berhenti sejanak. napasnya memburu dengan tatapan sayu menatap caera.
"kenapa? kau suka?"
bisiknya.
caera membuang pandangannya. tak mau melihat tatapan sayu Deva yang penuh ge lora. Deva menarik wajah caera lagi. me ma gut bibir kenyal menggoda itu.
bibir itu seperti obat pencegah lesu baginya. selalu bersemangat ketika me ma gutnya. memberi aliran energi yang bisa membuat harinya di penuhi stamina tinggi.
ddrrrttt... ddrrrttt...
ponsel Deva bergetar di saku celananya. Deva tak menghiraukan gangguan itu. menulikan telinganya. caera mendorong dada Deva lagi. tapi Deva malah memasukkan lidahnya lebih dalam.
ddrrttt.. drrrrttt..
"Dev.. hhahh... uumppphh"
tak memberi kesempatan caera bicara. malah makin memaksa caera untuk men desah.
ddrrttt.. ddrttt...
caera mendorong kuat wajah Deva untuk menjauh. ci Uman panas itu terlepas. menyisakan Saliva yang basah di sana.
Deva mengetkan rahangnya dengan geram. menahan diri karena gangguan yang mengusik.
"Dev, ponsel mu"
"biarkan saja"
Deva mendekatkan wajahnya lagi. tapi sebelum lu ma Tan itu terjadi lagi, caera menahannya kencang.
ddrrttt... ddrrrtt...
"ponsel mu Dev. terima dulu"
dengan frustasi Deva melepaskan dekapannya. memberikan letak duduknya. mengusap wajahnya kasar. momen terindah yang sering membayanginya kini lenyap dengan getaran ponsel di saku celana.
"aakkhhh... mengganggu saja!"
Deva mengacak rambutnya kesal. caera bangkit dan duduk lagi. tersenyum melihat Deva bergumam dengan wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"ya ampun ibu. apa lagi sih. mengganggu saja"
ujar Deva dengan kesal menatap layar ponselnya.
"deevv!!"
teriak ibu di seberang sana. Deva mengencangkan volume ponselnya. malas mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"iya Bu. ada apa?"
jawab Deva dengan wajah di tekuk.
"jangan kebablasan kamu."
"kebablasan apa Bu?"
Deva tidak mengerti maksud ibunya.
Deva mendengar suara di seberang sana berisik. masih terdengar suara orang ngobrol.
"jangan macam-macam Dev"
caera melirik Deva. wajahnya memerah menahan malu. caera tahu apa maksud soraya. mungkin Soraya tahu apa yang di lakukan Deva padanya barusan.
Deva juga melirik caera. wajahnya terlihat masam. bagaimana ibunya tahu kalau tadi dia menghajar bibir caera tanpa ampun.
"ibu, Deva tidak macam-macam"
Deva mengelak.
"hey.. lajang karam. ibu ingatkan. jangan sampai kau mencoblos sebelum hari H!"
ASTAGA!!!
wajah caera terasa panas mendidih mendengar apa yang di katakan soraya. sangat malu dan rasanya ingin mengubur dirinya ke dalam tembok, lalu di cor. biar tidak melihat Soraya lagi nanti ketika ia pamit pulang.
apa lagi Deva. ia meremas rambutnya kencang.
bagaimana ibunya tahu apa yang mereka lakukan tadi. hadeeehhh dasar emak-emak. instingnya tajam sekali.
❤️🌹❤️🌹❤️🌹❤️🌹❤️🌹❤️🌹❤️🌹❤️🌹
gak apa la dikit ya readers..
__ADS_1
maap la... otornya tumbang. demam n flu
aaciimm haaaciimm terus 🤧🤒😷