
wajah Deva berubah menggelap. rahangnya mengetat. mengetuk-ngetukkan jari di meja kerjanya. matanya tajam menatap Jacko di depannya.
"aku harus menunggu lagi?"
tanyanya sedingin es. aura membunuh samar-samar membayangi wajahnya.
"kau harus bersabar Dev. sedikit lagi"
jawab Jacko masih terus berkutat di laptopnya.
"bagaimana menurut mu, jika yang di posisi itu adalah orang yang kau cintai?"
suara itu makin tajam dan dingin.
Jacko mendongak. menghentikan kegiatannya sejenak.
"lalu kau tidak memikirkan Gisel?"
Jacko balik bertanya.
Deva diam. mata tajam itu makin membara ketika Jacko menyebut nama Gisel.
"sial!"
bruukk...
Deva kesal. menghempaskan tumpukan dokumen yang ada di mejanya sehingga jatuh ke lantai. menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, dan mengusap wajahnya kasar.
"berapa lama lagi aku harus menunggu? ini sudah keterlaluan!"
Deva marah pada Jacko.
"kita harus memikirkan semua orang Dev. Gisel juga akan lebih terluka jika mengetahui ini"
dengan sabar, Jacko masih menenangkan Deva.
Deva beranjak berdiri dan berjalan menuju jendela besar di samping meja kerjanya. memandang ke luar jendela yang menyajikan suasana kota yang ramai hari ini.
"dia masih belum puas Jack"
Deva menggeram marah.
"sedikit lagi kita akan tahu siapa penyusup itu"
Jacko kembali berkutat di laptopnya.
"jangan lepaskan dia. dan suruh orang mu tetap mengawasi"
perintah Deva tegas.
"bagaimana dengan Richard?"
Jacko menoleh menatap Deva.
Deva masih menatap ke luar jendela. membelakangi Jacko. berdiri tegak, memasukkan tangannya ke saku celananya.
"jangan berikan. tapi jika dia meminta kepada ku secara baik-baik, aku akan melepaskannya"
jawab Deva datar.
Jacko diam. kembali sibuk dengan kerjanya. Deva menghempaskan napas berat. orang itu telah berani mendekati orang terdekatnya lagi. orang itu sungguh licik selalu menyentuh apa yang menjadi kelemahannya. dia tidak akan mengampuni dan akan melenyapkan siapapun yang berani mencoba mengusik hidupnya lagi, yang sudah pernah terabaikan.
****
jam pulang kantor telah tiba. caera membereskan sisa pekerjaannya. Dira sudah menunggunya sedari tadi. tapi caera tidak mau ada yang tertinggal pekerjaannya hari ini.
setelah selesai, dia membereskan berkas-berkas yang baru di print , dan menyimpannya di lemari berkas.
Deva sudah keluar dari siang tadi. dia mengirim pesan chat bahwa akan tidak masuk untuk beberapa hari ke depan. dan caera hanya mengiyakan saja.
__ADS_1
"kak, aku ikut pulang ke rumah kakak ya?"
kata Dira berdiri di ambang pintu ruang kerja, menunggu caera.
"boleh" caera tersenyum. "tapi aku kan tidak bawa mobil dir"
mengambil tasnya dan melangkah keluar. Dira menutup pintu dan menguncinya lebih dulu. lalu menyusul mengimbangi langkah caera.
"naik mobil Dira saja kak. sekalian Dira mau melihat rumah baru kakak"
"bukannya kamu sama Friska yang sudah membereskan rumah ku Dira?
"tidak kak. Dira pulang ketika belum selesai. Friska dan jiya yang kerja"
"oohh gitu" caera manggut-manggut. "oke deh. aku juga belum lihat gimana hasilnya"
mereka masuk ke lift. bercanda dan mengobrol santai. caera teringat tentang Dika yang tersesat tadi. dan ingin menanyakan itu pada Dira. tapi sebelum ia bertanya, pintu lift sudah terbuka.
terlihat banyak karyawan yang juga akan pulang setelah selesai jam kantor. caera mengurungkan niatnya. nanti saja setelah di mobil dia akan menanyakan tentang Dika.
memasuki area parkir dan menuju mobil Dira. ketika Dira sudah membuka pintu mobil, seseorang memanggil nama caera dengan keras.
"caera! tunggu!"
caera menoleh ke belakangnya. tampak Vivi dengan wajah angkuhnya datang mendekat ke arah caera.
Vivi tampak lebih gemuk. perutnya sudah terlihat menonjol. wanita itu berjalan tergesa-gesa menghampiri caera.
caera mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil Dira. berdiri menunggu Vivi datang. Dira langsung memutari mobil dan berdiri di samping caera. dengan pandangan tajam dan waspada, mengarah pada Vivi.
"jangan lari kamu"
kata Vivi lagi setelah sudah dekat.
"lari?" caera mengernyitkan dahinya. menatap tak percaya dengan apa yang di katakan Vivi barusan. "perasaan aku hanya di sini saja dari tadi"
Vivi menaikkan dagunya dengan pongah. caera tak habis pikir entah apa yang di pikirkan wanita yang satu ini.
tanya caera dingin.
"aku mau kamu menjauhi Arya!"
jawab Vivi judes.
"apa?!" caera kaget Vivi mengatakan itu. "manjauhi Arya?"
"heh! dengar ya kamu! kamu tahu, gara-gara kamu Arya jadi di skors dari kantornya!"
Vivi menuding-nuding wajah caera.
dengan sigap, Dira menepis tangan Vivi dengan keras. Dira bergeser ke depan caera. bersikap melindungi jangan sampai Vivi mencelakai caera.
"jaga sikap anda nona"
ujar Dira tegas.
suaranya berubah berbobot. pandangannya mengancam melihat Vivi. caera agak sedikit kaget dengan perubahan sikap Dira. ini bukan Dira yang biasanya. melirik gadis yang kini berdiri di depannya dengan wajah penuh dengan kesiagaan.
"hei gadis ingusan! ini bukan urusan kamu. minggir!"
Vivi marah. menghempaskan bahu Dira. tapi jangankan minggir, bergerak pun tidak. Vivi makin membara ketika di rasa, Dira bersikap menjadi tameng caera.
"sebaiknya anda yang menyingkir. kalau tidak.."
Dira benar-benar mengancam sekarang.
"apa? hah? apa?" Vivi menantang. melototkan matanya pada Dira. "kalau tidak apa?"
Dira memicingkan matanya. sangat geram melihat Vivi menantang padanya. caera memegang bahu Dira. menenangkan gadis ini. agak mendorong bahu Dira agar menyingkir dari depannya. tapi Dira tetap berdiri tegak.
__ADS_1
caera agak meremas pelan bahu Dira. agar Dira mengerti caera masih dapat menghadapi Vivi.
caera tidak mau terjadi keributan. apalagi Vivi dalam keadaan hamil. mengalah, Dira menggeser sedikit.
banyak karyawan yang akan pulang, menonton mereka. berkasak-kusuk membicarakan mereka. apalagi melihat caera, pandangan mereka makin terlihat menghakimi saja.
"Vi, apa maksud kamu? kenapa Arya di skors?"
tanya caera pada Vivi. tapi yang di tanya malah makin melotot padanya.
"masih pura-pura tidak tahu kamu ya!" hardik Vivi lagi. ia terlihat sangat geram pada Caera.
"kamu ini bicara apa sih?"
caera mulai tak sabar.
"kamu dengar ya. Arya itu di skors karena kamu! dia mabuk-mabukkan di kantor! itu kamu yang buat dia jadi begitu kan?! kamu senang kan Arya di skors dari kantornya? kamu mau Arya hilang pekerjaannya kan?"
Vivi nyerocos panjang lebar.
"apa? mabuk? di kantor?"
caera tercengang tak percaya apa yang di katakan Vivi.
"alaaahh.. jangan pura-pura bego lah!" Vivi melirik sinis pada caera. melipat tangannya di atas perut buncitnya.
"aku sungguh tidak tahu Vi. apa sih yang kamu pikirkan, sampai kamu menuduh aku?"
caera mulai marah. konyol saja rasanya Vivi menuduhnya membuat Arya jadi suka mabuk. di kantor lagi. itu kesalahan fatal. pantas saja Arya di skors. untung saja tidak di pecat.
"pokoknya, kamu jangan pernah mendekati Arya lagi! jangan kamu gesek dia agar membenci ku! Arya itu suami ku! kamu tidak berhak atas dirinya!"
Vivi sampai berteriak saking geramnya.
wajah caera terasa panas. marah itu bangkit. dadanya bergemuruh minta di salurkan. apalagi banyak orang yang melihat Vivi sampai berteriak marah padanya.
Dira maju dengan tangan yang terkepal. kini wajahnya benar-benar menjadi garang. ia menatap Vivi dari kepala sampai kaki. berhenti tatapannya di perut buncit Vivi. mungkin jika Vivi tidak dalam keadaan hamil, Dira pasti sudah bergulat dan menjambak rambut Vivi.
"lebih baik kamu urus suami kamu. dari pada kamu berteriak di sini. aku sudah memaafkan mu Vi. jangan kau membuat keonaran di sini"
ujar caera masih menahan marahnya.
"kenapa? kamu malu? hah? malu? kamu itu mau merebut suami ku lagi kan?!"
dengan sinis Vivi melancarkan serangannya. mumpung orang-orang banyak yang menyaksikan pertengkaran mereka.
caera maju. menyingkirkan Dira dari depan Vivi ke samping kiri. menghadap Vivi tepat di depannya. geram itu sudah tak dapat di tahan lagi.
PLAK!!!!
sampai juga akhirnya tamparan itu ke pipi kiri Vivi. wajah wanita hamil itu sampai terhempas ke samping dengan keras. Vivi memegangi pipinya yang terasa kebas, panas dan perih. menoleh menatap caera dengan wajah merah membara.
"kau tidak tahu malu Vi. sudah jelas kau yang merebut Arya dari ku. tapi kau berteriak pada ku seolah-olah aku yang merusak rumah tangga mu. bercermin lah Vi. sebenarnya kau meneriaki diri mu sendiri"
ujar caera dengan geram. suaranya bergetar menahan emosi yang bergejolak di dadanya. baru kali ini tangannya mampir dengan keras ke pipi seorang wanita, dalam keadaan hamil pula.
mata Vivi merah menahan tangis. wajahnya menyiratkan penuh kebencian melihat caera. dia sungguh geram kenapa Arya masih saja mengingat wanita yang tidak bisa memberinya keturunan ini.
orang-orang makin gencar membicarakan mereka. ada yang tertawa, ada juga yang mengejek. caera sungguh malu dalam situasi ini. hatinya menjerit-jerit menyumpahi Arya dan Vivi.
caera sungguh muak dengan situasi ini. dia berbalik dan membuka pintu mobil Dira. masuk kedalam, menutup pintu mobil rapat-rapat. Dira mengikutinya masuk ke dalam mobil. membiarkan Vivi sendiri.
"sudah puas kamu hah! kau menghancurkan Arya, Ra!"
teriak Vivi.
caera menulikan telinganya. membiarkan Vivi berteriak di luar. Dira langsung menjalankan mobilnya meninggalkan Vivi yang masih berteriak di halaman parkir kantor.
"aku benci kamu raaaa...!!"
__ADS_1
teriak Vivi sampai suaranya serak.