DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 119


__ADS_3

caera dan Deva mengetuk pintu ruang perawatan Vivi. Gino juga ikut. dan Jacko mengikuti di belakang. menunggu sejenak lalu pintu terbuka.


Maya agak kaget melihat caera dan Deva di depan pintu. lalu menatap Gino di gandeng Deva.


perlahan, Maya melebarkan pintu. mempersilahkan mereka masuk. terlihat Vivi masih lemah berbaring di brankar dengan sekantong darah yang mengalir di selang infus yang tertancap di tangannya.


Maya berdiri di samping brankar Vivi. Deva dan Gino hanya berdiri menunggu. Jacko meletakkan parcel di meja, lalu bergabung bersama deva. caera mendekat ke brankar Vivi.


wajah Vivi pucat. mungkin karena kehilangan banyak darah. Vivi menoleh melihat caera. caera mengangguk dan tersenyum.


"Ra" ujar Vivi lirih.


caera hanya menatap Vivi dengan segala rasa bercampur aduk di dadanya. Vivi menggerakkam tangannya melambai meminta caera lebih mendekat ke arahnya.


caera menurut. lebih mendekat ke arah Vivi. Vivi menjulurkan tangannya mengisyaratkan untuk caera memegang tangannya. cepat caera meraih tangan Vivi dan menggenggamnya.


"Ra. maafkan aku"


"sssttt.. jangan bicara begitu. aku yang seharusnya meminta maaf pada mu Vi. aku tidak bisa menolong bayi mu kemarin"


"hhh.. kau bodoh sekali. masih saja merasa bersalah dengan apa yang tidak kau lakukan" ujar Vivi. air mata menetes di sudut matanya.


"aku lah yang jahat Ra. ini balasan untu ku"


caera diam. dia juga menangis. hatinya perih.


"maaf sekali lagi. aku juga mencintai suami mu dari dulu. tapi Arya tidak pernah melihat ku. maafkan aku Ra.. hiikkss hikkss"


"Vi, semua sudah terjadi. biarlah begitu"


"hhh.. kau wanita bodoh. kenapa kau tidak mencakar ku? aku sudah sangat jahat pada mu"


ujar Vivi lirih. terisak sedih mengingat semua yang di lakukan pada caera.


caera hanya diam. menatap Vivi sedih.


"kau masih menganggap ku sahabat mu Ra?"


caera mengangguk. tersenyum getir. Vivi menagis makin pilu.


"kau sungguh wanita baik. pantas saja Arya tidak bisa meninggalkan mu"


"sudah lah Vi. kau masih sakit. tidak baik bicara yang tidak-tidak. aku harap kau segera pulih ya"


"kau mau memaafkan ku bukan?"


caera mengangguk lagi. tersenyum. Vivi melirik Deva. lalu menatap caera lagi.


"kau pantas mendapatkan cintanya" Vivi menggerakkan dagunya menunjuk Deva.


caera menoleh menatap Deva. lalu tersenyum lagi melihat Vivi.


"Vi.. cepatlah sembuh. kau bisa punya bayi lgi bersama Arya. aku harap kalian baik-baik saja"


"kecil kesempatan ku"


"jangan pesimis. semua bisa terjadi"


Vivi hanya diam. tak menjawab itu. ia tahu Arya tidak pernah mencintainya.


"aku boleh bertemu Arya?" tanya caera.


Vivi menatap manik mata caera. terlalu besar ketulusan di sana. membuat hati Vivi bergetar perih. dia sungguh kejam telah membuat begitu banyak penderitaan pada sahabatnya ini.


"dia masih milik mu. kau boleh bertemu kapan saja" jawab Vivi. "dia ada di luar"

__ADS_1


caera tersenyum lagi.


"terima kasih Vi. istirahatlah.. pulihkan diri mu. hmm"


Vivi hanya mengangguk saja. caera melepaskan pegangan tangannya. lalu menatap Maya sejenak. wanita setengah baya itu hanya menunduk. tak berani menatap mata caera.


caera melangkah mendekati Deva. Deva meraih tangan caera dan mengajaknya keluar meninggalkan Vivi dan Maya.


****


taman rumah sakit terlihat sepi. hanya ada sepasang suami istri yang sudah renta, duduk di bangku taman sebelah pinggir.


tampak Arya duduk sendiri menunduk menatap kakinya memainkan rumput. menginjaknya, lalu rumput itu terlihat berdiri lagi. begitu seterusnya.


caera menatap Deva. menyentuh pipinya. menatapnya dengan sayang.


"boleh aku ke sana Dev?"


Deva mengangguk. tersenyum pada caera.


"pergilah. bicara padanya. aku menunggu mu di sini"


caera tersenyum dan mengecup pipi Deva. lalu melangkah mendekati Arya. berhenti sejenak di samping Arya. Arya menoleh. menatap mata caera. tapi dia diam saja.


caera duduk di samping Arya. sama-sama menunduk menatap rumput taman di bawahnya.


"apa kabar mas?"


Arya menghela napas panjang. lalu menoleh menatap caera.


"seperti yang kau lihat Ra. aku hancur"


caera menoleh menatap Arya di sampingnya. menatap manik mata itu lekat.


"jangan begitu. kau akan baik-baik saja"


"mas, maafkan aku tidak bisa menyelamatkan bayi mu"


"itu bukan salah mu Ra. semua sudah terjadi"


mereka sama-sama terdiam. menatap bintang berkelip di langit kelam.


"Ra, takdir memang kejam ya. tidak bisa membuat kita bersatu" ujar Arya lirih.


"masih ada hari esok untuk kita menjemput takdir baru mas "


"aku masih mencintai mu Ra. kau tidak mencintai ku lagi?"


hati caera bergetar mendengar itu. rasa sakit menyusup di hatinya. lelaki ini masih saja mencintainya dengan banyak kejadian yang telah mereka alami.


Arya. dia cinta pertama caera. sampai detik ini, nama itu masih ada di titik ruang paling dalam di hatinya.


"Vivi menati mu. dia mencintai mu. dia lebih membutuhkan mu mas" bergetar suara caera mengatakan itu.


Arya menghadap kepadanya. menempelkan keningnya di kening caera.


"aku tidak bisa. tetap tidak bisa. hanya nama mu yang ada di sini"


Arya menunjuk dadanya. air mata berlinang. caera ikut menangis. sedih melihat lelaki ini sangat menderita.


di lorong rumah sakit, Deva melihat itu dengan cemburu menggelegak menguasai hatinya. Jacko memegang bahu Deva. menyalurkan kekuatan untuk Deva bertahan.


"Daddy.." Gino memanggilnya.


Deva berjongkok. menatap bocah lelaki itu.

__ADS_1


"Gino mau bertemu papa?"


Gino mengangguk. Deva tersenyum.


"pergi lah. temui papa Arya"


dengan gembira, Gino berlari menemui caera dan Arya di taman. Deva menoleh menatap Jacko.


"hhh.. mungkin caera juga bukan takdir ku Jack. lihat lah mereka. itu keluarga yang bahagia bukan?"


Deva menggerakkan dagunya menunjuk pada caera dan Arya di taman.


"jangan cengeng bos!" Jacko menggeram.


"batalkan acara itu Jack. jangan teruskan. ayo kita pergi"


Deva melangkah meninggalkan rumah sakit. Jacko menatap ke arah taman sejenak. tampak caera masih tidak menoleh ke arahnya. masih asik berbincang dengan Arya yang memeluk Gino.


dengan langkah lebar, Jacko mengikuti Deva pergi dari sana. entah apa yang harus di lakukan kalau begini.


"Ra, tidakkah kita terlihat seperti keluarga kecil bahagia? tidakkah masih ada cinta mu untuk ku?"


Arya menggengam tangannya sambil memeluk Gino. caera memejamkan matanya mendengar kata-kata Arya.


ingin mencari Arya di hatinya. tapi di kegelapan ia hanya melihat wajah Deva. senyumnya, sayangnya, cintanya, ketulusannya, dan rasa melindungi yang tiada duanya. wajah itu terpampang jelas ketika caera memejamkan mata.


"deva.."


tanpa sadar caera menyebut nama indah itu di bibirnya. membuat Arya menunduk dan melepaskan pelukannya pada Gino.


caera membuka matanya. tersenyum mengukir nama Deva di lubuk hatinya yang paling dalam. menyingkirkan nama Arya dari sana.


caera melirik lorong rumah sakit tempat Deva menunggu. tapi lelaki itu sudah tidak ada. caera hanya tersenyum.


ternyata kau juga bisa cemburu Dev. kau pergi meninggalkan aku yang berjuang menempatkan mu tetap di hati ku. tunggu saja kau. aku akan menghukum mu dengan keras.


"Gino, Gino sayang papa Deva?" tanya Arya pada bocah kecil itu.


Gino mengangguk tersenyum. memainkan jari-jari Arya di tangan mungilnya.


"bukan papa, tapi Daddy, papa. Gino sayang Daddy. Daddy sayang Gino. Gino mau sama Daddy main tok tok lagi"


dengan polosnya bocah itu menjelaskan keinginannya pada Arya. Arya tertawa kecut. begitu jelas hubungan batin antara Deva dan Gino sudah tercipta. dia terlambat. tidak ada kesempatan lagi.


"mas. nama mu Masi ada di ruang lain di hati Ku. ku harap kau mengerti. setelah ini, hiduplah dengan baik bersama Vivi. dia mencintai mu"


"hhh.. aku tidak berharap dengan itu. aku tetap tidak bisa mencintainya. tidak apa-apa. mungkin inilah balasan ku yang sudah menyakiti hati mu"


"jangan mengingat itu lagi mas. bangkit lah. jalan mu masih panjang"


Arya hanya tersenyum getir. dia harus bisa melepaskan caera bersama deva. hidup bahagia setelah banyak menangis karena perbuatanya.


"tidak apa-apa Ra. Deva berhak mendapatkan cinta mu. pergi lah. dia sudah cemburu Samapi meninggalkan mu" Arya melirik lorong rumah sakit.


caera tersenyum lebar. mengingat Deva terbakar cemburu.


"baik lah mas. aku pergi dulu. kau baik-baik ya. aku harap, kau akan menemukan cinta yang lain yang bisa membuat mu bahagia"


Caera menggenggam tangan Arya. memberinya semangat untuk bangkit maju kedepan. Arya memeluk Gino lagi.


"Gino, baik-baik ya nak. jaga mama mu"


Gino mengangguk. caera dan Gino bergandengan tangan meninggalkan Arya di bangku taman. setelah agak jauh dan akan membelok, caera dan Gino menoleh pada Arya. lalu melambaikan tangan di balas Arya di kejauhan.


lalu melangkah pergi. menuju hidup yang lebih baik dengan banyak cinta yang di harapkan tidak akan pernah berubah Sampai akhir.

__ADS_1


Deva..


itu tujuan caera. dia akan menghajar lelaki mesum yang sudah karatan itu, karena berani meninggalkannya sendiri.


__ADS_2