DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 149


__ADS_3

Soraya terlonjak kaget melihat keadaan Deva. putranya itu seperti baru kalah berkelahi. kemeja putih yang dengan noda lumut dan tanah, dan sudah terlihat tak beraturan lagi. dasi yang sudah tidak pada tempatnya. tidak pakai sepatu. dan rambutnya ada sampah daun kering di sana sini.


yang lebih membuat Soraya tercengang, Deva pulang bukannya menentang tas kantornya. tapi menenteng dua ranting gerompolan mangga yang masih mengkal dan sebagian masih bayi. alias masih muda dan hijau. pasti asam sekali.


"deeevvv.. kau kenapa? kau berkelahi? kalah?"


seru Soraya menghambur pada Deva. mengguncang bahu putranya dan mengelus tubuh Deva. memeriksa kalau ada yang luka di sana.


"apaan sih Bu?" Deva sampai bingung melihat ibunya.


"apaan apaaan... lihat diri mu! kau seperti gelandangan yang kalah berkelahi!" teriak Soraya.


"aduh Buuuu.. aku tidak apa-apa"


jawab Deva cuek. tidak menghiraukan ibunya yang cemas. Deva terus saja melangkah ke arah dapur. Soraya tercengang melihat itu.


melihat Gino terpaku melihat neneknya kebingungan, Soraya langsung mendekati bocah kecil itu.


"Gino, Daddy mu kenapa?"


bukannya menjawab, Gino malah mendongak menatap jacko di sebelahnya. meminta persetujuan Jacko untuk menjawab. karena tadi di mobil, Jacko sudah memperingatkannya untuk tidak mengatakan kalau tadi Daddynya memanjat pohon mangga.


Soraya mengerti ada sesuatu yang di sembunyikan para lelaki ini. cepat dia menatap Jacko tajam.


"heh black! kenapa bos mu?"


Jacko tidak menjawab. melirik Gino lebih dulu.


"Gino, ayo sana masuk. bilang pada mama, Daddy mu sudah pulang" ujar Jacko menyuruh Gino pergi.


"baik paman" Gino berlari menemui caera.


"jangan mencari alasan kau" Soraya langsung menuntut.


"tidak ada bibi. tadi Deva baru main bola"


"apa?" Soraya mengerutkan dahinya.


"iya Bibi. main bola. dan kalah"


"apa iya?" Soraya menatap tajam mata Jacko.


Jacko tidak melanjutkan. hanya masuk kedalam meninggalkan Soraya yang masih keheranan.


caera datang menuruni tangga. mencari Deva tapi tidak terlihat.


"ibu, Deva mana?" tanya caera pada Soraya.


"ah.. Ra. mungkin suami mu sudah sinting. lihat lah dia di dapur"


"kenapa Bu?" caera mengernyitkan dahi.


"ibu tidak tahu. kau lihatlah penampilannya" jawab Soraya menunjuk-nunjuk ke arah dapur.


mendengar itu, caera langsung menuju dapur. Gino datang mengikuti mamanya. Jacko hanya geleng-geleng kepala.


Soraya mendekati Jacko. menarik tangannya.


"jangan bohong Jack. baru ngapain itu bos kamu?"


Jacko tak berani jujur pada Soraya kalau tadi Deva nekat memanjat pohon mangga.

__ADS_1


"Deva tadi cuma main saja. jangan khawatir bibi"


"terus, mangga itu?"


"di beri orang"


"siapa?"


"tukang parkir. pohon mangganya ambruk bi"


sing....!!!


Soraya melirik Jacko tajam. berusaha membaca kebohongan Jacko. tapi tidak berhasil.


"awas kau kalau nanti aku tahu kau dan Deva nakal lagi"


setelah mengatakan itu, Soraya pergi meninggalkan Jacko sendiri.


*****


caera tercengang melihat Deva. pria itu kini duduk bersama Meri kepala pelayan di mansion. Deva dengan asiknya makan mangga yang sudah di kupas Meri. sampai tak melihat caera datang.


melihat penampilan Deva, caera makin kaget. ada apa dengan suaminya? kenapa jadi terlihat sangat kotor?


"Dev" panggilnya lirih.


Deva mendongak sambil mengunyah mangga muda tapi dia tidak merasakan masamnya sedikit pun.


"eemm.. sayang.. sssrrrruupp.. ahh.. enak sekali sayang. kemari lah. ayo coba ini"


ujar Deva sambil tetap mengunyah dan seperti makan sup saja menyeruput salivanya yang terasa nikmat.


caera mendekat dengan wajah tercengang melihat kelakuan Deva.


"mama" panggil Gino. caera menoleh.


"tadi Daddy..."


waahh.. cepat Deva melompat ke arah Gino dan menutup mulut bocah kecil itu. lalu melihat ke arah caera dengan nyengir kuda.


"eeheeehhee.. tidak ada sayang. tadi aku..." Deva berhenti sejenak. memikirkan alasan apa yang masuk akal. "mengejar kucing sayang"


"apa? mengejar kucing?" caera makin heran saja.


Deva segera mengalihkan perhatian caera. menunduk pada Gino dan berbisik.


"Gino jangan bilang ya. nanti Daddy belikan mainan"


dengan polosnya Gino mengangguk. Deva melepaskan bekapan tangannya dari mulut Gino. lalu nyengir lagi melihat caera.


"eehehh.. ayo sini Gino. Daddy bagi tuh buah mangganya"


Deva menarik Gino ke meja. mendudukkan bocah itu di sampingnya.


"naahh.. Gino makan ini ya"


Deva memberi Gino potongan mangga di piring. tapi Gino seperti ngeri melihat mangga muda yang daging buahnya masih berwarna putih.


"iihh.. tidak mau Daddy. pasti rasanya tidak enak" tolak Gino.


"eehh.. enak Gino. eemmm.. wow.. enak sekali"

__ADS_1


Deva memakan lagi mangga itu. seperti makan makanan yang sangat nikmat sekali. caera juga merasa ngeri dengan penampilan suaminya. belum pernah dia melihat Deva seberantakan seperti sekarang ini.


"sayang.. sini.. ayo coba"


Deva memanggil caera yang masih berdiri tegak memandanginya. caera mendekat. merasa penasaran juga rasa buah mangga muda itu. mengambil potongan kecil dan memakannya.


"eeehm!!"


begitu masuk kemulutnya, dan sekali mengunyah, caera mendelik. lalu cepat-cepat melepeh buah mangga yang rasanya sangat asam.


"bleeeehh.. pleeehh.. asaaamm.. hiiiihhh"


wajah caera mengkerut merasakan asam. tidak enak di lidahnya. tapi kenapa Deva memakan itu seperti makan apel saja?


"ah.. enak sayang"


"iihh.. asam Dev"


"tidak sayang. ini aku makan. eemmm"


tak ada rasa asam sedikit pun bagi Deva. mengunyah dengan bersemangat.


"tidak asam Dev?"


"tidak sayang"


caera bengong. merasa heran dengan Deva yang tidak merasakan asamnya daging buah mangga yang masih putih itu.


"waahh.. tuan Deva suka asam ya?" celetuk Meri.


"iya Meri. ini enak sekali. air liur ku selalu menetes melihat ini" jawab Deva.


"biasanya, kalau suka mangga muda itu.. berarti.."


"apa mer?" tanya caera.


"aku memang suka sayang" ujar Deva. sambil mencolekkan mangga dengan kecap di piring kecil. "aahh.. nikmat sekali.. ccepp..cccpp.."


Deva mengecap-ngecapkan lidahnya merasa nikmat.


"Dev, sudah sudah. hentikan itu. nanti perut mu sakit. ayo mandi dulu. kau berantakan sekali"


caera merampas potongan mangga dari tangan Deva. padahal tadinya sudah mau masuk ke mulut Deva.


"eeehh.. sayang. kenapa tidak boleh?" protes Deva.


"sudah. nanti lagi. ayo sekarang kamu mandi"


"bentar lagi sayang. satu lagi"


Deva mengambil sepotong lagi. mengunyahnya seakan tak mau berhenti.


"sudah Dev. cukup. jangan banyak-banyak. nanti perut mu sakit"


caera menggeret tangan Deva dan menariknya agak menjauh dari mangga muda itu.


"ayo Gino. ikut mama"


caera sudah tidak peduli protes Deva yang kehilangan buah mangganya. istrinya sudah menariknya ke lantai atas. Gino mengikuti dari belakang.


Meri hanya terbengong melihat kepergian tuan dan nyonya muda nya itu dengan gumaman.

__ADS_1


"heran ... kenapa pada tidak ada yang menyadari ya... biasanya kan, kalau suka makan mangga muda... berarti masuk angin"


😧🤔🤔🤔


__ADS_2