DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 43


__ADS_3

kepuasan memerankan jadi kekasih caera itu membuat Deva merasa melambung tinggi. apalagi mendapat informasi dari Richard tentang caera sudah melamar pekerjaan di beberapa perusahaan, sangat menunjang bagi Deva untuk lebih berdekatan dengan caera.


Richard tidak menggubris kemarahan Deva sewaktu mengetahui Richard mengajak caera makan siang. tapi Richard mengganti kemarahan itu dengan info yang up to date. tentang caera.


malam ini, Deva, Richard, dan Jacko menghabiskan malam di club milik Deva. tapi mereka tidak berbaur dengan pelanggan club yang lain. mereka duduk di suite VVIP khusus untuk Deva di lantai paling atas gedung.


"hhh... kau menang banyak Dev"


Richard mengepalkan tinjunya untuk bertos ria dengan Deva. dan Deva menyambutnya dengan senang hati. balas meninju kepalan tangan Richard.


Richard mengetahui kejadian di coffee shop tadi siang dari Deva. karena Richard juga ada di kantor Deva ketika caera datang untuk interview.


"itu awal yang baik. aku bisa tetap menjadi kekasihnya setelah ini"


ujar Deva.


"masih harus tetap meyakinkan nona caera bos. sepertinya dia merasa aneh dengan kontrak kerjanya"


Jacko menimpali.


"kekasih ku itu sudah menandatangani kontrak itu Jack. aku yakin dia wanita yang taat peraturan kerja"


"itu semua berkat aku bukan? kau harus memberi ku hadiah"


Richard membusungkan dada dan menepuknya bangga tersenyum penuh arti pada Deva.


"tapi kau masih berutang pada ku"


ujar Deva seraya meneguk minumannya.


"hey.. utang apalagi? aku sudah menggantinya dengan informasi itu Dev"


Richard menegakkan badannya. merasa tidak terima Deva masih menuntutnya.


"tanpa izin ku, kau bawa wanita ku makan"


dengan tenang Deva bicara.


"kau mau dia tahu, kalau kau yang membayar ku menjadi pengacaranya? dia pasti akan curiga Dev"


"tetap saja. kau bisa memberi alasan lain"


Deva masih menuntut.


"damn! dia bukan wanita bodoh Dev" Richard menghempaskan punggungnya di sandaran sofa "yeah, dia hanya lugu, cantik, dan mempess..."


"diam kau!"


Deva memotong bicara Richard mengagumi caera.


"mmppphhhh.."


Richard menahan tawa dengan menutup mulutnya "astaga, kau sudah tergila-gila padanya bos"


deva membuang pandangannya jengkel. Jacko yang sedari tadi diam saja, berdiri bergerak ingin ke luar ruang VVIP tempat mereka menghabiskan malam, malam ini.


"kau mau kemana Jack?"


Richard menghentikan langkah Jacko.


"ke toilet. apa kau berniat ikut untuk memeganginya?"


Jacko balik bertanya sambil melirik ke arah bagian bawah tubuhnya.


"sialan kau"


Richard melemparkan kulit kacang yang ada di meja. "pergilah. jangan lupa cuci tangan mu"


Jacko menaikkan alis dan mencebik. lalu pergi keluar Tanpa menunggu ocehan Richard lagi.


"kau harus menikahkan dia secepatnya Dev"


ujar Richard setelah Jacko pergi. "agar dia tidak selalu menyuruh ku memegangi pusakanya. haahaa.."


Richard tertawa geli sendiri membayangkan guyonan Jacko.


"kau sendiri?"


Deva balik bertanya.


"kau tahu kan, terlalu banyak wanita cantik yang masih membutuhkan aku"


jawab Richard dengan sikap percaya diri.

__ADS_1


"hhh.. berlebihan"


Deva tersenyum malas.


"apa kau ingat tuan Yuda, Dev?"


"apalagi yang di inginkan lelaki licik itu?"


tanya Deva.


"putrinya. sepertinya dia sangat ingin menyodorkan Della kepada mu"


Deva menyesap rokoknya dalam. dan menghembuskan asap yang mengepul di udara.


"aku tidak berselera. kalau kau berminat, ambillah"


ujar Deva dingin.


ia ingat bagaimana sikap Della ketika bertemu dengannya bersama tuan Yuda. Della punya jam terbang yang lumayan. Deva bisa melihat kalau Della pemain handal.


"bukan begitu. aku yakin, dia akan membuat trik pada mu"


"Jacko dapat mengatasi itu"


"katakan pada Jacko, jangan lengah mengawasinya"


"hmm"


jawab Deva singkat.


Jacko masuk lagi. duduk di antara mereka berdua. melirik kedua pria itu yang diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"aku melewatkan sesuatu?"


tanya Jacko menatap Deva dan Richard bergantian.


ponsel Richard yang di letakkan di meja menyala. Richard mengacungkan jari telunjuknya pada Jacko menyuruhnya untuk diam.


Richard mendengarkan orang di seberang sana berbicara.


"ya, baiklah. suruh mereka masuk"


Richard memutuskan panggilan. dan tersenyum lebar pada Jacko.


"apa?"


Jacko tidak mengerti.


Richard tidak menjawab. terdengar ketukan di pintu. dan pintu di buka dari luar. muncul seorang pria bertubuh kekar.


"maaf tuan, mereka sudah di sini"


lelaki itu membungkuk hormat.


"suruh masuk"


Richard terlihat bersemangat.


"baik tuan"


lelaki itu melebarkan daun pintu lebih lebar lagi. muncul empat gadis-gadis cantik dan masuk ke dalam ruangan.


Jacko langsung bergerak berdiri. tampak marah menatap lelaki kekar dan gadis-gadis itu.


"hey.. hey.. apa-apaan ini? kenapa memasukkan orang sembarangan?"


Jacko menarik kerah kaos pria itu.


"Jack, hentikan. aku yang menyuruh mereka datang"


Richard menengahi menenangkan Jacko.


Jacko melepaskan pria itu. menatap Richard tajam.


"kau pergilah"


Richard menyuruh lelaki kekar itu untuk keluar. dia pergi dengan diam.


"tenanglah. kau perlu relaxing Jack"


Richard menepuk punggung Jacko.


Jacko menghempaskan tangan Richard dan duduk kembali. gadis-gadis itu terlihat ketakutan melihat sikap Jacko.

__ADS_1


Richard merangsek masuk di antara barisan ke empat gadis-gadis yang berdiri di depan mereka. merangkul dua orang di dekatnya.


"tenanglah gadis-gadis. ayo kita berpesta malam ini"


Richard membawa mereka duduk bersisian di sofa panjang berbentuk L itu. Deva hanya melihat dengan diam kelakuan Richard yang sudah terbiasa dengan itu.


dua gadis menyebar ke samping Deva dan Jacko. Deva masih diam tapi Jacko langsung berdiri dengan sikap waspada.


dia hapal sikap Deva. pasti ia akan mengusir gadis-gadis penggoda itu. tapi melihat Deva diam saja, Jacko mengurungkan niatnya untuk mengusir mereka.


Deva melirik Jacko yang menatapnya meminta perintah dari Deva.


"Jack, tenanglah. jangan tegang begitu"


Richard masih merangkul dua gadis.


"kau" Richard menunjuk pada salah satu gadis. "temani tuan itu, dan buat dia bahagia malam ini. tuan tampan itu masih vingin"


Richard menggerakkan dagunya menunjuk Jacko.


"diam kau!" hardik Jacko pada Richard.


"nona, menjauhlah dari ku" Jacko menggerakkan tangannya mengusir gadis yang sudah bergerak mendekatinya.


gadis itu terlihat tersinggung. dan bergeser menjauh dari Jacko. tampak Jacko menghela napas lega.


"hahaa"


Richard tergelak. ia tahu kedua temannya ini sangat anti Pati dengan wanita. dia sengaja mendatangkan gadis-gadis yang baru datang malam ini ke club.


"ah kalian ini. kenapa tidak tahu cara menikmati hidup"


Richard mengelus-elus lengan gadis-gadis di samping kanan kirinya. gadis-gadis itu terkikik menggoda.


memeluk Richard dan menggoda sen sual. Richard tertawa-tawa kesenangan. gadis yang di sebelah Deva masih belum berani menyentuh Deva. melirik takut ke arah lelaki tampan itu.


Deva diam saja. bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa. meneguk minumannya santai dan sesekali menghisap rokoknya.


"mau tambah minuman lagi tuan?" tanya gadis yang di sebelah Deva.


Deva menaikkan tangannya. menolak dengan halus tidak menambah minumannya. gadis itu diam lagi.


Richard sudah semakin berlebihan dengan gadis-gadis itu. alunan musik menambah kegilaan mereka. gadis yang satu menuangkan minuman Richard, dan satu lagi bergoyang mengikuti alunan musik dan tampak menggoda Richard.


Jacko memijit keningnya. terasa sakit kepalanya melihat kelakuan Richard tidak pernah berubah sebagai seorang Casanova. Jacko tahu gadis-gadis Richard tidak sembarangan. tapi tetap saja kesukaan Richard itu salah. tidak belajar dari masa lalu.


gadis-gadis itu baru saja datang malam ini. barang baru yang membuat Richard gelap mata. kebiasaan buruk Richard yang selalu mengumbar ketampanan dan hidup bebas, telah membuat cloe hadir dalam hidupnya. tapi itu pun tak membuatnya jera. masih selalu menjadi Casanova yang di gilai banyak wanita.


Deva mengetatkan rahangnya. agak sedikit muak melihat Richard yang mulai gila. gadis-gadis itu seperti ular-ular piton yang membetot tubuh Richard. saling meliuk menimbulkan aura sen sual yang berge lora.


Deva melirik Jacko. menatapnya memberi isyarat. Jacko mengerti tatapan itu. dan segera mengambil langkah yang di inginkan Deva.


Jacko merogoh saku dan mengeluarkan dompetnya. menarik beberapa lembar uang dolar dan meletakkannya di meja.


Richard berhenti dari aktifitas mesumnya. melihat tumpukan uang di meja. gadis-gadis itu juga diam terpaku melihat sikap Jacko yang sudah mengeras.


"kalian ambil uang ini"


ujar Deva dingin. menatap tajam pada gadis-gadis itu. "dan pergilah. jangan kembali lagi malam ini. jauhi Richard"


gadis-gadis itu bergerak menjauh dari Richard. itu adalah perintah si empunya club. mana berani mereka membantahnya.


melihat gadis-gadis itu bergerak menjauh, Richard kalang kabut.


"hey.. hey.. mau kemana kalian?"


Richard mencoba mencegah gadis-gadis itu agar kembali ke dalam pelukannya.


""Dev, ayolah. kenapa kau menakuti mereka"


Richard protes keras.


Deva diam saja. setelah gadis-gadis itu pergi, Deva juga berdiri.


"ingat, cloe menunggu mu pulang rich. anak itu membutuhkan mu"


Deva bergerak pergi di ikuti Jacko. tapi sebelum keluar dari ruangan, Deva berhenti dan menatap Richard lagi.


"ingat rich, cloe juga seorang gadis"


Deva pergi keluar ruangan dengan Jacko. tinggal Richard sendiri di ruangan itu dengan jutek. Deva sudah mematahkan has ratnya. mengingatkannya pada cloe putrinya.


dia menghempaskan tubuhnya di sofa panjang itu. terbaring sendiri merenungi apa yang di katakan Deva barusan.

__ADS_1


__ADS_2