
pagi
dingin
redup
rumah bukit berkabut. pagi ini dingin menusuk. caera membuka matanya dan mengerjap malas. terdengar dengkuran halus di sebelahnya.
Deva tidur memeluknya dengan wajah menempel di lengannya. lucu dan menggemaskan wajah tampan itu.
caera menatap langit-langit kamar. mengingat kejadian semalam. wajahnya terasa panas mengingat Deva mengombang ngambing has ratnya sampai tuntas.
tapi baiknya pria ini tak menuntut menuntaskan has ratnya pada caera. dia malah tertidur pulas setelah membawa caera ke kamar mandi dan membiarkan caera membersihkan intinya.
Deva malah mencandainya dengan mencium jarinya. dia bilang tidak akan mencuci jari itu untuk seminggu kedepan. itu membuat caera melempar handuk ke wajahnya dengan wajah merah padam.
dengan terbahak Deva mencuci tangannya lalu membopong caera lagi membawanya keranjang. dengan perhatian penuh, Deva membelai rambut caera dan tertidur pulas.
aahh.. makin cinta rasanya pada lelaki ini. tapi, bagaimana Gisel malah tidak jatuh cinta padanya? apa wanita itu tidak membuka matanya dengan baiknya Deva? atau Deva tidak bersikap semesra ini pada Gisel?
caera menoleh dan melihat wajah Deva dalam tidurnya yang damai. sungguh tampan wajah ini. caera selalu mengagumi wajah tampan Deva. hatinya selalu berdebar ketika Deva diam begini. ingin meremas gemas wajah itu saking tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata.
"uuuhhmmm.."
Deva menggeliat makin merapatkan pelukannya. caera menahan napas ketika tangan Deva menindih dadanya. menangkupkan tangan itu di tonjolan bukit kembarnya. meremas pelan sejenak lalu diam lagi.
pria ini sangat mahir membuatnya terbang. penuh sensasi mengukir indah di tubuhnya. banyak pertanyaan di benak caera. apa Deva sudah sering melakukannya? dengan siapa? gadis panggilan? atau... Gisel?
ahh.. apa perlu dia tahu itu? Deva juga tidak pernah bertanya macam-macam padanya tentang Arya. untuk apa dia banyak pertanyaan tentang Deva?
pelan-pelan caera menggeser tangan Deva ke samping. dia ingin mandi. Deva menggeliat sebentar dan melepaskan tubuh caera dari pelukannya.
caera bangkit dan beranjak ke kamar mandi membersihkan diri. membiarkan Deva masih tertidur.
****
begitu keluar kamar mandi selesai membersihkan diri, caera tak mendapati Deva di ranjang lagi. mungkin dia sudah bangun dan keluar kamar.
caera mencari pakaiannya di ruangan walk in closed. waktu itu Deva menunjukkan banyak pakaian untuknya. dan benar saja. pakaian itu masih banyak. caera memilihnya, mengenakan baju itu, dan bersiap turun ke lantai bawah.
membuka pintu kamar tapi tak menemukan siapa pun. caera belum pernah melihat keadaan seluruh rumah bukit. ia hanya sampai di kamar lalu pergi lagi.
melihat ke arah bawah. mungkin dapur ada di sana. ia ingin menyiapkan sarapan pagi. melangkah menuruni tangga dan berbelok ke arah kanan.
rumah ini cukup besar. banyak ruangan yang caera tidak tahu apa saja di dalamnya. caera terus melangkah lebih ke belakang. terdengar orang bicara. caera melihat di dapur, ada seorang wanita setengah baya dan seorang lelaki yang hampir sama umurnya.
"selamat pagi" sapa caera.
"nona"
pelayan itu menoleh dan membungkuk hormat. dan lalaki yang duduk di meja makan juga langsung berdiri.
"tidak apa-apa pak. duduk saja" caera tak enak hati melihat lelaki itu jadi menghentikan membaca koran pagi.
__ADS_1
"tidak apa nona" jawabnya membungkuk hormat.
caera mendekat. duduk di kursi yang lain di meja makan.
"tidak apa-apa pak. ayo duduk lagi bersama saya di sini"
caera menggeser kursi yang di duduki tadi. tapi lelaki setengah baya itu menolak. sampai caera memaksanya dan lelaki itu menurut. duduk di tempatnya tadi.
"saya belum kenal bapak dan ibu. saya harus panggil apa ya?" tanya caera sopan.
"saya endang, nona. kalau ini, suami saya. Badi" endang menunjuk suaminya. Badi mengangguk hormat.
"kalau begitu, saya panggil Bu endang dan pak Badi, ya?"
"iya, nona"
endang mengangguk lagi. caera tersenyum ramah.
"bapak sama ibu, tinggal di sini?"
"iya nona. itu di paviliun belakang" bu Endang menunjuk bagian belakang rumah bukit.
caera melongokkan kepalanya melihat paviliun di belakang. cukup besar juga.
"hanya berdua?"
"tidak nona. ada anak saya Arif dan Asnah"
"kok saya tidak lihat?"
"oohh.. begitu"
Bu endang tersenyum kikuk. dan pak Badi hanya menunduk memandangi kopi di meja.
"Bu endang lagi masak apa?"
"ini nona. saya buat sarapan untuk tuan Deva. roti panggang dan teh hijau"
"boleh saya bantu?"
"tidak usah nona. nona caera duduk saja. biar saya yang siapkan sarapan nona dan tuan Deva" endang menolak.
caera tidak memaksa. hanya tersenyum menunggui Bu endang masih merebus air. pak Badi segera menghabiskan kopinya. sangat merasa segan pada caera. ingin cepat-cepat keluar rumah.
"saya permisi nona. mau bekerja lagi" pamit pak Badi.
"ohh.. baik pak. maaf saya mengganggu waktu istirahat bapak"
"tidak nona. memang sudah waktunya saya kerja. permisi nona"
caera mengangguk. pak Badi keluar dari dapur. caera hanya memperhatikan. agak tidak enak juga dia merasa mengganggu pak Badi minum kopi. tapi dia merasa sunyi.
"Bu Endang sudah lama kerja di sini?"
__ADS_1
"sudah nona. dari tuan Deva tamat SMA, saya sudah kerja di sini"
"wah sudah lama"
"iya nona"
caera pikir, rumah bukit ini masih baru. ternyata sudah lama juga.
"saya tidak lihat tuan Deva. di mana dia?"
"tuan Deva jam segini kalau di rumah, lagi olah raga di ruang atas nona"
caera manggut-manggut saja. sunguh! caera benar-benar buta tentang Deva. dulu ia tidak pernah berpikir akan menjadi sedekat ini dengan Deva. jangankan cari tahu, memikirkan Deva pun tidak pernah.
menurutnya mana mungkin Deva akan jadi kekasihnya. dia bekerja di kantor Deva juga masih hitungan beberapa bulan terakhir ini. jadi caera seperti baru mengenal Deva sejak bekerja. itupun hanya sebatas bos dan karyawan.
"tuan Jacko juga tinggal di sini?"
"tidak nyonya. tuan Jacko kadang pulang kerumahnya. hanya sesekali tidur di sini" jawab Endang sambil tangannya bekerja.
caera merasa beruntung pagi ini bertemu endang. dia bisa dapat informasi lebih tentang Deva dan Jacko.
"Bu Endang"
"ya nona" Endang menoleh menatap caera.
"eemmm.." caera ragu. tapi rasa penasaran mengalahkan itu. "nona Gisel pernah ke sini?"
Endang agak terkejut. tak menyangka caera akan menanyakan itu. Endang masih diam.
"pernah tidak? atau perempuan lain, begitu?" caera masih mencoba menyelidiki.
endang menggeleng pelan. lalu berbalik lagi membelakangi caera.
"cuma nona satu-satunya wanita yang di ajak ke sini sama tuan Deva"
seeerrr..
jantung caera berdesir lembut. ada rasa bahagia mendengar itu. tapi apa benar begitu? atau jangan-jangan endang berkata begitu karena takut padanya?
"tapi, saya lihat.. ada banyak pakaian wanita di lemari. siapa yang bawa?"
Endang terlihat berpikir sejenak. mengingat-ingat siapa yang membawa pakaian itu.
"oohh itu tuan Jacko. waktu itu pagi-pagi buta tuan Jacko bawa koper besar. isinya baju wanita"
"kapan?"
"itu kan untuk nona"
caera terdiam. bodoh sekali dia sudah mencurigai Deva. aahh.. payah!
caera menggeplak kepalanya sendiri. pikirannya sungguh picik memikirkan hal bodoh itu.
__ADS_1
tapi jangan salahkan juga. caera benar-benar buta tentang Deva. setelah melabuhkan cintanya, dia jadi merasa cemburu. apalagi mengingat panasnya Deva memperlakukannya dengan mesra tingkat dewa. caera jadi perpikir yang macam-macam.