
Arya turun dari mobil yang di parkiran di luar pagar rumahnya. berjalan gontai masuk ke dalam rumah. tapi tak melihat siapapun di ruang tamu.
Arya menghela napas berat. malas sekali dia harus pulang lagi karena ibunya menelepon dan marah-marah menyuruhnya pulang. apalagi melihat berita di mana-mana hanya memberitakan tentang hubungan caera dan Deva. itu membuat hatinya makin terguncang. hatinya sakit tidak tertahan.
kalau ibu tidak bilang Vivi kesakitan, pasti lah dia tidak mau pulang ke rumah. caera sudah memberinya pilihan. jika ingin dia kembali, Arya harus meninggalkan Vivi dan ibunya.
kalau meninggalkan Vivi, tentu saja Arya siap. setelah Vivi melahirkan, dia akan meninggalkan nya. dan pastilah caera akan meninggalkan Deva demi dirinya. tapi ibu? bagaimana dia bisa meninggalkan ibunya?
Arya melangkah naik tangga menuju ke lantai atas. tapi di pertengahan, Arya mendengar ibunya bicara dengan Vivi. Arya berhenti mendengarkan.
Maya sibuk memijat pinggang Vivi. usia kehamilan Vivi masuk ke tujuh bulan. tapi dia bilang pinggangnya sakit dan perutnya terasa sedikit mulas.
mereka masih menunggu Arya pulang. untuk mengantarnya ke dokter. tapi dari dua hari yang lalu, Arya belum juga pulang.
kemarin, setelah pulang dari pesta ulangtahun perusahaan Bimo corp, Arya dan Vivi bertengkar hebat. itu yang membuat Arya tidak pulang dari kemarin.
dengan mengomel, Maya mengusap-usap pinggang Vivi pelan.
"makanya, kamu itu harus dengerin apa kata Arya, Vi"
"mau nurut gimana lagi Bu? caera saja yang licik. dia mempengaruhi Arya. siapa yang tidak kesal kalau begitu?" Vivi merengut sebal.
"aku tidak mau ada apa-apa dengan bayi mu. bayi itu sangat berharga bagi ku"
"ibu!! kenapa sih selalu bayi ini? pikirkan aku juga Bu!"
Vivi marah. Maya selalu memprioritaskan bayi di perutnya saja. tapi tidak memikirkan nasibnya dengan Arya.
"itu urusan mu! aku kan sudah membantu mu mendapatkan Arya. jadi balasannya kau beri aku anak dari benih Arya. lagi pula kau sudah menerima uang itu. itu artinya kau tidak berhak menuntut apapun"
Vivi berbalik. tak menghiraukan rasa sakit di pinggang dan perutnya. duduk di tempat tidur menatap Maya marah.
"jangan egois Bu. kalau Arya menceraikan ku, aku tidak akan memberi bayi ini pada ibu"
"eeehhh.. enak saja kamu! bayi itu yang akan mewarisi harta Arya di kampung. kebun kelapa sawit beratus hektar itu akan jatuh ke tangan sepupu Arya jika dia tidak punya anak! jangan macam-macam kamu Vi!"
Maya tak kalah marah pada Vivi. Vivi mendelik gusar pada ibu mertuanya ini.
Arya terhenyak mendengar apa yang di katakan ibunya. ternyata ibunya dan Vivi bersekongkol merusak rumah tangganya dengan caera.
bagai di pukul balok besar jantung Arya serasa berhenti berdetak. sakitnya bukan main mengetahui ibunya berbuat hal kejam seperti itu.
Arya melangkah gemetar ke pintu kamar. melihat dua wanita itu bertengkar. darahnya mendidih melihat mereka berdua mendebatkan kesepakatan terkutuk itu.
"maksudnya, ibu akan membiarkan Arya mencapakkan ku begitu saja?"
"heh.. dengar ya. aku sudah memberi mu kesempatan merebut Arya dari perempuan mandul itu. tapi kau tidak becus mengurus Arya. jadi kalau dia meninggalkan mu, apa itu salah ku juga?"
"waaahhh.. hebat sekali ya! setelah mendapatkan bayi ini, lalu ibu dengan mudahnya membiarkan Arya menceraikan ku!"
Vivi melangkah mendekat pada Maya. melotot marah menghadapi perempuan setengah baya itu.
"aku tidak peduli. kau menerima uang ku dengan kesepakatan. seharusnya keuntungan besar di pihak mu. kau dapat Arya, uang, dan bayi yang mewarisi harta Arya sekaligus. lalu apa lagi yang kau harapkan?"
"tapi anak mu tidak mencintai ku dengan benar! dia masih saja mencintai perempuan itu!!" Vivi marah dan menghentakkan kakinya berkali-kali.
"itu urusan mu" Maya tak acuh dengan kemarahan Vivi.
Maya membuang pandangannya dari wajah vivi. melihat kearah pintu kamar dan melotot kaget dengan wajah pucat pasi.
__ADS_1
Vivi menyadari itu. dia juga menoleh ke pintu dan sama terkejutnya dengan Maya. Arya berdiri di ambang pintu kamar. matanya menatap marah. air mata mengalir di pipinya.
gemetar Arya menahan emosi melihat kedua wanita ini merecoki urusan kesepakatan yang mereka buat.
Arya tidak menyangka ternyata Vivi hanya bersandiwara padanya melakukan kesepakatan juga. padahal, dia sudah lebih dulu punya rencana dengan ibunya.
"Arya" Maya mendekat. "kamu sudah pulang nak?" Maya meraih lengan Arya. mengajaknya masuk ke kamar.
tapi Arya tak bergeming. hanya diam tegak berdiri dengan wajah merah padam.
kini gantian Vivi yang mendekat. meraih tangan Arya satunya lagi.
"Arya. kamu sudah dari tadi pulangnya? aku tidak dengar suara mobil mu"
Arya menyentak lengannya ke atas. membuat dua tangan Vivi dan Maya terlepas dari lengannya.
"kalian tidak dengar? pantas saja kalian bicara sesuka hati. heh?"
"ah tidak nak. tadi itu Vivi bilang perutnya sakit"
Maya mengelak. sementara Vivi sudah beringsut takut. semua sudah terbongkar. Arya mendengar apa yang mereka bicarakan tadi.
"ibu. aku tidak menyangka ibu tega menghancurkan hidup ku hanya demi harta Bu" Arya menatap mata Maya lekat.
wajah Maya berubah bengis. menatap Arya dengan berani. sudah kepalang basah. Arya sudah tahu apa yang selama ini di rencanakannya.
"ibu melakukan yang seharusnya Arya"
"yang seharusnya? ibu bilang yang seharusnya? tentang apa? tentang pembagian harta kakek?! begitu?" Arya meneriaki ibunya dengan keras.
"itu semua untuk mu Arya. untuk masa depan mu!"
Arya berteriak marah. menepiskan tangannya di udara. tampak sangat emosi menghadapi ibunya.
"aku tidak peduli itu Bu!! apa lah harta itu!!! lihat akuuuu... aku Buuu..."
Arya menepuk-nepuk dadanya kencang. sangat sakit hatinya mengetahui ibunya mencuranginya begitu telak.
"kenapa kamu? hah? kenapa? karena kau berpisah dari perempuan mandul itu? iya?" Maya marah. berkata pedas menusuk hati Arya.
"hehh.. bagus Bu. ibu tidak memikirkan aku. di mata dan otak ibu hanya uaaang!!"
"iya! kenapa? itu juga untuk kamuuu!! ibu hanya membantu mu mendapatkannya." Maya melotot marah. menuding-nuding wajah Arya.
"hhhh... astaga..!!"
Arya mengusap wajahnya kasar. tak percaya ibunya mengatakan itu. selama ini dia sangat menghormati ibunya. tapi apa yang di lakukan ibu padanya? beginikah seorang ibu? mencurangi anaknya sendiri hanya demi mendapatkan harta warisan?
Arya menangis. sangat pilu hatinya mengetahui ibunya berhati iblis. tidak mempedulikan bagaimana perasaan hatinya sekarang.
"ibu kejam. kejaaam buuu...." teriak Arya.
Maya menoleh menatap Arya skeptis. lalu mendekati anak lelakinya itu. menarik baju Arya dengan kasar.
"dengar kamu Arya! ibu hanya mau kamu punya anak! mantan istri mu itu tidak berguna! jadi sudah sepantasnya dia pergi dari hidup mu!! mengertiii...!!"
melengking suara Maya berteriak di depan wajah Arya. lalu menghempaskan baju Arya kasar.
tubuh Arya jatuh lunglai ke lantai. berlutut dengan kedua tangannya bertumpu di pahanya. kepalanya menunduk dalam. hingga pundaknya naik keatas.
__ADS_1
hatinya tercabik-cabik. ingin rasanya memaki ibunya kasar. tapi dia adalah ibu. wanita yang melahirkannya. haruskah begini sakit yang di rasakannya?
"ibu. di mana hati mu? aku anak mu Bu. ibu mengorbankan hidup ku demi sesuatu yang tidak aku inginkan" ujar Arya lirih. kepalanya menunduk dalam. air mata menetes tak henti.
"alaaahh... sudah lah. untuk apa menangisi wanita mandul seperti caera? jangan cengeng kamu Arya!"
hati Arya hancur mendengar itu. ibunya tega berencana memisahkannya dengan caera wanita yang sangat ia cintai.
"kau sudah punya Vivi, arya. lihat dia! Vivi mengandung anak mu!"
Arya mendongak. menatap Vivi yang menyender ke dinding memegangi perut buncitnya. tampak pucat karena takut.
Arya bangkit berdiri. mendekat ke arah Vivi. berdiri tegak tepat didepan Vivi.
"perempuan ini?" Arya menatapnya bengis. " dia sampah! dia membohongi aku. dia membuat perjanjian menjijikkan demi mendapatkan akuuuuuu... aku benci pada mu viiiii..." teriak Arya lagi.
Vivi tersentak kaget. wajahnya makin pias. melotot menatap Arya dengan titik-titik keringat sebesar jantung memenuhi wajahnya. meremas perutnya kuat. rasa mulas itu menyerangnya makin kuat.
"dia istri mu Arya!!" bentak Maya.
"istri?? hhhh... istri macam apa dia? aku menidurinya hanya demi mendapatkan bayi. dan itu juga dengan kesepakatan seperti yang kalian lakukan!!"
"aduuhh... perut ku..." Vivi merintih kesakitan.
Maya menegang. mendekati Vivi dengan kekhawatiran penuh.
"kamu tidak apa-apa Vi?" Maya memegangi tangan Vivi.
"sakit Bu" Vivi meringis kesakitan.
"kau menjijikkan!! pandai sekali kau berpura-pura sakit." Arya memicingkan matanya menatap Vivi penuh rasa jijik.
"dia kesakitan Arya. ayo kita bawa ke rumah sakit" Maya terlihat cemas dan panik.
"aku tidak peduli. itu anak yang ibu inginkan. urus saja"
Arya bergerak keluar kamar. tapi Vivi memanggilnya dengan ringisan menahan sakit di perutnya.
"Arya... tolong"
Arya berhenti. berdiri di ambang pintu. melirik pada Vivi yang menahan sakit di perutnya.
"aku istri mu Ar. anak ini adalah anak mu. tolong... aku sungguh mencintai mu. aku tidak bohong" Vivi berusaha menahan Arya.
Arya menoleh menatapnya. memandang sinis padanya. Vivi bertahan. ia ingin Arya tetap di sampingnya.
"mulai detik ini. kau bukan siapa-siapa lagi. aku menceraikan mu. aku talak diri mu. aku akan kembali pada caera. aku mencintainya"
setelah mengatakan itu, Arya berpaling. menatap lurus kedepan. tidak ingin lagi melihat pada ibu dan Vivi yang makin terlihat panik.
"Arya!! kamu tidak bisa berbuat begini pada kuuu...!!! aku istri muuuu.. aryaaaaa!!!"
Vivi mengejar Arya. tapi Arya samasekali tidak mempedulikannya lagi. tetap melangkah meninggalkannya.
Maya juga ikut mengejar Arya. sambil meneriaki Arya agar kembali.
"aryaaaaa... kembaliiii...!! jangan kembali pada perempuan mandul itu lagiiii!! ibu tidak ijinkan kamuuuu..!!"
Arya tetap melangkah pergi. ia ingin kembali dan menjelaskan segalanya pada caera. pasti caera akan mengerti. dia mencintai caera. tidak ada yang bisa membuang rasa cintanya pada caera.
__ADS_1
"viviii... cepat. ayo kita kejar Arya. jangan sampai dia kembali pada perempuan tidak berguna itu lagi!! aku tidak ijin sampai mati!!"