
setelah caera meninggalkan Dira di kamarnya, caera kembali ke kamarnya. ingin menemui Deva. tapi belum sampai di kamar, caera melihat Deva duduk bersama Jacko di tempat makan.
caera berlari menyerbu Deva. Deva yang melihat istrinya berlari sambil menangis kearahnya, langsung bangkit berdiri dan menyambut caera.
caera menghambur ke pelukan suaminya. menangis tersengguk di dada Deva.
"sayang, ada apa? kenapa menangis?"
caera tidak menjawab. hanya terisak sedih di dada Deva. memeluknya erat seperti tak ingin berpisah lagi.
Deva saling pandang dengan Jacko. Jacko hanya tersenyum simpul. dia tahu, pasti si wanita berhati lembut itu sedang terpengaruh kisah Dira. Deva malah menatap Jacko bingung.
"hey.. ada apa sayang? hmm?"
Deva meraih dagu istrinya. menatap mata yang penuh linangan butiran bening itu. caera hanya tersengguk menatap suaminya dengan rasa hati yang bercampur aduk.
"jangan tinggalkan aku Dev" ujarnya lirih di sela Isak tangisnya.
"oowwwhh... wanita ku lembut sekali"
Deva menggoda istrinya. mendengar itu, caera menyembunyikan wajahnya lagi di dada deva. ia paham kini. caera melow karena Dira dan Richard. Deva tersenyum menghapus air mata caera.
hup!!
Deva membopong istrinya ala bridal style. menoleh pada Jacko dan mengedipkan sebelah matanya.
"maaf Jack. aku harus menyembuhkan hati istri ku" ujarnya.
Jacko hanya memutar bola matanya malas. ia tahu apa maksud Deva. paling juga menyembuhkan kemesumannya.
"modus kau!" sungut Jacko.
Deva hanya tersenyum lebar. membawa caera ke kamarnya. mendudukkan tubuh istrinya di sofa yang ada di bagian belakang cotage. menghadap ke kolam renang.
"sayang, kenapa punya pikiran aku akan meninggalkan mu?" tanya Deva.
caera masih terisak kecil. menatap laut di depan mereka. meredakan gejolak rasa terharu mendengar kisah Dira.
"cinta itu aneh ya Dev"
ujar caera dengan pandangan menerawang jauh ke depan.
"sangat indah jika baru saja hadir. tapi dengan berjalannya waktu, dan jika masuk kehampaan tak bertepi, cinta dengan sendirinya akan pergi sedikit demi sedikit. apalagi banyak godaan di depan mereka. kenapa sebagian orang merasakan itu?"
caera menoleh menatap suaminya. Deva tersenyum. menjadi pendengar yang baik.
"karena mereka tidak yakin akan cintanya sayang" jawab Deva.
"Dev"
"hmm?"
caera menyentuh pipi Deva. memandangi wajah tampan itu. hatinya jadi sangat melow.
"apakah kau yakin akan cinta mu pada ku?"
Deva tersenyum simpul. merasa geli dengan sikap perasa istrinya yang sangat kuat. wanita ini punya hati yang begitu lembut hingga membuat dia selalu tidak percaya diri.
"sayang, aku akan selalu yakin dengan langkah ku. apa lagi cinta ku. cinta itu ada di sini"
Deva menunjuk jantungnya.
"jika aku tidak yakin, maka aku tidak berani melangkah. aku sudah melangkahkan kaki ku dan menggenggam tangan mu. maka itu adalah keyakinan ku"
hati itu berdesir lembut. banyak bunga di sana. banyak kupu-kupu menghinggapi perasaan caera. beruntungnya dia mendapatkan Deva. pria tampan yang punya hati sebaik malaikat. merengkuhnya dalam cinta dengan kesabaran yang patut di puji.
__ADS_1
caera memeluk Deva lagi. Deva membelai rambut istrinya dengan lembut. seperti biasa. kegemarannya membuat pola abstrak di dada bidang Deva.
"menurut mu, tuan Richard sekejam itu pada Dira, Dev?"
"Rara, setiap orang punya pandangan sendiri. setiap orang punya rahasia masing-masing. aku yakin Richard tidak sekejam itu. memang benar dia punya kesalahan sudah membuat Dira tersakiti. tapi aku kenal Richard dengan baik dari kecil"
caera mendongak menatap Deva dan mendengarkan serius. Deva menunduk menatap wajah cantik istrinya. mengecup bibir itu sekilas. lalu melanjutkan bicaranya lagi.
"Richard punya gengsi yang tinggi. tidak mau di bilang lemah. merasa terhina jika ada orang yang menganggap dia lemah. apalagi terhadap wanita. Richard hanya tidak tahu caranya bagaimana menghadapi Dira. dia hanya menegakkan diri untuk tidak di bilang jatuh cinta"
ahh.. begitukah? si tuan genggsi itu sebenarnya mencintai Dira?
"masih ada satu rahasia Richard yang aku dan Jacko tidak bisa membukanya. dia terlalu tertutup untuk itu"
"apa sayang?" tanya caera bersemangat.
"tidak tau Ra. Richard menyembunyikan itu sangat ketat"
caera lemas lagi. menyandar lagi di dada Deva.
"kenapa kau sangat ingin tahu tentang mereka sayang?" Deva menunduk melihat wajah caera. ingin tahu kenapa istrinya sangat penasaran.
"aku hanya kasihan melihat keduanya. aku dan kamu pernah merasakan luka itu kan sayang? begitulah. aku merasa sakit juga jika ada sahabat ku yang merasakan sakit itu"
"hati mu lembut sekali sayang"
Deva mengecup kening caera. wanitanya ini sangat peka. hatinya gampang terluka. merasakan perasaan orang lain juga.
"tapi kau curang Dev"
"eh, curang apa sayang?" Deva berjengkit kaget.
"kau mengenal ku sangat banyak. tapi aku tidak mengenal mu sama sekali"
"benarkah?"
"tidak apa-apa sayang. yang penting kau lah yang mengenal naga ku"
hah??!!!
caera mendelik. bisa-bisanya pria ini bilang begitu.
"apa naganya masih virgin malam pertama?" tanya caera.
Deva mengangguk tersenyum simpul.
"benarkah?"
mata caera membulat sempurna.
"hahahaa.." Deva tergelak.
"ihh.. tidak kan? itu pasti sudah singgah di tempat lain" Rungut caera.
"haha.. tidak sayang. tidak pernah. kau lah wanita pertama yang melihat, menyentuh, bahkan merasakan dahsyatnya naga ku mengamuk"
"hahaahaa"
caera dan Deva tertawa lepas berbarengan. Deva berhasil menggiring istrinya melupakan kisah Dira. sampai caera mencubit paha Deva kencang.
"tapi sayang, bagaimana kamu sangat mahir sekali tentang itu?"
"membaca sayang"
"hah? membaca?"
__ADS_1
Deva mengangguk.
"membacaaa.... maksudnya membacaa.. apasih dev?"
caera agak malu meneruskan pertanyaannya. dan Deva tahu istrinya ini salah sangka.
"membaca sayang. membaca artikel, situs-situs yang menjelaskan cara memuaskan pasangan. bukan seperti yang kau pikirkan Ra"
caera terkikik geli. Deva tahu apa yang di pikirkanya. caera pikir, Deva suka membaca situs hot hot gitu.
"aku malah berpikir, kau tidak suka membaca yang seperti itu sayang. kan bisa praktek langsung. dan lagi pula, apa masih sempat membaca artikel cara bercinta? bukannya masalah kantor saja sudah rumit?"
"haha.. aku normal Ra. aku bukan robot yang otak dan perasaan ku tidak bisa merasakan birahi bukan? aku bisa berpikir, merasakan, dan menginginkan. itu manusiawi"
"oohh.. begitu sayang?"
"iya dong sayang"
"aku kira kamu dari kecil hanya di tempa untuk belajar, belajar, dan belajar"
"iya sayang. Daddy menempa ku begitu. tapi aku juga pria kan? tidak melulunya terfokus pada sekolah, belajar, dan kantor. sampai aku tidak tahu bagaimana wanita menstruasi, reproduksi wanita. atau wanita hamil. hahaahaa.. itu hanya ada di dunia novel yang sangat halu sayang. kalau seorang pria sampai buta sama sekali soal wanita. apalagi pria itu cerdas"
caera tersenyum. suaminya ini sangat realitas memandang dan menjelaskan sesuatu. tidak melebih-lebihkan dan menyembunyikan sesuatu.
"sayang" panggil Deva.
"ya Dev"
"kita belum buka koper yang di bawakan ibu"
caera kaget. Deva benar. koper itu masih belum di buka. dan tidak tahu apa isinya. caera beranjak mengambil koper itu. membuka isinya di depan Deva.
dan betapa tercengangnya caera melihat apa isinya. Deva malah terbahak terpingkal-pingkal melihat isi koper itu.
caera medelik dan menutup coper itu dengan cepat. tapi Deva menarik dan membukanya lagi. meraih isinya. merentangkan di depan caera. sampai caera menutup wajahnya.
"sayang. lihat ini"
Deva menarik tangan caera yang menutupi wajahnya. sambil merentangkan isi koper itu di depan caera.
"jangan begitu Dev. masukkan. dan tutup lagi!" caera bertahan tidak mau membuka wajahnya.
"hahaahaa.. ibu sangat tahu bagaimana caranya berbulan madu"
Deva terbahak dengan bahagia. geli melihat caera malu melihat isi koper.
"sayang, ayolah lihat ini"
Deva merentangkan lagi kostum cat woman di depan caera. membuat caera makin bergidik ngeri.
isi koper itu penuh dengan peralatan BDSM. sampai kostum Catwoman dan lengkap dengan cambuknya segala ibunya siapkan.
cepat caera merampas kostum itu dari tangan Deva. dan memaksukkan ke koper lagi lalu membawa kopernya ke lemari dan menguncinya.
Deva tertawa melihat wajah merah caera. istrinya ini sangat pemalu dengan hal tabu begitu. membuat Deva gemas dan membopong nya ke ranjang.
"ayo sayang. mau yang pakai borgol atau yang pakai tali saja?"
"Dev! jangan begitu" caera merengut.
"hahaa.. pasti enak sayang. bisa men de sah tanpa bisa menyentuh"
"gila Dev"
"iya sayang gila. pasti indah sayang"
__ADS_1
"hentikan Dev. tidak yang macam-macam saja kau tidak bisa berhenti. apa lagi yang aneh-aneh begitu"
tertawa bersama mengingat ibu. bagaimana ibunya bisa berpikir sejauh itu tentang bulan madu mereka. pake di bawakan borgol dan cambuk lagi. hadeehh