
dua hari ini Deva dan Jacko tidak datang ke kantor. ada pekerjaan di luar yang harus mereka kerjakan. itu membuat caera sedikit lega. ia dapat mengerjakan sebagian pekerjaan Dira. walaupun harus ada perdebatan alot dengan Dira terlebih dulu.
waktu istirahat siang ini di manfaatkan caera untuk melihat tempat lain di kantor ini. dia ingin mengajak Dira makan siang di cafetaria kantor. tapi Dira menolak.
"Dira, aku bosan makan di sini terus. sudah hampir satu bulan aku bekerja. tapi aku tidak kemana-mana. bosan Dir"
keluh caera.
"tapi kak, tuan Jacko sudah pesan pada ku. kita makan di sini saja seperti kemarin"
Dira masih kekeh menolak.
"tuan Deva juga pesan begitu pada ku Dir"
"naaahh itu kakak tahu. aku tidak berani kak"
Dira membereskan berkas di atas mejanya.
"mereka kan tidak lihat Dir. ayo lah"
caera tak putus asa merengek.
"aduuhh kak, mata tuan jacko itu ada di mana-mana. kakak mau dia marah?"
caera mengerti maksud Dira. itu artinya, Jacko akan tahu apa saja yang mereka lakukan. caera merengut kesal. Dira tetap tidak mau di ajak.
"kalau aku minta izin pada tuan Deva, gimana?"
caera mengajukan pilihan.
"mana mau tuan Deva mengizinkan"
Dira menatap caera meyakinkan kalau Deva pasti tidak mengizinkan.
caera mengedipkan matanya.
"kita coba dulu ya?"
Dira diam saja. tidak mengiyakan atau menolak.
caera mengirim pesan pada Jacko. karena ia takut Deva tidak bisa di ganggu.
tuan asisten
apakah sedang sibuk?
caera menunggu pesannya di balas Jacko. tapi sepertinya Jacko belum melihat pesan caera.
Dira setia menunggunya. duduk bersisian memelototi ponsel caera.
"mereka sibuk kak. sudah ah, nanti tuan Jacko marah. mati lah aku kak caera"
Dira menjauh dari caera.
caera tidak putus asa. dia mengirimkan pesan lagi pada Jacko.
tuan asisten
saya makan di cafetaria kantor
jangan marah
menunggu sebentar lagi. tapi tetap tidak ada jawaban. caera memutuskan pergi saja ke kafetaria kantor. ia sudah lapar. OB yang mengantar makanan yang selalu di pesan Jacko untuk caera juga belum datang. pasti lima menit lagi makanan itu datang.
"Dira, aku mau turun"
caera bersiap pergi.
Dira bingung. kalau dia tidak mengikuti caera, dia akan tidak bisa menjawab, kalau nanti Jacko bertanya padanya. tapi kalau dia ikut, dia juga akan di marahi Jacko, karena di anggap tidak becus bekerja. tapi membiarkan caera lepas dari pengawasannya, itu lebih parah.
"aku ikut kaaakk"
__ADS_1
teriak Dira.
Dira berlari kecil mengikuti caera yang sudah sampai di depan lift. caera tersenyum melihat Dira menyusulnya.
caera menggandengnya. mereka berdua masuk ke lift dengan bercanda ria. caera belum pernah makan di cafetaria kantor. Deva selalu melarangnya ke mana-mana. tugasnya hanya dekat dengan Deva. kalau pun caera tidak selalu bersamanya, paling tidak makan siang bersama Dira di ruangan mereka saja.
mereka berdua sampai di cafetaria. suasana cukup ramai. banyak karyawan yang menyapa Dira. dan mereka berkasak kusuk ketika melihat caera.
gosip di kantor ternyata benar. Deva punya sekertaris baru, itu sudah menyebar ke seluruh penjuru kantor. tapi mereka banyak yang belum melihat caera. hanya beberapa karyawan yang pernah bertemu atau sekedar satu lift dengannya.
cafetaria ini sangat luas. Furniture di dalamnya juga sangat unik sekali. Kursi Dan Meja kantin yang disediakan hampir semua menggunakan kayu solid dengan warna finishing Light Wood Natural. Mulai dari kursi tanpa sandaran atau bangku yang di setkan dengan meja menjadi lebih menarik. dan terletak di ruangan terbuka yang langsung menghadap ke taman halaman samping kantor.
Dira membawanya ke meja panjang yang menyediakan banyak menu makanan yang berfariasi. caera sangat ngiler melihat hidangan yang banyak itu dan terlihat sangat menggugah selera. padahal sama saja dengan menu makanan yang di bawa OB setiap hari untuknya juga dari cafe ini. tapi mungkin suasananya yang berbeda.
berbaur dengan semua karyawan kantor, itu sungguh kesenangan yang tiada tanding. bercengkrama satu sama lain, saling nengenal, dan yang paling penting, semua makanan ini gratis di sediakan oleh perusahaan.
mereka mengambil tempat agak di bagian belakang. duduk berdua menyantap makanan dan sesekali terkikik dalam obrolan santai.
"hai, nona caera" sapa seseorang. "masih ingat aku?"
caera menoleh ke sampingnya. berdiri tegak seorang pria membawa makanan di tangannya.
"oh hai, tuan Nixon"
jawab caera tersenyum canggung pada Nixon.
ia ingat Nixon. karena pemuda inilah bibirnya menjadi santapan Deva. kalau mereka bertemu lagi, apakah Deva akan tahu juga?
"kalian hanya berdua? boleh aku bergabung?"
tanyanya lagi.
Dira melirik caera. tapi caera tidak melihat ke arahnya. ada perasaan cemas di hati Dira. kalau sampai asisten Jacko mengetahui ini, habis lah dia.
"silahkan"
jawab caera akhirnya. tak enak hati hanya membiarkan Nixon menunggu.
caera menggeser duduknya lebih ke pinggir mempersilahkan Nixon duduk. tapi belum sempat Nixon mendaratkan pantatnya di bangku kayu panjang itu, Dira berseru menghentikannya.
pantat itu menggantung belum menyentuh bangku. Nixon bangkit tegak lagi dan tersenyum pindah ke bangku yang di duduki Dira tadi. dan Dira berganti tempat di sebelah caera.
"kau cemburu Dir, kalau aku dekat dengan nona cantik ini"
ujar Nixon menggoda Dira.
Dira hanya menjulurkan lidahnya pada Nixon. caera dan Nixon tertawa.
"tumben nona caera makan siang di sini?"
tanya Nixon sambil menyuapkan makanannya.
"ah ya, aku belum pernah ke sini. jadi aku ikut Dira tadi"
jawab caera.
"ya, sering-sering lah nona. menunya sangat enak"
"ya baik lah. jika Dira membawa ku"
caera tersenyum.
"hai Nix... "
sapa seorang pemuda lagi.
"hai, Dika"
Nixon menaikkan tangannya bertos dengan pemuda itu. itu pemandangan yang sangat di rindukan caera. seperti mengulang masa-masa sekolah dulu. dia terlihat sangat ceria dan bersemangat berada di situ.
"hai Dira"
__ADS_1
"hai dik"
"dan..." Dika memandang caera dan berhenti bicara.
"oh.. caera"
jawab caera.
"ah.. hai nona caera.."
Dika tersenyum dan menyalami caera. "boleh aku bergabung?"
tanya Dika. dia melirik caera.
Dira dan Nixon juga melirik caera. caera menjadi tumpuan tatapan minta ijin. jadi merasa tak enak hati.
"silahkan Dika"
jawab caera.
Dika duduk di samping Nixon. meletakkan makanannya di meja. sesekali dia mencuri pandang pada caera.
"aku baru melihat nona caera di sini"
kata Dika sambil menyeruput kuah sup.
"nona caera ini sekertaris tuan Deva"
celetuk Nixon.
"maaf. tolong kalian jangan panggil aku nona. panggil saja nama ku"
caera menyela.
"tidak bisa"
cepat-cepat Dira menolak. wajahnya sedikit tegang.
mereka bertiga serempak melihat ke arah Dira. Dira sadar sikapnya akan menimbulkan kecurigaan.
"eh.. maksud ku.."
Dira gugup.
"kau tak ingin ada saingan kan dir?"
kata Nixon tersenyum menggoda Dira.
"eh.. bukan begitu" Dira salah tingkah. bingung mau menjelaskan.
memang kebanyakan dari karyawan terlihat berusia di bawah caera. Nixon dan Dira juga berumur berkisar dua puluh enam dan dua puluh tujuh. apalagi Dika. dia masih terlihat lebih muda di antara mereka.
"tenang saja Dira. kau tetap nona yang merajai hati ku"
kata Dika menggombali Dira.
"iihh.. aku tidak berselera pada kalian berdua"
Dira melengos.
"ya, aku tahu. kau hanya berselera pada asisten Jacko kan?"
Nixon mencolek tangan Dira menggodanya.
"hehm"
Dira mencebik membuang pandangannya. melengos jengkel.
"ha ha ha"
mereka tertawa bersama. caera juga terkikik geli melihat Dira marajuk. menghabiskan sisa istirahat siang ini dengan berkumpul bersama rekan-rekan kerja itu sangat menyenangkan. caera seperti mendapatkan dunia baru yang akan mengubah hidupnya.
__ADS_1
kalau dulu hidupnya hanya seputar suami, anak, dan rumah, kini ia dapat melihat dunia lebih luas lagi.
memandangi wajah-wajah ceria di depannya. melihat sekeliling cafetaria ini. wajah-wajah mereka penuh semangat dan ambisi masa depan yang menanti untuk di raih.