
Deva membawa caera dan Gino ke rumah bukit. awalnya caera menolak. tak ingin meninggalkan Friska, jiya dan Dira berkutat dengan kesibukan mengatur rumahnya. tapi Deva tidak kehilangan akal untuk membuat caera menyerah. beberapa pekerja datang untuk membantu Friska.
akhirnya caera menyerah. mengikuti saja apa maunya tuan sok tahu ini. Gino dengan senang hati menuruti keinginan Daddy barunya. bergelayut manja di gendongan Deva.
sebenarnya caera sungguh risih melihat sikap Deva yang super mesra. tapi dia tidak dapat berbuat banyak.
duduk di mobil berdampingan dengan Deva, baru kali ini dia rasakan. sementara Gino tertidur pulas di pangkuan Deva.
sudah berkali-kali caera meminta pada Deva, agar Gino tidur di pangkuannya saja. tapi dengan segala kuasa yang dominan ada padanya, Deva membuat caera diam.
malam telah menjelang ketika mereka sampai di rumah bukit. Jacko memarkirkan mobil di depan rumah bukit yang megah itu. turun lebih dulu, lalu membukakan pintu mobil untuk Deva. Deva keluar dari mobil membopong Gino yang masih tertidur pulas. caera masih ragu. akan turun atau tidak. tapi sudah kepalang basah. ia tidak enak hati membuat Deva dan Jacko menunggu lama.
Jacko membukakan pintu untuknya. caera turun dari mobil dan mengikuti Deva yang sudah melangkah lebih dulu.
masuk kedalam rumah, dan ternyata sudah ada dua pelayan yang menunggu mereka. kedua pelayan itu membungkuk hormat begitu melihat Deva datang.
Deva tak menghiraukan mereka. terus melangkah ke dalam dan langsung menaiki tangga menuju lantai atas. caera masih diam terpaku di ambang pintu.
"silahkan nona"
sapa salah seorang pelayan.
seorang wanita kira-kira berumur lima puluh tahunan, dan seorang lagi masih terlihat lebih muda.
caera tersenyum canggung, lalu melangkah masuk. inilah kedua kali dia datang ke rumah ini. waktu itu tidak melihat seorang pun di rumah ini. tapi kini, sudah ada dua pelayan yang menyambutnya.
caera bingung. mau duduk di ruang depan, atau mengikuti Deva yang sudah melangkah naik ke lantai atas membawa Gino.
Jacko masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di garasi.
Jacko berdiri dan agak membungkukkan tubuhnya.
"silahkan nona caera beristirahat"
ujar Jacko pada caera yang berdiri mematung.
"tuan asisten. kenapa kau bersikap begitu pada ku?"
caera merasa tidak enak hati melihat Jacko terlalu bersikap formal padanya. di kantor, dia hanya lah bawahan Jacko.
tapi Jacko diam saja. tidak menjawab pertanyaan caera.
"jangan begitu tuan. aku hanya bawahan mu di kantor"
ujar caera lagi.
Jacko hanya meliriknya sedikit. masih diam saja. caera jengkel sekali melihat pria robot yang satu ini. sikapnya itu membuat caera jengah. mangkel setengah mati.
"kenapa tidak menjawab?"
tanyanya lagi.
Jacko meliriknya. masih diam dalam sikap siaga.
"iisshh... kau tahu, kalian berdua sangat menjengkelkan!"
sungut caera.
Jacko hanya menaikkan bibirnya sedikit. tapi tidak banyak merespon sikap caera.
"silahkan nona beristirahat di atas"
ujar Jacko datar.
ingin rasanya caera menendang pria yang terlihat kokoh seperti batang pohon kayu besar ini. gemas melihat sikap Jacko sangat datar padanya.
caera melengos melampiaskan jengkel pada Jacko. melangkah naik ke lantai atas meninggalkan Jacko yang diam masih tegak berdiri memperhatikan caera dengan senyum tipis di bibirnya.
caera sampai di pintu kamar tempat ia di bawa Deva dulu. ia melihat Deva menidurkan Gino di ranjang besar miliknya. caera hanya diam memperhatikan dari pintu.
setelah di rasa Gino sudah tidur dengan nyenyak, Deva menyelimuti bocah kecil itu. terlihat Gino sangat nyaman tidur dengan napas teratur.
Deva bangkit dan menghampiri caera. menutup pintu kamar, lalu menarik tangan wanita itu dan membawanya ke sofa besar di dekat jendela besar kamar ini. caera seperti kerbau yang cucuk hidungnya, hanya bisa menuruti kemana Deva membawanya.
Deva duduk menghadap ke samping. menyandarkan punggungnya di pegangan sofa, merenggangkan pahanya. menekuk sebelah kaki kirinya ke sandaran sofa, dan yang sebelah kanan masih menjulur menjejak ke lantai. menoleh ke arah caera yang masih berdiri di sampingnya.
"sini, duduk bersama ku"
__ADS_1
ujar Deva.
sungguh Dev. aku pasti menghajar mu nanti jika ada kesempatan. kau sungguh gila
caera masih berdiri kaku. hatinya menjerit-jerit semoga saja tiba-tiba Deva pingsan agar dia terbebas dari sikap mesranya.
"kemari lah"
Deva menarik tangan caera. caera jatuh terjerembab di dada Deva. susah payah caera ingin bangkit berdiri. tapi Deva menahan tubuhnya.
"haha.. duduk lah dengan benar sayang. kau ingin menggoda ku?"
kata Deva sambil tertawa.
apa??? menggoda??? sial! bukannya dia yang menarik tangan ku tadi? kenapa sekarang dia bilang aku ingin menggodanya?
caera memaki dalam hati. sangat jenggkel Deva menjahilinya lagi. masih berusaha bergerak bangkit. tapi Deva semakin ketat merengkuh tubuhnya agar tetap begitu.
"jangan begini tuan Dev"
caera sewot.
"hahaa.. kalau begitu, duduk lah dengan manis"
jawab Deva masih menatapnya menggoda.
uuuffff...
caera menyerah. membenarkan posisinya duduk di samping Deva. tidak mau duduk di depan Deva seperti naik motor.
"kenapa begitu?"
Deva mencolek lengannya.
"iihh.. begini saja"
caera mengibaskan lengannya. menghindari colekan Deva.
"hahaa.. kau keras kepala Ra"
Deva menegakkan tubuhnya. menipiskan jarak tubuh mereka. merepat ke punggung caera. dan mendekatkan wajahnya ke tengkuk caera.
"cobalah rilex sayang. jangan terlalu tegang"
bisik Deva.
caera makin menegang saja. sumpah mati dia ingin meninju wajah Deva yang mengendus-endus rambutnya sekarang.
"tenang lah. aku tidak akan memangsa mu"
bisik Deva lagi.
perlahan, Deva menarik kedua bahu caera kebelakang. merepatkan punggung caera ke dadanya. caera merasakan hangat dada bidang itu. Deva merebahkan tubuhnya dengan perlahan dan masih menarik lembut bahu caera. tanpa caera sadari, dia mengikuti dada hangat di belakangnya. merebahkan punggungnya bersandar dan mengambil posisi nyaman di sana.
"hhhmmmm"
Deva menggeram lirih. merasakan hangat tubuh caera menempel di dadanya. merengkuh wanita itu di dalam pelukannya. menghirup aroma rambut caera yang memabukkan. caera adalah candu baginya. harum tubuhnya menguasai setiap desiran darah mengalir deras ke otaknya.
Deva sudah lama sekali tidak bisa merasakan itu. tapi entah kenapa caera mampu membuatnya candu akan cinta lagi. sekian lama memendam kebencian di hati. tapi kehadiran caera membuat benci itu terpecah menjadi serpihan debu.
caera memejamkan matanya. mulai bisa menetralisir ketegangan yang melanda hatinya. meresapi kehangatan dada bidang di belakangnya. dapat ia rasakan debaran jantung Deva berdetak dengan irama sedikit cepat. menikmati nyaman rengkuhan tangan Deva memeluk tubuhnya.
"aku ingin begini selamanya"
ujar Deva lirih. seperti bicara pada dirinya sendiri.
entah kenapa kata-kata Deva tadi merobek hatinya perlahan. dia pasti tidak bisa bersama Deva selamanya. setelah Deva tahu kebenaran dirinya, pasti Deva akan melepaskannya juga seperti Arya melepaskannya.
"tetaplah begini sayang"
bisik Deva memejamkan matanya.
ia sangat mencintai caera. entah bagaimana wanita ini bisa menembus pertahanan hatinya yang di lapisi besi baja kebencian pada wanita. Deva melemah ketika caera masuk ke relung hatinya. ia ingin begini selamanya bersama wanita ini.
Deva mengecup kecil daun telinga caera. wanita itu agak menggeser kepalanya karena rasa geli. Deva tersenyum lebar. makin senang menjahili caera.
mengecupnya lagi. caera mengerakkan tangannya ke atas menahan wajah Deva agar tidak mendekat ke telinganya.
__ADS_1
"jangan tuan Dev"
ujarnya lirih.
tapi Deva makin kesenangan. ia malah mengecup dan men ji lat telapak tangan caera yang menahan wajahnya.
"iihh.. apaan sih?"
dengan cepat caera menarik tangannya lagi. mengusapkan ke bajunya. terasa geli telapak tangannya akibat kejahilan Deva.
Malihat tidak ada yang menghalangi wajahnya lagi, Deva mendekatkan bibirnya ke telinga caera. membuka bibir itu dan men ji lat basah daun telinga caera.
kyaaaa...
caera sontak bangkit. menjauh dari dada Deva. menutup telinganya karena terasa sangat geli.
"hahaaa..."
Deva tertawa senang melihat caera blingsatan karena ulahnya.
"kau menyebalkan tuan Dev!"
caera menoleh ke samping memukul dada Deva. dengan cepat, Deva menangkap tangan itu dan menariknya sedikit keras. membuat caera terjerembab jatuh ke dadanya lagi. kini dalam posisi menghadap ke wajah Deva. tidak membelakanginya lagi.
tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Deva merenggut bibir manis nan menggoda milik wanita tercintanya. me lu mat lembut dengan pa gu Tan basah.
caera menahan tangannya di dada Deva. mencoba meronta agar di lepaskan. tapi lu ma tan itu semakin menuntut. menyesap penuh ge lo ra memendam rasa.
caera terbuai. melemah gerakannya meronta di dada Deva. kini tangan itu malah meremas dada bidang milik Deva.
lidah Deva menari meminta caera membuka mulutnya. menuntut masuk lebih dalam. meremas segala sari yang masih belum di reguk habis.
tak pernah puas ingin merasakan bibir ranum menggoda imannya. ingin memiliki dengan cinta yang makin menjerat hatinya.
lemah itu datang. bisikan mesra berdengung di telinganya. caera menyerah mempertahankan bibirnya mengatup rapat. membukanya sedikit yang mengakibatkan lidah panas itu menelusup masuk menjelajahi setiap inci rongga mulutnya.
menari dan meliuk seperti penari balet memamerkan kelenturan tubuhnya. membenturkan lidahnya dengan lidah caera. menuntut balasan hangat yang menghentakkan rasa indah dari dalam jiwa.
"aahhhgg"
caera tak kuasa menerima belitan panas itu. tanpa sadar mulutnya mengeluarkan de sa han berat yang menggoda. hatinya memaki dengan apa yang tercipta dari mulutnya. otaknya menyerukan penolakan. tapi mulutnya mengeluarkan de sa han.
begitu caera menggerakkan sedikit lidahnya ingin membalas, Deva malah melepaskan pa gu tan panas yang ia ciptakan. menatap wajah cantik nan sayu terpejam di depannya. tersenyum melihat wanitanya merasa kehilangan bibir nakalnya. sama-sama terengah menahan gelora yang bangkit menerjang hingga ke dasar kesadaran.
Deva mengusap bibir basah yang sedikit membengkak karena lu ma tannya tadi. caera masih memejamkan mata meresapi sisa rasa nikmat yang melanda.
"sudah sayang. aku tidak akan bisa menahan jika kau membalas"
bisik Deva.
astaga!
sontak caera membuka matanya. di sadarkan suara Deva yang menggodanya karena terlanjur hanyut dan sedikit memberi balasan.
wajah caera merah padam menahan malu. hatinya memaki kencang dirinya sendiri. sungguh bodoh ia tadi terlanjur terbuai.
cepat-cepat caera bangkit berdiri dan membenahi pakaiannya. menjauh dari Deva. beranjak ke ranjang dan duduk di sana dengan gelisah menahan malu.
"hahaahaaaa"
melihat caera salah tingkah, Deva sontak tetawa terbahak. membuat Gino sedikit terganngu dengan suara keras tawa Deva.
wajah caera makin seperti kepiting rebus. merah membara. gelisah seperti cacing kepanasan. tidak tahu harus menempatkan wajahnya di mana. seandainya ada karung di kamar ini, dia akan dengan cepat memasukkan dirinya ke sana dan meringkuk bersembunyi agar tak terlihat Deva.
"aahh sayang... kau sungguh wanita ku. aku cinta pada mu"
puasnya Deva menggoda caera π€€π€€ππ
untuk bekal sahur ya readers... ππ
ππππππππππππππππ
πselamat menunaikan ibadah puasa βΊοΈπ
ππΎππΎππΎππΎππΎππΎπ
πΊ πΉπΊπΉπΊπΉπΊπΉπΊπΉπΊ
__ADS_1