
bersenandung kecil adalah hal yang paling sederhana untuk menggambarkan suasana hati yang bahagia. seperti caera hari ini. suasana hati yang baik, membuat caera selalu tersenyum ceria hari ini.
meminta Dira memberinya beberapa pekerjaan yang tidak menyulitkan Dira karena selalu bersitegang dengan caera ketika membagi tugas.
caera manut saja ketika Dira memintanya untuk tetap bekerja di dalam ruangan. tidak terlalu rewel memaksa duduk di meja Dira di luar.
Dira agak heran melihat sikap penurut caera hari ini. dua hari tidak masuk kerja, sudah membuat caera lebih manut dan tidak membuat dia selalu di tegur Jacko.
tapi setelah akan tiba waktu istirahat, sikap caera berubah. agak cemberut melihat ponselnya.
"Dira, tuan Deva kenapa belum datang?"
tanya caera masih menatap layar ponselnya.
"tuan Deva memang belum masuk hari ini kak. masih ada rapat di perusahaan tuan Nugraha"
jawab Dira.
caera spontan Mendongak menatap Dira. mengernyitkan dahinya.
"perusahaan tuan Nugraha? rapat apa itu?"
"nona Gisel menggantikan tuan Nugraha kak. jadi tuan Deva masih membantu nona Gisel di sana"
ada rasa tidak enak di hatinya. tadi Deva mengirim pesan padanya. tapi tidak bilang kalau dia ada di perusahan tuan Nugraha.
"ohh begitu"
ujar caera. dan menunduk lagi.
Dira sibuk lagi dengan kerjanya. keluar ruangan mengecek telepon masuk. hati caera berkecamuk.
kalau dia di tempat Gisel, ngapain sih pake gombal bilang aku suruh masuk kerja? padahal dia tidak ada.
makin tak bersemangat caera mendengar info dari Dira. serasa senandung bahagia sedari tadi pagi, lenyap seluruhnya. rasa gelisah itu muncul lagi. memikirkan Deva ada bersama Gisel.
ah.. aku ini kenapa sih??
caera bangkit dari duduknya. mondar mandir di dalam ruangannya.
"aku ini sudah gila ya. kenapa sih harus merasa tidak enak begini? aku bukan siapa-siapanya tuan Deva kan"
bergumam sendiri mencoba menenangkan hati.
caera memutuskan menemui Dira di luar. Dira masih sibuk berbicara di telepon. caera mengambil tempat, duduk di samping Dira. memperhatikan gadis itu berbicara dengan seseorang di seberang sana.
"baik. baik tuan" Dira mendengarkan dengan seksama. " ya. jadwal anda akan di undur sampai hari Senin. baik tuan. ya, terima kasih. selamat siang"
Dira meletakkan telepon dan menoleh menatap caera yang ada di sampingnya.
"kenapa kak? kok jadi cemberut gitu?"
caera hanya menggeleng.
"kakak tanya tuan Deva terus. rindu ya?"
caera tersenyum dan memukul lengan Dira pelan. menyandarkan punggungnya di kursi.
"habisnya, kakak jadi cemberut gitu"
"tidak kok"
caera memperhatikan Dira bekerja. tugasnya sudah selesai dari setengah jam yang lalu. tapi Dira masih terlihat sibuk terus.
Ting...
__ADS_1
pintu lift terbuka di ujung lorong. caera dan Dira melongok ke arah lift. mengira Deva dan Jacko yang datang. tapi tidak. seorang gadis keluar dari lift. berjalan maju menghampiri mereka.
caera dan Dira saling pandang. caera merasa tidak mengenali gadis itu. tapi Dira pasti tahu.
"siapa dir?"
bisik caera.
"itu nona Della"
Dira menjawab juga dengan bisikan.
gadis itu berjalan mendekati mereka berdua. berdiri tegak di depan meja kerja Dira. caera memperhatikan gadis itu.
rambut lurus panjang sepunggung berwarna cola. mata tajam bermaskara tebal. dengan bulu mata anti tornado. hidung Bangir dan bibir sexy sedikit tebal akibat ulah filler.
memakai setelan blazer dan rok mini yang sangat minim. hampir memperlihatkan paha bagian atasnya. memamerkan kaki dan paha putih mulus tanpa cacat.
dengan blus dalam yang berbelahan dada rendah, bermotif totol-totol macan tutul. tampak gundukan bukit bagian atas menyembul keluar. seakan sesak mengatakan kurang oksigen dan akan segera tumpah karena kurangnya tampungan mangkuk tempatnya bernaung.
caera melongo menyaksikan penampilan super sexy itu. menelan salivanya kasar memandang pemandangan menyesakkan di bagian dada gadis itu. melirik dadanya sendiri yang ukuran besarnya jauh di bawah gadis yang sexy ini.
caera menegakkan punggungnya dan merapatkan blazernya menutupi bagian dadanya. karena tak ingin di bandingan ukurun besarnya 😁.
"selamat siang"
sapa suara merdu mendesah gadis di depan mereka.
"selamat siang nona Della"
jawab Dira sopan dan membungkuk hormat.
melihat apa yang di lakukan Dira, caera ikut-ikutan membungkuk juga.
"tuan Deva ada?"
"maaf nona, tuan Deva sedang tidak berada di tempat"
Dira tersenyum manis. dan caera meniru Dira dengan memamerkan senyum terpaksa.
"oh begitu. tapi saya kan sudah buat janji kemarin. kenapa tuan Deva tidak ada sekarang?"
tanya Della dengan bibir yang di gerakkan teratur. caera sampai ingin ikut menirukan gaya bicara Della.
"maaf, nona. tapi saya sudah memberitahukan pada sekertaris anda, tentang di undurnya pertemuan dengan tuan Deva sampai Minggu depan nona"
jawab Dira sopan.
"kau mencoba menggagalkan pertemuan ku dengan Deva?"
suara Della yang manja-manja emoy tadi, kini berganti tajam.
"maafkan saya nona Della. saya tidak bermaksud begitu. tapi itu sudah sesuai jadwal nona"
Dira membungkuk sopan. caera mulai jengah melihat itu.
"tapi tidak terlihat begitu" Della memandang Dira skeptis. " saya sudah meminta pertemuan ini dari Minggu yang lalu. tapi kenapa selalu di undur?"
"jadwalnya sudah di tentukan begitu nona"
jawab Dira lagi.
"saya rasa kau sengaja ya, tidak mau mempertemukan ku dengan kekasih ku?"
Della tampak marah pada Dira.
__ADS_1
"haaa!! kekasih?"
celetuk caera spontan.suara itu hampir berteriak. hatinya mencelos mendengar itu. makin melongo menatap Della tak berkedip.
Della menoleh ke arah caera dengan lambat. seakan menunjukkan sikap bangga dia adalah kekasih Deva.
"iya. kenapa? saya kekasihnya"
Della agak membuka matanya lebar menatap caera dengan sikap angkuh.
Dira menarik tangan caera dengan cepat. melirik caera dan memicingkan matanya memberi isyarat agar caera berhenti menjawab.
"nona Della" Dira cepat menyela, agar Della mengalihkan perhatiannya dari caera. "nanti saya akan coba mengatur ulang jadwal tuan Deva. mungkin dua hari lagi saya akan mengabari pihak anda"
Della melipat tangannya di bawah bongkahan gunung di dadanya, yang terlihat seperti akan ambrol kebawah.
"apa begitu sulit, kalau ingin bertemu kekasih sendiri?"
ujar Della sarkas.
"maafkan kami nona"
Dira membungkuk lagi.
"baiklah. sampaikan pada kekasih ku Deva. kalau aku datang ingin bertemu dengannya"
ujar Della menaikkan dagunya.
"baiklah nona. saya akan sampaikan itu nanti, pada tuan Deva"
Dira mencoba bersikap sesopan mungkin.
"dan katakan pada teman mu ini" Della melirik caera sinis " jaga sikapnya pada kekasih bosnya. atau dia akan di pecat nanti"
setelah mengatakan itu, Della beranjak pergi dari hadapan caera dan Dira. mengibaskan rambut panjang warna cola itu. melenggak lenggokkan pinggulnya seakan mengatakan pada caera, kalau dia adalah wanita tersexy sejagat raya.
caera masih terpaku menatap Della sampai menghilang di dalam lift. Dira sampai menjetikkan jarinya di depan wajah caera.
"kak. kak caera?"
dira mengguncang tubuh caera halus.
perlahan, caera mengalihkan pandanganya dari lift yang telah menutup itu, pada Dira.
"dia pacar tuan Deva, dir?"
tanya caera tak percaya.
"dia yang bilang begitu kak"
jawab Dira.
astaga!
caera jatuh terduduk di kursinya. pandangannya kosong dengan mulut melongo tak percaya Deva punya kekasih yang penampakannya lebih mirip dengan gadis penggoda.
"itu kata nona Della kan kak. bukan kata tuan Deva"
cepat-cepat Dira mengklarifikasi ucapan sebelumnya.
uufff...
lemas caera menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sampai sedikit melorot kebawah. kaget bukan main dengan selera Deva yang suka dengan gadis berpenampilan terbuka seperti Della.
caera menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
ya ampuunn... seberat inikah berada di dekat Deva? tadi deva sedang sibuk bersama Gisel. sekarang ada gadis macan tutul yang mengaku kekasihnya.
hhhuuuhhhh....