DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 76


__ADS_3

setelah mengantar Gino ke sekolah, caera dan Deva berangkat ke kantor bersama. caera sudah menolak, tapi Deva tidak menggubris penolakan caera. akhirnya dengan cemberut, caera menuruti saja kemauan Deva.


caera hanya tidak mau, menjadi bahan gosip di kantor. biasanya caera datang dengan mobilnya sendiri. tapi hari ini orang-orang akan melihat dia datang bersama sang direktur perusahaan. masih pagi lagi. bisa heboh semua karyawan. .


Deva turun dari mobil dengan wibawanya. sementara caera hanya bisa menunduk tak ingin melihat wajah-wajah tercengang yang akan mulai menggosipkan dirinya.


di lobi, semua karyawan yang berpapasan dengan mereka langsung menunduk hormat pada Deva dan Jacko. caera berjalan paling akhir mengikuti kedua pria yang punya kedudukan paling atas di perusahaan ini.


banyak mata memandangnya dengan pandangan sinis. ada juga yang menatapnya dengan penuh tanda tanya. karena Deva dan Jacko tidak pernah datang ke kantor bersama orang lain. sekertarisnya sekali pun tidak pernah.


baru kali ini ada seorang wanita yang ikut di dalam mobilnya. caera mencoba menegarkan hati. berjalan tanpa menghiraukan tatapan mata yang menghakimi.


mereka langsung menuju lift Executive khusus pejabat tinggi perusahaan, caera masih bisa mendengar kasak kusuk di belakangnya begitu Deva dan Jacko menjauh dari lobi.


di dalam lift, Deva meraih tangan caera dan menggenggamnya erat. caera melihat tangan kokoh Deva yang menggenggam tangannya. lalu mendongak menatap wajah lelaki itu. Deva menatap caera tersenyum seakan tahu kegelisahan hatinya. menyalurkan ketenangan seakan bilang semua baik-baik saja.


mereka berpisah masuk ke ruang kerja masing-masing. Dira sudah hadir lebih dulu. begitu Deva masuk ke ruang kerjanya, Dira langsung menyusul ke dalam bersama Jacko.


caera sendiri masuk ke ruang kerjanya. duduk di kursinya, dan meletakkan tasnya di meja. ingin mengerjakan pekerjaan yang belum di selesaikan Dira.


tak sengaja, caera melihat buket bunga di lemari berkas. ia beranjak mendekati lemari. mengira itu adalah buket bunga yang biasa di antar OB untuk ruangan Deva.


berdiri memperhatikan buket bunga itu. sepertinya itu bukan untuk ruangan Deva. bunga mawar segar. ada amplop merah kecil di tengahnya. caera mengambil amplop itu dan membukanya.


dear caera


I ❤️ u


caera tercengang. siapa yang mengirim ini? Deva? mana mungkin. dari kemarin Deva bersamanya. lebay sekali kalau dia menyuruh orang meletakkan untuknya di sini. deva tidak seperti itu. kalau dia mau, pasti ia berikan sendiri.


caera terbengong melihat tulisan di kertas kecil itu. dia tidak mengenali tulisan tangan yang terlihat rapi itu. membawa bunga itu ke mejanya. masih memikirkan siapa yang mengirim buket bunga itu untuknya.


caera sampai tidak menyadari kalau Dira sudah kembali masuk dan duduk di mejanya. begitu melihat caera, Dira heran kenapa caera terbengong. melirik buket bunga di meja caera.


"ciieee... baru dapat bunga dari tuan Deva ya kak?"


caera mendongak menatap Dira. mengernyitkan dahi dan menggeleng pelan.


"kamu tahu siapa yang kirim dir?"


tanya caera.


"loh, Dira kira itu untuk kakak dari tuan Deva"


"kamu lihat OB yang bawa ke sini?"


"tidak kak. Dira datang tadi, bunganya sudah di situ" Dira menunjuk lemari berkas. " tapi karena Dira pikir itu dari tuan Deva, Dira gak berani sentuh"


caera berpikir sejenak. siapa kiranya yang mengirim bunga untuknya.


"itu isinya apa kak?"

__ADS_1


Dira menunjuk kertas kecil di tangan caera.


"nih"


caera menyerahkan kertas itu pada Dira. Dira menerima dan membacanya.


"kakaaaakk... ini ya dari tuan Deva laaah... uuhh.. so sweet banget tuan deva ya kak"


seru Dira kegirangan. mencubit lengan caera dengan gemas.


caera diam saja. dia tidak bisa menerima apa kata Dira, kalau bunga itu dari tuan Deva.


"kenapa sih kak? dapat kiriman bunga bukannya senang kok malah bengong?"


"ya sudah la dir. aku gak tahu ni bunga dari siapa. taruh di meja kamu aja nih"


caera menyerahkan bunga itu ke tangan Dira. lalu ia beranjak keluar ruangan.


"kakak mau ke mana?"


""pantry. ikut?"


caera berhenti dan menoleh pada Dira.


Dira hanya nyengir lalu menggeleng. caera keluar dan menutup pintu.


setelah caera pergi. Dira mengamati tulisan di kertas kecil itu. mengernyitkan dahi memikirkan siapa kira-kira yang mengirimkan untuk caera.


ini kiriman ketiga tuan


****


di pantry, caera membuat teh. sambil memikirkan siapa yang memberinya buket bunga. hanya OB yang biasa datang membawa buket bunga untuk ruangan Deva. selain itu, hanya karyawan yang ada keperluan penting yang akan masuk ke lantai atas ini. atau tamu penting tuan Deva saja yang datang ke lantai atas.


selesai membuat teh hijau, caera beranjak keluar dari pantry. tapi tanpa sengaja, dia hampir saja menabrak seseorang di depan pantry.


"aawwwhh"


"astaga!"


gelas teh hijau panas itu sedikit terguncang karena caera terkejut. menumpahkan air teh yang panas itu, mengenai lengan orang yang hampir di tabraknya.


"Dika!"


caera melebarkan matanya melihat Dika mengibas-ibaskan tangan, menahan sakit karena terkena iar teh panas yang di bawa caera.


"maaf maaf.." caera ingin memeriksa tangan Dika. "maaf Dika, aku tidak sengaja"


"sudah sudah. tidak apa kok "


Dika menolak caera memeriksa tangannya.

__ADS_1


"tapi itu, tangan kamu Dika"


caera sangat khawatir dan merasa bersalah.


"tidak apa-apa caera. cuma sedikit"


Dika tetap menolak.


"sebentar ya dik. aku ambilkan kotak obat dulu. tangan kamu...."


"tidak usah caera" Dika menarik tangan caera karena ingin pergi mengambil kotak obat. "tidak apa-apa. nanti juga sembuh"


Dika mencoba tersenyum pada caera.


"benar tidak apa-apa?"


caera masih tidak percaya.


"iya, cuma kena sedikit. nih.. tidak apa-apa kan?"


Dika menunjukkan lengannya. terlihat memerah kulit tangan Dika. tapi memang hanya sedikit.


"nanti aku bisa beri obat sendiri. sudah jangan khawatir"


kata Dika lagi.


"kamu, ngapain di sini?"


tanya caera.


"aku tadi menyerahkan berkas pada Dira. minta tandatangan tuan Deva"


jawab Dika.


"ohh.. begitu"


"ya sudah ya. aku mau turun dulu. mau lanjut kerja"


Dika pamit pergi. caera hanya mengangguk tersenyum. memperhatikan Dika pergi menjauh ke arah lift.


caera tertegun. mengernyitkan dahi sambil menggumam dan menunjuk-nunjukan jarinya ke kanan dan ke kiri seakan bingung menentukan arah yang benar, sampai Dika bisa nyasar ke pantry.


kalau Dika ingin ke arah lift turun ke lantai bawah, ngapain pake belok ke pantry? kan lift ada di sebelah kanan. sedangkan pantry harus belok ke kiri.


terus, kalau Dika menyerahkan berkas pada Dira, ngapain juga dia harus ke pantry? bukannya ruangan Dira ada di depan ruangan tuan Jacko?


ngapain ya Dika ke pantry lantai atas? apa dia tersasar? mana mungkin. pastinya Dika tahu jalan menuju ruangan Dira dan balik lagi menuju lift.


tapiii...


ah ya sudah lah. ngapain memikirkan yang tidak penting. caera menepuk jidatnya sendiri. sibuk memikirkan Dika yang tersesat. lebih baik dia kembali ke ruang kerjanya. masih banyak yang harus di selesaikan.

__ADS_1


__ADS_2