
"selamat datang sayang"
DUAAARRRR
serasa petir menyambar dengan keras kepala caera. orang yang selalu di hindari, sampai tidak ingin bertemu, dan selalu ia menunjukkan sikap penolakan, sekarang duduk dengan tenang dan wajah sesegar embun pagi, dengan senyum menawan menjadi bosnya dengan sederet syarat kontrak kerja yang sudah terlanjur di tandatangani caera.
Deva memakai setelan jas berwarna navi. dengan dasi bercorak garis-garis hitam kecil dan merah terang. sangat menonjolkan aura tampan yang lekat. tapi itu tidak membuat caera terpana. malah makin membuatnya lemah.
😣 tiba-tiba kepalanya terasa pening. berdenyut nyeri di bagian pelipis. 😠ingin menangis saja rasanya. tapi air mata tak kunjung keluar.
"sayang, kau baik-baik saja?"
Deva bergerak berdiri dan melangkah mendekati caera.
"caera, kamu baik-baik saja?"
Deva mengulangi bertanya dan memegang lengan caera erat. tampak sangat menghawatirkan keadaan caera, karena wajah wanita ini tampak pias.
wuuuuaaaaaaaaa... kau tanya baik-baik saja??? ya tidak laaaahh!! aku takut pada mu tuan devaaa...
caera menekuk wajahnya. bingung harus bersikap bagaimana. kakinya sedikit gemetar. bisa gawat kalau ini di teruskan. Deva selalu bersikap manis padanya. pasti nanti akan bersikap yang aneh-aneh lagi. begitu pikir caera.
"caera" Deva mengguncang halus lengan caera karena wanita itu masih diam saja. "ayo, duduk di sini"
Deva membawanya duduk di sofa. caera masih shock. hanya menurut dan terduduk lesu di sofa.
"Jack! kenapa kau diam saja?!"
Deva panik. meneriaki Jacko yang hanya berdiri memperhatikan.
Jacko bergerak mengambil air meneral di dalam kulkas kecil yang ada di samping rak lemari berkas. dan secepatnya memberikan pada Deva.
dengan terburu-buru Deva menuangkan ke gelas dan menyodorkan pada caera.
"ini, minum dulu sayang"
mendengar kata sayang yang belum di hilangkan deva dari kemarin, caera menjadi semakin frustasi. 😖 memijit keningnya yang dirasakan semakin berdenyut nyeri.
"ini sayang. ayo minum dulu"
Deva menyodorkan gelas sampai ke dekat mulut caera. dengan cepat caera mengambil gelas itu dan meminum airnya setengah.
"kamu tidak apa-apa sayang?"
Deva membelai rambut caera dengan sayang.
astaga... lelaki ini! apa tidak risih di lihat Jacko!
"eehmm.. maaf tuan Deva. saya tidak apa-apa"
caera menepis pelan tangan Deva yang mengelus kepalanya dengan sayang. agak menggeser duduknya sedikit menjauh. walau itu hanya bergeser beberapa senti saja dari Deva.
"syukurlah"
Deva bernapas lega. dan kini memperbaiki duduknya di samping caera.
"maafkan aku. aku tidak bermaksud membuat mu kaget tadi"
Deva menggenggam tangan caera.
caera melirik Jacko yang berdiri di dekat mereka. lelaki itu tidak menatap mereka berdua, tapi berdiri tegak persis sebuah robot yang siap di perintah.
"iya tidak apa-apa tuan Dev"
caera menyeringai kaku. sangat kikuk melihat Deva menganggapnya seperti seorang kekasih sesungguhnya.
Jacko beranjak pergi. tanpa berkata-kata atau permisi pada Deva. caera melongo saja melihat lelaki berkulit coklat gelap itu pergi. Deva tidak menghiraukan.
"sudah lebih baikan sekarang?"
Deva menatap caera sangat intens.
caera hanya mengangguk mengiyakan. dia bingung bagaimana caranya keluar dari jeratan Deva. hatinya berkecamuk mengait-ngaitkan fazel-fazel yang berserakan di ingatannya.
"selamat ya. kau sebagai sekertaris ku sekarang"
Deva tersenyum dan mengulurkan tangannya.
caera tidak menggubris itu. langsung menatap Deva dan menepiskan tangan pria itu. segera berdiri dan membungkuk hormat. dia harus bersikap profesional dalam bekerja.
__ADS_1
"maaf tuan, apa tugas saya sekarang?"
tanya caera tegas.
Deva diam. menaikkan alisnya dan menatap caera karena telah menolak uluran tangannya tadi.
"tidak ada"
jawab Deva singkat.
"apa?" caera kaget. mendongakkan kepalanya melihat wajah bosnya.
"eh .. maksud saya, apa maksud tidak ada, tuan?"
caera cepat-cepat menunduk lagi. tidak berani menatap Deva yang menatapnya sedari tadi.
"tidak ada. hari ini kamu di tugaskan untuk menemani saya saja"
apa sih maksudnya menemani saja? memangnya aku waitress?
caera diam. ia mengutuk dalam hati. apa maksud bosnya ini. merasa sangat kesal tapi tidak berani membantah.
dari kemarin dia sudah curiga bagaimana bisa segampang itu di terima di perusahaan yang begitu besar ini. dan curiga melihat semua karyawan yang di temuinya seperti memperlakukannya sangat spesial.
dan tentang kontrak, bagaimana ini? membatalkan kontrak itu sama saja caera bunuh diri. pasti harus membayar nominal yang tidak sedikit, karena di anggap tidak profesional dalam berkomitmen.
pintu terbuka. Jacko masuk dengan seorang OB membawa baki berisi penuh makanan dan minuman. sepertinya sarapan untuk Deva. caera agak bergeser menjauh, agar OB dengan leluasa menaruh makanan di meja.
setelah OB pria itu dan Jacko pergi, caera semakin blingsatan saja karena kini Deva berdiri dan menarik tangan caera untuk duduk bersamanya.
"ayo sarapan. kau pasti belum makan karena datang terlalu pagi bukan?"
ujar Deva.
Deva mengambil piring yang berisi sarapan. menyodorkannya ke depan caera.
"eh.. tidak tuan, terima kasih. saya sudah sarapan tadi"
caera menggerakkan tangannya menolak.
Deva tersenyum lagi. menatap caera yang setengah mati menahan diri untuk tidak lari keluar ruangan CEO yang megah ini.
ujar Deva lembut. masih menatap caera dengan senyum yang meneduhkan.
aduuuuhhh.. apa sih tatapan mu itu tuan devaaa
caera merasa serba salah. akhirnya ia menerima piring itu dari Deva. hanya diam memandangi makanan di tangannya.
"mau aku suapi sayang?"
caera menegang. membulatkan matanya sempurna. merasa ngeri jika Deva benar-benar nekat menyuapinya.
cepat-cepat ia menyuapkan makanan itu ke mulutnya. mengunyah pelan-pelan dengan menunduk. merasa tak sanggup menelan sarapan nikmat itu.
Deva ingin tertawa terbahak melihat ke gugupan caera. sangat lucu sekali sikap caera yang ketakutan padanya. padahal dia tidak berbuat hal yang sadis.
Deva mencolek lengan caera. caera agak terjengkit kaget dan menoleh.
"Aaaa"
Deva membuka mulutnya. bermaksud caera menyuapkan sarapan itu ke mulutnya juga. caera mendelik. tak menyangka Deva meminta di suapi.
caera menelan makanannya dengan susah payah. terasa seperti menelan duri pohon salak yang menyangkut di kerongkongannya.
"aaaaa"
Deva masih membuka mulut. menunjuk-nunjuk mulutnya, dan melirik makanan di tangan caera.
caera melihat Deva dan makanan di tangannya bergantian. dengan banyaknya keluhan, pasti hari ini akan sangat melelahkan.
caera mengalah. menyuapkan makanan ke mulut deva.
"aaammm"
kata Deva seperti anak kecil yang di suapi ibunya makan. menguyah makanan itu dengan riang gembira.
rasanya ingin menangis histeris melihat kelakuan Deva yang super aneh.
Deva menarik sendok dari tangan caera. menyendokkan makanan dan menyodorkan pada caera. dengan lemah, caera membuka mulutnya dan menerima makanan itu.
__ADS_1
Deva tersenyum. senang melihat caera sudah lebih menurut padanya. mengambil lagi makanan itu dengan sendok, dan ingin menyuapkan lagi pada caera.
begitu Deva mendongak dan ingin menyuapkan makanan itu ke mulut caera, dia kaget luar biasa. tampak caera mengunyah sambil menangis. meneteskan air mata tanpa suara karena mulutnya penuh dengan makanan dan mengunyah dengan susah payah.
"caera"
cepat-cepat Deva menaruh sendok ke piring dan menarik piring yang ada di tangan caera, menariknya di meja dengan cepat. sampai makanan itu sedikit tumpah ke meja.
"caera, sayang, kamu kenapa?"
Deva tampak panik.
"hiikkss.. hiks.. hiks"
caera menagis masih sambil mengunyah makanannya pelan dan tersendat.
"aku menyakiti mu?"
Deva menatap caera nelangsa. ia berpikir telah menyakiti caera.
caera makin terisak. caera hanya merasa ngeri dengan Deva. melihat sikap Deva, caera merasa semakin ada ancaman yang akan menyambutnya ke depan nanti jika terus tetap di dekat Deva.
"tenang lah, ini minum dulu"
Deva menyodorkan air putih. dengan tangis yang tersendat, caera meneguk air itu untuk membuatnya lega.
caera menunduk dalam. Deva membiarkan caera dapat menenangkan diri. dia dapat merasakan caera takut padanya. hatinya terasa di remas mengetahui caera tidak bisa menerima dirinya dengan gamblang.
"kau takut pada ku?"
tanya Deva dengan intonasi suara yang di tahan. meredam emosi yang sedikit bangkit karena tangis caera.
melirik caera yang menunduk. Deva dapat melihat anggukan lemah kepala caera. deva menghempaskan punggungnya ke sofa.
terhenyak dengan kenyataan bahwa caera sebenarnya takut padanya. jantungnya terasa di palu Godam besar. ternyata dia salah ingin membuat caera berdekatan dengannya dengan menjerat caera bekerja di perusahaan miliknya.
menghempaskan napas berat dan menoleh pada caera yang masih menunduk terisak pelan.
"sudah lah. jangan menangis. aku tidak bisa melihat mu menangis"
ujar Deva seraya mengambil tisu dan menyerahkannya pada caera.
caera menerima tisu itu dan mengusap air matanya. sebenarnya dia hanya gugup. tidak mampu menerima sikap Deva.
Deva berdiri. melangkah ke pintu dan membuka pintu ruang kerjanya. menoleh pada caera sejenak, dan pergi keluar ruangan. meninggalkan Caera sendiri.
isakan caera makin nelangsa. tidak tahu harus berbuat apa sekarang. merasa tidak enak hati telah membuat kecewa bosnya.
pintu terbuka lagi. Jacko masuk dan berdiri di depan caera.
"nona caera"
panggil Jacko datar.
caera mendongak melihat Jacko. pria itu kembali berwajah datar dan terlihat tidak bersahabat menatap caera.
"maafkan tuan Deva jika sudah menyakiti anda"
sangat dingin suara itu. membuat hati caera bergetar takut.
"anda bisa membatalkan kontrak kerja yang sudah di sepakati jika anda merasa tidak membutuhkannya lagi"
Jacko berhenti sejenak.
"Anda di bebas tugaskan hari ini"
caera terhenyak. begitu tersinggung kah Deva? Jacko sudah memberi isyarat padanya untuk meninggalkan tempat itu. dia di bebas tugaskan hari ini itu artinya tidak ada pekerjaan yang harus di lakukan. apa iya di pecat?
hatinya makin tidak karuan. meraih tas tangannya dan berdiri menghadap Jacko.
"saya di pecat tuan?
tanya caera takut-takut.
"itu semua ada di tangan anda. kami menyerahkan keputusan sepenuhnya pada anda"
Jacko berkata tanpa melihat pada caera. Jacko hanya berdiri tegak dengan sikap sedingin es.
"terima kasih tuan"
__ADS_1
dengan lemah caera melangkah keluar ruangan. hatinya berkecamuk menyesali sikapnya tadi. tapi itu tidak di buat-buat. air mata itu mengalir begitu saja menyatakan penolakan dengan sikap manis yang di tunjukkan deva.