DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 78


__ADS_3

sesampainya di rumah, caera langsung saja menuju kamarnya. sapaan Friska dan jiya, hanya di balas dengan anggukan. caera ingin menangis yang sedari tadi di tahannya.


untung saja Gino ada di rumah ibunya. caera bisa mengunci diri di kamarnya. sedari tadi di mobil Dira, caera diam membisu. dadanya sangat sesak. memikirkan tuduhan Vivi padanya. kenapa jadi terbalik, malah Vivi yang menuduhnya ingin merebut Arya kembali? apa tidak salah wanita gila yang satu itu?


caera menghempaskan dirinya di tempat tidur. menelungkupkan wajahnya agar tangisnya tidak terdengar. dia bukan menangis karena tuduhan Vivi. tapi dia menangis karena malu, banyak orang-orang kantor yang menyaksikan pertengkarannya dengan Vivi.


apalagi mereka mendengar semua apa yang di katakan Vivi tadi. pastilah mereka salah paham dengannya.


tidak ada niat di hatinya ingin merebut Arya kembali. dia hanya ingin Arya dan Vivi tahu, kalau dia bisa mendapatkan lebih dari apa yang sudah ia miliki dulu bersama Arya.


tapi, apa benar Arya jadi sering mabuk karena dirinya? sampai mabuk di kantornya lagi. tuan Wijaya pasti sangat marah pada Arya.


caera pernah bertemu dengan tuan Wijaya dua kali. ketika acara ulang tahun perusahaannya, dan ketika Arya naik jabatan menjadi manajer.


caera sangat kesal pada Vivi. entah apa yang di pikirkan perempuan itu hingga menuduhnya membuat Arya suka mabuk. apa salahnya? bertemu saja tidak pernah. terakhir kali melihat Arya di pemakaman tuan Nugraha. itu pun hanya sekian detik caera melihatnya.


ingin rasanya membalas apa yang telah di lakukan Vivi padanya. cukup puas dia bisa menampar wajah orang yang telah menghancurkan rumah tangganya. walaupun sebenarnya caera tidak menginginkan itu.


caera terisak di bantal. menumpahkan rasa kesal dan marah yang menghujam hatinya. dendam itu berkobar lagi. jika Vivi bisa menuduhnya dengan buta, kenapa ia tidak bisa menghancurkan Vivi juga?


"lihat saja nanti. aku akan membuat mu menangis Vi!"


dadanya terasa sesak, menangis terisak hingga kelelahan. tak menghiraukan Dira menunggunya di luar.


****


Deva menatap layar laptop di depannya dengan seksama. terlihat di layar laptop itu, caera sedang tidur meringkuk di lantai kamar. keadaan kamar gelap. di layar laptop visual caera hanya di terangi cahaya inframerah. jadi dalam video itu, menampilkan warna hitam dan putih saja.


Deva meremas rambutnya kencang. terlihat frustasi melihat wanita yang di cintainya tertidur meringkuk di lantai.


"dia akan sakit Jack"


lirih suara Deva.


"kita masih ada pertemuan dengan tuan Yoko, satu jam lagi. setelah itu, kita akan pulang"


Jacko melirik arloji di tangannya, dengan banyaknya tumpukan berkas di atas meja di depannya.


"ya ampun! kenapa aku harus menunggu terus?"


Deva merasa kesal karna banyaknya jadwal pertemuan yang harus di hadiri.


"tidak baik mengabaikan tanggung jawab. kita sudah menunda pertemuan tuan Yoko sampai Minggu ini"


jawab Jacko masih memeriksa dokumen.


Deva menelentangkan tubuhnya di ranjang kamar hotel. mereka sedang ada di luar kota untuk memeriksa beberapa pekerjaan. dan ada agenda pertemuan dengan tuan Yoko. Seorang lelaki keturunan Jepang, yang merintis usahanya di Indonesia.


"hhhhhh... aku rindu kebebasan"


ujar Deva lirih. berkata pada dirinya sendiri.


Jacko menatapnya. membiarkan Deva telentang menatap langit-langit kamar. Jacko mengerti perasaan Deva. dengan banyaknya tanggung jawab di pundaknya, Deva tidak bisa pergi kemana pun sesuka hatinya.


Deva sudah pernah merasakan kebebasan itu walaupun hanya sekejap. tapi, begitu ia menemukan jati dirinya lagi, seakan membuka matanya bagaimana banyaknya orang-orang yang menggantungkan harapan padanya. membutuhkan naungan untuk hidup.


dulu, ketika mereka masih kuliah, Deva adalah pemuda yang sangat periang. walaupun harus di kelilingi sekian banyak pengawal yang mengawasi kehidupannya setiap hari.


karena tuan Elliot menaruh harapan besar pada Deva. anak tertuanya lebih memilih menjalani pendidikan militer dari pada meneruskan tampuk kekuasaan keluarga Elliot.


Jacko ingat, ia dan Deva selalu mengendap-endap keluar dari rumah untuk menghindari pengawalnya. melompati pagar rumah agar bisa bebas berkeliaran dengan menyamar. walaupun kadang, harus di kejar-kejar anjing pengawal yang di sediakan tuan Elliot khusus untuk menjaga rumah.


"sabar lah Dev. aku tahu kau kuat"


Jacko menarik napas perlahan. menyandarkan punggungnya ke sofa. tersenyum menatap Deva yang masih menerawang jauh merindukan kebebasan menjadi orang biasa.


*****


gelap.


begitu membuka matanya, caera hanya melihat kegelapan terpampang di depan matanya. ia mengerjap-ngerjapkan matanya agar bisa melihat di gelapan.


belum bisa menggerakkan tubuhnya karena tangannya terasa kebas tertindih tubuhnya. posisi tidurnya pun di rasakan aneh. meringkuk tapi sedikit menungging. mungkin karena kedinginan mencari rasa hangat sampai posisi tidurnya begitu.


caera merasakan lantai yang dingin. menggeser tubuhnya perlahan. menarik kedua lengannya dari bawah tubuhnya sendiri.

__ADS_1


"uughhhh.."


dengan susah payah, ia berhasil menarik lengannya yang terasa kebas. karena tertindih, sampai darah tidak mengaliri lengannya dengan baik.


menelentangkan tubuhnya. meluruskan kakinya perlahan.


"uuuhhh.. dingin"


ujarnya lirih.


bergerak bangkit dengan susah payah. melangkah tertatih meraba-raba menuju ranjang. dia lupa di mana saklar lampu. memutuskan untuk berbaring di ranjangnya saja.


setelah tangannya menyentuh ranjang, caera duduk di tepinya. berpikir sejenak mengingat di mana saklar lampu. sudah lama dia tidak menempati rumah ini. lupa di mana letaknya. apalagi baru hari ini dia tidur di sini tanpa memperhatikan keadaan rumah.


caera tidak bisa melihat apapun. keadaan di luar jendela juga sudah gelap. entah berapa lama dia sudah tertidur di lantai. setelah kelelahan menangis, entah kenapa tadi sore dia ingin tidur di lantai.


caera melirik garis cahaya remang-remang di bawah pintu. ia bangkit bergerak menuju pintu. pasti saklar lampu ada di dinding dekat pintu.


berjalan merambat pelan-pelan. meraba-raba menuju ke pintu. meraba dinding di sampingnya.


"aaahh.. ini dia"


caera memencet saklar lampu ke bawah.


blaaarr..


seketika terang memancar dari bohlam. kamarnya sudah terang. caera melihat sekeliling. ia suka kamar barunya. melihat tas tangannya tergeletak di ranjang.


meraih tas itu dan memeriksa ponselnya. banyak panggilan tidak terjawab dari Deva. ada lima puluh panggilan.


caera menghempaskan napas dan menghelanya keras. mendongakkan kepalanya ke atas. tampak lelah mengingat kejadian hari ini.


caera melangkah menuju meja rias. duduk di depan cermin besar.


wajahnya sangat kusut. rambutnya acak-acakan. matanya terlihat sembab. bergidik melihat tampilan wajahnya sendiri. sangat kusut dan berantakan.


Kling.. kling.. kling...


ponselnya berdering. caera melirik layar yang menampilkan siapa yang menelepon.


telepon dari Deva. untung saja dia tidak menelepon via video call. mau di taruh di mana mukanya kalau Deva melihat keadaannya yang berantakan begini.


"hallo"


"sudah bangun sayang?"


tanya Deva di seberang sana.


caera diam sejenak.


memang dasar pria sok tahu, dia bisa menebak dengan tepat aku baru bangun tidur?


"tidak. saya baru selesai makan tuan"


jawab caera ketus.


" hahaaaa... kamu lucu ya"


Deva terbahak mendengar jawaban caera.


caera diam lagi. tidak menyahuti kata-kata di telepon. menajamkan pendengarannya. dia seperti mendengar suara tawa dari luar kamarnya. mirip suara Deva.


"anda di mana sekarang tuan?"


tanya caera sambil mengernyitkan dahi.


"selalu di dekat mu sayang"


"serius tuan Dev. jangan bercanda"


caera sedikit kesal.


"haha... iya sayang. dekat di hati mu"


Deva masih saja menggombali caera.

__ADS_1


caera mendengar suara tawa itu lagi. makin mengernyitkan dahinya. suara itu seperti terasa dekat. caera beranjak ke pintu pelan-pelan. membuka pintu kamar dan melongokkan kepalanya keluar, memeriksa siapa yang ada di luar kamar. tapi tidak ada orang. di luar kamar sepi. hanya temaram lampu yang menyinari ruang tengah.


"tuan Dev"


panggil caera di telepon. suaranya lirih. seolah-olah takut terdengar orang lain. sambil melangkah Pelan-pelan keluar kamar, dan memeriksa keadaan di ruangan lain.


"kenapa berbisik sayang? kau ingin menggoda ku?"


"apa?!"


caera sengaja mengencangkan suaranya pura-pura kaget. memancing Deva tertawa lagi. caera menjauhkan ponsel dari telinganya dan menutup speaker ponselnya.


"hahaahaa... kau manis sekali kalau begitu sayang"


Deva tertawa lagi.


pancingan caera berhasil. ia mendengar suara tawa Deva lebih dekat sekarang. ada di ruang depan sepertinya.


"tuan Deva"


panggilnya lagi di telepon ingin memastikan. tapi tidak ada jawaban.


caera melihat layar ponsel. panggilan Deva masih tersambung. tapi tidak ada suara apapun.


"tuan Deva"


panggilnya lagi agak kencang. tapi tetap tidak ada jawaban.


jantung caera mulai berdebar-debar. kenapa tidak ada seorang pun di rumahnya? kemana jiya, Friska, dan Dira? bukannya tadi sore mereka ada di sini? lalu, suara tawa siapa yang dia dengar dari ruang tamu?


caera melongokkan kepalanya ke ruang depan. memeriksa keadaan di depan. tapi sepi. ruang tamu agak gelap. hanya dapat pantulan cahaya samar dari ruang tengah.


"tuan Dev!"


caera mengencangkan suaranya di ponsel memanggil Deva. tapi tetap tidak ada jawaban. jantung caera semakin cepat berdebar. rasa cemas langsung menyerangnya. berdiri di ruang depan seorang diri.


caera melangkahkan kakinya mendekat ke jendela. ingin memeriksa keadaan di luar. menyibakkan sedikit tirai gorden jendela. di luar sepi. tidak ada tanda-tanda ada orang di luar.


tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang melingkari pinggangnya. dengan kaget, cepat-cepat ia melihat apa yang melingkari pinggangnya. dan menautkan tangan di perutnya.


dua tangan kokoh melingkari pinggangnya. merapatkan dadanya di punggungnya. pucat pasi caera merasa ada ancaman.


"AAAAAA...."


caera menjerit sekuat tenaga. meronta minta di lepaskan. tapi tangan itu membelitnya erat.


"sayang.. sssttt... ini aku"


Deva mencoba menyadarkan caera. tak menyangka reaksi caera akan jadi berlebihan begini.


"lepas.. lepas!!"


caera masih meronta.


"Ra.. caera.. sayang. ini aku, Deva!"


Deva melepaskan lingkaran tangannya di pinggang caera. menangkup wajah caera agar menatap padanya.


"sayang.. tenang. ini aku"


caera melemahkan rontaannya. membuka matanya dan melihat Deva di depannya. air mata merangsek ingin keluar. ia kesal melihat Deva tersenyum menatapnya. tidak tahu apa kalau jantungnya sudah ingin copot!


"ini aku. jangan takut"


bisik Deva.


"iihh.. lepas!"


caera jengkel setengah mati. emang enak di buat senam jantung begitu? caera menghempaskan tangan Deva kasar. berjalan ke kamarnya dengan langkah lebar-lebar.


bukan cuma kaget, caera juga malu karena penampilannya yang sangat kusam menurutnya. dia berjalan cepat masuk ke kamar.


"hahahaa..."


Deva terbahak melihat caera jengkel setengah mati. Deva sungguh senang menjahili caera. merasa caera makin terlihat manis jika begitu.

__ADS_1


__ADS_2