DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 44


__ADS_3

caera berdiri di depan gedung perusahaan tempatnya akan menjalani hari-hari dengan kesibukan. tertulis sangat besar di depan gedung nama perusahaan ini.


ELLIOT CORP


hari masih terlalu pagi. keadaan masih sepi. caera tidak mau terlambat di hari pertamanya bekerja. hari ini juga bertepatan Gino mendaftar di sekolah baru taman kanak-kanak. caera meminta Bima untuk mengantarnya nanti.


caera masuk ke area lobi. terlihat sepi. hanya ada beberapa petugas kebersihan yang sibuk membereskan area sekitar lobi. dan seorang reseptionis yang sudah datang, sedang sibuk di depan meja reseptionis.


caera mendekat. seorang gadis cantik tersenyum ramah padanya. sekilas caera melirik bet nama di dadanya. Sisil. itu nama gadis resepsionis ini.


terlihat lagi nama perusahaan ini terpampang besar-besar di dinding belakang meja resepsionis. begitu mewah dengan warna gold mengkilap.


"selamat pagi nona"


"selamat pagi"


"ada yang bisa saya bantu nona?"


"saya ingin bertemu dengan bapak Erik"


"siapa nama anda Nona?"


"caera. caera Anaya"


gadis itu memeriksa catatan di mejanya. sekilas ia tampak agak mengerutkan dahi. mendongak melihat caera, dan menunduk lagi memegang telpon di sampingnya. sepertinya dia akan menelepon Erik.


caera tidak memperhatikan apa yang di bicarakan gadis itu di telepon. caera lebih senang memperhatikan para OB bekerja.


"nona"


caera menoleh.


"ya"


"silahkan anda duduk dulu. bapak Erik sebentar lagi akan datang"


Sisil menunjuk sofa yang ada ditengah-tengah lobi. tapi caera melihat ada bangku yang berjejer di sebelah meja reseptionis yang tinggi itu.


"baik lah. saya menunggu di situ saja. terima kasih"


caera beranjak ke barisan kursi yang berjejer. tapi Sisil cepat-cepat mencegahnya.


"ee.. maaf nona caera. sebaiknya anda duduk si sofa yang itu saja"


caera menoleh melihat Sisil yang melarangnya duduk di deretan kursi di sebelah mejanya.


"sama saja nona"


caera tersenyum bingung.


"ini perintah pak Erik nona. di sofa yang sebelah sana"


Sisil menunjuk sofa yang di bagian tengah.


caera tidak mau berdebat dengan gadis ini lagi. Sisil hanya di perintahkan begitu. jadi dia harus menyampaikan itu pada caera.


"baik lah. terima kasih"


caera tersenyum dan melangkah menuju sofa di tengah lobi. duduk di sana menunggu kedatangan Erik.


agak heran saja ketika Sisil memaksanya duduk di sofa ini. padahal menurutnya akan sama ia duduk di mana saja. yang paling penting hanya bertemu Erik.


agak lama caera menunggu. satu persatu karyawan sudah berdatangan. suasana sudah mulai ramai. caera hanya memperhatikan mereka. dia membayangkan nanti dia juga akan sesibuk para karyawan itu.


menyiapkan ini dan itu, menghadiri rapat, dan masih banyak lagi yang pastinya itu akan membuatnya bersemangat menjalani hari-hari.

__ADS_1


dari arah pintu masuk, caera melihat Erik sudah datang. berjalan mendatangi tempat caera duduk. caera langsung berdiri menyambut Erik. Erik tampak sedikit tergesa-gesa.


"selamat pagi nona caera"


Erik mengulurkan tangan dan caera menyambutnya.


"pagi pak Erik"


"maaf sudah membuat anda lama menunggu"


"ah tidak apa-apa pak. saya datang terlalu pagi"


caera tersenyum kikuk. masak iya jadi Erik yang minta maaf? harusnya kan karywan baru yang minta maaf sudah membuat Erik terburu-buru.


"baik lah nona, ayo ikut saya. kita menunggu di lantai atas saja. sebentar lagi CEO akan datang"


Erik melangkah menuju lift. caera mengikutinya di belakang. Sisil memperhatikan caera dengan seksama dari mejanya. sebelum melewati meja resepsionis, caera menatap Sisil dan tersenyum pada gadis itu. Sisil tampak gugup karena kedapatan memperhatikan caera. membalas dengan canggung senyuman caera.


Erik membawa caera memasuki lift khusus yang hanya bisa di pakai oleh pejabat penting di perusahaan. hanya ada mereka berdua di dalam. hanya berdua begini di dalam lift membuat caera agak sedikit canggung. apalagi Erik hanya diam saja. tidak mengajaknya bicara. mereka menuju lantai paling atas gedung.


lift terbuka. mereka keluar dari lift. terlihat lorong panjang di depan mereka. beberapa pintu besar ada di kanan kiri lorong dan ada tulisan menempel di pintu menunjukkan ruangan siapa saja itu.


di bagian tengah, ada meja seperti meja resepsionis di lobi tadi. terlihat ada seorang gadis cantik duduk di sana. sibuk dengan berkas-berkasnya.


begitu melihat pada Erik dan caera, gadis itu tersenyum.


"selamat pagi pak Erik"


"selamat pagi Dira"


gadis itu bernama Dira. berwajah oval dengan senyum yang menawan. sangat manis dengan rambut lurus sebahu.


"ini nona caera" Erik memperkenalkan caera pada Dira. caera dan Dira saling berjabat tangan. "nona caera akan bertemu CEO nanti"


kata Dira mengerti.


"baik lah. sampai di sini kamu ambil alih. beri pelayanan terbaik buat nona caera"


"baik pak"


"nona caera, Dira akan menemani anda. kalau begitu saya permisi"


"baik pak. terima kasih"


caera dan Erik berjabat tangan. setelah itu Erik pergi meninggalkan mereka berdua. kini caera dengan Dira.


"nona, silahkan anda menunggu di sini"


Dira mengajak caera memasuki sebuah ruangan tunggu khusus tamu CEO. di kelilingi sofa berbentuk U. caera masuk dan duduk di sana.


"saya tinggal dulu nona. CEO sebentar lagi akan datang"


caera hanya tersenyum. Dira keluar ruangan. caera tidak tahu kemana Dira pergi.


uuffffhhh... menunggu lagi? kenapa lama sekali sih CEO ini datang? pasti masih sibuk dengan istrinya pagi-pagi begini


caera agak bosan. sudah jam delapan tapi CEO belum datang. dia membuka ponselnya. teringat nama perusahaan tadi, caera mulai menelusuri di ponselnya.


dia sudah melakukan itu sih. tapi mungkin saja ada yang terlewatkan olehnya. Dira muncul lagi di pintu. masuk dengan membawa gelas minuman dan meletakkannya di meja.


"silahkan di minum nona"


caera menatap gelas itu. begitu exlusive kah semua karyawan baru di perusahaan ini? sampai-sampai mereka memberikan layanan lebih pada caera yang melamar pekerjaan ini?


"nona Dira"

__ADS_1


caera menghentikan Dira yang sudah sampai di pintu.


"ya nona"


"maaf, boleh saya tanya?"


"ya nona"


"CEO masih lama?"


Dira melihat jam tangannya sekilas. dia tahu CEO pasti datang agak lama. tapi dia tidak mau membuat caera merasa bosan.


"mungkin sebentar lagi nona"


"siapa nama CEO itu?"


Dira diam tidak menjawab. caera agak tidak enak hati menanyakan nama CEO mereka. karena tadi dia searching juga tidak menemukan nama CEO perusahaan ini. mungkin mereka sengaja tidak menampilkan pemilik perusahaan.


"nanti anda bisa bertanya sendiri nona"


Dira menolak mengatakan. caera jadi tambah tak enak hati. Dira melangkah pergi. caera jadi makin merasa aneh. kenapa Dira menolak memberi tahu? ada apa sebenarnya?


tak lama, Dira muncul lagi. dengan sikap hormat Dira memberitahukan jika CEO sudah datang. dan caera di minta masuk ke ruangannya.


caera bangkit dari duduknya. merapikan pakaiannya dan sedikit bercermin sebentar. hatinya berdebar menantikan bertemu dengan CEO yang menerimanya sebagai sekretarisnya.


dalam hatinya caera berpikir, pasti lah CEO ini sudah tua dan berperut buncit. tidak masalah baginya siapapun orangnya. yang terpenting adalah kerja. dia harus menyakinkan bisa melaksanakan tugas sebaik-baiknya.


caera berdiri di depan pintu yang di bagian atas tertempel tebal logo CEO dan di bawahnya tertulis Chief Executive Officer.


dag Dig dug jantungnya. dengan ragu mengetuk pintu. tidak ada jawaban dari dalam. agak sedikit lama menunggu, lalu pintu terbuka.


pintu terbuka setengah. caera tidak melihat seseorang menyambutnya. dengan memberanikan diri, caera melangkahkan kakinya selangkah melewati ambang pintu. . melongokkan kepalanya sedikit. terlihat seseorang duduk di kursi kebesarannya membelakangi caera.


"permisi tuan, boleh saya masuk?"


masih permisi untuk masuk.


"hmm"


jawab orang itu.


eh ๐Ÿคจ hanya hmm? ๐Ÿค” jangan-jangan bosnya ini bisu kah? dan suara itu? pernah dengar deh


dengan menerka-nerka, caera memberanikan diri masuk ke dalam. dia tidak melihat seseorang yang ada di belakang pintu. hanya memperhatikan bosnya di belakang meja.


"tuan"


caera mencoba menyapa. tapi tak ada jawaban.


ia merasakan pintu tertutup. caera menoleh ke belakangnya. begitu menoleh, caera terjengkit kaget.


astaga!! itu si robot kaku!!


terlihat Jacko berdiri tegak di sana. menatapnya datar tanpa expresi. tapi, kalau itu Jacko, pastilah yang di kursi yang membelakanginya itu.....


pelan-pelan sekali caera menoleh ke depannya lagi. takut jika yang di pikirkannya adalah benar. melirik sedikit demi sedikit.


tak menyangka orang yang di kursi kebesarannya itu sudah membalikkan kursinya menghadap caera sewaktu caera melihat ke arah pintu yang menutup.


seperti di dalam ruangan horor saja jadinya. takut melihat ke arah orang di depannya. caera melihat jas warna navi di bagian lengan. dan perlahan melihat ke arah wajah si pemilik perusahaan.


begitu melihatnya, caera membelalakkan matanya sempurna. tak menyangka siapa yang duduk di depannya.


"selamat datang sayang"

__ADS_1


__ADS_2