
Banyak orang memberi selamat pada caera dan Deva. dengan wajah sumringah dan selalu di dekat caera, Deva menerima semua jabat tangan orang penting itu.
dan setelah acara selesai, barulah caera bisa mengetahui siapa saja yang duduk di kursi VIP. semua anggota keluarga Deva dan juga yang paling membuat caera kaget, ayah dan ibunya juga hadir.
ternyata benar yang caera lihat tadi ketika baru masuk aula. sekelebat melihat ibunya. tapi karena banyaknya orang, ibunya menghilang dari pandangannya.
satu persatu keluarga Deva memberi selamat pada mereka berdua. Soraya ibu Deva sampai memukul lengan Deva keras.
"aawwwhh... ibu, itu sakit" Deva meringis.
"kau memang sinting. senang sekali kau membuat mantu ku menangis" ujar Soraya mencubit lengan Deva.
"aduuhh.. ibu. dia tidak menangis. hanya ingin Bu. masih mau menangis" Deva membela diri.
"iiihh... dasar kau!" Soraya menggeplak lengan Deva. yang lain hanya tertawa.
kini giliran Rani. caera gugup berhadapan dengan ibunya. dia ingat tentang lamaran anak teman ibunya. alasan apa yang harus dia berikan? ibu sudah mulai menatapnya tajam.
hati caera seperti di cubit. takut ibunya marah dan akan kecewa. caera menoleh pada Deva. pria itu hanya tersenyum manis padanya. tidak terpengaruh pada tatapan tajam Rani.
aku harus berterus terang pada ibu. aku mencintai Deva. Deva adalah hidup ku. kalau ibu marah, biarlah dia memukul ku. aku harus bisa!
caera membulatkan tekadnya. ia harus memberi keputusan pada ibunya. tidak akan menghindar lagi
"kenapa tidak bilang pada ibu kalau kau punya kekasih Ra?" ujar ibu tajam.
cepat-cepat caera maju dan meraih tangan ibu. mencium tangan itu agak lama. lalu mendongak menatap ibunya.
"ibu, maafkan Rara. Rara mencintai Deva Bu. tolong mengerti lah. kalau ibu marah, pukul Rara saja Bu. Deva tidak tahu apa-apa. sekali lagi Rara minta maaf Bu"
caera menciumi tangan ibunya berkali-kali. tetap membungkuk siap menerima kemarahan ibunya. tapi, sudah beberapa detik berlalu, tidak ada pergerakan dari ibu. dan tidak terdengar apa-apa. semua diam. terasa sunyi.
caera mendongak. menatap mata ibunya. bukan wajah marah yang di tunjukkan Rani. tapi senyum lebar penuh bahagia. caera terbengong.
"kenapa baru sekarang jujurnya Ra? padahal dari kemarin ibu ingin mendengar dari mulut mu kalau kau mencintai calon mantu ibu"
"apa?!" caera menegang. "maksud ibu... Deva.. itu .. terus, anak temannya ibu...."
caera bingung. apa maksud ibunya bilang calon mantu?
Soraya mendekat. menepuk pundak Caera.
"iya Ra. ibu adalah temannya ibu mu. Deva yang datang melamar pada ayah dan ibu mu"
astaga!!! mereka semua bersekongkol!!
caera terhenyak. tak menyangka akan begini ceritanya. menatap semua orang dengan pandangan tak percaya. menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca.
"sayang, aku sudah datang sejak lama ke rumah ayah dan ibu untuk melamar mu" ujar Deva.
caera meneteskan air mata haru. selama itukah Deva menunggunya untuk membuka hati dan mencintainya? begitu besarkah kesabaran deva menanti cintanya? ahh.. pria ini sungguh membuat hatinya lumer. luluh lantak di porakporandakan cinta Deva.
__ADS_1
"sudah. jangan menagis lagi. kita bersatu sekarang"
Deva memeluk caera. yang lain berdehem heboh. caera tak peduli deheman itu. sekalipun gempa bumi, dia akan tetap memeluk Deva.
"kamu jahat Dev" caera memukul dada Deva. "kenapa tidak bilang kalau kamu sudah bertemu ibu?"
"sssttt..." Deva meletakkan jari telunjuknya ke bibir caera. " diskusinya nanti saja ya. kita pulang dulu. kasihan anak ku. sudah ngantuk"
semua orang menoleh menatap Gino yang sudah terkantuk-kantuk menunggu orang-orang dewasa ini menyelesaikan masalahnya. dia tidak peduli dan tidak mau peduli. yang penting tidur.
semua tertawa melihat kepala Gino yang sudah hampir menyentuh lututnya. duduk dengan memejamkan mata, dengan mulut terbuka.
Jacko membopong Gino. mereka semua keluar dari aula. masih banyak wartawan yang mengantri menunggu Deva dan caera keluar.
begitu mereka muncul, lampu Blitz langsung berpesta mengabadikan sosok yang telah dinantikan sedari tadi. wartawan menyerbu dengan banyak pertanyaan.
"selamat tuan Deva dan nona caera. jadi, kapan rencana anda melangsungkan pernikahan tuan Dev?"
"itu masih kami bicarakan" jawab Deva santai. merengkuh pinggang caera mesra.
lalu Deva mengajak caera menuju mobil. tapi masih tertahan dengan banyaknya para wartawan yang meliput.
"tuan Dev, tolong sapa-sapanya untuk semua fans anda" ujar seorang wartawan yang lain.
"oh.. baiklah.." Deva mengambil tempat. semua kamera tertuju padanya dan caera.
"hallo semua fans Deva dan caera... terima kasih kalian sudah mendukung kami berdua. dan nantikan acara peresmian pernikahan kami. kalian lihat, caera ku sangat cantik bukan?"
Deva menowel pipi caera. membuat wanita itu tersipu malu.
Deva pergi ke arah mobil. membukakan pintu untuk caera dan dia masuk setelahnya. meninggalkan para wartwan yang masih sibuk meliput.
****
Dalam perjalanan pulang, tak henti caera menatap cincin berlian di jari manisnya dan wajah Deva bergantian. masih tidak percaya dia sudah di lamar pria tampan pujaan banyak wanita ini.
"kenapa sayang? hmm?"
"Dev, terimakasih ya. kamu beri aku surprise yang sungguh sempurna"
"beri hadiah dong"
"kamu mau apa?"
"tidak banyak. bibir kamu"
"iihh.. jangan mesum. ada Gino tuh" caera melirik Gino.
"sedikit sayang"
"iihh.. usil kamu"
__ADS_1
tapi tak urung caera tetap mengecup Deva sekilas. tapi dasar Deva, ia menahan bagian belakang kepala caera. dan me lu mat hangat bibir manis itu. sampai caera mencubit dadanya, baru Deva melepaskan.
"Gino itu!" caera mendelik pada Deva dan melirik Gino.
"hehe.. aku tidak tahan sayang"
"mesum kamu ah"
Deva hanya tersenyum pada caera. dan merangkul Gino di sampingnya. bocah itu jadi tidak mengantuk lagi.
"Gino senang tidak, Daddy sama mama menikah?" tanya Deva pada Gino.
"menikah itu apa Daddy?" tanya Gino polos.
"eemmm.."
Deva berpikir keras untuk menjelaskan pada Gino. ternyata bocah ini masih tidak tahu apa itu menikah.
"tinggal bersama. menghabiskan waktu bersama setiap hari. sama Gino juga. senang tidak?"
wajah Gino berbinar. mengangguk bersemangat. Deva mengecup puncak kepala Gino. merengkuhnya erat.
mereka sampai di mansion keluarga Elliot. semua mobil beriringan masuk. mereka duduk berkumpul di ruang tamu. Deva menggendong Gino yang sudah tertidur lagi. membawanya ke kamar dan dia kembali lagi ke ruang depan, bergabung dengan yang lain.
"jadi, semua sudah di persiapkan jeng. Minggu ini, kita akan mengadakan akad nikah" ujar Soraya pada Rani.
"semua terserah jeng Soraya Saja" jawab Rani.
" Minggu ini?" caera melongo.
"iya, sayang. ibu-ibu mu ini, sudah mempersiapkan jauh-jauh hari. tinggal menunggu kalian berdua saja" ujar Soraya menjelaskan.
"jadi, yang telepon ibu waktu itu, ibunya Deva?" tanya caera pada Rani.
kedua ibu ibu itu hanya mengangguk dan terkikik geli. sumpah! caera kena prank! pintar benar ibunya menyembunyikan itu.
"semua sudah siap Dev?" tanya Soraya pada Deva.
"tanya pada yang berwenang Bu. bukan aku" sahut Deva sambil melirik Jacko.
"manis kuuu..." seru Soraya menoleh pada Jacko. "bagaimana persiapan acaranya? sudah siap bukan?"
"ya bibi. sudah siap semua" Jacko mengangguk.
"ahh.. senangnya.. akhirnya aku punya mantu perempuan lagi" Soraya berbinar bahagia.
"ibu dan ayah tidak usah pulang lagi sampai acara selesai. Deva sudah menyiapkan semuanya" ujar Deva pada alwan dan Rani.
"masih Minggu ini Dev. biarlah ayah dan ibu mengurus swalayan dulu" ujar alwan.
"Deva sudah menyuruh orang mengurusnya, ayah. ayah tenang saja"
__ADS_1
"haha.. kau memang berbakat mengurus bisnis. aku beruntung" alwan merasa bangga.
semua orang tersenyum senang. terpancar wajah-wajah bahagia menwarnai malam ini. malam yang paling mengesankan buat Deva. akhirnya, dia mendapatkan caera. dan tanpa memperpanjang waktu, akan langsung mepersunting wanita pujaannya ini.