
rumah Arya terlihat sepi. caera, Dinda, dan Bima masih duduk di dalam mobil, belum berniat untuk turun. caera memandangi rumah yang dulu tempatnya bernaung. kini rumah itu seperti tempat asing yang pernah ia tinggali.
"kau yakin ingin masuk kak?"
tanya Bima masih menatap rumah itu.
"harus Bim. surat-surat itu penting untuk Gino"
jawab caera.
"aku ikut masuk Ra"
Dinda menyahut.
"tapi, kamu tetap di mobil saja Bim. aku tidak mau terjadi keributan"
ujar caera cemas.
"hey, aku bukan penagih utang Ra"
ujar Bima jengkel.
"pokoknya kau di mobil saja Bim"
caera menegaskan.
Bima memutar bola matanya malas. kakaknya ini sungguh takut jika dia tidak bisa menahan emosi.
tadinya caera tidak ingin Bima ikut ke rumah Arya, untuk mengambil beberapa surat penting milik Gino. karena Gino akan mendaftar masuk sekolah. caera tidak membawa apapun dari rumah Arya waktu ia pergi dulu. tapi ia hanya ingin meminta beberapa dokumen penting milik Gino.
dia sudah meminta Dinda untuk menemaninya. tapi Bima memaksa ikut. dengan terpaksa caera mengijinkan. dia hanya takut Bima tidak bisa menahan emosi nanti.
caera dan Dinda turun dari mobil. memencet bel yang ada di dekat pagar. selang beberapa menit, bik sari datang berlari-lari kecil dan dengan wajah sumringah melihat caera ada di depan pagar.
"nyonya.."
bik sari buru-buru membuka gerbang. wanita itu seperti ingin memeluk caera. matanya berkaca-kaca ingin menangis.
"bik sari, apa kabar?"
"nyonya.."
bik sari tak bisa melanjutkan kata-katanya. menyambut uluran tangan caera menyalaminya. air mata itu tumpah. ingin rasanya ia memeluk mantan majikannya ini. tapi dia segan dan takut.
"kenapa nangis bik?"
caera menepuk-nepuk punggung bik sari.
"saya kangen sama nyonya"
wanita berusia empat puluhan tahun itu menatap caera dengan berurai air mata.
"saya juga kangen sama bibik"
caera segera memeluk bik sari yang sudah menemaninya bertahun-tahun di rumah Arya.
"tuan mu ada?"
tanya caera setelah melepas pelukannya.
"ada, nyonya. tapi..."
berkataan bik sari menggantung. ia melirik ke arah rumah. caera mengikuti pandangannya.
"kenapa bik?"
"itu nyonya.. anu.."
bik sari tampak gugup dan ada rasa ngeri di wajahnya.
"kenapa bik?"
tanya caera lagi.
"ada nyonya Maya juga, nyonya"
bik sari bicara takut-takut. karena ia tahu bagaimana pedasnya mantan mertua caera jika berbicara pada mantan mantunya ini.
caera hanya tersenyum. ia mengerti kecemasan bik sari.
"tidak apa-apa. ayo, panggilkan tuan mu"
mereka melangkah ke teras rumah. caera dan Dinda menanti di sana. sedangkan bik sari masuk ke dalam rumah.
tidak berapa lama Arya muncul. menatap takjub kepada caera. tidak percaya caera datang ke rumahnya.
__ADS_1
"caera"
segera Arya ingin memeluk caera. tapi caera langsung menepis tangannya keras.
"apa-apaan sih kamu"
dengan kecewa Arya mengurungkan niatnya. berdiri mematung memandangi caera. ternyata caera datang bukan ingin bertemu dengannya.
"aku ke sini hanya untuk meminta surat-surat penting Gino. apa kau bisa memberinya?"
ujar caera
"masuk lah dulu"
Arya mempersilahkan.
caera dan Dinda saling berpandangan. bimbang ingin masuk atau tidak.
"sebaiknya tidak usah. kami di sini saja. kau saja yang mengambil"
ujar caera. Dinda hanya diam memperhatikan.
Arya menghela napas berat. menatap caera memohon.
"masuk lah Ra. ini rumah mu juga bukan?"
"itu dulu. sekarang tidak"
ujar caera dingin.
" masuk lah Ra. lebih baik menunggu di dalam"
arya tak putus asa mengajak caera dan Dinda masuk.
caera menatap Dinda. dan Dinda mengangguk.
"baik lah"
mereka masuk kedalam rumah. caera mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. menghirup udara rumah itu dalam-dalam. ada rasa rindu menyusup masuk ke dalam hatinya.
Arya mempersilahkan mereka duduk. caera dan Dinda duduk di sofa ruang tamu. seperti orang asing yang bertamu ke rumah teman lama saja rasanya.
letak perabotan rumah masih seperti dulu. yang beda hanya tidak ada lagi foto dirinya bersama Arya di mana saja. serasa hatinya tergores sembilu. ia sadar rumah ini bukan tempatnya lagi.
Maya dan Vivi menegang. berdiri mematung dan membulatkan matanya sempurna. tidak percaya kalau caera lah yang ia lihat sekarang duduk di sofa rumah anaknya.
"hey! mau ngapain lagi kamu ke sini?"
hardik Maya keras dengan wajah bengis menatap caera.
"ibu!"
Arya terlihat marah menatap ibunya.
Maya memapah Vivi lagi dan mendudukkan Vivi di sofa dekat televisi. Vivi terlihat seperti orang sakit. mungkin ngidam karena kehamilan nya. lalu Maya berjalan mendekati caera dan Dinda.
"ngapain kamu ke sini? bukannya kau sudah di ceraikan Arya?"
Maya melotot marah.
"ibu, apa-apaan ibu ini"
Arya mendekat pada ibunya dan menarik lengannya. tapi Maya menghempaskan tangan Arya dari lengannya.
"berani sekali kamu ke sini lagi. apa tidak malu?"
caera masih diam saja. malas menjawab tuduhan mantan mertuanya ini. percuma saja menjawab nenek sihir yang sedang ngomel.
"jaga bicara anda nyonya!"
dinda berdiri menantang Maya. geram ingin meremas mulut wanita paruh baya itu.
"heh, kau pengawalnya ya?"
Maya tersenyum mengejek menatap Dinda
"ibu, tolong jangan begini Bu. caera datang hanya ingin meminta surat-surat dokumen Gino"
Arya berusaha melerai.
Maya diam hanya melirik sinis pada caera dan Dinda. sementara Vivi hanya terduduk lemah sambil sibuk memijit keningnya.
caera tidak ingin melihat Vivi. menganggap Vivi tidak ada di sana. hatinya berdebar menahan rasa sakit. kalau tidak karena surat-surat penting milik Gino, dia tidak akan Sudi menginjakkan kaki di rumah ini lagi.
"Arya, tolong cepatlah ambil surat-surat itu. rumah mu ini terasa panas"
__ADS_1
celetuk Dinda sarkas sambil melirik skeptis ke arah Maya.
Arya menarik napas berat. situasi ini sangat menekannya. wanita-wanita ini serasa ingin menyerang satu sama lain. apalagi ibunya yang terlihat benar-benar membenci caera.
"Ra, ayo kita ambil suratnya"
ujar Arya mengajak caera mengambil dokumen Gino di kamarnya.
"apa? kenapa harus dia, Arya?" maya melotot ke pada Arya. " kau saja yang ambil. kenapa mengajak dia sih?"
"ibu. aku tidak tahu di mana caera menyimpannya"
Arya kesal dengan sikap ibunya. dia ingin memisahkan caera dari kata-kata kasar Maya. dan mencari alasan untuk bisa berdekatan dengan caera.
rasa marah terpercik di hati caera. Maya sudah sangat keterlaluan membencinya. padahal bukan salahnya juga jika tidak bisa mengandung. dia bukan tuhan yang bisa menumbuhkan bayi di dalam rahimnya.
caera berdiri. timbul rasa keberanian di hatinya. tanpa melihat pada mantan mertuanya yang sedang melotot marah, dia beranjak menuju tangga ke lantai atas.
"Din, tunggu aku di sini"
Dinda hanya mengangguk. caera berjalan tak menghiraukan tatapan marah Maya. Arya mengikutinya.
"Ar, aku mau muntah lagi. tolong Ar"
Vivi berkata lemah. berusaha mencegah Arya ikut naik ke lantai atas.
Arya dan caera berhenti. menoleh pada Vivi yang terlihat pucat.
"kau dengan ibu saja"
jawab Arya ketus.
"tapi, aku mau dengan mu"
Vivi merengek manja.
cih.. tidak tahu malu
Arya diam tak menjawab lagi. Caera membuang pandangannya. memutar bola matanya malas. merasa mual dengan sikap Vivi yang sok manja. apa lagi Dinda, dia menatap Vivi dengan benci.
caera melanjutkan langkahnya. ketika Arya mengikutinya lagi, Maya berseru kencang.
"oh ya, aku lupa. kalau kau ingin mengambil barang-barang mu juga, sudah aku kumpulkan di dalam gudang"
kata-kata Maya serasa menampar jantung caera. barang-barangnya di taruh di gudang? itu penghinaan. tapi caera coba menahan diri jangan sampai ia membalas dengan makian.
"ARYAAA!!!"
teriak eseorang berlari menerobos masuk ke dalam rumah. mereka semua tidak menyadari jika Bima ternyata sudah berdiri sedari tadi di teras rumah dan mendengarkan percakapan mereka.
Bima berlari kencang ke arah Arya dan menerjangnya keras.
BHUUUKKK!!!
Aaaaaaa.....
mereka semua berteriak. Bima menerjang Arya yang ada di tangga. Arya tidak dapat menghindar karena itu sangat tiba-tiba. arya langsung terjerembab jatuh dan bergulingan ke bawah. Bima mengejarnya lagi. menarik kerah baju Arya dan memberi bogem mentah ke wajahnya.
BHUUUKKK... BHUUUKKKK..
"pecundang kau!!! kakak ku di hina dan kau diam saja?!"
Bima berseru bagai harimau sedang marah. wajahnya memerah karena marah mendengar caera selalu di hina Maya sedari tadi.
caera berlari turun dan menarik tangan Bima mencoba memisahkan.
"Bima!! sudah! lepaskan Bim! jangan begini!"
Vivi yang sedari tadi lemah juga sudah berlari menarik-narik tubuh Arya agar terlepas dari cengkraman tangan kekar Bima yang siap menghajar Arya lagi.
Maya marah memukuli tangan Bima agar melepaskan anaknya.
"hey... lepaskan! lepaskan tangan mu!"
Dinda ikut melerai lelaki kekar itu menjauh dari Arya.
dengan kasar Bima melepaskan cengkramannya dari kerah baju Arya. Arya terhunyung kebelakang dan meraba bibirnya yang robek berdarah terkena bogem mentah Bima.
"Bim, apa-apaan sih kamu?? aku sudah bilang kamu tunggu di mobil"
caera marah pada Bima.
"aku di mobil, sementara kau di hina di sini?!"
seru Bima tak kalah marah. menatap Maya seakan ingin meremukkan tulang belulang wanita paruh baya itu.
__ADS_1