
caera melangkah naik ke lantai atas lagi. mencari ruangan fitness Deva seperti yang sudah di tunjukkan endang tadi.
akhirnya menemukannya paling ujung di lantai atas. ruangan ini tak berpintu. hanya ada pembatas ruangan. terlihat Deva sedang berlari di treadmill.
caera masih berdiri memperhatikan dari pembatas ruangan. ruang fitness ini berpintu kaca yang langsung menghubungkan ke balkon dan menghadap ke hutan Pinus di luar.
Deva hanya mengenakan celana pendek dan tidak mengenakan baju. tampak peluh bercucuran di tubuhnya. membuat tubuh liat itu terlihat mengkilap.
Deva memurunkan kecepatan treadmill nya. kini berjalan santai. merasa ada yang memperhatikan, Deva menoleh. lalu tersenyum melihat caera berdiri memperhatikannya.
"selamat pagi sayang"
Deva berhenti. turun dari treadmill dan meraih handuk kecil yang di sampirkan di sepeda statis di belakangnya.
"selamat pagi Dev"
caera mendekat dan duduk di kursi. memperhatikan Deva menyeka keringatnya. Deva tersenyum menatap caera. lalu mendekat duduk di lantai di depan caera.
"mandi dulu Dev. sarapan mu sudah siap. nanti keburu dingin"
"tidak apa. nanti saja"
meraih tangan caera dan mengecupnya.
"cantik sekali pagi ini sayang"
"kenapa pagi ini? biasanya aku jelek, begitu?" caera mengernyit.
"tidak. setiap hari kamu cantik. tapi.. "
"apa?"
"setelah tadi malam, kamu jadi makin cantik"
wajah caera terasa panas. memalingkan wajahnya menoleh ke arah hutan Pinus di depannya.. teringat apa yang di lakukan Deva tadi malam padanya.
"hahaa.. kamu selalu manis kalau begini sayang"
Deva terbahak melihat caera gugup dengan semburat pipi merah jambunya. wanitanya ini masih sangat pemalu.
"kamu mesum Dev" caera menghempaskan tangan Deva. tapi tidak terlepas. Deva makin tertawa lebar.
"kamu suka kan sayang?"
"iissshh.. sudah ah. mandi dulu sana. ayo sarapan. aku lapar"
"ck, padahal aku belum dapat morning kiss" bujuk Deva.
"nanti. sekarang mandi dulu"
"janji ya sayang?"
"cuma morning kecup. tidak pakai kiss"
"haha.. sama saja"
"tidak. jangan usil kamu"
caera beranjak menjauh. Deva hanya tertawa melihat caera pergi tergesa meninggalkannya. Deva sangat suka melihat caera gugup dengan keusilannya. membuat wajah cantik itu bersemu merah adalah favoritnya.
****
setelah sarapan, caera minta di antar pulang. ia ingin ke rumah ibunya. Gino juga ada di sana. Deva menuruti. dia juga masih ada pekerjaan hari ini.
Jacko meneleponnya tadi. mengatakan ada yang harus di diskusikan. mengantar caera sampai di depan rumah ibunya. Deva tidak ikut turun. langsung pergi menemui Jacko.
caera masuk ke rumah, dan menemui ibu. tapi ibu masih menerima telepon dari seseorang. dia tidak melihat Gino. mungkin pergi ke toko bersama ayahnya. caera hanya duduk memperhatikan ibunya yang masih asik berbicara di telepon.
"iya jeng. saya sudah siapkan itu"
ibu menoleh melihat caera. dan menggerakkan tangannya agar caera sabar menunggu. lalu kembali asik bicara. caera hanya mengangguk.
__ADS_1
"oohhh.. iya iya.. jadi, peresmiannya sekalian?"
"sudah Loh jeng. he'em.. hihihii.. iya jeng.. ya sudah. baik baik jeng. iya jeng"
ibu menyudahi teleponannya. lalu mendekat pada caera. terlihat wajahnya sangat sumringah. bahagia sekali.
"telepon siapa Bu?"
"calon besan"
"apa?"
uuppss!! ibu menutup mulutnya. sudah keceplosan bicara. melirik caera lalu nyengir.
"maksud ibu, itu tadi teman ibu. anaknya mau melamar pacarnya katanya. hihihi.."
caera mengernyitkan dahi. heran saja melihat ibunya sangat centil hari ini. tidak bisanya ibunya bersikap begini.
"anak orang yang mau lamaran, kenapa ibu yang bahagia begitu?"
"yaaa.. namanya juga ikut bahagia Ra. kan tidak apa-apa" ibu mencolek lengan caera.
aneh ibunya hari ini. tapi caera tidak memperpanjang lagi. biasalah emak-emak. anak temannya yang mau nikah, eehh kita yang heboh.
"Gino mana Bu?"
"sama ayah mu ke toko"
ibu beranjak mengambil kotak kardus di atas meja. membawanya duduk lagi di dekat caera.
"Ra, menurut mu.. mana yang bagus?"
ibu memamerkan beberapa pernak-pernik untuk tanda terima kasih buat undangan pernikahan. yang tadinya caera sudah menghilangkan keheranannya, kini malah menatap ibunya makin heran.
"untuk apa sih Bu?"
"ya itu, untuk anaknya teman ibu loh Ra. udah cepetan.. kamu suka yang mana ini?" ibu memaksa caera memilih.
"alah.. pilihannya sama saja. kalian kan masih muda, jadi pastilah sama pilihannya. ayo kamu pilih Ra. lebih bagus yang mana?"
ibunya masih memaksa. caera jadi merasa makin aneh saja. ibunya ini kesambet apa sih jadi pemaksa begini?
tapi caera tetap menunjuk salah satu dari pernak-pernik itu. membuat Rani jadi tersenyum senang.
"waahh... pilihan mu tepat seperti selera ibu Ra"
astaga.. ini ibu ku apa bukan sih?
caera merasa ngeri melihat ibunya menatap pernak-pernik yang ia tunjuk seperti mendapat uang lotre milyaran rupiah.
"Ra, Gimana perkerjaan kamu?"
aaahh.. sukurlah.. akhirnya ibu normal lagi
"baik-baik saja Bu"
"sukurlah" Rani tersenyum menatap caera. "tapi Ra.."
"ya, Bu?"
Rani diam sejenak. sekarang menunjukkan wajah serius. caera sampai pusing melihat mimik muka ibunya yang berubah-ubah hari ini..
"kalau ada yang melamar kamu, kamu mau tidak?"
"apa?!"
caera kaget. ibunya membuat jantungnya hampir copot.
" siapa yang mau ngelamar Rara? jangan becanda deh Bu"
"ya, apa salahnya Ra. kamu kan sekarang sendiri. Gino juga membutuhkan sosok ayah. kan tidak salah kalau ada yang mau serius sama kamu" ibu membela diri.
__ADS_1
"aduuhh.. ibu jangan buat rara pusing Bu. Rara kan tidak kenal siapa orangnya. masak langsung main lamar aja?"
"ibu sudah kenal Ra. orangnya ganteng, kaya, punya kerja bagus. pokoknya kamu pasti suka"
ibu promosi calon mantu.
caera memijit keningnya. pasti ibunya kesambet ini. tidak pernah ibu bersikap begini pada caera. ibu selalu mempertimbangkan keinginan caera. ibu selalu bersikap bijaksana. tapi hari ini? apa benar ini ibunya atau tidak sih?
caera menatap ibunya serius. tidak berkedip. mencari-cari sesuatu di wajah ibunya.
"kenapa sih? kok lihat ibu begitu?"
"Bu, ibu sarapan apa tadi pagi?"
caera menyentuh kening ibunya. mengukur suhu tubuhnya. memastikan ibunya baik-baik saja.
"iihh.. apa sih Ra?" ibu menepis tangan caera dari keningnya.
"kenapa ibu jadi beda begini sih? ibu masih ibunya Rara kan?" caera menatap ibunya serius dengan alis bertaut.
"ya iya lah. masak ibunya ayah mu?"
caera jadi tertawa mendengar jawaban ibunya.
"tapi kenapa ibu bilang begitu? caera tidak kenal lelaki itu. mana caera mau langsung di lamar"
"oohh.. jadi kamu mau kenal dulu? biar ibu suruh dia datang ya?"
ibu memegang ponselnya siap untuk menghubungi. caera cepat-cepat mencegah dengan memegang tangan ibu.
"eehh.. jangan jangan Bu"
"katanya mau kenal?"
"ya tidak lah Bu"
"kenapa? kamu sudah punya yang lain?"
deg!
yang lain? Deva? apa harus bicara sekarang kalau dia punya Deva? apa tidak terlalu cepat? tapi.. di lamar? ya ampuunn.. caera juga tidak kenal siapa lelaki itu.
"kamu punya pacar Ra?" Rani mengulangi pertanyaannya.
"tidak Bu. tapi, ibu jangan terima gitu aja dong kalau ada yang mau melamar. Rara kan belum tahu orangnya"
"anaknya baik Ra. itu tadi ibunya yang telepon. katanya sudah siap mau ngelamar kamu" ibu tersenyum lebar.
wajah itu... ya Tuhan.. wajah ibu bahagia sekali..
"astaga.. terus ibu terima?" caera menegang.
"yahh.. ibu pikir apa salahnya. kamu juga sendiri kan? jadi ibu iyakan saja"
mampus!!
caera menepuk jidatnya. tak habis pikir kenapa ibunya jadi tidak punya pertimbangan sedikit pun tentang hatinya.
ibu kesambet ini!
fix!!!
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
makasih buat semua readers setia Deva & Caera. karya otor masuk rekomendasi opening banner nih 🥰🥰😍😍🌹🌹
tanpa kalian karya otor gak ada apa-apanya 😌🙏
dukung terus ya. bantu otor semangat buat up setiap hari.
hehee.. emak-emak rempong tetap semangat ya 💪😂
__ADS_1