
caera sangat mengkhawatirkan Dira. entah kemana gadis itu setelah kejadian tadi. Richard juga pergi. mereka jadi terpisah. caera ikut pulang ke cotage bersama Deva dan Jacko. tapi hati caera merasa tak tenang.
"Dev, Dira tidak mau mengangkat telepon ku" ujar caera khawatir.
"tidak apa sayang. beri dia waktu" jawab Deva menenangkan istrinya yang sedari tadi mengomel karena kehilangan Dira.
"iishh kalian ini. sebenarnya ada apa sih? aku bingung Dev" caera kesal karena Deva dan Jacko masih punya banyak rahasia yang caera tidak tahu.
"tidak ada sayang. tenang lah. kau meragukan Dira? hmm?"
Deva santai saja dan merengkuh caera ke pelukannya. tapi benar juga. caera meragukan seorang Dira? gadis yang jago karate dan taekwondo? yang bisa melumpuhkan tubuh tegap Richard dengan sekali tendang? masih meragukan lagi?
tapi, apa iya Dira yang tangguh itu tidak punya hati? tidak merana dan tidak pernah sedih sepertinya?
tidak bukan? tadi saja caera melihatnya menangis karena ulah Richard. caera makin khawatir ketika sampai sekarang tidak ada kabar dari Dira.
"dia tetap wanita kan sayang? apa iya Dira tidak pernah lemah?" caera menatap mata Deva.
"Dira masih bisa mengatasi itu, nona. jangan khawatir" sahut Jacko seraya melirik caera dari kaca spion depan.
caera diam. mungkin saja Deva dan Jacko benar. mereka lebih mengenal Dira lebih dulu. caera berusaha menenangkan hatinya.
****
Sampai di cotege caera tetap penasaran. Deva sedang mandi. caera permisi pada Deva ingin menemui Jacko di luar. dan Deva mengijinkan. caera bisa keluar menemui Jacko.
Jacko sedang berkutat dengan laptopnya. caera datang mendekati. duduk di depannya menghentikan aktivitas Jacko di laptopnya.
"maaf mengganggu mu tuan asisten"
Jacko mendongak menatap caera. menaikkan alisnya. caera tidak pernah bicara banyak dengannya selama ini.
"ada apa nona?"
"aku ingin tahu. ada apa sebenarnya dengan Dira dan Richard? kenapa kalian berdua menyembunyikannya dari ku?" tanya caera menatap manik mata Jacko dengan berani.
selama ini caera tidak pernah berani menantang mata hitam yang tajam ini. dia selalu gemetar ketika Jacko bersikap dingin dan seperti layaknya robot yang kaku.
"kenapa anda sangat ingin tahu nona?"
"Dira itu teman ku. dan aku rasa tuan Richard adalah sepupu Deva bukan? tidak ada salahnya aku ingin tahu" jawab caera berani.
Jacko diam. masih menatap caera.
"kenapa? kau juga seperti tuan mu itu? selalu mengelak jika aku bertanya?" Caera menaikkan dagunya pongah.
Jacko menaikkan sedikit bibirnya. menghela napasnya dan kembali melihat ke laptobnya.
"hey tuan asisten. aku bertanya" caera tampak jengkel melihat sikap cuek Jacko.
Jacko mendongak lagi. menatap caera yang mulai jengkel. Jacko menutup laptopnya lalu menautkan jarinya di letakkan ke mulut. seolah memikirkan apa yang di inginkan Caera.
"sebaiknya anda tanyakan sendiri pada Dira. saya tidak berhak menafsirkan apa yang terjadi pada mereka nona"
"uuffff.." caera tertunduk lemas.
sama saja kau seperti Deva! tidak berhak terus
caera menggerutu dalam hati.
"baiklah. nanti aku akan menanyakan padanya. tapi.."
Jacko menaikkan alisnya lagi. menunggu apa yang akan di katakan caera.
"aku kasihan melihat tuan Richard. tidakkah kalian berdua ingin membantunya?"
__ADS_1
Jacko tersenyum kecil. menurunkan tangannya dan kini melipat tangannya di dada.
"anda berpikir begitu ya? hmmmm.." Jacko manggut-manggut.
iissshh.. apasih dia ini? tidak ada kata lain, apa?
"sebenarnya, Deva sudah banyak membantu Richard tentang ini. tapi Richard terlalu pengecut dan tidak tahu caranya untuk menghadapi Dira. dengan membawa Richard dan Dira ke sini, itu bertujuan untuk membantu Richard sebenarnya. Deva tidak pernah suka kesenangannya di ganggu dengan memasukkan masalah orang lain. tapi, karena itu Richard, Deva bersedia memasukkan mereka berdua dalam agenda bulan madu anda"
Jacko menjelaskan panjang lebar. dan caera mendengarkan dengan baik.
"tapi aku tetap tidak tahu apa alasan mereka jadi saling bertengkar begitu"
"Dira ada di kamarnya. temui saja dia dan tanyakan. batas saya hanya sampai di sini" lanjut Jacko.
caera mengalah. ia akan menemui Dira nanti. dia harus permisi dulu pada Deva.
"baiklah. terima kasih tuan asisten"
caera beranjak ke kamarnya lagi. ingin menemui Deva.
terlihat Deva sedang duduk di bagian belakang cotage. menghadap ke lautan bebas yang indah di depannya.
Deva menoleh ketika caera mendekatinya. caera memeluk Deva dari belakang. dia harus minta ijin untuk menemui Dira. dan caera harus menyenangkan hati suaminya jika ingin meminta sesuatu bukan?
"sudah selesai mandi sayang?" caera mengecup pipi Deva.
pria itu tersenyum dan mengangguk. menarik istrinya ke depan dan mendudukkan di pangkuannya.
"sudah bertemu Jacko?" tanyanya sambil membelai pipi istrinya.
"sudah" jawab caera.
"sudah menemukan jawaban?"
caera agak menekuk wajahnya. cemberut.
"hahaa... kau manis sekali"
Deva tertawa dan mencubit kecil pipi caera. memeluknya dan mengecupi pangkal lengan caera.
"sayang"
"hhmm"
caera menoleh melihat Deva yang mendusal seperti kucing kesayangan.
"apa kau dan Jacko tidak ingin bertanya pada tuan Richard , apa sebenarnya yang terjadi?"
"kenapa sayang?" Deva mengelus-elus lengan caera sampai ke ujung jarinya.
"aku kasian melihat tuan Richard. tadi pasti sakit sekali"
"apa kamu tidak memikirkan sakitnya Dira juga?"
"apa itu?"
Deva merenggangkan senderan kepalanya di lengan caera. lalu tersenyum nakal.
"kau pandai sekali memancing ku sayang"
"apa? memancing apa Dev?"
caera melengos. memalingkan pandangannya dari Deva. takut Deva bisa membaca dari matanya.
"hehe... baik lah. sana temui Dira. tanyakan padanya apa yang membuat mu penasaran"
__ADS_1
"benarkah? kau mengijinkan sayang?"
wajah caera berbinar. ternyata Deva mengerti apa yang ia pikirkan. Deva mengangguk tersenyum.
caera cepat bergerak bangkit dari pangkuan Deva. tergesa melangkah tanpa menghiraukan Deva lagi.
"raraaaa.." seru deva memanggil istrinya.
seketika caera berhenti. menoleh kebelakang melihat Deva.
"kau lupa bagaimana caranya meninggalkan suami mu ini?"
caera tersenyum lega. ia kira tadi Deva berubah pikiran. caera balik lagi. mendekati deva dan duduk di pangkuannya lagi. melingkarkan tangannya ke leher Deva. mencubit kecil hidung mancung itu.
"bucin sekali siihh.. aku cuma sebentar kan sayang. nanti juga kita bersama lagi"
"tapi nanti aku selalu kangen kamu sayang" rengek Deva.
"hihihii.. lebay deh kamu"
caera mencubit perut Deva. dan Deva tertawa kegelian.
"mau di apain ini? peluk, cium?" caera memberi pilihan.
"di bukain sayang"
"apanya di buka Dev?"
Deva hanya melirik ke bawahnya. dan caera makin gemas memukul dada Deva.
"kamu iihh.. kalau yang itu mana bisa sebentar. yang ada kamu nambah terus sampai pagi"
"hahahaaa.." Deva tergelak.
"cium aja ya?"
Deva mengangguk. caera mendekatkan wajahnya. mengecup lembut bibir suaminya. Deva menyambut. me ma gut bibir caera. begitu caera ingin bergerak melapas pa gu tannya, Deva cepat menekan belakang kepala caera.
membuat caera tak bisa banyak bergerak. Deva menelusupkan lidahnya lebih dalam. menye sap lidah hangat caera.
"uuuhhmmm"
caera menge rang ingin menghentikan. tapi Deva masih me Ng mut lidahnya panas dan menuntut.
menari-nari lidah itu di dalam mulutnya. membuat caera jadi meremas rambut belakang Deva. Deva mengabsen setiap inci mulut caera. meny esap bibir basah caera sesekali. men ju lur kan lidahnya men ji la ti bibir itu.
caera hanya bisa membalas. memeluk Deva merasakan gejolak cinta di antara mereka berdua.
sekelebat caera ingat Dira lagi. cepat ia mencari celah agar terlepas dari lu ma Tan Deva. begitu Deva melonggarkan pa gu tannya, caera mendorong pipi Deva pelan. menciptakan Saliva basah yang lengket di bibir masing-masing.
tersengal kehabisan napas. saling menatap sayu. dan tersenyum bersama.
"kau selalu panas sayang" lirih suara Deva berat.
"kamu iihh.. nakal banget Dev"
caera mengusap bibirnya dan bibir Deva bergantian. wajahnya bersemu merah jambu.
"hahaaa.." Deva tergelak lagi.
"sudah ah.. aku ke kamar Dira dulu ya?"
Deva mengangguk.
"tapi nanti aku minta jatah lebih. waktu ku sudah di habiskan Dira" ujar Deva menuntut.
__ADS_1
"iihh.. mesum"
caera memukul dada Deva pelan. lalu bergerak bangkit dan menjauh dari Deva. suaminya hanya tertawa membiarkan caera pergi.