DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 106


__ADS_3

Deva tak menghiraukan kehadiran Keenan. dan tak melihat ke arah Gisel sedikitpun. menganggap mereka tidak ada.


berbaur bersama tamu lain. caera selalu di sisi Deva. menunjukkan sikap manja. ini kesempatan untuknya menunjukkan pada Arya dan Vivi kalau dia juga bisa meraih kebanggaan tanpa Arya.


Deva seakan menunjukkan rasa cinta yang besar pada wanitanya. banyak wanita merasa iri pada caera. Deva yang selama ini dikenal dingin dan tak pernah bersikap begitu mesra pada wanita, kini menunjukkan bahwa dia sangat mencintai caera.


Keenan melirik Deva sedari tadi. apalagi Arya. pandangan marah dan jengkel melihat kemesraan Deva dan caera. sampai Vivi merengut kesal.


Keenan mendekati mereka. bergabung dengan Deva dan caera. berbasa-basi yang mendebarkan suasana.


"halo Dev. kita bertemu lagi"


sapanya.


"ini hanya keberuntungan mu"


jawab Deva datar.


"haha.. yah.. beruntung aku bertemu dengan nona caera lagi"


Keenan melirik caera. tersenyum tebar pesona.


"halo nona, kita bertemu lagi. masih ingat aku?"


Keenan mengulurkan tangannya pada caera.


caera menatap Keenan tak berkedip. ia ingat siapa lelaki ini. dia yang ia tabrak di kantor waktu itu. itu artinya dia adalah suami Gisel. mantan tunangan Deva.


caera tidak menyambut uluran tangan Keenan. hanya mengangguk dan tersenyum.


"ya saya ingat tuan. kekasih ku sudah memberi tahu tentang anda"


jawab caera seraya menatap Deva dengan mesra. Deva membalas dan tersenyum. bangga dengan sikap dan jawaban tepat caera.


"haahaa.. ternyata tuan Deva kekasih mu"


Keenan mencoba mainkan emosi Deva.


"seperti yang anda lihat tuan"


caera mencoba tenang.


"aku harap dia tidak mengatakan hal buruk tentang ku"


Keenan melirik Deva.


caera melihat pada Deva. lelaki ini terlihat setenang air tak beriak. melihat ketenangan sikap Deva menghadapi Keenan, timbul keberanian caera untuk membuat Keenan lebih penasaran.


"kekasih ku ini sangat baik hati tuan. dia tidak akan pernah menyampaikan keburukan orang lain sekalipun musuhnya. karena itu aku sangat mencintainya"


caera menatap Keenan sejenak, lalu menatap Deva lagi.


"i love you honey"


"love you too lots baby"


jawab Deva seraya mengecup puncak kepala caera.


lalu mereka berdua menatap Keenan. tampak wajah Keenan berubah dingin. tapi cepat berubah seperti semula lagi.


"baiklah. selamat menikmati malam anda nona"


Keenan pergi. bergabung bersama tamu lain. bercengkrama seakan tidak ada apa-apa. dan Gisel datang mendekatinya.


Gisel menyadari pandangan Keenan sedari tadi tertuju pada caera. ada rasa cemburu di hatinya. kenapa Keenan memandangi caera terus.


"kee, ada apa dengannya?"


tanya Gisel mulai cemberut.


"dia terlihat sangat mempesona. pantas Deva memilihnya"


jawab Keenan tanpa melihat Gisel.


"apa maksud mu?"


Gisel tampak marah mendengar jawaban Keenan.


Keenan menoleh pada Gisel. meneguk Wine di tangannya dan tersenyum sinis pada gisel.


"kenapa? aku berkata yang sesungguhnya bukan?"

__ADS_1


Gisel tampak marah. tapi tak bisa berkata apa-apa. membuang pandangannya ke arah lain.


tuan Wijaya berpidato di panggung. mengucapkan banyak terima kasih pada semua tamu undangan yang hadir.


semua orang bertepuk tangan setelah tuan Wijaya mengakhiri pidatonya. kini musik mengalun lembut. lampu juga berganti redup. ada beberapa pasangan yang turun melantai.


Deva mengajak caera duduk. selalu berada di sisi caera. membuat caera makin berbunga-bunga menerima sikap mesra Deva.


"kau menikmati acaranya sayang?"


caera mengangguk. tersenyum menatap Deva.


"tapi banyak wanita marah pada ku Dev"


"kenapa?"


Deva mengerutkan dahi.


"karena tuan pangeran malam ini, duduk bersama ku"


"hahahaa... sudah sepantasnya mereka iri pada wanita sencantik diri mu sayang. aku suka itu"


"iihh.. kamu suka kalau mereka cemburu?"


caera cemberut.


"ya. itu artinya kamu adalah yang terbaik dari sekian banyak wanita di sini bukan?"


"aku hanya beruntung Dev"


Deva meraih dagu Caera. menatap manik matanya.


"apapun alasannya, hanya kamu yang ku cinta Ra"


aahhh.. manis sekali sih kamu Dev.


aku kan jadi makin cinta


tampak Arya melihat kearah caera dan Deva dengan gelisah. ingin rasanya dia menarik Deva dan menghajarnya saat itu juga. tapi dia tidak seberani itu. Deva adalah orang berpengaruh.


"Arya! ada aku disini. kenapa sih kamu melihatnya dia terus?"


Vivi marah karena Arya terlihat tidak menganggapnya ada.


Arya tampak tidak senang dengan kemarahan Vivi.


"kau menyebalkan!"


Vivi memukul lengan Arya marah.


Arya menatap Vivi malas. tidak menghiraukan perempuan hamil itu marah karena sikap dinginnya.


Deva mengajak caera melantai. caera menurut saja. bergabung di lantai dansa bersama beberapa pasangan.


Deva melingkarkan tangannya di pinggang caera, dan caera meletakkan tangannya di dada Deva. dan tangan sebelahnya bertaut dengan tangan Deva.


berdansa menikmati alunan musik lembut. merapat dengan mesra seperti tak melihat ada orang lain di sana. hanya mereka berdua. yang lain cuma bayangan tak berarti.


caera melirik Arya yang berdiri di dekat meja bar minuman, menatapnya tajam. sementara Vivi merengut sebal di sampingnya.


caera tersenyum jahat. menunjukkan pada kedua orang itu bahwa dia sangat bahagia bersama kekasihnya yang tampan, kaya, dan orang penting di kota ini. bangga bukan?


melingkarkan tangannya ke leher Deva. dan Deva menyambut itu dengan kecupan hangat di dahinya.


aahhh.. dunia serasa milik berdua. yang lain cuma ngotrak harian!


Gisel tampak keki. kenapa semua orang hanya menaruh perhatian pada Deva dan caera, seakan tak ada pasangan lain yang lebih heboh di bandingkan mereka berdua.


Keenan juga bersikap dingin padanya. sedari tadi tak lepas menatap caera. entah apa yang di pikirkan suaminya ini.


Deva menyudahi acara dansa dengan caera. mengajaknya duduk lagi. Jacko mendekat. membisikkan sesuatu pada Deva. caera tidak mendengar itu. entah apa yang di bisikkan Jacko pada Deva.


"Dev, aku mau ke toilet sebentar"


"baiklah sayang. Dira akan mengantar mu"


"Dira? di sini juga? aku tidak melihatnya"


caera mengedarkan pandangannya. tapi tak menemukan Dira.


"saya di sini nona"

__ADS_1


Dira muncul tiba-tiba. caera sampai kaget. Dira muncul begitu saja. mungkin karena lampu yang kini redup dan banyaknya tamu yang hadir, makanya dia tak melihat Dira juga ada di situ. dan penampilannya juga berbeda. Dira tampak cantik dengan gaun berwana hijau botol.


"Dira... kamu di sini juga?"


caera menatap Dira senang.


Dira mengangguk dan tersenyum pada caera.


lalu mengajak caera pergi ke toilet. caera mengikuti langkah Dira.


toilet wanita di ujung sebelah kiri ballroom. Dira dengan setia menunggu caera. menjaga nona majikannya.


setelah selesai, caera berdiri mamatut dirinya di cermin.


"Dira, kenapa aku tidak melihat mu tadi? kau datang dengan siapa?"


tanya caera menatap Dira dari pantulan cermin.


"saya datang sendiri nona"


jawab Dira besikap tegas.


"Dira, kenapa formal begitu?"


caera tampak tidak suka dengan sikap Dira akhir-akhir ini.


Dira hanya diam dan mengangguk hormat pada caera. tak ingin menjawab apa yang di tanyakan caera.


"jangan begitu dir. panggil aku kakak seperti biasa"


belum sempat Dira menjawab, dari pintu muncul Gisel masuk ke toilet. melihat caera dengan dingin. mendekat mensejajarkan dirinya di depan cermin.


caera mencoba tersenyum pada Gisel. tapi Gisel tak membalas. malah terlihat lebih bermusuhan.


"kau cantik sekali malam ini nona caera"


sapa Gisel dengan dingin. menatap caera dari pantulan cermin.


"terima kasih nona Gisel. anda juga cantik sekali malam ini"


jawab caera dengan senyum ramah.


Dira makin bersikap waspada di belakang mereka berdua. berjaga-jaga dengan sikap dingin Gisel, yang penuh permusuhan pada caera.


"tapi aku rasa, cukup untuk Deva. jangan menggoda yang lain"


Gisel berpaling menghadap caera sekarang. caera mengerutkan dahi mendengar ucapan Gisel.


"Deva adalah lelaki yang baik. jangan membuatnya hilang harga diri hanya karena sikap menggoda Anda"


"jaga sikap anda nona Gisel"


Dira maju.


Gisel menoleh pada Dira. menatapnya skeptis.


"kau sudah mulai mengajari ku?"


Gisel memicingkan matanya benci pada Dira.


Dira diam saja. tidak menjawab Gisel.


"masih untung Richard melirik mu. jangan terlalu maju"


ujar Gisel sarkas.


"dan anda. saya harap, jangan memanfaatkan Deva karena kebaikannya"


Gisel menghadap pada caera lagi.


mendengar itu, yang tadinya caera memuja Gisel dengan kecantikannya, kini hatinya mentah melihat sikap Gisel. kenyataan berbeda jauh. Gisel membencinya.


"maaf nona Gisel. saya pikir, itu bukan karena sikap menggoda saya. tapi karena mata mereka tahu mana yang terbaik"


ujar caera berani.


"oohh.. berani sekali anda"


Gisel tampak marah. kata-kata caera sangat sarkas menampar wajahnya.


"maaf nona, malam ini adalah malam bahagia Deva dengan ku. jadi, saya harap nona tidak merusaknya dengan sikap iri yang anda punya. selamat malam"

__ADS_1


caera beranjak pergi dengan menarik tangan Dira, meninggalkan Gisel. Gisel tampak kesal dan merasa terhina dengan sikap caera. tapi caera sudah keluar dari toilet meninggalkannya sendiri.


__ADS_2